03
Nov
09

Khutbah Khalifah Ahmadiyah : Orang-orang Mukmin Tetap Teguh di Dalam Menghadapi Ujian dan Kesulitan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 2 Oktober 2009 dari Baitul Futuh London UK`
TENTANG :
ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DIDALAM
MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ–وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِىْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوٰتٌؕ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لاَّتَشْعُرُوْنَ‏–وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلاَ مْوَالِ وَالاََنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ‏–الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَؕ‏ –اُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ‏

Didalam Ayat Qur’an yang baru saya tilawatkan, Allah swt berfirman tentang orang-orang beriman yang mendapat percobaan atau ujian bagaimanapun kerasnya iman mereka tetap teguh tidak goyah. Bahkan keimanan mereka semakin bertambah maju dan bertambah teguh dan kuat dan mereka semakin mendekat dan menyerahkan diri kepada Allah swt. Terjemahan ayat-ayat yang saya tilawatkan tadi bunyinya sebagai berikut : “ Hai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. Tidak, bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadari. Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata : “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarh 154-158)

Dari ayat pertama sangat jelas sekali bahwa Allah swt telah menasihatkan untuk berlaku sabar sambil tetap menunaikan salat. Maka kita bisa mengatakan bahwa kedua sifat ini harus dimiliki oleh orang-orang beriman, terutama diwaktu menghadapi banyak percobaan dan banyak kesulitan. Ayat ini sangat ringkas sekali namun maksud dan kandungan tafsirnya sangat luas sekali. Salah satu arti dari perkataan sabar adalah : apabila seseorang mendapat suatu kemalangan ia tidak mengeluh melainkan tabah sambil menunjukkan perangai cerah. Ujian atau percobaan harus dipikul dengan tabah tanpa mengeluh, tanpa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak boleh complain atau menyatakan kesusahan, harus betul-betul menjaga perasaan, yang kadang-kadang karena terdesak keluarlah dari mulut kata-kata tidak patut, sehingga merupakan keluhan terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa. Perkara demikian harus dijauhi.

Yang kedua artinya adalah : Harus tetap dan teguh dalam pendirian. Yang ketiga adalah : Perintah Allah Yang Maha Kuasa harus tetap dipegang erat-erat dan harus berbuat sesuai dengan itu semua. Arti lain lagi ialah, kalian harus tetap teguh tidak boleh menyimpang dari apa yang telah Tuhan melarangnya.

Jadi perkataan sabar telah dijelaskan, yaitu bila saja menghadapi percobaan dan ujian atau kesulitan apapun harus dihadapi dengan tabah dan tahan mental serta hati teguh dan jangan bimbang, jika tidak akan membawa kegoncangan dan kelemahan iman. Yang kedua ialah harus selalu memperhatikan dan menta’ati hukum-hukum Allah swt dan harus berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh tawakkal kepada-Nya. Untuk memperkuat keimanan, keteguhan hati, perkataan salat juga sudah difirmankan didalam ayat tersebut, berarti Allah swt telah mengarahkan dan memerintah kita untuk tidak melupakan salat dan harus banyak memanjatkan do’a kepada-Nya didalam menghadapi ujian atau percobaan dan kesulitan itu.

Pengertian salat yang telah diberikan oleh berbagai pihak dan ringkasannya adalah : “ Memusatkan penuh perhatian kepada kewajiban salat, disamping salat fardu kita harus menaruh perhatian terhadap salat-salat nawafil lainnya juga disertai dengan banyak memanjatkan do’a-do’a untuk mempertahankan iman yang kokoh kuat, banyak-banyak membaca istighfar memohon ampun kepada Allah swt Yang Maha Perkasa dan juga harus banyak berzikir mengingat Allah swt dan harus banyak mengirim darood atau selawat kepada Hazrat Rasulullah saw. Jadi, itulah sifat-sifat orang mukmin sejati telah dijelaskan bahwa diwaktu menghadapi kesulitan dan percobaan dia selalu tabah dan sabar sehingga ia selamat. Diwaktu menghadapi kesulitan dan percobaan seorang mukmin tidak boleh menunjukkan lemah iman atau bimbang, ia harus meningkatkan lebih banyak berdo’a dan menjalin hubungan lebih erat degan Tuhan dan lebih banyak berzikir dan mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Apabila kalian mencari perlindungan dan pertolongan Allah swt harus dilakukan dengan penuh sabar dan istiqamah yang sungguh-sungguh. Dan harus selalu diingat bahwa percobaan apapun yang dihadapi sifatnya hanya sementara. Setelah itu apabila suasana telah berobah kemenangan pasti akan berada ditangan kalian. Penolong utama orang-orang mukmin adalah Allah swt Yang Maha Kuasa. Harus diingat dalam keadaan bagaimanapun seorang Ahmadi tidak boleh mengatakan : “Aku tidak percaya kepada Allah.” Bilamana saja timbul kelemahan iman pada seseorang terhadap Allah maka orang itu bukan lagi sebagai orang Ahmady. Dengan mengucapkan demikian habislah riwayat dia sebagai orang Ahmady, bahkan dia sudah keluar dari Islam. Jika seorang Ahmady mempunyai kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap Allah swt Yang Maha Kuasa, dia telah mendapat iman bil ghaib yang sesungguhnya kepada Allah swt. Dan dia juga harus yakin bahwa yang menolong dan membantu segala urusan dia adalah Allah swt. Jadi, dalam menghadapi setiap kesulitan dan kesusahan yang ditimbulkan oleh lawan-lawan yang memusuhi Jema’at dari waktu kewaktu, kita harus meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi dengan Zat Yang Maha Kuasa Yang mampu membantu kita didalam situasi yang genting seperti itu. Dan didalam situasi seperti itu orang mukmin harus selalu siap menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Perkasa Yang mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada yang lain. Yang kecintaan-Nya lebih dari pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Dia Yang Maha Kuasa mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada itu. Dan Allah dengan firman-Nya : اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ (Allah bersama orang-orang yang sabar) memperkuat keadaan seperti itu. Dan Firman-Nya lagi: “Yakinlah kalian bahwa Aku akan menolong kalian.” Mereka yang berdo’a dengan iman yang teguh, dan mereka yang mempunyai kesabaran akan Aku tolong semuanya. Jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari-Ku kalian harus menujukkan ketetapan dan keteguhan iman. Kalian harus beramal sesuai dengan kedudukan sebagai hamba-hamba-Ku. Bagaimana caranya yang harus kalian lakukan ? Yaitu dikala menghadapi kesulitan dan percobaan pendirian kalian harus tetap jangan berobah-obah. Pendirian kalian harus betul-betul mantep. Kalian harus rujuk kepada Allah swt Yang Maha Kuasa dengan penuh dedikasi. Itulah tanggung jawab setiap orang Ahmadi pada masa ini.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di Pakistan, dibeberapa negara Arab dan juga dibeberapa daerah dinegara India orang-orang Ahmady tengah dijadikan sasaran kekerasan dan kezaliman. Suasana yang mereka timbulkan sangat mempersulit kehidupan orang-orang Ahmady disana. Terdapat beberapa kasus yang mereka hadapi semakin memburuk. Dan keadaan disana sangat mencekam dan semakin tegang kerana timbul tindakan-tindakan diluar keadilan terhadap mereka. Para Mullah yang didukung oleh pemerintahan setempat disana mulai membuat issue-issue (pernyataan-pernyataan) nonsense. Dibeberapa tempat para penguasa dan pegawai-pegawai pemerintah disana mencari-cari jalan untuk melancarkan berbagai macam gerakan untuk mempersulit kehidupan orang-orang Ahmady sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan bagi orang-orang Ahmady disana.

Dibeberapa negara tertentu telah dilancarkan batasan dan larangan untuk menunaikan ibadah salat dan menunaikan salat Jum’ah dimesjid mereka, dan orang-orang Ahmadi disana tidak boleh berkumpul bersama untuk menunaikan salat Jum’ah. Bagaimanapun sudah saya jelaskan tentang firman Allah swt bahwa didalam situasi semacam itu posisi keimanan kalian harus jauh lebih kuat dan lebih teguh dari pada sebelumnya. Sambil memperkokoh keimanan kalian harus meningkatkan mutu ibadah kalian kepada Allah swt. Lalu tengoklah hasilnya bagaimana Allah swt Yang Maha Perkasa akan datang menolong kalian. Sehubungan dengan peristiwa seperti ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Kalian harus berusaha untuk menjadi orang-orang yang bersih dan suci-murni, dan kalian harus menjalin hubungan lebih erat lagi dengan Tuhan. Sebab pertolongan Allah swt akan kalian peroleh jika diri kalian sudah suci murni.” Beliau a.s. bersabda lagi : “ Bagaimana caranya kalian untuk memperoleh berkat dari pada Tuhan ? Jawabannya Tuhan sendiri berfirmasn :

اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِؕ

yakni : Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Apa yang dimaksud dengan salat disini ? Yaitu selain ibadah salat, juga membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), membaca istighfar dan juga membaca selawat bagi Junjungan Nabi Besar Muhammad saw, dibaca dengan penuh rasa cinta dan dedikasi terhadap Allah swt. Jadi, kalian harus menunaikan salat dengan penuh konsentrasi dan kekhusyuan jangan seperti orang yang salat dengan mulut komat-kamit mengucapkan kata-kata namun hati kalian ingat kemana-mana. Orang-orang yang tidak tahu bahasa Arab, mereka boleh bedo’a didalam bahasa sendiri khasnya diwaktu sujud, kecuali do’a yang diajarkan Tuhan didalam Alqur’an atau do’a yang diajarkan Hazrat Rasulullah saw dari firman Tuhan, tidak boleh dibaca diwaktu ruku atau diwaktu sujud. Selain itu do’a boleh dipanjatkan didalam bahasa yang kita fahami sendiri diwaktu sujud atau ruku. Panjatkanlah do’a sambil menangis dan merintih dan merendahkan diri sedemikian rupa dihadapan Tuhan sehingga kekhusyuannya itu sangat berkesan didalam hati kalian. Apabila do’a itu dipanjatkan dengan rintihan dan perasaan yang luluh maka kesannya sangat melekat didalam hati sanubari.”
Jadi, dewasa ini sangat diperlukan do’a-do’a yang dipanjatkan oleh semua orang Ahmady diseluruh dunia dengan penuh kekhusyuan sambil menangis dan merintih dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga menggetarkan pintu Arasy Ilahi. Apabila do’a-do’a ini dipanjatkan dengan penuh kegelisahan dan rintihan yang memilukan tentu Allah swt akan segera menerima dan mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya itu. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya :

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ اْلاَرْضِ‌ؕ

Artinya : Atau siapakah yang mengabulkan do’a orang yang tak berdaya apabila ia berdo’a kepada-Nya dan Tuhan Yang melenyapkan keburukan, dan pada suatu hari akan menjadikan kamu pewaris-pewaris bumi ? (An Namal : 63)

Jadi do’a yang dipanjatkan dengan perasaan sangat istimewa, dengan rasa gelisah dan suasana prihatin itulah yang bisa membangkitkan perubahan dan revolusi besar diatas muka bumi. Dan mereka yang tengah dianiaya dijalan Allah swt, mereka yang menanggung penderitaan dan kesusahan kerana Allah swt, mereka akan menerima khabar suka dari Allah swt melalui kesabaran dan salat. Pada suatu hari kalian akan menjadi pewaris-pewaris bumi diatas dunia ini, insya Allah !

Jadi kesusahan dan penderitaan yang tengah dihadapi oleh orang-orang Ahmady pada hari ini khasnya di Pakistan dan pengurbanan apapun yang mereka lakukan, tidak akan dibiarkkan sia-sia oleh Allah swt. Pengurbanan yang tengah dilakukan hari ini oleh orang-orang Ahmady akan mendatangkan buah yang ranum atau hasil yang mungil pada hari esok. Hal itu semua adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmady tanpa mengeluh dan tanpa berkecil hati mereka harus terus maju kedepan dalam menghadapi percobaan dan ujian ini. Dan Allah swt berfirman : “ Orang-orang yang terus maju dalam menghadapi masa kesulitan dan cubaan ini demi meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya mereka rela menyerahkan jiwa-raga dan nyawa mereka dijalan Allah swt. Ingatlah, bahwa mereka yang menyerahkan jiwa-raga mereka kerana Allah Yang Maha Perkasa, pengurbanan jiwa mereka ini bukanlah pengurbanan orang biasa, melainkan seperti pengurbanan para sahabah pada zaman permulaan Islam. Sekarang sejarah berulang kembali. Apabila kita tengok sejarah masa lampau banyak sekali orang-orang mukmin yang telah menyerahkan kehidupan mereka, mengurbankan jiwa raga dan nyawa mereka demi kepentingan agama Allah swt dan demi tegaknya Tauhid Ilahi dimuka bumi. Allah mengabulkan pengurbanan mereka sebab pengurbanan jiwa dan nyawa mereka itu demi maksud dan tujuan yang sangat mulia dan agung sekali. Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah demi membela agama Allah dan tegaknya Tauhid Ilahi tidak boleh disebut sungguh-sungguh mati. Mereka tetap hidup, sebab kematian mereka sangat objective, sangat tepat dan terarah demi Agama Allah dan demi kekalnya tauhid Ilahi dimuka bumi. Ganjaran mereka akan terus mengalir kepada mereka setiap sa’at. Pengurbanan demikian menjadi simbul bagi kehidupan orang-orang mukmin sejati lainnya dan mengundang semangat untuk menyerahkan pengurbanan apapaun yang diperlukan oleh Agama ataupun Jema’at. Suatu bangsa yang selalu menyadari pentingnya pengurbanan demi membela tanah airnya tidak pernah mengalami kematian. Orang-orang yang selalu siap memberikan pengurbanan demi tegaknya agama Allah mereka pasti mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah swt. Pada zaman sekarang zaman Masih Mau’ud a.s. peperangan sudah berakhir, tidak boleh melakukan peperangan lagi. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengurbankan jiwa raga demi agama Allah, yang akan mendapat kehidupan kekal setelah meninggal dunia? Dan juga menjadi sarana kehidupan hakiki bagi orang-orang beriman? Apabila kaum akhirin diakhir zaman ini harus menjalani kehidupan seperti setandar kehidupan kaum awalin dizaman Hazrat Rasulullah saw tentu mereka harus mengurbankan jiwa raga atau nyawa mereka. Para syuhada kaum akhirin dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengurbankan jiwa-raga dan nyawa mereka seperti yang telah terjadi di Kabul, Afganistan demi mempertahankan kebenaran. Melalui pengurbanan jiwa raga dan nyawa mereka itu Allah swt telah menunjukkan jalan kepada kita untuk memeproleh kehidupan yang kekal-abadi. Dan sampai sekarang banyak para anggauta Jema’at yang tengah memberi contoh bagaimana caranya mereka telah menegakkan semangat dan keikhlasan dalam mengurbankan jiwa-raga dan nyawa mereka kerana Allah swt. Tetesan darah setiap orang Ahmady yang syahid dimana telah memberi martabat dan kedudukan tinggi didalam kehidupan mereka dialam akhirat, disana juga tersedia sarana untuk kehidupan dan kemajuan Jema’at yang semakin meningkat terus dimuka bumi ini.

Jika para penentang berpikir bahwa dengan banyaknya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ahmadi mukhlisin akan memberi kesan kemunduran dan kelemahan iman terhadap para anggauta Jema’at, khayalan mereka itu semata-mata penipuan dan kosong dari kenyataan sebenarnya. Allah swt berfirman : Kamu tidak menyadari ! Mereka tidak melihat bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membangkitkan suatu revolusi ruhani yang luar biasa, Ahmadyah tidak bisa berhenti disebabkan banyaknya pengurbanan jiwa raga atau nyawa serta harta mereka demi mempertahankan kebenaran. Akhirnya taqdir Allah swt akan memutuskan bahwa melalui Jema’at Ahmadiyah ini Islam akan ditegakkan diseluruh permukaan bumi.” Jadi sekarang juga setiap orang Ahmady yang mati syahid demi Jema’at baik lelaki, perempuan tua muda ataupun anak-anak telah menciptakan sebuah gelombang semangat hidup baru. Setiap terjadi peristiwa pensyahidan terhadap orang Ahmady timbul dikalangan orang-orang Jema’at semangat yang bergelora untuk mengurbankan jiwa-raga dan nyawa mereka demi membela Jema’at ini. Tentang hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Kami sangat kagum menyaksikan keikhlasan dan kesetiaan para anggauta Jema’at seperti itu.” Jadi sangat keliru sekali anggapan para penentang yang memusuhi Jema’at bahwa dengan terjadinya kerugian harta mereka, jiwa raga dan nyawa mereka akibat serangan musuh, iman orang-orang Ahmady akan menjadi berkurang dan lemah. Sama sekali tidak !! Sebagaimana telah saya katakan berulang kali bahwa dengan terjadinya serangan dan penganiayaan dan pembunuhan, keimanan orang-orang Ahmady justru semakin bertambah kokoh-kuat. Atau para penentang mengira dengan perlawanan mereka terhadap Jema’at, orang-orang Ahmady akan habis dan lenyap? Pendapat mereka itu sungguh batil dan sangat keliru. Disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah di Pakistan dan di beberapa negara Islam lainnya orang-orang Ahmady telah dilarang melakukan tabligh. Akan tetapi disebabkan makin maraknya perlawanan dan terjadinya peristiwa-peristiwa kezaliman terhadap orang-orang Ahmady, kesempatan tabligh disana dengan sendirinya menjadi lebih terbuka. Banyak orang-orang yang penasaran ingin tahu apa sebenarnya Ahmadiyah itu? Sehingga setelah jelas kedudukan yang sebenarnya banyak sekali orang-orang yang mengirim surat kepada kami menyatakan ingin bai’at masuk Ahmadiyah, baik dari Pakistan sendiri maupun dari negara-negara lainnya didunia setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman lawan-lawan Ahmadiyah itu. Jadi sesungguhnya dengan timbulnya perlawanan itu justeru menjadi sarana kemajuan bagi Jema’at Ahmadiyah.

Jadi para penentang memang bisa melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang Ahmady, mereka bisa melakukan penjarahan terhadap harta orang-orang Ahmady, bangunan dan gedung-gedung orang-orang Ahmady bisa mereka hancurkan, pembangunan mesjid kami bisa dihalang-halangi akan tetapi kalian tidak akan bisa membuat iman kami jadi lemah. Sebab ujian dan percobaan ini menjadi bukti kebenaran firman Tuhan bahwa Dia bersama kami orang-orang beriman. Sebagaimana Allah swt telah menjelaskan dengan rinci didalam ayat berikutnya tentang khabar suka yang diberikan kepada orang-orang yang sabar. Firman-Nya : “ Kalian akan diuji dengan ketakutan, jika kalian menghadapi ujian yang menakutkan itu dengan sabar, maka terimalah khabar suka dari pada-Ku, bahwa kalian akan mewarisi nikmat-nikmat dari pada-Ku”. Macam bagaimana perasaan takut itu? Yaitu rasa takut yang dibuat oleh musuh-musuh kalian, misalnya takut berupa kejahatan para Mullah, menghadapi mukaddimah dipengadilan juga termasuk rasa takut, takut terhadap undang-undang blasphemy pemerintah, takut ancaman dari para petinggi negara. Akan tetapi orang-orang mukmin tidak mensia-siakan iman mereka didsebabkan berbagai macam desakan atau intimidasi dari pihak golongan tertentu atau dari pihak pemerintah sekalipun. Dan tidak pula mereka menunjukkan sebarang kelemahan.

Setelah itu orang-orang mukmin diuji dengan kelaparan. Sebagai contoh telah terjadi dihadapan kita dalam jumlah yang sangat besar. Yaitu pada tahun 1974 telah terjadi peristiwa kerusuhan anti Jema’at yang ditimbulkan lawan-lawan yang memusuhi Jema’at pada tahun itu, banyak kesulitan dan kesusahan ditimpakan kepada orang-orang Ahmady. Pada waktu itu siapapun tidak pula diizinkan untuk menyampaikan makanan kerumah seorang Ahmady dan tidak pula orang-orang Ahmady diizinkan keluar dari rumah mereka pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Jika mereka bisa keluar juga maka para pemilik kedai dilarang menjual bahan-bahan makanan atau benda apapun yang diperlukan, kepada orang-orang Ahmady. Disamping itu banyak barang-barang kekayaan orang-orang Ahmady dirampas dan dijarah dan secara paksa mereka menguasai hak milik orang-orang Ahmady. Dan apabila seorang Ahmady berusaha menuntut hak milik mereka secara hukum di Pengadilan, mereka membuat-buat alasan dengan mengatakan ini orang-orang Qadiani, mereka enggan melayani. Dengan menyebut nama Qadiani atau Ahmady saja orang-orang yang duduk dikursi pengadilan-pun merasa enggan dan tidak mau menghiraukan atau menangani apa lagi menghormati tuntutan hak-hak mereka lagi.

Pada tahun 1974 sebidang tanah milik Jema’at di Rabwah telah diserahkan kepada para Mullah oleh Town Committee, dan sampai sekarang mereka menguasainya dan telah memberi nama tempat itu Muslim Colony. Begitu juga tanah yang sangat luas berdekatan dengan Ta’limul Islam New Campus milik Jema’at dan Rabwah Open Space yang terletak di Daarun Nasir telah dirampas dan dikuasainya secara tidak sah. Dan pemerintah telah memutuskan bahwa tanah ini milik pemerintah.

Selain itu orang-orang mukmin diuji dan dicoba melalui anak-anak keturunan. Pihak lawan sengaja berusah untuk menghancurkan karier anak-anak Ahmady. Disekolah-sekolah anak-anak Ahmady dijadikan sasaran penghinaan agar semangat belajar mereka hilang hingga putus sekolah. Dizaman saya kuliah di University Faisal Abad beberapa mahasiswa Ahmady dilarang kuliah. Di Leyyah beberapa orang anak Ahmady ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara atas tuduhan yang tidak benar dan palsu. Jika orang tua anak-anak tersebut mengumumkan telah bertaubah dari Ahmadiyah, maka pengadilan dimana para Mullah telah menuduh anak-anak telah menghina Hazrat Rasulullah saw, secepat mungkin mereka dibebaskan dari tahanan penjara. Sebab itulah yang mereka inginkan agar para Ahmady dengan cara bagaimanapun kerana takut melepaskan iman mereka dan bertaubah meninggalkan Ahmadiyat. Begitulah trick jahat mereka lakukan dengan menimpakan berbagai macam kesulitan dan kesusahan diatas orang-orang Ahmady berusaha untuk melepaskan mereka dari Ahmadiyah. Namun orang-orang bernasib malang itu tidak tahu kedudukan orang-orang Ahmady adalah orang-orang mukmin sejati. Mereka yakin betul bahwa setiap huruf yang tertulis didalam Kitab suci Alqur’an adalah firman Allah swt. Sejak semula Allah swt telah memberitahukan kepada mereka didalam Alqur’an bahwa iman mereka akan diuji dengan kesusahan dan kesulitan seperti itu.

Jadi teguh didalam pendirian dan menanti akhir kesudahan yang baik dan mengucapkan Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) adalah sifat atau prilaku orang-orang Ahmady. Kesusahan dan kesulitan yang ditimpakan kepada mereka dihadapi dengan penuh kesabaran, sebab itulah yang selalu diperlihatkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka Ahmady. Sabar artinya setiap kesulitan atau kesusahan memang dirasakan, akan tetapi tidak kehilangan keseimbangan perasaan dan pikiran disebabkan kesulitan atau kesusahan itu. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkecil hati, melainkan pada setiap percobaan dan pada setiap penderitaan yang dihadapi selalu menghadapkan muka kearah Allah swt. Mereka berdiri tegak sambil bertahan bahwa biarlah ujian berupa kesulitan itu berlaku sebab ia sifatnya hanya sementara, bukan untuk selama-lamanya. Sebagai natijahnya Allah swt akan memberikan yang lebih baik lagi kepada mereka. Pada setiap musibah selalu berfikir bahwa nyawa-ku juga, anak-anak-ku juga, harta kekayaan-ku juga hanyalah barang-barang titipan yang sifatnya sementara. Apabila hal itu semua dikurbankan kerana Allah swt maka tentu aku akan menjadi pewaris karunia Tuhan yang jauh lebih baik dari semula. Apabila manusia berucap “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) maka harus berdiri tegak dengan yakin bahwa kami juga adalah milik Allah swt. Dan harta kami serta anak-anak kami juga semuanya adalah kepunyaan Allah swt. Jadi, jika Dia menginginkan bahwa nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada kami itu hendak diambil kembali oleh-Nya, maka kami rela sepenuhnya tidak perlu kecil hati atau menangis. Sebab kami berkata “Inna ilaihi raaji’un” kami juga akan kembali kepada-Nya. Apabila kita akan kembali kepada-Nya maka Allah swt telah berjanji bahwa Dia akan memberi barang-barang yang jauh lebih baik dari pada barang-barang yang ada didunia ini. Jadi, jika seorang mukmin berfikir seperti itu maka kerugian berupa barang-barang duniawi apapun yang ditimpakan oleh pihak lawan, memang bisa mendatangkan kesusahan yang sifatnya sementara, akan tetapi hal itu tidak akan menjadi kendala bagi kehidupan yang masih terus berlanjut. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Sebagai orang mukmin kalian jangan menganggap buruk terhadap percobaan atau ujian. Hanya orang mukmin yang tidak sempurna yang akan menganggapnya buruk. Allah swt berfirman didalam Alqur’an :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلاَ مْوَالِ وَالاََنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ‏–الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَؕ‏

Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata : “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.” Kesusahan dan kesulitan apapun yang mereka hadapi tidak menimbulkan kesengsaraan dan kesusahan hati mereka. Dan mereka selalu gembira dengan keridhaan Allah swt. Dan mereka menyukai tinggal dalam suasana seperti itu. Mereka itu betul-betul sabar. Dan Allah swt memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa perhitungan. Demikianlah reaksi yang harus ditimbulkan oleh setiap orang Ahmady. Dan dengan karunia Allah swt sampai sekarang para anggauta Jema’at telah menzahirkan keadaan demikian. Dan reaksi itulah sebagai tanda untuk memperoleh kemajuan. Untuk itu kita harus selalu memanjatkan do’a kepada Allah swt. Memang kewajiban kita untuk berdo’a demi keselamatan dari ujian dan percobaan, Allah swt sendiri telah berfirman demikian. Akan tetapi jika turun suatu percobaan dan ujian dari Allah swt, maka untuk menghadapi hal itu keteguhan iman dan ketabahan sangat penting sekali. Dan hal itulah yang boleh membuat turunnya pembalasan yang tidak terhingga dari Allah swt.

Setelah menyebutkan hal itu, selanjutnya dikatakan bahwa Allah swt bersama orang yang sabar, orang yang meraih kedudukan syahid disisi Allah swt, akan mendapat kehidupan yang kekal. Terdapat khabar-khabar gembira bagi orang-orang yang sabar, dan banyak sekali khabar-khabar gembira itu mereka terima. Dan suasana gembira yang meluap-luap itu telah-pun mereka wakafkan demi patuh dan setia kepada Allah swt. Tentang kesulitan yang biasa timbul ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Tidak pernah datang seorang-pun Utusan Tuhan yang tidak menghadapi ujian atau percobaan. Hazrat Masih Israili a.s. telah dipenjarakan dan telah dihadapkan kepada berbagai macam siksaan oleh orang Israil. Selanjutnya bagaimana perlakuan kaum terhadap Nabi Musa a.s. Nabi Muhammad saw sendiri pernah dikepung dan diserang, akhirnya sesuai sunnah Allah swt semua kesulitan itu berakhir diganti dengan kemudahan yang jauh lebih baik. Jika memang sunnah Allah swt seperti itu adalah kesenangan dan kemudahan bagi kehidupan Utusan Allah swt dan para pengikutnya, maka setiap hari pesta-pora makan-makanan yang lazat, tentu bisa dilihat apa bedanya para ahli dunia dengan para Utusan Allah swt ? Jika setiap waktu hanya menjalani kehidupan yang senang sejahtera dan tidak pernah menderita kesulitan, apa bedanya orang-orang dunia dengan Utusan Allah swt ? Setelah kenyang memakan makanan yang lezat mengucapkan alhamdulillah wa syukru lillah memang mudah sekali. Mudah sekali menyatakan rasa syukur seperti itu kepada Allah swt jika setiap hari menjalani kehidupan yang baik dan senang, makanan dan minuman setiap waktu bisa diperoleh dengan mudah. Jadi dalam menghadapi keadaan musibah juga harus kita harus mengucapkan perkataan seperti itu dengan sungguh hati, seperti diwaktu menerima nikmat dari Allah swt.”

Beliau bersabda lagi: “ Para utusan Tuhan dan Jema’at beliau sering ditimpa oleh berbagai macam ujian, ditimpa rasa takut dengan kehancuran, menghadapi berbagai macam mara bahaya dan sebagainya. Itulah arti dari pada Kazzabu mereka mendustakan. Dari peristiwa kesulitan itu ada faedahnya yaitu untuk membedakan diantara orang yang kuat iman-nya dan yang lemah iman. Sebab orang yang imannya lemah, hanya sampai waktu yang menguntungkan mereka saja bisa bertahan, namun apabila masa ujian dan cobaan tiba, mereka berhenti tidak mau bergerak maju. Sedangkan orang yang kuat imannya mereka terus maju kedepan, sekalipun sedang dalam masa percobaan dan ujian seperti itu. Dan itulah sunnah Allah swt yang berlaku kepada saya. Selama tidak ada ujian atau percobaan tidak pernah timbul sebarang tanda yang zahir dari Allah swt. Apabila Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya maka Dia menimpakan ujian kepada mereka. Sebagaimana Tuhan berfirman :

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ‏-الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

Yakni setiap mendapat kesulitan dan kesusahan mereka selalu rujuk dan runduk kepada Allah swt. Dan orang-orang itulah yang menerima nikmat-nikmat Allah swt, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menegakkan istiqamah, tetap didalam pendirian yang teguh, sekalipun mereka menyaksikan kegembiraan duniawi itu nampaknya sangat senang serta lezat untuk dinikmati namun akhir natijahnya tidak ada kesan apa-apa. Dengan menjalani kehidupan berwarna-warni kemewahan yang penuh dengan kesenangan akhirnya hubungan dengan Allah swt menjadi terputus.

Kecintaan Allah swt terhadap hamba-Nya dibuktikan dengan menimpakan suatu ujian kepadanya sehingga dengan ujian itu Dia menzahirkan kemuliaan hamba-Nya itu. Dengan ujian itu kebesarannya, keimanannya yang kukuh kuat akan zahir. Misalnya jika Kisra Iran tidak memerintahkan seorang jenderalnya untuk menangkap Hazrat Rasulullah, maka bagaimana bisa terjadi mu’jizat yaitu kematian Kisra Iran itu pada malam itu juga. Dan jika orang-orang Mekah tidak mengusir Hazrat Rasulullah saw, bagaimana mu’jizat Allah swt akan zahir pada hari-hari sesudahnya. Setiap mu’jizah sangat erat kaitannya dengan suatu ujian atau percobaan yang menyusahkan. Kehidupan berfoya-foya dan bergembira-ria bisa membuat manusia lengah tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah swt. Jika kejayaan duniawi yang melimpah ruah telah diperoleh seseorang, kehidupan merendahkan diri dan merunduk dihadapan Tuhan menjadi hilang. Padahal Allah swt mencintai orang-orang yang menjalani kehidupan dengan merendahkan diri dan mencurahkan perhatian kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia haruslah menghadapi suatu peristwa yang manakutkan. Jadi Allah swt berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang berlaku sabar dan menyerahkan jiwa raga serta nyawanya dijalan Allah swt demi meraih keridhaan-Nya.

Pada akhir ayat Allah swt berfirman :

–اُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ‏

Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarh 154-158). Dan orang-orang itulah yang menjadi pewaris barkat-berkat, mereka itulah yang menjadi penerima hidayah dan rahmat dari Allah swt. Dan orang-orang yang menjadi pewaris rahmat dan barkat dari Allah swt itulah orang-orang yang menerima petunjuk dari Allah swt. Kerana dipergunakan perkataan solawatun mirrabihim maka hal itu bisa diterjemahkan: barkat-barkat dan maghfirat. Jadi orang-orang yang sabar dan banyak memanjatkan do’a akan menyaksikan pemandangan turunnnya barkat dan maghfirat (pengampunan) dari Allah swt yang membuat martabah ruhani mereka semakin tinggi. Perkataan solawatun mirrabihim ini bukan Allah swt yang memanjatkan do’a itu, melainkan berkat-berkat dan maghfirat dari Allah swt turun kepada orang-orang mukmin yang sabar dan banyak memanjatkan do’a itu. Apabila rahmat Tuhan turun kepada mareka maka martabah ruhani mereka itu semakin meningkat terus.

Kerugian duniawi mereka juga bisa diganti sepenuhnya oleh Allah swt, sebab mereka setiap sa’at siap mengurbankan apa yang mereka miliki demi kepentingan agama Allah swt. Bisa diperiksa, siapapun orang Ahmady yang mengurbankan sesuatu dijalan Allah swt, keinginan musuh tidak pernah berhasil membuat orang-orang Ahmady menjadi miskin sehingga menjadi pengemis. Bahkan yang menjadi miskin dan menjadi pengemis dalah mereka sendiri yang telah berbuat zalim terhadap orang-orang Ahmadi dan yang telah merampas dan menjarah harta benda mereka. Dan demi konstitusi undang-undang, orang-orang Ahmady telah dinyatakan sebagai orang-orang bukan Islam. Maka setelah demikian jelasnya pertolongan Allah swt terhadap Jema’at ini, orang-orang bernasib buruk dan sangat malang itu tidak mau paham juga, atau memang sengaja mereka tidak mau paham. Sedangkan kami selalu berdo’a kepada Allah swt semoga Allah swt memberi taufiq kepada mereka untuk memahaminya.

Pada akhir ayat in Allah swt berfirman :

وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

yakni orang-orang yang meraih rahmat dan maghfirat dari Allah swt mereka itulah yang memperoleh hidayah dari Allah swt. Oleh sebab itu disebabkan telah memperoleh hidayat maka mereka terus meningkat didalam meraih hidayat itu dari Allah swt. Dan Allah swt memperlihatkan jalan-jalan baru kepada mereka untuk mencapai kemajuan. Sehingga mereka selalu menjadi peraih kurub dan kecintaan Allah swt. Dan kita harus selalu memohon do’a kepada Allah swt agar Dia menjaga dan melindungi setiap orang Ahmadi dari setiap bala atau musibah. Akan tetapi jika sesuai dengan kehendak Allah swt seseorang harus mendapat ujian dan percobaan dari Allah swt, semoga Allah swt memberi taufik kepadanya untuk melewati masa ujian itu dengan tabah, mudah dan selamat. Dan semoga Allah swt selalu memberi bimbingan kepada kita semua.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Apabila saya melihat kesulitan yang tengah kalian alami dan disamping itu saya melihat kudrat Allah swt yang maha mulia yang secara pribadi saya sendiri telah mengalaminya dan yang telah berlaku pada diri saya, sedikitpun saya tidak merasa gelisah. Sebab saya faham bahwa Allah swt adalah Dia Yang Karim (Maha Mulia) dan Qadir Qudrat, Yang Maha Kuasa. Dan Dia Yang akan melepaskan mereka dari musibat-musibah yang besar. Siapa yang ingin memperoleh banyak ma’rifat maka Allah swt pasti menurunkan musibah sebagai ujian kepadanya. Supaya mereka faham bahwa Tuhan memberi harapan positif kepada mereka bahwa dari tidak ada harapan sama sekali timbul hasrat dan keinginan yang baik. Pendeknya Dia sungguh Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya. Dengan adanya ujian dan cobaan itu jangan sampai Allah swt menjadi jauh dari kita. Dalam memberi ujian dan cobaan juga Allah swt Maha Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Penyayang.”
Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Jalan untuk memperoleh karunia dan rahmat-Nya selamanya terbuka selalu. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh harapan positif terhadap Rahmat-Nya. Dan diwaktu menghadapi kegelisahan perlu sekali bertaubah dan membaca istighfar sebanyak-banyaknya.” Harus diingat selalu bahwa orang yang diwaktu turun bala dan musibah dia tinggalkan usaha untuk bertaubah dari keburukan atau dosa, yang sebetulnya untuk meninggalkan taubah dengan segera itu tidak ada maksud sebelumnya, maka hal itu merupakan siksaan besar bagi orang itu. Dan jika musibah dan kemalangan serta kesusahan tengah terjadi, lalu ia tinggalkan dosa atau kebiasaan buruknya itu, maka hal itu akan menjadi sebuah kaffarah yang besar baginya. Bersamaan dengan terbukanya hati dia itu untuk bertaubah terbukalah juga kegelapan musibah itu baginya. Dan datangnya nur cahaya menjadi suatu harapan yang pasti baginya. Apabila hati manusia telah terbuka mata kegelapan yang disebabkan timbulnya bala atau musibah itu akan berubah menjadi cahaya terang baginya. Dan akan timbul harapan untuk mendapatkan nur dari allah swt.

Jadi keadaan dunia sekarang ini seperti telah saya katakan bahwa para Ahmady diseluruh dunia sangat perlu sekali untuk menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap do’a. Mengingat-ingat kelemahan dan dosa yang ada pada dirinya sangat diperlukan sekali. Dan harus berusaha keras untuk berjumpa dengan Allah swt. Usaha pribadilah yang harus dilakukan oleh Jema’at, apabila seseorang berbuat baik mudah-mudahan membawa faedah untuk semuanya. Dalam suasana sekrang ini setiap Anggauta Jema’at dimanapun berada sangat perlu sekali untuk meningkatkan banyak do’a untuk saudara-saudara kita itu. Mengingat keadaan yang tengah terjadi pada masa sekarang ini, nampaknya akan terjadi ujian-ujian yang lebih berat lainnya yang akan dihadapi oleh para Ahmady di Pakistan. Oleh sebab itu dengan perantaraan do’a-do’a semoga hal itu bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu Huzur mengumumkan empat orang Ahmady yang telah mati syahid dan beliau akan memimpin salat jenazah ghaib untuk keempat orang syuhada itu.

Alihbhasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri


0 Responses to “Khutbah Khalifah Ahmadiyah : Orang-orang Mukmin Tetap Teguh di Dalam Menghadapi Ujian dan Kesulitan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: