26
Okt
09

17 Dalil Kenabiyan Masih Terbuka

A Nizami berkata : “

Saya lihat terjemah Qur’an Suryawan (orang Ahmadiyyah) benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur’an terjemah Departemen Agama mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.

Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2. Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori, Muslim, dsb, menegaskan hal itu.

Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma “Cincin Nabi2.” Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bias memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan Nabi…:)

Terjemah Ahmadiyah:

QS. (44:6-7) Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:

“sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”.

Terjemah Islam:
“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

Terjemah Islam:

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi merek Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(7:36) Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Terjemah Islam:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ”

Semua ayat2 Al Qur’an yang dikemukakan oleh Suryawan, orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan Al Qur’an yang umum dari Departemen agama mau pun dari Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur’an Ahmadiyah memang betul2 berbeda dengan Al Qur’an ummat Islam?

Jadi apa yang mau didiskusikan?

Alhamdulillah Al Qur’an dituliskan dalam bahasa Arab yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.

Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al Qur’an serta hadits2 seperti “Shahih Bukhori”, “Shahih Muslim”, dsb.

“ma_suryawan”

, A Nizami

Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda dari Abul Ala Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.

1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak Salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu “khaatam” – bukan “khatam” (kh-t-m). Kata “khaataman-nabiyyiin” sudah sering dijelaskan. “Khaataman-nabiyyiin berarti “cincin para nabi” atau “meterai para nabi” atau “seal of the prophets”, dan “khaataman- nabiyyiin” bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam Al-Qur’an Karim banyak didapat penjelasan dapat datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw, beberapa diantaranya sbb:

QS.(44:6-7) – Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul-Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama- lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”. Perkataan “yashthafii” (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi’il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih Rasul-Rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

QS.(7:36) – Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat “khaataman nabiyyiin” sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya nabi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw – maka akan bertentangan/bertabrakan dengan ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat datangnya kenabian setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan: Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya

QS.(4:82). Jadi, arti harfiah/letterlijk “khaataman-nabiyyiin” adalah: meterai para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki “khaataman-nabiyyiin” adalah: menunjukkan suatu rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain adalah: nabi yang tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi. Sebab: kata “khaataman-nabiyyiin” adalah ism tunggal (i.e. “khaatam”) yang direndeng dengan ism jamak (i.e. “nabiyyiin”) – maka mengandung arti martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
Sesungguhnya “khaataman-nabiyyiin” adalah: yang termulia/tersempurna/terunggul diantara para nabi atau meterai para nabi atau cincin (perhiasan) para nabi, dst. Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini: Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Hz. Maria Qibtiyah ra) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar”. (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).

Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, Sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” turun pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat “khaataman- nabiyyiin”. Jika seandainya ayat “khaataman-nabiyyiin” kemudian diartikan sebagai “penutup/kesudahan/penghabisan/akhir” nabi-nabi yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah beliau saw, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu, dan beliau-lah yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau saw tidak mengungkapkan pengertian “khaatam” sebagai penutup atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun juga setelah beliau saw – seperti yg biasa diucapkan kyai2/mullah2/ulama2 Islam mainstream.

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi” Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “saya adalah penutup nabi-nabi”. Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang menjadi sebuah “batu terakhir” itu adalah Nabi Muhammad saw, maka itu adalah merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya “sekedar batu bata terakhir” saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun. Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau saw adalah nabi yang terakhir membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan Kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: ” Anal ‘aaqibu wal ‘aqibul-ladziy laisa ba’di hu nabiyyun” maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw. Nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam tidak dapat datang lagi. Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al- Qari berkata: “Lahirnya ungkapan itu (‘Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian. Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa ‘aqib ialah orangyang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.

Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka sudah mengerti apa arti “aqib” yang sebenarnya, sehingga para sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah ra melarang orang untuk mengatakan “laa nabiya ba’dahu” (Tidak ada nabi sesudahnya).

4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong yang akan mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan mendakwakan diri sbg nabi adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan mengatakan bahwa tiap- tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi semuanya adalah pembohong/pendusta.

Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul Ikmal, Jilid VI, hal 258, dikatakan: “Kebenaran Hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah tercapai jumlah tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari riwayat (tarikh)”. – Penulis buku tsb wafat pada tahun 828 Hijriah.

Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang Mendakwakan dirinya jadi nabi.

Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw dengan “laa nabiyya ba’di” adalah tidak akan ada lagi nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam.

5. Khutbah terakhir Rasulullah ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Qur’an dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan ini cuma karangan Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.

6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan dating sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim maupun Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari’at baru dan setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh para khalifah rasulullah. Lihat kata “sayakunu khulafa” (akan ada khalifah-khalifah) menunjukkan maksud “dibelakang” atau “kemudian aku” itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau saw wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.

Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: “Akan terjadi nubuat kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt, kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri”.(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).

Juga dalam shahih Bukhari: “kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum wa imamukum minkum” – Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] – bahwa Isa ibn Maryam yg akan datang berasal dari umat Islam.

7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “aku seperti batu yang hilang itu” artinya beliau yg membawa dan menyempurnakan Syari’at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi terakhir yang membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah Syari’at yang sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz. Muhammad saw.

9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).Idem. Lihat diatas ttg maksud “laa nabiyya ba’di”.

10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang dating sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau berkata: “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w.. Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang dating sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku'”. (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)

Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at'” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)

Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau”. (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)

Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata: “Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari’at untuk manusia”. (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .

Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.”. (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi saw: “laa nabiya ba’diy” (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam.

11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam Masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi Dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal). Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa dajjal akan dibunuh oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam.

Jadi jelas bahwa akan ada kenabian tanpa Syari’at setelah Hz. Rasulullah saw.

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya Mendengar Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu Hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung Dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah Beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin `Amr ibn-`As).Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan para ulama SALAF di no. 10.

13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci). Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir: “Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci” – adalah bukan bagian dari Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi, Seorang kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit Ahmadiyah. Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti Nizami dkk) kok berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun lagi? Apakah manusia dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah Ta’ala bersifat Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb akan tetap bekerja untuk selama-lamanya Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang juga menerima wahyu dari Allah Ta’ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn Arabi rh (Bapak kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi rh, Syekh Abdul Qadir Jaelani rh dll.

14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab”. Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib). Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz. Umar ra tidak diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus. Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian. Kenapa Nabi saw tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr seorang shiddiq, lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid? Rahasianya adalah Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw mempunyai bakat hokum undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya, termasuk Abu Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz. Rasulullah saw, dan akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz. Umar tsb. Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan datang nabi yang akan membawa Syari’at (hukum/undang-undang).

15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba). Perkataan “laa nabiyya ba’diy” jelas khusus untuk Hz. Ali ra dan tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan penegasannya atas Hadits itu dalam Hadits lain sbb: “Berkata ia (Rasulullah saw), “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun disamping Musa, tetapi bedanya engkau bukan nabi” (Thabaqat Kabir, Jilid V, hal. 15).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
Berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya Hz. Rasulullah saw saja yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Ta’ala, orang yang bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu (komunikasi) dengan Allah Ta’ala. Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti Nizami dkk yg mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi setelah Nabi Muhammad saw telah dibantah oleh Hadits ini.

17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan dating sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani) Jawab : Pengertian “laa nabiyya ba’di” telah dijelaskan dengan komprehensif diatas.

Salam,
M. A. Suryawan

Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org


0 Responses to “17 Dalil Kenabiyan Masih Terbuka”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: