05
Nov
09

AHMADIYAH MEMBAJAK ALQURAN?

Kata-kata hujatan ini adalah fitnah untuk membangkitkan kebencian dan permusuhan kepada Ahmadiyah. Orang tulus yang pernah membaca buku Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah tidak akan berkesimpulan demikian, karena para sahabat Rasulullah saw dan para waliyullah banyak yang mendapatkan karunia pengalaman ruhani berupa menerima wahyu yang bunyinya sama dengan ayat Al-Quran.
Bahkan, sepanjang sejarah Islam para sahabat, waliullah, dan para sufi banyak yang telah ber-mukalamah (berbicara secara langsung) dengan Allah Swt. Sebagian dari wahyu-wahyu itu banyak yang merupakan lafazh-lafazh Kitab Suci Alquran dan kadang-kadang dengan disertai tambahan lafazh lainnya. Dengan kata lain, diantara wahyu-wahyu tersebut ada yang 100% serupa dengan ayat-ayat Alquran dan ada yang tidak. Bagi mereka yang berpengetahuan luas dalam agama Islam serta terbiasa menelaah kitab-kitab kuning, tidaklah sulit untuk memahami perkara ini.

Diantara mereka yang benar-benar telah menerima wahyu-wahyu itu dan menuliskannya dalam beberapa kitab adalah Hz. Imam Syafi’i r.a., Hz. Imam Ahmad bin Hambal r.a., Hz. Imam Muhyidin Ibnu Arabi r.a., Hz. Umar r.a., serta beberapa sahabat. Apakah dengan demikian kita akan mengatakan bahwa orang-orang suci itu telah membajak ayat-ayat Alquran? Na’udzubillahi min dzalik, kita tidak akan selancang itu.Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sering mendapatkan wahyu-wahyu seperti itu. Jadi, pengalaman ruhani tersebut adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba terpilih atas iradah-Nya.

Adapun satu-satunya Kitab suci yang diimani oleh anggota Jamaah Islam Ahmadiyah adalah Alquranul Karim yang terdiri dari 30 juz. Kitab Suci itulah yang dicetak dan disebarkan oleh Jamaah Islam Ahmadiyah keseluruh dunia. Setiap orang dapat dengan bebas memiliki cetakan Alquran tersebut. Bagi orang yang telah membacanya, pasti membuktikan bahwa tidak ada ayat-ayatnya yang dirobah-robah apalagi dipalsukan. Bahkan Departeman Agama pun pernah menjadikan Terjemahan dan Tafsir Quran Jamaah Islam Ahmadiyah sebagai rujukan dalam terjemahan dan tafsir Alquran terbitan mereka.

Jamaah Islam Ahmadiyah tidak pernah mengacak-acak atau pun mengaduk-aduk ayat Suci Al-Quran, sebab Al-Quranul Karim diimani oleh Jamaah Islam Ahmadiyah sebagai Kitab Suci dan Kitab Syariat yang terakhir. Bahkan kami meyakini kebenaran Firman Allah berikut ini:

Artinya:
“Sesungguhnya, Kami-lah yang telah menurunkan Peringatan (Al-Quran) ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.” (Al-Hijr, 15:10)
Menurut ayat ini Al-Quran tidak mungkin dapat diacak-acak dan di aduk-aduk karena dipelihara dan dijaga oleh Allah Swt Wujud Yang Maha Kuasa, sehingga tidak diperlukan campur tangan manusia dengan cara kekerasan untuk melindungi dan menjaganya.

Selain meyakini hal tersebut diatas, dalam upaya meluaskan dakwah Islam dan risalah Rasulullah SAW, kami, Jamaah Ahmadiyah, juga telah, sedang, dan akan menerjemahkan Al-Quranul Karim kedalam berbagai bahasa di dunia.

Dan, kini, kami, Jamaah Islam Ahmadiyah, telah berhasil menerjemahkan Al-Quran ke dalam 100 bahasa di dunia, seperti: Inggris, Prancis, Portugis, Jerman, China, Rusia, Tagalog, Korea, Swahili, Jepang, Itali, Spanyol, Belanda, Indonesia, dll. Adakah para pecinta Al-Quran yang telah melakukan hal yang sama, yakni menerjemahkan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa seperti yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah? Tidakkah lebih baik bagi kita untuk ber- fastabiqul khairat ?
Kami telah menjelaskan bahwa Jamaah Islam Ahmadiyah tidak pernah mengacak-acak dan mengaduk-aduk ayat-ayat suci Al-Quran seperti yang dituduhkan oleh sebagian Ummat Islam. Dan perlu kami tegaskan lagi disini, Tadzkirah, bukanlah kitab suci Ahmadiyah, dan bukan disusun oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Buku Tadzkirah hanyalah kumpulan wahyu, ilham, kasyaf, dan ru’ya yang dikutip dan dihimpun dari berbagai buku dan selebaran Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah. Tadzkirah diterbitkan pertama kali menjadi sebuah buku pada tahun 1935, yaitu 27 tahun setelah wafatnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Sama sekali tidak terbetik dalam pikiran orang-orang Ahmadiyah, bahwa Tadzkirah adalah kitab suci. Maka itu, ketika ada orang yang menyebarkan fitnah bahwa Jamaah Islam Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri bernama Tadzkirah, maka kami sangat heran. Dan bertambah heran lagi, ketika mereka, memaksa kami untuk mengakui Tadzkirah sebagai sebuah kitab suci.

Di dalam sejarah Islam, dijumpai banyak sekali ulama-Ulama Masa Awwal, yaitu ulama-ulama yang ke zuhudan dan kesuciannya tidak diragukan lagi, bahkan sulit untuk mendapatkan contoh dan bandingannya dizaman sekarang ini. Para Ulama Masa Awwal ini mengemukakan pengalaman–pengalaman rohani mereka bahwa mereka menerima wahyu dari Allah Swt,.

Di dalam wahyu yang mereka terima, nampak dengan jelas, sebagiannya sama persis dengan ayat-ayat Al-Quran, dan sebagiannya lagi, campuran antara kata-kata yang persis dengan ayat-ayat Al-Quran dan kata-kata lain yang bukan ayat-ayat Al-Quran. Contoh wahyu yang diterima oleh Ulama Masa Awwal ini, akan kami kemukakan dibagian akhir dari penjelasan terhadap tuduhan ini.

Pernyataan para Ulama Masa Awwal, bahwa mereka menerima wahyu, menjadi bukti sempurnanya firman Allah Swt yang menyatakan bahwa Dia adalah Wujud Yang Al-Mutakallim (Maha Berkata-kata) sebagaimana firman-Nya:

Artinya:
“Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan izin-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Mahaluhur, Mahabijaksana”.(As-Syura, 42:52)

Menurut para Ulama Masa Awwal, orang yang mengingkari adanya lagi wahyu setelah Al-Quranul Karim sempurna diturunkan, itu dikarenakan ia tidak mendalami dan tidak pernah merasakan nikmat-nikmat rohani sebagaimana yang dirasakan oleh para Ulama Masa Awwal itu.
Allamah Allusi rahimallahu dalam Tafsir yang ditulis dalam Ruuhul Ma’aani juz 7 hal 326 menyatakan:
“Kamu hendaknya mengetahui bahwa sebagian ulama mengingkari turunnya malaikat pada hati selain Nabi sebab mereka tidak merasakan lezatnya. Jelasnya bahwa malaikat itu turun tetapi dengan Syari’at Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

Setelah Rasulullah Saw, wafat, Allah Swt. masih terus menerus menzahirkan sifat Al-Mutakallim-Nya, misalnya:
i. Ketika para sahabat berselisih pendapat tentang memandikan jenazah Rasulullah Saw. apakah dengan cara menanggalkan pakaian beliau atau tidak menanggalkannya, maka turunlah wahyu dari Allah kepada mereka:
“Ighsiluu rasuulallaahi Wasallaam wa ‘alaihi tsiyaabuhu.”

Artinya:
“Mandikanlah Rasulullah Saw dalam keadaan beliau berpakaian.”
(HR. Baihaqi dari Aisayah r.a. dan Misykat Bab. Al-Kiramat hal. 545)
Ini adalah wahyu yang turun segera setelah Rasulullah Saw wafat yang membuktikan bahwa wahyu berupa penjelasan dan bukan wahyu Syari’at masih tetap turun.
ii. Imam Muhyiddin Ibnu Arabi menulis didalam kitab beliau Futuhatul Makiyyah jld. 3 hal 367 bahwa beliau menerima wahyu sebagai berikut:

Artinya:
“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan satupun dari antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.”
Wahyu yang diterima oleh Ibnu Arabi ini sama persis dengan ayat Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 136.
iii. Syeikh Abdul Qadir Jaelani didalam Futuuhul Ghaib menulis:

Artinya:
“Engkau akan dijadikan kaya dan pemberani. Dan engkau akan dianugerahi kemuliaan. Dan engkau akan dianugerahi dengan karunia bermukhaathabah bahwa engkau di sisi Kami pada martabat yang tinggi, yang luhur dan jujur.”
Wahyu ini merupakan campuran dari kata-kata yang persis sama dengan ayat Al-Quran surah Yusuf ayat 55 dengan kata-kata lain yang sama sekali tidak persis ayat Al-Quran. Masih banyak lagi contoh-contoh yang dapat dikemukakan.

Dengan demikian, Jika ada pernyataan bahwa dengan adanya Tadzkirah itu telah terjadi perbuatan ‘mengacak-acak dan mengaduk-aduk’ Al-Quran, berarti mereka setuju menganggap para Ulama Masa Awwal yang suci itu pun telah mengacak-acak dan mengaduk-aduk ayat-ayat suci Al-Quran, padahal para ulama masa awwal itu adalah orang-orang yang dekat kepada Allah Swt.
Kami sangat menjunjung tinggi, menghormati dan memuliakan Al-Quranul Karim. Sebab, demikianlah yang diajarkan oleh Allah Swt., Nabi Muhammad SAW., dan nasihat Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah.
Berkenaan dengan kedudukan Al-Quran, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad,

Pendiri Jamaah Islam Ahmdiyah, menulis:
“Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting, yaitu bahwa kamu jangan hendaknya meninggalkan Al-Quran seperti sebuah buku yang telah dilupakan; sebab, didalamnya terletak sumber kehidupanmu. Barangsiapa yang memuliakan Al-Quran akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa yang menjunjung tinggi Al-Quran diatas segala hadits dan segala sabda-sabda yang lain, akan dijunjung tinggi di Langit. Bagi umat manusia diatas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Al-Quran, dan bagi seluruh Bani Adam tidak ada pedoman hidup kecuali Al-Quran. Kini tidak ada seorang Rasul dan Juru Syafaat kecuali Muhammad Mustafa Saw.. Maka berusahalah kamu sekalian untuk mendambakan kecintaan yang semurni-murninya bagi Nabi yang agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun suatu tempat yang lebih tinggi daripada beliau, agar supaya kamu digolongkan diantara orang-orang yang telah diselamatkan.”
“Dan ingatlah baik-baik, bahwa Najat (keselamatan) bukanlah suatu hal yang kamu sekalian akan mengalaminya nanti di Akhirat, melainkan sesungguhnya Najat yang hakiki itu memperlihatkan cahaya-nya di alam dunia ini juga. Siapakah yang beroleh Najat itu? Ialah orang yang benar-benar yakin, bahwa Tuhan itu adalah suatu realitas dan bahwa Muhammad Saw adalah Juru Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh ummat manusia; bahwa di bawah langit ini, tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan Al-Quran.”
(Bahtera Nuh, hal. 20)

“Wahai kalian yang kusayangi! Anda sekalian singgah di dunia ini hanya untuk sekejap saja, dan itu pun sebagian besar telah anda lalui. Oleh karena itu janganlah membangkitkan amarah Tuhan. Suatu pemerintahan manusiawi yang lebih berkuasa dari anda, jika marah terhadap anda, ia dapat membinasakan anda. Maka bayangkanlah betapa anda dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan Allah Ta’ala.”
(Bahtera Nuh, hal. 99)

SUMBER: AJARANISLAM.COM


0 Responses to “AHMADIYAH MEMBAJAK ALQURAN?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: