31
Okt
09

Ahmadiyah : Khabar dari Amerika: Satu Mesjid Telah Dibuka Kembali

Salah satu dari hanya empat mesjid Muslim Ahmadi di California akan secara resmi dibuka kembali bulan ini di Chino, setelah enam tahun lalu kebakaran yang disebabkan oleh konsleting listrik telah merusak bangunan tersebut.

Mesjid Baitul Hameed telah menjadi mercusuar untuk kaum Ahmadi sejak diresmikan pada tahun 1989 sebagai tempat ibadah kaum Ahmadi yang pertama di California Selatan. Beberapa Ahmadi Muslim pindah ke kawasan pedalaman ini agar dekat dengan mesjid.

Salah satunya adalah Wahid Hashmi dari Riverside. Dia dan anggota lain membantu dalam pembangunan mesjid. “Melihat mesjid ini terbakar kala itu sungguh sangat memilukan”, katanya.

“Itu sangat sulit,” kata Hashmi. “Rasanya seperti membangun rumah sendiri.”

Salah satu keunggulan dari mesjid ini adalah bahwa mesjid ini telah menjalin hubungan yang dekat dengan rumah ibadah lainnya. Rohaniwan dari agama-agama lain diharapkan hadir pada 24 Oktober 2009 dalam acara pembukaan kembali mesjid ini, demikian diungkapkan Anwer Khan yang adalah sekretaris umum dari mesjid. Mesjidnya sendiri telah digunakan untuk kegiatan peribadatan sejak bulan Agustus.

Ahmadiyah didirikan pada tahun 1889 oleh Mirza Ghulam Ahmad, yang menyatakan dirinya sebagai “orang yang dijanjikan,” atau mesias, dari agama-agama monoteis. Kaum Ahmadi percaya bahwa ajaran-ajaran Ibrahim, Isa, Krishna, Musa, Buddha, Kong Hu Chu dan lain-lain berkumpul menjadi satu dalam “Islam yang benar.”
MOSQUE11Bdwb (10/9/2009, Chino) METRO Imam Shamshad Nasir stands in front of Baitul Hameed Mosque in Chino. The mosque is holding an open house on October 24 to celebrate its multi-million-dollar rebuilding and remodeling following a 2003 fire that severely damaged the building. (David Bauman/The Press-Enterprise)

Menurut markas pusatnya di London ada tercatat puluhan juta warga Ahmadi di seluruh dunia.

Ahmadiyah dianggap sesat oleh beberapa kalangan Muslim. Pakistan pada tahun 1974 menyatakan golongan Ahmadi sebagai non-Muslim dan kemudian melarang mereka dari menyatakan secara terbuka keimanan mereka itu, dilarang mengucapkan assalamu’alaikum dan dari membagikan literature. Banyak kaum Ahmadi telah dibunuh dan diserang oleh pengikut muslim dari kelompok lain dan mesjid-mesjid mereka telah dihancurkan. Polisi sering kali gagal untuk melindungi mereka. Serangan terhadap Ahmadiyah juga terjadi dengan kekebalan hukum di Negara-negara lain, termasuk Bangladesh dan Indonesia, demikian menurut laporan dua organisasi, Human Rights Watch dan Amnesti Internasional.

Beberapa orang dari anggota mesjid Chino adalah pelarian dari Pakistan. Mereka melarikan diri dari kampung halamannya untuk menghindari penganiayaan dari kaum anti Ahmadi. Misalnya seorang pria berusia 64 tahun yang bernama Dr Gulzar Ahmad, kini tinggal bersama keluarganya di Riverside, setelah rumahnya di Bahawalpur, Pakistan, diserang massa pada tahun 1973.

Kebencian terhadap warga Ahmadi tidaklah menyeluruh, demikian kata Ahmad. Ada juga pengikut Muslim Sunni dan Muslim Syi’ah yang baik kepadanya dan melindungi keluarganya. Namun dia takut dia dan keluarganya akhirnya akan disiksa atau dibunuh.

Imam mesjid, Shamshad Nasir, 67 tahun, mengatakan bahwa penindasan terhadap Ahmadiyah di Pakistan memburuk pada tahun 1970-an. Saat muda dulu ia memililki teman-teman baik dari kalangan Sunni dan Syiah.
MOSQUE11Adwb (10/9/2009, Chino) METRO Muslim worshippers prayer at Baitul Hameed Mosque in Chino on Friday. The mosque is holding an open house on October 24 to celebrate its multi-million-dollar rebuilding and remodeling following a 2003 fire that severely damaged the building. (David Bauman/The Press-Enterprise)

“Salah satu berkah dari negara ini adalah bahwa setiap orang bisa beribadah di sini,” katanya.

Penganiayaan telah membuat hubungan dalam komunitas Ahmadi menjadi lebih erat. Mesjid Ahmadi kedua di California dibuka sekitar 10 tahun yang lalu di Hawthorne, Los Angeles selatan, namun beberapa anggotanya masih melakukan perjalanan jauh untuk beribadah di Chino. Sekitar setengah dari anggota mesjid tinggal di Riverside dan San Bernardino county, kata Khan.

Majid Khan, yang tidak ada hubungannya dengan Anwer Khan, tinggal di Newport Beach sejak tahun 1980 ketika ia dan Ahmadi lainnya mulai membicarakan untuk membangun sebuah mesjid. Saat itu, mereka beribadah di rumah-rumah pribadi, dan menyewa aula untuk keperluan acara khusus. Demikian Khan, pria berusia 49 tahun.

Ia pindah ke Chino, dan kemudian ke Riverside, sehingga dia bisa beribadah lebih sering di mesjid ini. Dalam sehari, setidaknya ia menjalankan dua kali shalat berjamaah dan seringkali lebih. Dia mengatakan itu membuat dirinya merasa damai.

“Sekitarnya sangat diberkati,” demikian kata Majid Khan. “Anda dapat beribadah di mana saja, karena Allah adalah di mana-mana, tetapi suasana membuat perbedaan besar.”

Mesjid baru seluas 27.000 kaki persegi, dengan dua lantai ini dua kali lebih besar dari ukuran mesjid yang lama. Sekitar 300-400 orang beribadah di sana untuk menjalankan shalat Jumat, demikian menurut Anwer Khan. Mesjid ini masih menggalang dana sebesar $ 1 juta yang diperlukan untuk membangun lapangan basket, dapur umum ukuran industri dan rumah bagi Imam Nasir.

Meskipun sebagian besar dari mesjid ini hancur pada kebakaran tahun 2003, namun ruang untuk sholat masih tetap utuh, sehingga para jamaah masih dapat menjalankan sholat diruangan itu untuk selama beberapa minggu. Untuk 3 ½ tahun pertama, terkumpul $ 3 juta untuk tahap pertama pembangunan kembali dan perluasan.

Pada bulan Oktober 2007, pekerjaan konstruksi memaksa mereka untuk pindah ke tempat lain, ke sebuah bangsal milik Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Akhir Zaman. Di bangsal ini mereka menjalankan salat Jumat selama 1 ½ tahun.

Undangan kepada kaum Ahmadi untuk menggunakan bangsal kaum Mormon ini datang setelah selama bertahun-tahun diantara mereka telah terjalin persahabatan dan anggota kedua jemaat saling mengunjungi satu sama lain, demikian diungkapkan oleh Ken Rasmussen, direktur hubungan masyarakat Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Akhir Zaman, wilayah yang mencakup Chino.

Rasmussen mengatakan sebelumnya dia tidak mengetahui tentang adanya kesamaan sejarah antara kedua keyakinan yang mendapat penganiayaan dan disalahpahami, sampai beberapa bulan setelah anggota ke dua jemaat mulai menyelenggarakan acara makan malam bersama.

Sama seperti halnya sebagian ummat Muslim menganggap Ahmadi sebagai sesat, sebagian ummat Kristen juga mengganggap Mormon sebagai sesat. Kaum Ahmadi percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Mesias; Mormon percaya bahwa Joseph Smith adalah seorang nabi. Smith dibunuh pada tahun 1844 pada era serangan dan penganiayaan kaum anti-Mormon sedang hebat-hebatnya di Amerika Serikat.

Rasmussen mengatakan bahwa setelah menghadiri lusinan pelayanan doa kaum Ahmadi, dia menyadari ada kemiripan lain juga: Ajaran untuk mencintai orang lain, menghormati keluarga Anda dan melayani Allah.

“Suatu berkat yang luar biasa bagi kami dapat berteman baik dengan mereka” katanya.

OPEN HOUSE
Mesjid Baitul Hamed di Chino mengadakan open house pada tanggl 24 Oktober 2009. Open house akan termasuk sebuah tur dan makan malam.
When: 4 to 6 p.m. Oct. 24.

Where: 11941 Ramona Ave.

RSVP: To RSVP, write to chinomosque@gmail.com with the number of people expected.

Sumber: The Press-Enterprise

Ditulis oleh: DAVID OLSON, dolson@PE.com

Sumber :
http://denagis.wordpress.com/2009/10/20/khabar-dari-amerika-satu-mesjid-dibuka-kembali/


0 Responses to “Ahmadiyah : Khabar dari Amerika: Satu Mesjid Telah Dibuka Kembali”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: