28
Okt
09

PENJELASAN AL-QUR’AN SUCI TENTANG NABI MUHAMMAD SAW. SEBAGAI “KHATAMAN NABIYYIN”.

Keterangan pertama :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٤٠)

“Bukanlah Muhammad bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul Allah dan Khataman Nabiyyin dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ”(Q.33:40).

Ayat Khataman Nabiyyin ini diturunkan di dalam rangkaian pembelaan dari Allah Taala kepada Nabi Muhammad saw. atas tuduhan orang-orang kafir, bahwa pernikahan beliau saw. dengan Zaenab, berarti mengawini mantu sendiri.
Ditinjau dari rangkaiannya saja, tidaklah tepat kalau kita mengartikan “Khataman Nabiyyin” itu penutup nabi-nabi atau penutup rasul-rasul. Marilah kita teliti lebih lanjut.
Susunan ayat ini merupakan susunan kalimat majemuk yang terdiri dari 3 buah kalimat:

1. Kalimat pertama : “Maa kaana Muhammadun abaa ahadin min rijalikum”(Kalimat pokok – induk kalimat).
2. Kalimat kedua : “Muhammadun Rasulullahi ” (walakin rasulullahi)
3. Kalimat ketiga : “Muhammadun Khataman Nabiyyin” (wa khataman nabiyyin).

Kalimat pertama adalah
kalimat yang terpenting (kalimat pokok – induk kalimat). Kalimat kedua adalah penjelasan dari kalimat pertama (anak kalimat). Kalimat yang ketiga adalah penjelasan dari kalimat kedua (cucu kalimat). Dengan pemecahan itu teranglah, bahwa yang terpenting adalah kalimat pertama, yang menerangkan bahwa : “Muhammad itu bukanlah bapak dari laki-laki kamu sekalian”.

Jika seandainya ayat tersebut hendak menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw. itu penutup segala nabi, apakah gerangan hubungannya dengan menerangkan lebih dahulu, bahwa Muhammad saw. bukan bapak dari laki-laki kamu sekalian?

Dengan dua kalimat yang terakhir pun agaknya sudah cukup, umpamanya dengan : “Muhammadun rasulullah wa khataman nabiyyin”. Dengan lebih ditonjolkannya kalimat yang pertama, sambil disatukannya di dalam suatu susunan kalimat majemuk, sudah memberikan gambaran kepada kita, bahwa antara ketiga kalimat itu niscaya ada hubungannya satu dengan yang lainnya.

Untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya itu, marilah kita selidiki menurut asbabun nuzulnya, sebab musababnya ayat itu diturunkan.

Adapun sebab musababnya adalah sebagai berikut :
Rasulullah saw. mempunyai seorang abid, hadiah dari Siti Khadijah r.a., namanya ZAED bin Haritsah. Pada suatu hari ada dua orang datang menghadap kepada Rasulullah saw. Setelah ditanya, mereka menjawab dan mengaku, seorang bernama Haritsah dan seorang lagi saudaranya. Mereka datang disebabkan telah mendengar khabar, bahwa Zaed yang telah lama hilang, sekarang ada pada keluarga Rasulullah saw. Jika benar menurut seperti apa yang mereka dengar, mereka bermaksud menebusnya dan membawanya pulang. Rasulullah saw. menerangkan, bahwa nama Zaed itu ada. Kemudian dipanggilnya Zaed itu. Setelah hadir, Zaed ditanya oleh Rasulullah: “Zaed, kenalkah engkau akan dua orang ini?” Jawab Zaed: “Kenal, ya Rasulullah. Ini bapak hamba, dan seorang lagi paman hamba”. Sabda Rasulullah saw.: “Ketahuilah olehmu, bahwa maksud kedatangan bapakmu, dan pamanmu ini hendak menjemputmu pulang ke kampung. Jika engkau mau pulang, pulanglah bersama bapakmu dan pamanmu. Bagiku tak ada keberatan apapun”. Jawab Zaed: “Jika sekiranya Tuan masih berkenan akan hamba, hamba tidak akan pulang, hamba ingin terus menetap bersama Tuan”. Mendengar jawaban Zaed, Rasulullah saw. sangat gembira. Lalu dibawanya Zaed keluar rumah, dan diutarakannya kepada orang-orang Quraisy: “Hai orang-orang Quraisy! Saksikanlah, sejak hari ini Zaed kuangkat sebagai anakku. Oleh karenanya, sejak hari ini hendaklah ia dipanggil dengan nama Zaed bin Muhammad”. Dan begitulah, sejak hari itu ia biasa dipanggil dengan nama Zaed bin Muhammad.

Menurut adat dan kebiasaan orang-orang Quraisy pada masa itu, hak dan kewajiban anak angkat sama dengan hak anak kandung. Itulah sebabnya, penggantian nama Zaed itu menjadi Zaed bin Muhammad tidaklah menjadi aneh lagi bagi mereka. Rasulullah saw. sebagai bapak dari Zaed, lalu kemudian mencarikan seorang wanita untuk menjadi istri Zaed. Maka Zaedpun kawinlah dengan Siti Zaenab, seorang wanita dari kalangan keluarga Rasulullah saw. juga.

Oleh karena Siti Zaenab itu berasal dari kalangan keluarga Rasulullah saw., maka niscaya Siti Zaenab itu wanita bangsawan. Perkawinan antara Zaed dan Zaenab membawa akibat kurang serasi dalam kerumah-tanggaannya, karena pembawaan istri sangat berlainan dengan pembawaan suami. Bukan sekali dua kali Zaed bermaksud akan menceraikan istrinya, tetapi selalu diberi nasehat oleh Rasulullah saw. “Tuan, bersabarlah engkau. Bersabarlah. Bertaqwalah kepada Allah”. Tetapi lama kelamaan, setelah tak tertahankan lagi, Zaed akhirnya bercerai juga.

Setelah Siti Zaenab menjadi janda dan sudah habis iddahnya, maka datanglah perintah dari Allah Swt. kepada Rasulullah saw. untuk mengawini Siti Zaenab, janda Zaed itu. Tentu saja Rasulullah saw. merasa sangat segan. Terbayang oleh beliau akan hebatnya cemoohan dari pihak orang-orang Quraisy, karena pernikahan yang diperintahkan oleh Allah itu melanggar hukum adat yang berlaku di masa itu. Bagi Rasulullah saw. sendiri jelas, bahwa perintah Allah Swt. tersebut adalah bermaksud untuk menggugurkan dan merombak adat kebiasaan orang-orang Quraisy yang tidak dibenarkan oleh Allah, yaitu mengenai anggapan, bahwa anak angkat dipersamakan dengan anak kandung.

Walau bagaimanapun, pernikahan itu adalah perintah Allah, dan beliau sebagai Rasul Allah harus melaksanakan segala apa yang diperintahkan-Nya. Akhirnya beliau pun nikahlah dengan Zaenab. Benar saja, apa yang beliau khawatirkan itu sungguh-sungguh terjadi. Bukan main hebatnya cemoohan dari orang-orang Quraisy, menuduh Rasulullah saw. pelanggar adat, dan sebagainya.
Dalam keadaan macam itulah turun ayat:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٤٠)

Ayat ini sebagai pembelaan dari Allah Swt. Maksud dan tujuan dari ayat ini adalah: “Muhammad itu bukanlah bapak dari laki-laki kamu, tegasnya: bukan pula bapak dari Zaed, oleh karena itu Zaenab bukanlah menantu Muhammad. Maka bilamana Muhammad mengawini Zaenab, hal ini bukan berarti mengawini bekas menantu. Muhammad adalah Rasul Allah yang harus patuh kepada Allah. Allah yang memerintahkan dia supaya mengawini Zaenab. Bahkan ia bukan sembarang rasul, melainkan ia adalah Nabi yang paling mulia di antara segala nabi-nabi.

Keterangan kedua :

Perkataan khatam menurut loghat: maa yukhtamu bihi, suatu barang yang digunakan untuk mencap; jadi, alat pencap. Menurut penyelidikan yang sangat teliti, perkataan khatam apabila di-idlafah-kan (digandengkan) di belakangnya perkataan jamak (mervoud) misalnya: al-mufassirin, al-muhaajirin, as-syu’ara, al-fuqaha, al-aulia dan sebagainya, maka artinya ialah afdhal, yang lebih mulia. Beberapa contoh pemakaian kata khatam yang diiringi dengan kata-kata jamak :

a. Sabda Nabi Muhammad saw. kepada Hadhrat Umar r.a. :
اِطْمَئِنَّ يَاعُمَرَ فَاِنَّكَ خَاتَمُ الْمُهَاجِرِيْنَ فىِ الْهِجْرَةِ كَمَااَنَا خَتَمُ النَّبِيِّيْنَ فىِ النُّبُوَّةِ.
Artinya:
“Tenangkanlah hatimu wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah khatam orang-orang yang berhijrah, sebagaimana aku adalah khatam nabi-nabi”. (Kanzul Umal, Juz VI, halaman 178).

Apakah Umar penghabisan orang-orang muhajir (yang berpindah tempat)? Tentu tidak. Jadi perkataan khatam itu diucapkan oleh Nabi saw. kepada Umar r.a. hanya untuk menyatakan bahwa Umar r.a. mempunyai kelebihan dibandingkan dengan muhajir lainnya ketika itu.

Sabda Nabi saw. kepada Ali r.a. :

اَنَا خَاتَمُ اْلاَنْبِيَاءِ وَاَنْتَ يَاعَلِيُّ خَاتَمُ اْلاَوْلِيَاءِ.

Artinya:
“Aku adalah khatam nabi-nabi dan engkau wahai Ali khatam wali-wali” (Tafsir Safi dibawah ayat khataman nabiyyin)
Benarkah Ali penghabisan wali? Tentu tidak.

c. Syeh Muhyidin Ibnu Arabi diberi gelar dengan khatamul aulia (dalam pendahuluan kitab Futuhat Makiyah).
d. Abu Thamam At-Thai seorang tukang Syair disebut oleh Hasan bin Wahab khatamul syu’ara

خَاتَمُ الشُّعَرَاءِ

(Wafiyyatu a’ayan libni khalkan jilid I/123).

Perkataan khatam juga berarti cincin. Cincin adalah perhiasan bagi para nabi-nabi. Di sini kita salinkan pendapat ahli tafsir tentang perkataan khatam tadi itu:

صَارَكَالْخَاتَمِ لَهُمُ الَّذِى يَخْتِمُوْنَ بِهِ ويَتَـزَيَّنُوْنَ بِكَوْنِهِ مِنْهُمْ. (تقسير فتح البيان, جلد  – ص )
Artinya:
“Adalah ia (Nabi Muhammad saw.) itu seperti cincin bagi mereka (para nabi-nabi), dan mereka berperhiasan dengannya, karena beliau salah seorang dari golongan mereka”(Tafsir Fathul Bayaan, jilid VII, halaman 286).
اَلْخَاتَمُ بِمَعْنىَ الزِّيْنَةِ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْخَاتَمِ الَّذِى هُوَزِيْنَةٌ لِلاَبِسِهِ.
(مجمع البحار)
Artinya :
“Khatam berarti perhiasan berasal dari khatam (cincin) yang menjadi perhiasan bagi pemakainya”.

Beberapa contoh dari penggunaan khatam tersebut dari hadits, tafsir dan muhawarah (pemakaian sehari-hari) oleh ahli bahasa Arab ini, cukuplah rasanya sebagai pembantu untuk memecahkan soal khataman nabiyyin tersebut.

Artinya :
“Hari ini Aku telah menyempurnakan atas kamu nikmat-Ku dan Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu”(Q.5 : 4).

Dengan ayat ini pihak yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw. nabi yang terakhir mengatakan bahwa agama Islam sempurna dengan tidak perlu seorang nabi datang lagi.

Kalimat “menyempurnakan” tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw. Allah telah menganjurkan kepada ummat Islam supaya selalu meminta kepada-Nya agar nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada ummat-ummat terdahulu diberikan pula kepada ummat Islam. Hal ini kami sudah jelaskan di atas.

Kalimat “sempurna” itu pernah juga digunakan untuk kitab Taurat, padahal sesudahnya, turun lagi kitab yang lebih sempurna dalam segala-galanya dari pada Taurat itu sendiri yaitu Al-Qur’an (Al-An’am 154). Begitu pula perkataan penyempurnaan nikmat itu pernah diucapkan kepada Nabi Yusuf a.s. dan sebelumnya pada Nabi Ibrahim a.s. dan Ishak a.s. (Yusuf ayat 6). Jadi perkataan sempurna menyempurnakan tidak ada sangkut pautnya dengan tidak ada nabi setelah Nabi saw. Ayat ini menyatakan agama Islam telah sempurna dan Tuhan sudah ridha agar menjadi agama untuk selama-lamanya. Islam tidak lagi akan dimansuhkan (dibatalkan), ditambah atau dikurangi.

Keterangan ketiga :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)

Artinya:
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”. (Q.34:28)
Nabi Musa a.s. diutus kepada seluruh Bani Israil, tetapi sesudah beliau, Allah terus juga mengirim Rasul dan nabi-nabi kepada mereka. Seperti Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s., Nabi Isa a.s. dan lain-lain, yang tidak sedikit bilangannya. Jadi jika Nabi Musa a.s. diutus kepada seluruh Bani Israil dan nabi-nabi yang diutus di belakang beliau diutus kepada Bani Israil juga, serta mereka berhukum kepada kitab Nabi Musa juga (Taurat) maka begitu pulalah halnya dengan Nabi Mhammad saw., beliau diutus untuk semua bangsa dan tentulah nabi yang akan datang diutus pula untuk seluruh dunia dengan tugas memenangkan Islam di atas segala agama.

Sumber :
1. Qur’an Terjemaan Depag RI
2. Buku Kami Orang Islam PB JAI Tahun 2007


0 Responses to “PENJELASAN AL-QUR’AN SUCI TENTANG NABI MUHAMMAD SAW. SEBAGAI “KHATAMAN NABIYYIN”.”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: