23
Okt
09

Memahami Ayat Khataman Nabiyyin Hukum Anak Angkat Tidak Sama Dengan Anak Kandung

Saudara-saudara yang budiman, berbicara mengenai ayat Khataman Nabiyyin tidak terlepas dari Asbaul Nuzul dari pada ayat itu sendiri.

Sebelum saya menjelaskan maksud Khataman Nabiyyin alangkah baiknya kita menyimak dulu arti khatam berikut. Ini

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/8255/Khatam

Khatam arti harfiahnya adalah cincin meterai. Kata ini mempunyai pengertian bermacam-macam yang inti kandungan pengertiannya berkaitan erat dengan keabsahan surat-surat. Khatam dalam arti cincin meterai adalah salah satu atribut raja yang merupakan tanda kebesaran dan kemegahan. Raja membubuhkan khatam itu pada surat-surat.

Khatam juga berarti akhir. Maksudnya, tulisan yang telah diberi khatam itu benar dan sah atau penulisan surat sudah benar dan lengkap dengan diberinya khatam.

Khatam juga berarti wazir (setingkat perdana menteri). Hal ini dapat dilihat dari ucapan Harun Al Rasyid ketika hendak mengangkat Ja’far bin Yahya menjadi wazir menggantikan Al-Fadal. ”Wahai ayahku, aku bermaksud memindahkan khatam dari tangan kananku ke tangan kiriku.” Dikiaskannya, wazir dengan khatam disebabkan pekerjaan memberi khatam adalah salah satu tugas wazir.

Penggunaan khatam pernah dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW hendak mengirim surat ajakan masuk Islam kepada penguasa-penguasa lain. Kepada Nabi SAW dikatakan bahwa raja-raja non-Arab (‘ajam) hanya mau menerima surat-surat yang diberi khatam.

Maka, Nabi Muhammad SAW membuat cincin stempel dari bahan perak berukirkan ‘Muhammad Rasulullah’. Penggunaan cincin khatam ini diteruskan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.

Ketika ada di tangah Usman, khatam itu jatuh ke dalam sumur. Segera Usman membuat khatam baru yang menyerupainya.
Setiap orang yang memangku jabatan khalifah memiliki khatam. Pada khatam tidak diukirkan nama-nama khalifah, akan tetapi diukirkan kata-kata hikmah atau slogan. Padah khatam Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali bin Abi Thalib, misalnya, masing-masing diukirkan kata-kata Ni’mah Al Qadir Allahu (Yang Maha Kuasa Yang paling baik adalah Allah), Kafaa bil mauti wa’idzhan yaa Umaru (Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu), Latasbiranna au latandamanna (Engkau bersabar atau menyesal), dan al Mulku lillahi (Kekuasaan hanya bagi Allah).

Khalifah pertama yang memperkenalkan khatam pada surat-surat ialah Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Ia juga memperkenalkan pendirian diwan (dewan) yang tugasnya mengurus surat lamaran kerja, menyiarkannya, menyetempel, membungkus dengan kain, membalut dengan lilin, dan kemudian memberikan cap di atasnya. Diwan ini disebut Diwan Al Khatim (Lembaga khatam).

Tujuan didirikannya diwan ini adalah untuk menghindarkan pemalsuan, seperti kasus pemalsuan yang dilakukan Umar bin Zubair yang terjadi pada masa Mu’awiyah. Ia mengirim surat kepada Ziyad bin Abihi, seorang pejabat Kufah. Dalam suratnya dikatakan agar Ziyad memberikan uang sebanyak seratus ribu dirham.

Umar bin Zubair ditugaskan membawa surat yang tidak diberi khatam itu mengubah angka tersebut menjadi 200 ribu dirham sebelum ia menyerahkan surat itu kepada Ziyad. Kemudian Ziyad memberikan uang sebanyak 200 ribu dirham kepada Umar. Ketika Ziyad menghadap Mu’awiyah dan memberikan laporan, Mu’awiyah tidak mengakui jumlah 200 ribu itu. Akhirnya terungkaplah kasus pemalsuan itu.

Umar bin Zubair diperintahkan untuk mengembalikan uang 100 ribu dirham. Sejak itu Mu’awiyah mendirikan Diwan Al Khatim (Lembaga Khatam). Ziyad bin Abihi seperti dituturkan oleh Al-Baladari, sejarawan Arab terkemuka, adalah orang Arab pertama yang menerapkan Diwan Al Khatim di wilayah Irak, mengikuti orang-orang Persia (Iran).
Sebelum ayat Khataman Nabiyyin turun Allah swt berbicara mengenai peristiwa yang terjadi antara Hadhrat Zainab ra dan Hadhrat Zaid Bin Kharitsah sebagaimana Allah swt berfirman dalam Al Qur’an, tiga ayat pendahulu Khataman Nabiyyin

Pertama, Surat Al Ahzab ayat 37

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا (٣٧)

Artinya, “Dan, ingatlah ketika engkau berkata kepada orang yang Allah telah memberi nikmat dan engkau pun telah memberi nikmat kepadanya, [2357] “Tahanlah istrimu pada dirimu sendiri dan bertakwah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak agar engkau takut kepada-Nya. maka tatkala Zaid menyempurnakan keperluannya terhadap dia, [2357a] Kami menikahkan engkau dengan dia, supaya tidak akan ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk menikahi bekas istri anak-anak angkat mereka, apabila mereka telah menyempurnakan kehendak mereka mengenai mereka. Dan keputusan Allah pasti akan terlaksana. [2357b]

Tafsir :

[2357] Zaid ibn Harits ra. seorang pemuda yang dimerdekakan oleh Rasulullah saw. yang diambil beliau sebagai anak angkat beliau, sebelum pengangkatan itu dinyatakan tidak sah dalam Islam.

[2357a] Telah menceraikan istrinya ; wathar berarti, kepentingan, keperluan, hal yang diperlukan (Lane).

[2357b] Sitti Zainab itu anak bibi Rasulullah saw. ; oleh karena itu beliau seorang bangsawati Arab tulen, sangat bangga akan leluhur beliau dan akan kedudukan mulia dalam masyarakat. Islam menganggap dan telah memberi kepada dunia – peradaban dan kebudayaan yang di dalamnya tiada pembagian kelas, tiada kebangsawanan warisan, tiada hak-hak istimewa. Semua manusia bebas dan setara dalam pandangan Ilahi. Rasulullah saw. menghendaki agar pelaksa naan cita-cita luhur agama Islam ini dimulai oleh keluarga beliau sendiri. Beliau ingin agar Sitti Zainab menikah dengan Zaid, yang kendatipun telah dimerdekakan oleh Rasulullah saw., sayang sekali ia masih tetap dianggap budak oleh sebagian orang. Justru cap perbuda-kan itulah, pemisah antara “orang merdeka” dan “orang belian”, yang diikhtiarkan oleh Rasulullah saw. menghilangkan melalui pernikahan Sitti Zainab dengan Zaid. Karena menjun-jung tinggi keinginan Rasulullah saw. maka Sitti Zainab menyetujui usul itu. Maksud Rasulullah saw. telah tercapai. Pernikahan itu meniadakan perbedaan dan pembagian kelas. Hal itu merupakan peragaan amaliah akan cita-cita luhur agama Islam. Akan tetapi, malang sekali pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, bukan disebabkan oleh perbedaan kedudukan sosial antara Sitti Zainab dan Zaid, melainkan karena tidak ada persesuaian dalam pembawaan dan perangai mereka, dan juga oleh sebab perasaan rendah diri yang diderita Zaid sendiri. Tentu saja kegagalan pernikahan itu membuat hari Rasulullah saw. sedih. Tetapi kejadian itu pun memenuhi suatu maksud yang sangat berguna. Sesuai dengan perintah Ilahi, sebagaimana disebutkan pada bagian akhir ayat ini, Rasulullah saw. sendiri menikahi Sitti Zainab, yang dengan demikian membongkar sampai ke akar-akarnya kebiasaan yang telah mendarah daging pada orang-orang Arab zaman jahiliah, bahwa merupakan pantangan bagi seseorang mengawini bekas istri anak angkatnya. Kebiasaan mengangkat anak dihapuskan dan dengan itu anggapan keliru itu ditiadakan. Oleh karena itu pernikahan Sitti Zainab dengan Zaid memenuhi suatu tujuan luhur lainnya.

Kata-kata, “bertakwalah kepada Allah “ mengandung arti bahwa Zaid ingin menceraikan Sitti Zainab dan karena perceraian itu, menurut Islam, sangat tidak diridhahi dalam pandangan Tuhan, maka Rasulullah saw. menganjurkan kepadanya agar tidak berbuat demikian. Anak kalimat, “ …tahanlah isterimu pada dirimu sendiri,” dapat dikenakan baik kepada Zaid ra. tidak dikenakan kepada Zaid ra., maka kalimat itu akan berarti, bahwa Zaid ra. tidak suka kalai akibat perceraian dengan Sitti Zainab ra. akan nampak, barangkali karena sebagaimana ternyata dari kata-kata, “bertakwalah kepada Allah,” titik berat kesa-lahan terletak lebih banyak pada diri beliau, daripada diri Sitti Zainab ra. Tetapi kalau di kenakan kepada Rasulullah saw. maka kata-kata itu akan berarti bahwa sebab pernikahan antara Zaid dan Sitti Zaenab itu telah diatur atas permintaan dan kehendak beliau, maka dengan sendirinya beliau tidak suka kalau pernikahan itu pecah. Anak kalimat itu pun menunjukkan, bahwa Rasulullah saw. khawatir kalau-kalau putusnya pernikahan yang telah mengakibatkan suatu hal yang nampaknya merupakan kegagalan dalam rangka percobaan Ukhuwah Islamiyah atau persaudataan menurut Islam akan menyebabkan tumbuhnya beberapa kecaman dan kegelisahan dalam pikiran orang-orang yang lemah iman. Inilah kekhawatiran yang menekan sekali perasaan Rasulullah saw.. Kata-kata, “engkau takur kepada manusia,” agaknya menunjuk kepada kekhawatiran beliau ini.

Beberapa kritikus lawan Islam dari kalangan Kristen berlagak telah menemukan suatu dasar dalam pernikahan Rasulullah saw. dengan Sitti Zainab ra. untuk melakukan serangan keji terhadap beliau. Telah dinyatakan oleh mereka, bahwa karena secara kebetulan Rasulullah saw. melihat Sitti Zainab ra., beliau jatuh cinta karena terpesona oleh kecantikannya, dan karena Zaid ra. telah mengetahui hasrat Rasulullah saw. untuk memperistrikan Zainab ra., lalu berusaha menceraikan istrinya. Kenyataan bahwa musuh-musuh pun yang menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mata mereka sendiri, tidak berani mengaitkan dasar pikiran (motif) rendah seperti kini dikaitkan kepada beliau oleh kritikus-kritikus yang hidup sesudah lewat beberapa abad itu, sama sekali melenyapkan tuduhan keji dan sungguh tak berdasar itu, sampai ke akar-akarnya. Sitti Zainab adalah saudara sepupu beliau dan karena demikian dekatnya hubungan kekeluargaan beliau maka Rasulullah saw. pasti telah melihat beliau acapkali sebelum ‘pardah” diperintahkan. Kecuali itu, karena menhormati keinginan Rasulullah saw. yang terus menerus dikemukakan itulah, maka Sitti Zaenab telah menyetujui dengan rasa enggan untuk menikah dengan Zaid. Tersurat dalam riwayat bahwa Sitti Zaenab dan kakaknya telah berhasrat sebelum beliau menikah dengan Zaid, agar beliau diperistri Rasulullah saw. sendiri. Apakah kiranya yang menghambar Rasulullah saw. memperistri beliau ketika beliau masih gadis dan beliau sendiri mengharapkan diperistri oleh Rasulullah saw. ? Selurh peristiwa itu agaknya jelas merupakan rekaan “yang kaya” dayacipta para kritikus yang tidak bersahabat terhadap Rasulullah saw., dan mempercayai hal itu merupakan penghinaan terhadap akal sehat manusia.

Kedua, Surat Al Ahzab ayat 38

مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا (٣٨)

Tidak ada suatu keberatan atas Nabi tentang apa yang telah diwajibkan Allah [2358] kepadanya. Inilah sunnah Allah yang Dia tetapkan terhadap orang-orang yang telah berlalu sebelumnya. Dan perintah Allah adalah suatu keputusan yang telah ditetapkan.

Tafsir :

[2358] Yang diisyaratkan dalam kata-kata itu ialah pernikahan Rasulullah saw. dengan Sitti Zainab ra. Kata-kata itu menunjukkan bahwa pernikahan beliau terjadi dalam menaati suatu peraturan Ilahi yang khusus sifatnya.

Ketiga, Surat Al Ahzab ayat 39

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا (٣٩)

Orang-orang yang menyampaikan amanat Allah dan takut kepada-Nya, dan tiada mereka takut siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai penghisap.

Baru Kemudian Turun Ayat Khataman Nabiyyin

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٤٠)

Muhammad bukanlah bapak, salah seorang diantara laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, [2359] dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir :

[2359] Khatam berasal dari kata khatama yang berarti, ia memeterai, mencap, mensahkanatau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah : ia mencapai ujung benda itu ; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah mererai jenis apa pun. Khatam berarti juga sebentuk cincin stempel ; sebuah segel, atau mererai dansebuah tanda ; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan ; terbaik atau paling sempurna. Kata-kata khatim, khatim dan khatam hampir sama artinya (Lane, Mufradat, Fat-h, dan Zurqani). Maka kata khataman nabiyyin akan berarti mererai para nabi ; yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabi ; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi terakhir.

Di Mekkah pada waktu semua putra Rasulullah saw. telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak, musuh-musuh beliau mengejek baliau seorang abtar (yang tidak mempunyai anak laki-laki), yang berarti karena ketidakadaan ahliwaris lelaki itu untuk menggantikan belaiu, jemaat beliau cepat atau lambat akan menemui kesudahan (Muhith). Sebagai jawaban terhadap ejekan orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan dalam Surah Al-Kautsar, bahwa bukan Rasulullah saw. melainkan musuh-musuh beliaulah yang tidak akan berketurunan. Sesudah Surah Al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di zaman permulaan bahwa Rasulullah saw. akan dianugerahi anak-anak lelaki yang akan hidup sampai dewasa. ayat yang dibahas ini menghilangkan salah paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa Rasulullah saw., baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa yang akan datang bukan atau tidak oernah akan menjadi bapak seorang orang lelaki dewasa (rijal berarti pemuda).

Dalam pada itu ayat ini nampaknya bertentangan dengan Surah Al-Kautsar, yang di dalam-nya bukan Rasulullah saw., melainkan musuh-musuh beliau yang diancam dengan tidak akan berketurunan, tetapi sebenarnya berusaha menghilangkan keragu-raguan dan prasangka-prasangka terhadap timbulnya arti yang kelihatannya bertentangan itu. Ayat ini mengatakan bahwa Bagianda Nabi Besar Muhammad saw. adalah rasul Allah swt., yang mengandung arti bahwa baliau adalah bapak ruhani semua orang mukmin dan semua nabi, betapa beliau dapat disebut abtar atau tak berketurunan. Bila ungkapan ini diambil dalam arti bahwa baliau itu nabi yang terakhir, dan bahwa tiada nabi akan datang sesudah beliau, maka ayat ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada menyangga ejekan orang-ornag kafir bahwa Rasulullah saw. tidak berketurunan, malahan mendukung dan menguatkannya. Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khataman Nabiyyin dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti :
1. Rasulullah saw. adalah materai para nabi, yakni, tiada nabi dapat dianggap benar, kalau kenabiannya tidak bermeterai Rasulullah saw.. Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah saw. dan juga tiada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau.
2. Rasulullah saw. adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (Zulqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
3. Rasulullah saw. adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa sya’riat. Penafsi-ran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn’Arabi, Syah Waliaullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain. Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, tiada nabi dapat datang sesudah Rasulullah saw. yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau atau yang akan datang dari luar umat beliau (Futuhat, Tafhimat, Makrubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Siti Aisyah ra. istri Rasulullah saw. yang amat berbakat, menurut riwayat pernah mengatakan, “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah saw.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
4. Rasulullah saw. adalah nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau : khatam dalam arti sebuatan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai.
Lebih-lebih Alquran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Rasulullah saw. wafat (7:36). Rasulullah saw. sendiri jelas mempunyai tanggapan tentang berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau pernah bersabda, “Sekira-nya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Majah, Kitab al-Jana’iz) dan, “abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanz).

Kesimpulan dari Ayat Khataman Nabiyyin adalah

1. Kalau penutup, berarti Rasulullah saw menutup hokum kebisaan orang Yahudi bahwa anak angkat itu tetap anak angkat bukan sama dengan anak kandung, karena Rasulullah saw menikahi Hazrat Zainab (mantan istri Zaid anak angkat Rasulullah.
2. Kalau dimaknai penutup Nabi, dari ayat tersebut tidak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya sebagai sebab-sebab diturunkannya ayat Khatam
3. Di dalan Al-Quran tidak pernah kita menjumpai ayat Khatamur Rasul. Menurut pendapat umum semua Rasul pasti Nabi dan tidak semua Nabi pasti Rasul. Dalam kenyataannya setiap Nabi adalah Rasul dan setiap Rasul adalah Nabi, karena semua Nabi adalah Utusan Tuhan (Rasul) dan setiap Rasul mendapat wahyu kenabiyan (Nabi)
4. Kalau kita tetap memegang perinsip bahwa tidak akan ada lagi Nabi/Rasul setelah Rasulullah saw, maka konsekwensinya adalah : Pertama, mengingkari hadis-hadis akan turunnya Nabi Isa as. dan juga Imam Mahdi (Imam Mahdi pasti berpangkat Nabi dan Rasul). Kedua, mengingkari ayat Al-Quran yang telah diturunkan oleh Allah swt.

Berikut ini saya akan sampaikan dua ayat Al Quran yang mengisyarahkan tentang kedatangan Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad saw

Yang pertama terdapat dalam Surah Al A’raf ayat 35

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٣٥)

Wahai Bani Adam, [970] jika datang kepadamu [b] rasul-rasul dari antaramu yang memperdengarkan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.

Tafsir :

[971] Hal ini patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (uakni 7:26, 27, 31), seruan dengan kata-kata, Hai Anak-cucu Adam, dialamatkan kepada umat di zaman Rasulullah saw. Dan kepada generasi-generasi yang akan lahir dan bukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa Adam as.

Yang kedua terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 79

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (٦٩)

Dan, barangsiapa taat kepada Allah swt. dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara [628] orang-orang yang kepada mereka Allah swt. memberikan nikmat, yakni : nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang saleh. Dan, mereka [629] itulah sahabat yang sejati.

Tafsir :

[628] Kata depan ma’a menunjukkan adanya dua orang atau lebih bersama pada suatu tempat atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan. Kata itu mengandung arti bantuan, seperti tercantum dalam 9:39 (Mufradat). Kata itu dipergunakan pada beberapa tempat dalam Alquran dengan artian fi artinya “di antara”: ( 3:193; 4:146 ).
[629] Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan rohani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat kerohanian – para nabi, para shiddiq, para syuhada dan para shalihin – kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Rasulullah s.a.w. Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Rasulullah s.a.w. semata. Tidak ada nabi lain menyamai beliau dalam memperoleh nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah swt. swt. dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka” ( 57:20 ).

Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan saleh dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Rasulullah s.a.w. dapat naik ke martabat nabi juga. Kitab “Bahr-ul-Muhit” (Jilid III, hal. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan, “Tuhan telah membagi orang-orang mukmin dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang mukmin sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa “Kanabian itu ada dua macam : umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”[629] Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan rohani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat kerohanian – para nabi, para shiddiq, para syuhada dan para shalihin – kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Rasulullah s.a.w. Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Rasulullah s.a.w. semata. Tidak ada nabi lain menyamai beliau dalam memperoleh nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah swt. swt. dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka” ( 57:20 ).

Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan saleh dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Rasulullah s.a.w. dapat naik ke martabat nabi juga. Kitab “Bahr-ul-Muhit” (Jilid III, hal. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan, “Tuhan telah membagi orang-orang mukmin dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang mukmin sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa “Kanabian itu ada dua macam : umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”

Sumber :
1. Al Qura’an dan Terjemahannya Depag RI halaman( 673. 674),
2. Al Qur’an Dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat Jilid III Yayasan Wisma Damai halaman (156-159)


0 Responses to “Memahami Ayat Khataman Nabiyyin Hukum Anak Angkat Tidak Sama Dengan Anak Kandung”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: