05
Nov
09

Muballigh Ahmadiyah : KAMI ORANG ISLAM (Tanggapan Atas Tuduhan Ahmadiyah Murtad, Kafir, Sesat dan Menyesatkan) Oleh: M. Syaeful ‘Uyun

PENYERANGAN sekelompok umat Islam terhadap Kampus Mubarak, Pusat Jamaah Ahamadiyah Indonesia, 15 Juli lalu, di Kemang, Bogor, Jabar, telah mengorbitkan nama Ahmadiyah di pelataran nusantara. Tapi, Ahmadiyah, mengorbit namanya, bukan sebagai kelompok Islam yang bercorak agamis murni, yang gigih dan getol menyampaikan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan menarik banyak orang non-Islam ke dalam Islam di Afrika, Eropa dan Amerika, seperti yang selama ini menjadi ciri khas aktivitasnya. Ahmadiyah, mengorbit namanya, justru sebagai kelompok murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan.
Pangkal yang menyebabkan Ahmadiyah dikenal sebagai kelompok murtad, berada diluar Islam, dan sesat menyesatkan, adalah karena Habib Abdul Rahman Assegaf, Panglima Lasykar Jundullah yang mengepung dan menyerbu Markaz Jamaah Ahmadiyah (15/07/05), beralasan seperti itu untuk melegitimasi dan membenarkan aksinya. Dan, semua pihak, tak peduli dengan aksi Habib Assegaf, meskipun, sesungguhnya, mereka tahu, aksi itu tidak Islami, bertentangan dengan tatakrama dan sopan santun, tidak mencerminkan berada di negara hukum yang beradab dan berdaulat, dan hanya orang yang tidak beragama dan berada di rimba belantara yang dapat melakukannya. Umat hanya mendengar satu kata saja: Ahmadiyah murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan.
Kesan, bahwa Ahmadiyah telah murtad, keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan, makin lengkap lagi, setelah, ditengah kontrovesri seputar Ahmadiyah, Majlis Ulama Indonesia (MUI), untuk kedua kalinya, kembali menghakimi dan memvonis Ahmadiyah, sebagai murtad, keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan, dalam Munas ke VII-nya, akhir Juli lalu. Penghakiman dan vonis yang sama, kemudian dilakukan lembaga-lembaga agama, orpol, tokoh-tokoh agama, hingga lembaga dakwah kampus (LDK), dengan cara menyatakan setuju dengan fatwa MUI dan meminta pemerintah segera menindaklanjuti Fatwa MUI.
Di Makassar, dari sekian tokoh masyarakat yang menyatakan tidak setuju dengan fatwa MUI, dan berkomentar positif tentang Ahmadiyah hanya satu orang saja, yaitu: Dr. M. Qasim Mathar. Lewat Kolom Jendela langitnya (Fajar, 19/07/05), beliau menulis: Ahmadiyah, Sebuah Ranting Pada Pohon Islam. Membaca judulnya saja, terasa sangat menyejukan. Sepontan, terbayang dalam angan saya, jika setiap ulama memiliki perasaan dan pikiran seperti Pak Qasim Mathar, barangkali kehidupan beragama yang pasti telah dipisahkan oleh mazhab dan firqah itu, akan tenang, dan kasus Parung, Bogor, pastilah tidak akan terjadi.
Menyikapi hal ini, dan supaya umat juga tidak berdosa karena telah ikut memvonis Ahmadiyah sebagai murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan, tanpa pengetahuan yang benar dan pasti, saya sebagai pribadi dan sebagai Mubaligh Jamaah Ahmadiyah ingin menyampaikan dan menyatakan: KAMI ORANG ISLAM.
Kami meyakini rukun iman yang enam: Iman pada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Qiyamat, Taqdir baik dan buruk, dan kami melaksanakan rukun Islam yang lima. Kami mengucap dua kalimah syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha ilallaahu, Wa asyhadu annsa muhammadar-Rasulullah, sebagaimana umumnya muslimin mengucap kalimah syahadat. Kami shalat, puasa, zakat, dan haji, sebagaimana umumnya muslimin shalat, puasa, zakat dan haji. Kami, Ahmadiyah, meyakini, Rasulullah Muhammad SAW., adalah Khataman-Nabiyiin – nabi terakhir yang paripurna, yang sesudahnya, tidak akan ada lagi nabi yang setara dengannya. Kami, Ahmadiyah, meyakini, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW., adalah Khataman-Nabiyyin, Al-Quran juga adalah Khaatamul Kutub – kitab terakhir yang paripurna, yang sesudahnya, tidak akan ada lagi kitab yang setara dengannya. Kami, Ahmadiyah, meyakini, menyimpang selangkah saja dari Islam dan Al-quran adalah haram dan akan menyebabkan kenistaan.
Lalu, jika kami, Ahmadiyah, mengaku Muslim, bagaimana dengan fatwa MUI, bahwa Ahmadiyah adalah murtad, kafir, sesat dan menyesatkan?
Fatwa MUI, sesungguhnya, hanya menceminkan: 1) Ketidakfahaman dan ketidaktahuan MUI., tentang Ahmadiyah yang sebenarnya. 2) Kalau pun MUI tahu tentang Ahmadiyah, kami Ahmadiyah yakin, MUI tahu Ahmadiyah pasti hanya berasal dari literature, dan literatur yang mereka baca pun pasti berasal dari penulis-penulis kelompok anti Ahmadiyah, bukan literature yang berasal dari Ahmadiyah. 3) MUI tidak pernah mengenal Ahmadiyah dari dekat, dari pergaulan dan dari praktek peribadahan sehari-hari. Seandainya benar, MUI mengetahui betul aqidah Ahmadiyah, paling tidak, aqidah Ahmadiyah seperti yang saya paparkan diatas, saya yakin, pastilah Fatwa Ahmadiyah murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan, dengan alasan tidak mengakui Nabi Muhammad, punya nabi baru, punya kitab suci baru, tidak akan pernah lahir.
Dan memang, sebelum dan sesudah fatwa MUI lahir, MUI tidak pernah mengajak Ahmadiyah dialog, ta’aruf, lebih-lebih datang bertandang ke pusat-pusat Ahmadiyah, sekedar untuk mengamati, melihat dari dekat, siapa, apa, dan bagaimana Ahmadiyah itu, dan berbicara dari hati ke hati dengan orang-orang Ahmadiyah, mendengar penuturan langsung, mereka punya akidah dan mereka punya keyakinan.
Prihal Khataman-Nabiyyin
Pendiri Jemaat Ahmadiyah dengan tegas menyatakan imannya pada Khatamun-Nubuwwah. Ia mengemukakan dengan tandas bahwa Nabi Muhammad SAW., adalah manusia pilihan Allah, dan betul-betul Khataman-Nabiyyin.
1. “Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muihammad SAW., adalah Khatamul An-biya. Seorang yang tidak percaya kepada Khatamun-Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW.,), adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar lingkungan Islam”. (Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)
2. “Inti dari kepercayaan saya ialah: Laa Ilaaha Illallaahu, Muhammadur-Rasulullaahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammaadalh utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang pada-Nya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini, ialah bahwa junjungan dan penghulu kami, Nabi Muhammad SAW., adalah Khaataman-Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Di tangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai “kesatuan” dengan Tuhan Yang Maha Kuasa”.(Ahmad, Izalah Auham, 1891 : 137).
Setiap orang yang hendak bergabung dengan Ahmadiyah, disyaratkan untuk mengucapkan ikrar bai’at, dengan pernyataan sbb :
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim. Nahmaduhu wanushali ‘alaa rasuulihi kariim.
Asyhadu an-laa ilaaha ilallaahu wahdahuu laa syarikalahu,
Wa asyhadu anna Muhammadan abduhuu warasuluh,
Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu baginya.
Dan aku bersaksi, Muhammad adalah hambanya dan Rasul-Nya
Saya hari ini masuk ke dalam Jamaah Islam Ahmadiyah, di tangan Masroor.
Saya memiliki keyakinan yang teguh bahwa Hazrat Muhammad Rasulullah SAW., adalah Khataman-Nabiyyin, cap (yang mengesahkan) semua nabi.
Saya juga percaya bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., adalah Imam Mahdi dan Al-Masihil Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan), yang kedatangannya telah dikabarghaibkan oleh Hazrat Muhammad Rasulullah SAW,.”
Pernyataan-pernyataan Pendiri Ahmadiyah, dan pernyataan ikrar baiat setiap orang yang menyatakan hendak bergabung dengan Ahmadiyah, menunjukan, tuduhan yang dilontarkan MUI, bahwa Ahmadiyah tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Khataman-Nabiyyin, bahwa Ahmadiyah telah mengakui nabi baru yang ke 26, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, sama sekali tidak benar dan mengada-ada.
Dalam pernyataan baiat mereka, jelas Ahmadiyah mengakui Rasulullah SAW., sebagai Khataman-Nabiyyin, dan mengakui Ghulam Ahmad hanya sebagai Imam Mahdi-Al-Masihil Mau’ud, bukan nabi, lebih-lebih dengan embel-embel nabi yang ke 26.
Pernyataan bai’at orang-orang Ahmadiyah terhadap Ghulam Ahmad, adalah sama dengan pernyataan baiat yang dilakukan muslimin umumnya yang tergabung dalam thariqah-thariqah, apabila mereka hendak bai’at terhadap mursyid atau guru thariqah mereka.
Perihal Kenabian
Memang benar, dalam perjalanan sejarahnya, selain mengumumkan diri sebagai Mujadid abad XIV H, (1989), Ghulam Ahmad juga mengumumkan diri sebagai Imam Mahdi-Masih Mau’ud, dan juga Nabi (1891).
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berkata:
“Dasar buat pengakuan saya sebagai nabi adalah bahwa saya telah mendapat kemuliaan untuk berkomunikasi dengan Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa dia kerapkali berbicara dengan saya dan memberikan jawaban-jawaban kepada saya dan membukakan banyak rahasia tersembunyi kepada saya, dan memberi tahu saya tentang peristiwa-peristiwa masa datang, dalam cara yang dia lakukan hanya kepada orang yang menikmati kehampiran khusus dengan-Nya, dan bahwa karena banyaknya jumlah hal-hal ini Dia menyebut saya nabi.”(Sinar Islam, Agustus 1985:13).
Tetapi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, juga menolak jika ia disebut nabi yang membawa syariat baru, dan terpisah dari kenabian Muhammad SAW, dan Islam. Beliau berkata:
“Disaat dan dimana saya menolak disebut nabi dan rasul, adalah dalam pengertian, bahwa saya bukanlah seorang pembawa syariat baru atau nabi hakiki, tetapi sesungguhnya aku seorang nabi dalam arti, bahwa saya secara rohani memperoleh nikmat, berkat Tuanku yang besar dan mulia, Muhammad SAW,.”(Sinar Islam, Agustus 1985:5).
“Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada saya, seakan-akan saya mengaku sebagai suatu jenis nabi yang tidak punya pertalian dengan Islam, dan bahwa saya menganggap diri saya nabi yang tidak tunduk pada Alquran suci, dan bahwa saya telah menciptakan kalimah baru, dan menentukan suatu kiblat baru, dan bahwa saya mengaku telah membatalkan hukum Islam, dan bahwa saya tidak ikut dan patuh pada Nabi Muhammad SAW., seluruhnya adalah palsu. Saya berpendapat bahwa pengakuan kenabian semacam itu adalah sama dengan kufur dan dalam seluruh buku saya telah saya bentangkan selalu bahwa saya tidak mengaku nabi seperti itu, dan menisbahkan pengakuan demikian terhadap saya adalah suatu fitnah.”(Sinar Islam, Agustus 1985:12-13)
Klaim Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sesungguhnya tak perlu membuat para Ulama heran. Sebab, jika benar ia sebagai Isa yang dijanjikan kedatangannya, seharusnyalah memang ia menyandang gelar nabi. Rasulullah SAW., seperti diriwayatkan oleh Nawwas bin Sam’an, 4 kali menyebut nabi kepada Isa yang dijanjikan kedatangannya:
1. Nanti nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya akan terkepung.
2. Nanti nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya akan memanjatkan doa kepada Allah.
3. Kemudian turunlah nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya.
4. Maka mendoalah nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya.
(Muslim, Misykat, hal 474)
Ulama-ulama yang tergabung dalam wadah Nahdhatul Ulama (NU), juga punya aqidah dan keyakinan, jika Nabi Isa as datang, ia akan bergelar Nabi dan Rasul.
S (Soal): Bagaimana pendapat muktamar tentang Nabi Isa as setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Dan apakah mazdhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?
J (Jawab): Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa as, itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad SAW., dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa as, hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad. Sedang madzhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku). (Ahqamul Fuqaha, buku kumpulan masalah-masalah Diniyah, hasil Mu’tamar NU ke 1 s/d 15, hal. 29-30, CV Toha Putra Semarang, tt; Lihat juga: Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nadlatul Ulama (1926-1999), Diantama-LTN NU, 2005:50-51)
Dan, Al-Quran juga tidak menutup kemungkinan datangnya nabi sepeninggal Rasulullah SAW, seperti yang dapat kita baca dalam An-Nisa, 4:69-70, Ad-Dukhan, 44:5-6, Al-Haj, 22:75, Al-Mukmin, 40:15, Al-Jin, 72:26-27, Al-A’raf, 7:34.
Tetapi, meskipun pangkat nabi bagi Isa yang dijanjikan kedatangannya itu mendapat legitimasi dari Al-Quran, Rasulullah SAW juga dari para ulama Islam, Ahmadiyah tidak pernah me-nabi-kan Ghulam Ahmad. Ahmadiyah tetap komit dan konsisten dengan pendirian awal seperti yang dinyatakan dalam pernyataan bai’at, yaitu sebagai Imam Mahdi-Al-Masihil Mau’ud. Sebab, itulah memang, kedudukan utama beliau. Itulah sebabnya, Ahmadiyah memanggil Ghulam Ahmad, hanya dengan istilah Masih Mau’ud atau Mahdi Mau’ud, bukan nabi Ahmad, nabi Mirza atau nabi Ghulam.
Tiga istilah terakhir ini, sungguh, sangat asing didengar dalam telinga dan diucapkan pada lidah orang-orang Ahmadiyah. Kepada Khalifah-Khalifah pengganti Pendiri Ahmadiyah pun, mereka hanya biasa memanggil Khalifatul Masih, bukan Khalifah Nabi Ahmad.
Istilah-istilah ini menandakan, pokok kedudukan Ghulam Ahmad hanyalah Imam Mahdi-Almasihil Mau’ud. Nabi, hanyalah dalam kafasitas sebagai Ummati — anugrah kehormatan semata-mata karena mengikut Rasulullah SAW., bukan Mustqil – berdiri sendiri, terpisah dari kenabian Rasulullah Muhammad SAW,.***
Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip Firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, sebagai renungan :
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh di jalan Allah dan menjadi saksi dengan adil; dan janganlah permusuhan suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Maidah, 5:8).
“Dan janganlah engkau ikuti apa yang tentang itu engkau tidak mempunyai pengetahuan. Sesungguhnya, telinga dan mata dan hati tentang semuanya ini akan ditanya”.(Bani Israil, 17:36)
“Sesungguhnya, segenap orang beriman itu bersaudara. Maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mencemoohkan kaum lain, mungkin mereka itu lebih baik daripada mereka, dan janganlah sebagian wanita mencemoohkan akan wanita lain, mungkin mereka lebih baik daripada mereka. Dan janganlah kamu memburuk-burukan kaummu, begitu pula jangan panggil memanggil dengan nama buruk. Adalah suatu hal yang buruk jika dipanggil dengan nama buruk sesudah beriman, dan barangsiapa tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang aniaya”.(Al-Hujurat, 49:10,11)
“Hai, orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi berjihad di jalan Allah, maka selidikilah dahulu, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang memberi salam kepadamu, “Engkau bukan mukmin….”.(An-Nisa, 4:94)
“Barangsiapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir, atau musuh Allah, padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakan (menuduh) itu” (Bukhari)
“Barangsiapa shalat seperti kami, dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan makan makanan yang kami sembelih, maka ia itu adalah seorang muslim”.(Bukhari)
Orang Muslim adalah orang yang memelihara orang Islam dari bencana lidah dan tangannya. Dan orang Muhajir adalah orang yang meninggalkan larangan Alah”. (Bukhari)
“Wahai, para ulama Islam! Janganlah Anda tergesa-gesa mencap diriku pendusta sebab banyak sekali rahasia yang orang-orang tidak dapat memahaminya dengan segera. Janganlah cepat-cepat menolak sesuatu, sesaat Anda mendengarnya sebab sikap semacam itu tidak sejalan dengan jiwa ketakwaan.”(Ghulam Ahmad, Ajaranku, Jemaat Ahmadiyah Indonesia 2002:62)
Wassalamu’alaa manittaba’al huda.
Disajikan Dalam Dialog Pakar Bertema: Seputar Kontroversi Ahmadiyah, Diselenggarakan Kerjasama LSAP – Lembaga Studi Agama dan Perubahan UIN Makassar dengan FORLOK (Forum Dialog Antar Kita) Sulawesi Selatan
di Aula Rektorat UIN Makassar, Senin, 08 Agustus 2005
* Penulis adalah Mubaligh Jamaah Ahmadiyah Wilayah Sulawesi Selatan


0 Responses to “Muballigh Ahmadiyah : KAMI ORANG ISLAM (Tanggapan Atas Tuduhan Ahmadiyah Murtad, Kafir, Sesat dan Menyesatkan) Oleh: M. Syaeful ‘Uyun”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: