27
Okt
09

KEIMANAN DAN BEBERAPA AJARAN PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwah beliau, adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar lingkungan Islam”(Taqrir Wajibul I’lan, 23 Oktober 1891).

“Inti dari madzhab kami ialah : LAA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan kami dalam hidup ini dan yang padanya kami, dengan karunia dan taufik Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah bahwa Junjungan dan Penghulu kami, Nabi Mustafa Muhammad saw. adalah “Khatamun Nabiyyin” dan “Khairul Mursalin”, yang termulia dari antara Nabi-nabi. Di tangan beliau hukum syariat telah disempurnakan. Karunia yang serupa ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai Tuhan Yang Maha Kuasa”(Izala-i-Auham, halaman 137, 1891).

“Martabat luhur yang diduduki oleh Junjungan dan Penghulu kami yang terutama dari semua manusia, Nabi yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin saw. telah berakhir dalam diri beliau yang dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tidak dapat dicapai manusia”.(Taudih-i-Maram).

“Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad saw. adalah Nabi-Nya dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua makhluk”.(Kisti-i-Nuh, halaman 15, 1902).

“Saya katakan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan serigala buas, tetapi kami tidak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi (Muhammad) yang kami cintai, orang yang lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami”.(Paigham-i-Sulh, halaman 30, 1908).

“Sekiranya orang-orang ini membantai anak-anak kami di muka mata kami dan mencincang apa-apa yang kami kasihi sampai berkeping-keping dan membuat mati dengan hina dan malu dan merampas harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi Suci kami, Muhammad saw.”(Aina-i-Kamalati Islam, halaman 52, 1893).

“Lembaga kenabian telah tertutup, kecuali melalui dan di dalam Nabi Muhammad saw. Nabi pembawa syariat tidak mngkin datang lagi. Seorang Nabi tanpa syariat baru bisa datang, tetapi lebih dulu ia harus seorang ummati, yakni seorang pengikut Nabi Muhammad saw.”(Tajalliati Ilahiyah, halaman 20, ditulis 1906).

“Hamba yang hina ini mendapat kehormatan juga untuk menjadi salah seorang dari hamba-hamba yang hina dari Nabi Agung itu yang menjadi Penghulu Nabi-nabi dan Raja Rasul-rasul”(Barahin-i-Ahmadiyah).

“Sesudah Nabi Muhammad saw. tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dulu menjadi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad saw.”(Tajalliati Ilahiyah, halaman 9, ditulis tahun 1906).

“Suatu ketinggian, suatu keistimewaan, suatu kehormatan, suatu persatuan dengan Tuhan tak akan dicapai kecuali dengan jalan pengabdian sesempurnanya kepada Nabi Muhammad saw. Apa juga yang kita terima adalah karena beliau dan dari beliau”(Izala-i-Auham, halaman 138, 1891).

“Semua pintu kenabian telah tertutup, kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad saw. dan pintu fana seluruhnya ke dalam beliau”(Ek Ghalti ka Izala, halaman 3, 1901).

“Saya mendapat karunia itu begitu sempurnanya bukanlah tersebab sesuatu jasa saya sendiri, tetapi hanya karena rahmat Allah. Karunia itu ialah yang telah dianugerahkan kepada Nabi-nabi, Rasul-rasul dan orang-orang pilihan Allah sebelum saya. Hal itu tak akan mungkin saya capai sekiranya saya tidak mengikuti Junjungan dan Penghulu saya, kebanggaan Nabi-nabi dan yang paling sempurna dari mereka, Nabi Muhammad saw. Apa juga yang saya terima hal itu adalah karena penyerahan diri saya kepada beliau. Saya yakin sepenuh-penuhnya dan sebesar-besarnya bahwa tak seorangpun akan mencapai kedekatan dengan Tuhan dan memperoleh ilmu-Nya yang sejati kecuali dengan mengikuti Rasulullah saw”(Haqiqatul Wahyi, halaman 62, 1907).

“Tuhan yang mengetahui rahasia hati beliau, meninggikan beliau diatas semua Nabi-nabi yang mendahului beliau dan yang akan mengikuti beliau. Allah memenuhi semua keinginan beliau dalam masa hidup beliau. Sesungguhnya beliau adalah mata air dari segala kemuliaan. Seorang yang mengatakan memperoleh kesempurnaan tanpa mengakui berutang budi kepada beliau, bukanlah seorang manusia melainkan turunan setan, karena hanya beliau saja yang dikaruniai kunci kepada segala kesempurnaan. Dan memang beliau telah dianugerahi khazanah ilmu pengetahuan Ilahi. Orang yang tidak menerima apa-apa melalui beliau tidak akan menerima apa-apa dari seseorang lainnya. Kami tak berarti apa-apa, sama sekali tak apa-apa, dan kami sama sekali berada di puncak kedurhakaan bila kami tidak mengakui bahwa hanya melalui Nabi Muhammad saw. saja kami dapat memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang hakikat tauhid Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya adalah dengan perantaraan beliau dan melalui cahaya kesempurnaan beliau kita memperoleh kesadaran tentang Tuhan Yang Hidup”(Haqiqatul Wahyi, halaman 116, 1907).

“Saya tak dapat berbuat lain selain mengulangi dan menyatakan dengan nyaring bahwa kecintaan sejati kepada Al-Qur’an Suci dan Nabi Muhammad saw. serta penyerahan sepenuhnya kepada beliau memungkinkan seorang untuk melakukan mujizat, dan bagi orang semacam itu terbuka pintu menuju pengetahuan yang tersembunyi. Seorang pengikut agama lain tak akan dapat bertanding melawannya dalam persoalan karunia keruhanian. Kebetulan saya mempunyai pengetahuan pertama tentang keajaiban ini. Saya naik saksi bahwa, kecuali Islam, semua agama lain sudah tua renta, sama sekali tak mungkin, saya ulangi lagi, tak mungkin untuk mengadakan hubungan yang hidup dengan Tuhan, kecuali jika orang menerima Islam”(Zamima Anjam-i-Atham, halaman 61-62, 1897).

“Perkataan Nabi adalah serupa dalam bahasa Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Ibrani perkaaan itu diucapkan Naabi yang diambil dari Naba yang berarti pemberian nubuwatan dari Tuhan. Seorang Nabi tak harus pembawa syariat. Keadaan ini adalah anugerah Tuhan dengan mana dikhabarkan peristiwa-peristiwa masa yang akan datang”(Ek Ghalti ka Izala, halaman 8, 1901).

“Tuduhan yang dilemparkan kepada saya ialah bahwa bentuk kenabian yang saya akui buat diri saya menyebabkan saya keluar dari Islam. Dengan perkataan lain saya dituduh mempercayai bahwa saya adalah nabi yang berdiri sendiri, seorang nabi yang tak perlu mengikuti Al-Qur’an Suci, dan bahwa kalimah saya lain dan qiblah saya berobah. Juga saya disangkakan menghapus syariat dan memutuskan tali kesetiaan kepada Nabi Muhammad saw. Tuduhan itu sama sekali palsu. Suatu pengakuan kenabian seperti itu adalah kufur, ini jelas. Bukan hanya kini tetapi sejak hari permulaan sekali saya selalu mengemukakan dalam buku-buku saya bahwa saya tidak mengakui kenabian seperti itu untuk saya. Itu sama sekali adalah suatu tuduhan kosong dan suatu cercaan terhadap saya. Keadaan sebenarnya hanyalah ini : bila saya menyebutkan diri saya seorang nabi, saya maksudkan hanya bahwa Allah Swt berbicara dengan saya, bahwa Dia sangat sering berkata-kata dengan saya dan Dia bercakap-cakap dengan saya dan menerima pengabdian saya dan mewahyukan kepada saya hal-hal ghaib, dan membukakan kepada saya rahasia-rahasia yang berhubungan dengan masa datang dan yang tidak Dia bukakan kepada seorang yang tidak Dia cintai dan dekat kepada-Nya. Sesungguhnya Dia mengangkat saya sebagai nabi dalam arti itu”(Akhbari Am, Lahore, 26 Mei 1908, halaman 7).

Selain dari penjelasan-penjelasan yang kami kemukakan di atas, dalam surat terbuka yang disampaikan kepada Raja dan para Pemimpin Afghanistan, Imam Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a. menulis antara lain sebagai berikut:

“Kami beriman, bahwa Allah Swt. ada dan menyatakan ada-Nya merupakan pernyataan kebenaran yang maha penting”.

“Kami beriman, bahwa Tuhan Maha Esa, tanpa sekutu di langit dan tanpa sekutu di bumi. Segala sesuatu adalah ciptaan-Nya, tergantung dari Dia dan berhajat pada pertolongan-Nya. DIA tidak beranak dan tidak ber-ibu-bapak, tidak beristri, tidak bersaudara. DIA adalah Esa dan mutlak dalam ketunggalan-Nya.

“Kami beriman, bahwa Tuhan Maha Mulia, bebas dari kekurangan-ketunaan dan memiliki segala kesempurnaan. Tiada noda, cacat atau celaan dan tiada ketidaksempurnaan terdapat pada Dia. Kekuasaan dan ilmu-Nya tiada batasnya. DIA meliputi segala sesuatu dan tak ada yang meliputi Dia. DIA awwal, Dia Akhir, Dia Zahir, Dia Ghaib, Pencipta dan Tuhan segala sesuatu. DIA Maha Cinta, Kekal Abadi. Perbuatan-Nya yang Dia kehendaki, tiada yang terpaksa, tiada penetapan terdahulu. DIA Berdaulat sekarang seperti dahulu dan kemudian. DIA memerintah sekarang seperti Dia memerintah sebelumnya dan kemudian. Sifat-sifat-Nya kekal untuk selama-lamanya.

“Kami beriman, bahwa para malaikat itu adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Al-Qur’an memiliki sesuatu, para malaikat melaksanakan penyelenggaraan sesuatu. Mereka dijadikan sesuai sifat Maha Bijaksana-Nya untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Adanya wujud itu suatu kenyataan, dan isyarah kepada mereka dalam Al-Qur’an Suci bukan hanya bersifat perlambang belaka. Mereka tergantung dari Tuhan seperti halnya manusia dan makhluk-makhluk lainnya semua.

“Kami beriman, bahwa Tuhan memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia pilih dan Dia mewahyukan kepada mereka itu rencana Ilahi menurut kehendak-Nya. Wahyu turun dalam tutur kata. Manusia hidup atas wahyu dan dengan perantaraan wahyu ia menjadi berhubungan dengan Tuhan. Kata-kata yang didalamnya wahyu turun, khusus dan istimewa dalam kekuasaan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan itu, tidak diturunkan sekaligus. Suatu tambang bumi dapat habis difaedahkan isinya oleh manusia, tetapi tidaklah demikian halnya hikmah wahyu. Wahyu membawa bagi kita ilmu tentang yang ghaib dan mengenai kebenaran-kebenaran rohani. Wahyu menyampaikan kepada kita perkenan Tuhan maupun penolakan-Nya dan tidak ridha-Nya, cinta-Nya, maupun peringatan-peringatan-Nya. Tuhan menghubungi manusia dengan perantaraan wahyu. Hubungan itu bermacam-macam menurut keadaan dan menurut si penerimanya. Dari semua hubungan suci itu maka yang paling sempurna, paling melingkupi ialah Al-Qur’an suci. Al-Qur’an suci telah ditakdirkan untuk tetap ada selama-lamanya dan tidak dapat diungguli oleh wahyu-wahyu terdahulu dan sesudahnya, yang manapun juga.

“Kami beriman pula, bahwa bila kegelapan merajalela di dunia dan manusia tenggelam jauh dalam dosa dan kejahatan serta keadaan menjadi sukar baginya untuk bangkit kembali tanpa bantuan dari Tuhan, maka atas Maha Pemurah dan Maha Penyayang-Nya, Dia memilih dari antara hamba-hamba-Nya orang yang penuh cinta dan setia, membebaninya dengan tugas memimpin dan menunjuki orang-orang lain semuanya, sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an, bahwa tiada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang pemberi ingat (35:25). Tuhan telah mengirimkan Rasul-rasul kepada setiap kaum. Dengan perantaraan mereka Tuhan mewahyukan Amanat-Nya dan Rencana-Nya. Mereka yang berpaling dari Rasul-rasul itu, membinasakan diri sendiri dan mereka yang mengikuti Rasul-rasul itu memperoleh cinta dan ridha Ilahi.

“Kami beriman pula, bahwa Rasul-rasul suci itu bertingkat-tingkat kerohaniannya dan dalam tingkatan masing-masing menyumbangkan peranannya untuk akhirnya menjadi sempurnanya Rencana Ilahi. Yang terbesar, tertinggi dan termulia dari semua Rasul-rasul itu ialah Rasulullah Nabi Besar Muhammad saw. Beliau memimpin seluruh ummat manusia, menjadi Rasul bagi mereka semuanya. Wahyu-wahyu yang beliau terima, tertuju kepada seluruh ummat manusia. Seluruh dunia adalah mesjid bagi beliau. Kemudian datang zaman di waktu mana amanat beliau menyebar ke negeri-negeri dan daerah-daerah di luar Arabia. Kaum-kaum meninggalkan tuhan-tuhan ciptaan sendiri dan mulai beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, yang diajarkan Rasulullah saw. kepada mereka untuk beriman kepada-Nya. Kedatangan Rasulullah saw. menandai revolusi rohani yang tiada taranya. Keadilan mulai berkuasa dan menggantikan ketidakadilan, begitu juga kebaikan menggantikan kekejaman. Bila Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. hidup di zaman Rasulullah saw., mereka itu wajib beriman dan mengikut Rasulullah saw.

“Kami beriman pula, bahwa Tuhan mendengar do’a-do’a kami dan menolong kami dari kesukaran kami. DIA adalah Tuhan Yang Hidup dan sifat Hidup-Nya terbukti dari segala sesuatu sepanjang zaman. Dengan Maha Murah-Nya, segala makhluk-makhluk-Nya, bila mereka itu berhajat kepada pertolongan-Nya, maka Dia datang kepada mereka dengan pertolongan-Nya. Jika mereka melupakan Dia, maka Dia peringatkan mereka akan adanya wujud Dia dan tentang perhatian-Nya kepada mereka. “AKU sungguh dekat dan AKU jawab do’a setiap pemohon, jika ia memohon kepada-Ku. Maka bergegaslah hendaknya mereka kepada-Ku dan percaya kepada-Ku, sehingga mereka sejahtera”(Q.2:187).

“Kami beriman pula, bahwa sewaktu-waktu Tuhan menetapkan dan merencanakan jalan peristiwa dengan cara-cara yang khusus. Kejadian-kejadian di dunia ini tidak sepenuhnya ditetapkan oleh hukum-hukum yang kekal yang lazimnya disebut hukum alam. Sebab di samping hukum-hukum yang lazim itu, ada juga hukum-hukum khusus yang dengan itu Tuhan menzahirkan dan menampakkan Zat-Nya sendiri. Hukum-hukum khusus itulah yang menjadi bukti atas kehendak, kekuasaan dan cinta Ilahi. Terlalu banyak orang yang menolak kenyataan ini. Mereka tidak mau percaya selain pada hukum alam. Padahal bukan saja hukum alam yang ada. Hukum alam sendiri diatur oleh hukum-hukum Tuhan yang jauh lebih luas lagi.
“Dengan perantaraan hukum-hukum itu Tuhan menolong hamba-hamba-Nya yang terpilih. Dengan perantaraannya Dia membinasakan musuh-musuh-Nya. Nabi Musa a.s. tidak mungkin unggul atas musuh keji yang gagah perkasa, melainkan dengan hukum-hukum Tuhan yang khusus ini. Nabi Muhammad saw. tak mungkin menang terhadap kaum Arab yang bertekad bulat untuk menghentikan usaha beliau dan amanat yang beliau bawa, kecuali dikarenakan Tuhan yang bekerja mendampingi beliau. Dalam segala sesuatu yang beliau hadapi, Allah Swt. menolong Rasulullah saw. Akhirnya dengan disertai 10.000 pengikut, beliau memasuki kembali lembah Mekkah, dari mana 10 tahun sebelumnya beliau terpaksa pergi untuk menyelamatkan diri. Hukum alam tidak cocok dengan peristiwa-peristiwa itu.

“Kami percaya pula, bahwa sesudah manusia mati ia akan dibangkitkan lagi dan amal perbuatannya akan diminta pertanggung-jawabannya”(Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad: Invitation to Ahmadiyyat, halaman 4-8).

Lebih lanjut Hadhrat Imam Mahdi a.s. menasehatkan :

JANGAN CEMAS AKAN KUTUK LAKNAT DUNIA

Jangan cemas akan kutuk laknat dunia, sebab kutuk laknat itu lama kelamaan akan lenyap sirna dengan sendirinya bagaikan asap menipis dan hilang di udara, mereka tidak dapat mengubah hari jadi malam. Apa yang kamu harus takuti adalah laknat Tuhan yang turun dari langit, laknat mana jika menimpa seseorang akan menjadikan dia binasa di alam ini, demikian pula di alam nanti. Kamu tidak dapat membela dirimu dengan sikapmu menonjol-nonjolkan diri sebab Allah Tuhanmu dapat melihat sampai ke dasar lubuk hati manusia. Bagaimanakah kamu dapat memperdayai Tuhan? Maka luruskanlah hatimu, bersihkanlah serta sucikanlah bathinmu dan berdirilah dengan teguhnya sebab apabila di dalam dirimu terdapat sekelumit saja kegelapan, maka akan dihalaunya cahaya nuranimu. Dan andaikan di suatu sudut relung dadamu ada terselip sifat keangkuhan, ria, cinta diri sendiri, atau kemalasan, kamu tidak dianggap sesuatu yang dapat diterima oleh Tuhan. Jangan-jangan, bahwa oleh karena beberapa hal yang kamu sangka karya kebaktianmu, kamu sebenarnya menipu dirimu sendiri karena beranggapan, bahwa segala apa yang seharusnya kamu kerjakan, telah kamu laksanakan. Sebab Tuhan menghendaki, bahwa di dalam wujudmu terjadi suatu revolusi yang dahsyat dan menyeluruh sifatnya.

DIA menuntut dari dirimu suatu maut, sesudah maut mana kamu akan diberinya kehidupan yang baru. Sudahilah pertentangan-pertentangan antara satu sama lain dengan aman dan damai, serta maafkanlah kesalahan saudaramu, sebab sungguh jahatlah dia yang tidak bersedia diajak berdamai oleh saudaranya. Ia akan diputuskan hubungannya, sebab ia telah mencoba menanam bibit perpecahan. Tinggalkanlah keinginan untuk menuruti hawa nafsu dan bersitegang antara satu sama lain. Walaupun seandainya kamu berada di fihak yang benar, bersikaplah merendahkan diri seakan-akan kamu bersalah, agar supaya kamu sendiri diperlakukan dengan pengampunan. Lepaskanlah segala sesuatu yang bakal menggemukkan hawa nafsumu, sebab pintu itu, di mana kamu akan lalu, tidak dapat dilalui orang yang gemuk oleh hawa nafsunya.

Alangkah malangnya orang itu yang tidak mempercayai apa-apa yang difirmankan Tuhan dan yang telah kusampaikan kepadamu. Sekiranya kamu mau agar Tuhan di langit ridha kepadamu, maka segeralah bersatupadu seakan-akan kamu satu kandung layaknya. Di antara kamu sekalian orang yang patut dihormati hanyalah dia yang suka mengampuni kesalahan saudaranya, dan malanglah dia yang bersikeras kepala, dan tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain, sebab ia bukan dari golonganku. Hendaknya kamu senantiasa takut akan laknat Allah, sebab Dia itu kudus, sangat besar ghairat-Nya dan istimewa di dalam kedudukan-Nya.

Setiap orang yang berkelakuan buruk tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya atau kedekatan-Nya. Setiap orang yang sombong tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya, begitu juga orang lalim, setiap orang yang tidak jujur dan setia, orang yang tidak punya ghairat akan nama-Nya.

Barangsiapa yang tergila-gila oleh keduniaan seperti halnya seekor anjing atau semut, atau burung elang tatkala melihat bangkai, dan mereka hanya mencari-cari kemewahan serta kesenangan di dunia semata-mata, mereka itu tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya. Setiap orang yang tidak bersih matanya, akan tetap renggang dari pada Dia; setiap orang yang hatinya tidak bersih tidak akan menyadari kehadiran Dia. Barangsiapa yang berada di dalam penderitaan, seakan-akan berada di dalam api, demi untuk kemuliaan-Nya, akan diselamatkan dari gejolak api penderitaan.

Barangsiapa yang menangis karena-Nya, akan dibuat-Nya ketawa gembira. Barangsiapa yang menyisihkan diri dari urusan-urusan dunia demi untuk-Nya akan menemukan Dia. Dengan kesungguhan hati dan dengan penuh ketulusan serta dengan langkah-langkah yang bersemangat; jadilah kamu sahabat Tuhan, agar supaya Tuhan-pun akan menjadi sahabatmu. Perlihatkanlah belas kasihan terhadap orang-orang bawahanmu, istri-istrimu dan saudara-saudaramu yang tidak berada agar supaya kamupun akan diterima di langit dengan perlakuan kasih sayang dari Tuhan. Hendaknya kamu dengan sungguh-sungguh dan benar-benar menjadi milik Tuhan, agar supaya Tuhan-pun menjadi punyamu. Dunia ini tempat yang penuh dengan seribu macam bala bencana, musibat dan percobaan – yang antara lain termasuk wabah penyakit pes (di India waktu itu sedang berkecamuk penyakit pes hebat, peny.); maka kamu hendaknya dengan segala ketulusan hati berpegang teguh pada tangan Allah, agar supaya Dia menjauhkan bala bencana itu dari pada kamu. Tak akan ada bencana timbul di atas permukaan bumi ini tanpa suatu perintah dari langit. Oleh karena itu akan bijaksanalah apabila kamu sebaiknya berpegang kuat-kuat kepada akar pohon dari pada kepada dahan dan rantingnya. Kamu tidak dilarang berobat atau menjalankan berbagai ikhtiar dan usaha, akan tetapi apa yang terlarang ialah menggantungkan kepercayaan sepenuhnya kepada hal-hal itu. Pada akhirnya adalah kehendak Allah juga yang akan terjadi, dan bagi dia yang memiliki kekuatan untuk berpegang teguh kepada sikap dan pendirian ini, kedudukan tawakkal adalah satu kedudukan yang sebaik-baiknya.

YANG MENDAPAT KEMULIAAN DI LANGIT

Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting yaitu bahwa kamu jangan hendaknya meninggalkan Al-Qur’an seperti sebuah buku yang telah dilupakan; sebab, di dalamnya terletak sumber kehidupanmu. Barangsiapa yang memuliakan Al-Qur’an akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa yang menjunjung tinggi Al-Qur’an di atas segala sabda-sabda yang lain akan dijunjung tinggi di langit. Bagi ummat manusia di atas permukaan bumi ini kini tidak ada kitab lain kecuali Al-Qur’an, dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul dan Juru-Syafaat kecuali Muhammad Mustafa saw. Maka berusahalah kamu sekalian untuk mendambakan kecintaan yang semurni-murninya bagi Nabi yang Agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun suatu tempat yang lebih tinggi dari pada beliau, agar supaya kamu digolongkan di antara orang-orang yang telah diselamatkan. Dan ingatlah baik-baik bahwa najat (keselamatan) bukanlah suatu hal yang kamu sekalian akan alami nanti di akhirat, melainkan sesunguhnya najat yang hakiki itu memperlihatkan cahayanya di dalam dunia ini juga. Siapakah yang beroleh najat itu? Ialah orang yang benar-benar yakin, bahwa Tuhan itu adalah suatu realita dan bahwa Muhammad saw. adalah Juru-Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh ummat manusia; bahwa di bawah langit ini tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan Al-Qur’an, bahwa Tuhan tidak menghendaki siapapun untuk hidup selamanya, akan tetapi bagi Nabi yang penuh dengan keberkatan itu Dia menghendaki demikian; bahwa untuk menghidupkan beliau selama-lamanya; Dia meletakkan dasar untuk menyalurkan hikmat dari Syariat dan keberkatan rohani terus hingga Hari Kiamat. Dan pada akhirnya, dari arus keberkatan rohaninya Dia mengirimkan kepada ummat manusia seorang Masih Mau’ud(juru selamat yang dijanjikan) ke dunia ini, yang kedatangannya sangat diperlukan guna menyempurnakan pembangunan gedung Islam. Barangsiapa yang bai’at kepadaku dengan sesungguh-sungguhnya dan menjadi pengikutku dengan hati yang setulus-tulusnya, dan juga membuat dirinya tenggelam di dalam ketaatan kepadaku hingga meninggalkan segala keinginan-keinginan pribadinya, ruhku akan memberikan syafaat pada hari-hari yang penuh derita bagi diri orang itu semata-mata.

SIAPA YANG DIAKUI SEBAGAI ANGGOTA JEMAAT IMAM MAHDI a.s.

Sesudah aku menerangkan hal-hal tersebut, aku sekali lagi mengatakan, bahwa janganlah kamu merasa puas karena kamu secara lahir telah bai’at. Bentuk lahir tidak berarti apa-apa. Tuhan melihat kepada hati kamu sekalian dan Dia akan menuntut kamu sesuai dengan keadaan hatimu. Perhatikanlah, dengan mengatakan kata-kata ini aku menunaikan kewajiban tabligh, bahwa dosa itu 0merupakan racun, maka janganlah termakan racun itu. Keingkaran kepada Tuhan adalah suatu kematian yang rucah, maka hindarilah. Berdo’alah agar kamu mendapatkan kekuatan. Barangsiapa yang tatkala ia memanjatkan do’a tidak disertai keyakinan, bahwa Tuhan berkuasa atas tiap sesuatu kecuali dimana Dia sendiri telah menjanjikan kebalikannya – adalah bukan golongan Jemaatku.

1. Barangsiapa yang mabuk dalam kecintaan kepada dunia ini dan sama sekali tidak mengarahkan pandangannya ke arah hari kemudian, ia bukanlah dari golongan Jemaatku

2. Barangsiapa yang sebenar-benarnya tidak mendahulukan agama dari pada perkara keduniawian ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

3. Barangsiapa yang sama sekali tidak meninggalkan tiap-tiap keburukan dan tiap-tiap perbuatan buruk seperti minum-minuman keras, berjudi, memandang dengan pandangan berahi, khianat, suap-menyuap dan setiap perbuatan yang tidak halal, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

4. Barangsiapa yang mendirikan sembahyang lima waktu dengan tidak tetap dan teratur, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

5. Barangsiapa yang tidak tetap dalam memanjatkan do’a dan mengenang Tuhan tidak dengan kerendahan hati, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

6. Barangsiapa yang tidak melepaskan persahabatan buruk yang memberi pengaruh buruk kepadanya, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

7. Barangsiapa yang tidak menghormati ayah bundanya dan tidak menaati mereka dalam segala perkara kebaikan dan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau tidak mengambil perhatian untuk mengkhidmati mereka sekhidmat-khidmatnya, ia adalah bukan dari golonganku.

8. Barangsiapa yang tidak berlaku halus dan kasih sayang terhadap istrinya dan sanak saudaranya, ia adalah bukan dari golongan Jemaatku.

9. Barangsiapa yang memahrumkan tetangganya dari kebaikan yang kecil-kecilpun, ia bukanlah golongan Jemaatku.

10. Barangsiapa yang tidak mau memaafkan kesalahan orang yang bersalah serta ia seorang pendengki, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

11. Seorang suami yang berkhianat terhadap istrinya, dan seorang istri yang berkhianat terhadap suaminya, mereka bukanlah dari golongan Jemaatku.

12. Barangsiapa yang memutuskan perjanjian yang dibuatnya tatkala bai’at dengan cara bagaimanapun, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

13. Barangsiapa yang tidak benar-benar yakin, bahwa aku Masih dan Mahdi yang dijanjikan, ia bukan dari Jemaatku.

14. Barangsiapa yang tidak bersiap sedia untuk menaati aku dalam segala perkara kebaikan, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

15. Barangsiapa yang duduk bercengkerama di tengah-tengah kumpulan orang-orang yang menentangku serta mengiakan apa yang dikatakan oleh mereka, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

16. Tiap-tiap orang tukang zina, fasik, peminum, pembunuh, pencuri, penjudi, pengkhianat, tukang korupsi, perampas, zalim, pendusta, pemalsu dan sebangsanya dan tukang melemparkan tuduhan-tuduhan pada saudara-saudara perempuannya, yang tidak menyesal akan perbuatan-perbuatan buruknya, yang tidak meninggalkan pergaulan yang buruk, ia bukanlah golongan Jemaatku.

17. Sekalian sifat itu adalah racun. Jika kamu memakan racun-racun itu, bagaimanakah jiwamu akan selamat? Cahaya dan kegelapan tak dapat berkumpul bersama-sama pada satu tempat. Barangsiapa yang berwatak serong dan tidak jujur dalam perhubungannya dengan Tuhan, niscayalah tidak akan mendapatkan berkat seperti yang diperoleh mereka yang berhati bersih.

TUHAN ADALAH TIANG UTAMA DARI SEGALA
RENCANA PEMBANGUNAN KITA

Jika kamu benar-benar kepunyaan Tuhan, maka berkeyakinanlah bahwa Tuhan itu kepunyaanmu sendiri. Di kala kamu sedang tidur, Dia akan berjaga-jaga. Tengah kamu berlalai-lalai dari musuhmu, Dia akan mengamat-amati musuhmu dan mematahkan siasat rencananya. Kalau kamu memaklumi, bahwa Tuhan akan mencukupi sebagian keinginanmu, mengapakah kamu demikian tenggelamnya dalam urusan duniawi? Sebagaimana seekor ular memakan tanah, mereka bergantung kepada upaya madiyah yang rendah sifatnya. Bagai seekor burung elang dan anjing memakan bangkai, mereka membenamkan rahang mereka ke dalam bangkai yang busuk. Mereka jauh melantur dari Tuhan, menyembah manusia-manusia, memakan daging babi dan meminum minuman-minuman keras laksana minum air. Karena mereka terlampau mengandalkan kepada daya upaya materi, dan tidak meminta tenaga kekuatan dari Tuhan, mereka itu jadi mati dan jiwa-rohaniyat telah lepas dari mereka seperti seekor burung dara terbang meninggalkan sarangnya. Hatinya ditulari oleh penyakit kusta, penyakit memuja-muja urusan duniawi, yang telah menggerogoti anggota-anggota tubuh batiniyahnya.

Oleh karena itu takutilah penyakit kusta semacam itu. Aku tidak melarang kamu untuk menyukai upaya-upaya kebendaan dengan memperhatikan had dan batasnya: a p a yang kucegah ialah kamu jangan hendaknya menuruti kelakuan kaum lain yang menjadi budak upaya kebendaan atau usaha-usaha lahir itu semata-mata, lalu melupakan Tuhan, yang juga mengatur segala upaya-upaya kebendaan. Jika kamu sungguh punya mata, niscaya akan nampak kepadamu Tuhan dan hanya Tuhan belaka – segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak berharga sama sekali. Kamu tidak dapat merentangkan tanganmu begitu pula melipatkannya tanpa seizin Tuhan.(Dipetik dari buku Ajaranku, halaman 16 sampai 40).

PUSAT PERIBADATAN ADALAH KESUCIAN KALBU

Pusat segala kegiatan dan peribadatan manusia ialah kalbu. Bila seorang melakukan peribadatan atau sembahyang, tetapi ia sendiri tidak sungguh-sungguh mengingat kepada Allah Swt., maka peribadatan demikian adalah sia-sia belaka. Sudah sewajarnya bahwa kalbu orang yang beribadat itu benar-benar condong kepada Allah. Wajib diketahui, bahwa pada masa ini didapati ribuan mesjid-mesjid, tetapi apa yang dilakukan di dalamnya itu adalah hanya merupakan upacara menurut adat peribadatan. Adat demikian adalah benar-benar sama dengan yang dilakukan orang-orang Yahudi pada waktu Rasulullah saw. diutus di dunia ini. Mereka itu melakukan peribadatan sesuai upacara menurut adat kebiasaan agama, tetapi kalbu mereka itu sama sekali kosong dari peribadatan. Itulah sebabnya kutukan Tuhan telah menimpa mereka. Kesegaran dan pertumbuhan taman peribadatan tergantung dari kesucian kalbu. Itulah sebabnya Allah Taala berfirman :
“Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa”
Orang yang memperoleh sukses adalah hanya orang yang membersihkan kalbunya, dan siapa yang tidak berbuat demikian dan hanya mengejar dorongan hawa nafsunya, maka orang itu tidak memperoleh maksud hidupnya yang sebenarnya.(Malfuzat, jilid VII, halaman 289).

PATUNG-PATUNG YANG TERSEMBUNYI

Untuk memperoleh keridhaan-Nya
Segala sesuatu
Yang engkau pikirkan
Setiap ingatan yang dipelupukmu
Selain dari Tuhanmu
Adalah patung yang kamu puja
Hai bangsa yang lemah imannya
Waspadalah terhadap patung-patung yang tersembunyi
Peliharalah kalbumu
Dan jadilah senantiasa
Jauh dari wilayah pengaruhnya
(Syair Masih Mau’ud a.s. dalam Barahin Ahmadiyah, jilid II).

ISLAM AKAN BANGKIT KEMBALI

Allah Swt. mewahyukan kepada Imam Mahdi a.s.: “Bangkitlah! Waktu yang ditetapkan untukmu telah tiba, dan sekarang pengikut-pengikut Muhammad tidak lama lagi akan menduduki menara yang paling tinggi, lebih kuat panjangan kakinya dari waktu-waktu yang lalu”(Victory of Islam, halaman 30).

TIDAK ADA KEKUATAN YANG DAPAT MENOLAK KARUNIA TUHAN

Pada malam tanggal 9 Oktober 1883, aku melihat suatu mimpi yang menakjubkan. Sejumlah orang yang sebelumnya ini tidak kukenal sedang menulis dengan warna kuning ayat-ayat suci di bagian atas pintu mesjid. Dijelaskan pada perasaanku bahwa mereka itu adalah malaikat-malaikat dan warna kuning itu adalah milik mereka sendiri. Nampaknya mereka terus-menerus menulis ayat-ayat, sedang aku mulai membacanya. Salah satu ayat-ayat suci yang masih segar dalam ingatanku, ialah ayat “La raadda lifadhlihi” yang maksudnya: “Seorangpun atau sesuatu kekuatan apa pun tidak dapat menahan atau menolak fadhal atau karunia Tuhan”. Tidak seorangpun dapat merobohkan bangunan yang sedang Dia bangun itu. Dan siapa-siapa yang akan Dia muliakan, seorangpun tidak dapat menghinakannya (Tazkirah, halaman 114).

Sumberr:
Buku Kami Orang Islam


0 Responses to “KEIMANAN DAN BEBERAPA AJARAN PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: