18
Okt
09

Mamahami Ayat Khataman Nabiyyin

Mamahami Ayat Khataman Nabiyyin

A’uwdzu billahi minasystaithaani rajiym, Bismillahir Rahmanir Rahiym

Maa kaana Muhammadun abaa ahadim mirrajaaliku walaakir Rasuwlallah wa Khaataman Nabiyyin, wakaanAllahu bikulli syai-in “aliyma. (QS Al Ahzab :40)

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Ahzab ayat 40 Terjemahan Depag)

Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w. (Sumber : Al-Quran dan Terjemahannya Depag RI,  halaman 674)

Asbabul Nuzul Ayat Khataman Nabiyyin : Hukum Anak Angkat Tidak Sama Dengan Anak Kandung (QS Al Ahzab ayat 36-39)

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu Menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.(QS Al-Ahzab ayat 37, Terjemahan Depag)

Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu[1221]. dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, .(QS Al-Ahzab ayat 38, Terjemahan Depag)

Yaitu orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan. .(QS Al-Ahzab ayat 39, Terjemahan Depag)

Muhammad bukanlah bapak, salah seorang diantara laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al Ahzab -Terjemahan Ahmadiyah)

Khatam  berasal dari kata khatama  yang berarti, ia memeterai, mencap, mensahkanatau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah : ia mencapai ujung benda itu ; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah mererai jenis apa pun. Khatam  berarti juga sebentuk cincin stempel ; sebuah segel, atau mererai dansebuah tanda ; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan ; terbaik atau paling sempurna. Kata-kata khatim, khatim dan khatam  hampir sama artinya (Lane, Mufradat, Fat-h, dan Zurqani). Maka kata khataman nabiyyin  akan berarti mererai para nabi ; yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabi ; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi terakhir. (The Holy Quran Arabic Text And Indonesian Translation h.1459)

Di Mekkah pada waktu semua putra Rasulullah saw. telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak, musuh-musuh beliau mengejek baliau seorang abtar  (yang tidak mempunyai anak laki-laki), yang berarti karena ketidakadaan ahliwaris lelaki itu untuk menggantikan belaiu, jemaat beliau cepat atau lambat akan menemui kesudahan (Muhith). Sebagai jawaban terhadap ejekan orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan dalam Surah Al-Kautsar, bahwa bukan Rasulullah saw. melainkan musuh-musuh beliaulah yang tidak akan berketurunan. Sesudah Surah Al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum Muslimin di zaman permulaan bahwa Rasulullah saw. akan dianugerahi anak-anak lelaki yang akan hidup sampai dewasa. ayat yang dibahas ini menghilangkan salah paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa Rasulullah saw., baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa yang akan datang bukan atau tidak oernah akan menjadi bapak seorang orang lelaki dewasa (rijal  berarti pemuda).

Dalam pada itu ayat ini nampaknya bertentangan dengan Surah Al-Kautsar, yang di dalam-nya bukan Rasulullah saw., melainkan musuh-musuh beliau yang diancam dengan tidak akan berketurunan, tetapi sebenarnya berusaha menghilangkan keragu-raguan dan prasangka-prasangka terhadap timbulnya arti yang kelihatannya bertentangan itu. Ayat ini mengatakan bahwa Bagianda Nabi Besar Muhammad saw.  adalah rasul Allah swt., yang mengandung arti bahwa baliau adalah bapak ruhani semua orang mukmin dan semua nabi, betapa beliau dapat disebut abtar  atau tak berketurunan. Bila ungkapan ini diambil dalam arti bahwa baliau itu nabi yang terakhir, dan bahwa tiada nabi akan datang sesudah beliau, maka ayat ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada menyangga ejekan orang-ornag kafir bahwa Rasulullah saw. tidak berketurunan, malahan mendukung dan menguatkannya. Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam  seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khataman Nabiyyin  dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti :

  1. Rasulullah saw. adalah materai para nabi, yakni, tiada nabi dapat dianggap benar, kalau kenabiannya tidak bermeterai Rasulullah saw.. Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah saw. dan juga tiada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau.
  2. Rasulullah saw. adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (Zulqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
  3. Rasulullah saw. adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa sya’riat. Penafsi-ran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn’Arabi, Syah Waliaullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain. Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, tiada nabi dapat datang sesudah Rasulullah saw. yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau atau yang akan datang dari luar umat beliau (Futuhat, Tafhimat, Makrubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Siti Aisyah ra. istri Rasulullah saw. yang amat berbakat, menurut riwayat pernah mengatakan, “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah saw.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
  4. Rasulullah saw. adalah nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau : khatam dalam arti sebuatan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai.

Lebih-lebih Alquran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Rasulullah saw. wafat (7:36). Rasulullah saw. sendiri jelas mempunyai tanggapan tentang berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau pernah bersabda, “Sekira-nya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Majah, Kitab al-Jana’iz) dan, “abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanz). (Sumber : Al-Quran dengan Terjemahan Tafsir Singkat Jilid I, Yayasan Wisma Damai halaman

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al A’raf ayat 35, Terjemahan Depag)

Wahai Bani Adam, jika datang kepadamu  rasul-rasul dari antaramu yang memperdengarkan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. ((QS Al A’raf ayat 36, Terjemahan Ahmadiyah)

Kesimpulan dari Ayat Khataman Nabiyyin adalah

  1. Kalau penutup, berarti Rasulullah saw menutup hokum kebisaan orang Yahudi bahwa anak angkat itu tetap anak angkat bukan sama dengan anak kandung, karena Rasulullah saw menikahi Hazrat Zainab (mantan istri Zaid anak angkat Rasulullah.
  2. Kalau dimaknai penutup Nabi, dari ayat tersebut tidak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya sebagai sebab-sebab diturunkannya ayat Khatam
  3. Di dalan Al-Quran tidak pernah kita menjumpai ayat Khatamur Rasul. Menurut pendapat umum semua Rasul pasti Nabi gan tidak semua Nabi pasti Rasul. Dalam kenyataannya setiap Nabi adalah Rasul dan setiap Rasul adalah Nabi, karena semua Nabi adalah Utusan Tuhan (Rasul) dan setiap Rasul mendapat wahyu kenabiyan (Nabi)
  4. Kalau kita tetap memegang perinsip bahwa tidak aka nada lagi Nabi/Rasul setelah Rasulullah saw, maka konsekwensinya adalah : Pertama, mengingkari hadis-hadis akan turunnya Nabi Isa as. dan juga Imam Mahdi (Imam Mahdi pasti berpangkat Nabi dan Rasul). Kedua, mengingkari ayat Al-Quran yang telah diturunkan oleh Allah swt. Karena Allah swt berfirman : YA’TIYANNAKUM RUSULUM MINKUM” AKAN DATANG Rasul-rasul diantara kamu. (QS Al-A’raf ayat 35). Dan juga QS An-Nisa ayat 69 Allah swt berfirman, “Dan,  barangsiapa taat kepada Allah swt. dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang kepada mereka Allah swt. memberikan nikmat, yakni : nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati.
  5. Karena Nabi adalah salah satu nikmat Allah yang palin besar, maka meyakini tidak ada lagi nabi berarti mengingkari Nikmat Allah.
  6. Bagi yang meyakini akan adanya Rasul mereka tidak akan khawatir dan bersedih hati, karena merka yakin Allah swt berda dipihak mereka, dan mereka yang bertakwa dan memperbaiki diri.
  7. Dalam Al Quran Surat An Nisa ayat 69  kata, MA’A bila diartikan hanya “bersama”, tidak “menjadi” atau “termasuk”, maka berarti orang Islam yang mengikuti Rasulullah saw tidak ada yang shaleh karena dalam ayat tersebut bersamaan disebutkan. Kalau pengikut Rasulullah saw menjadi shaleh berarti pula bisa jadi Nabi, karena Nabi adalah nikmat Allah swt yang paling besar.

Wassalam

Penulis : Hamba Allah


0 Responses to “Mamahami Ayat Khataman Nabiyyin”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: