Arsip untuk Kategori 'Uncategorized'

12
Nov
09

093010 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend) (Bagian ke 2)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

RINGKASAN KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 30 Oktober 2009 dari Baitul Futuh London UK`
TENTANG : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend)
(Bagian ke 2)

Didalam khutbah ini Huzur melanjutkan pembahasan tentang sifat Allah swt Al Wali (Sahabat). Allah swt telah mengingatkan orang-orang beriman dan orang tidak beriman terutama para penyembah berhala didalam Alqur’an surah Al Ra’d ayat 12 sebagai berikut :
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال
Artinya : Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia.
Didalam ayat tersebut Allah swt telah menjelaskan empat macam perkara :
a. Allah swt telah mengambil tanggung jawab sendiri untuk melindungi setiap orang.
b. Dia memberi keputusan tentang suatu bangsa sesuai dengan prilaku mereka.
c. Apabila Allah swt telah menganggap sesorang sudah patut dihukum, tidak ada kekuatan lain yang bisa mencegahnya.
d. Dia sendiri adalah Penolong, Penjaga, Pelindung dan Sahabat yang paling benar dan setia.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. sambil menjelaskan maksud sesungguhnya pada permulaan ayat tersebut ini لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya bersabda : “ Allah swt telah menetapkan para pengawal untuk menjaga hamba-hamba-Nya disetiap penjuru baik secara zahiri maupun secara ruhani. Yang paling utama Allah swt menetapkan para pengawal atau penjaga itu bagi para Utusan-Nya khasnya bagi Hazrat Rasulullah saw. Setelah kelahiran beliau kedunia, beliau telah menjadi wujud yang paling dikasihi dan disayangi oleh Allah swt sampai kepada masa akhir hayat beliau saw. Allah swt telah menyempurnakan semua perkara itu pada wujud beliau saw dengan sangat luar biasa sehingga tidak ada tara bandingannya. Situasi kehidupan beliau di Mekkah telah diketahui oleh semua, bagaimana Allah swt telah menolong dalam setiap langkah beliau dengan sangat luar biasa cemerlangnya. Surah Ar Ra’d tersebut diturunkan kepada beliau dalam suasana di Mekkah yang sangat mencekam disa’at usaha-usaha lawan yang memusuhi beliau sudah mencapai taraf yang paling membahayakan dan telah melampaui batas kemanusiaan. Kita juga mempunyai sebuah pemandangan zahiri dan bathini peristiwa Perang Badar yang sangat mengerikan dan luar biasa hebatnya dimana Allah swt sesuai dengan janji-Nya telah menurunkan pertolongan-Nya secara luar biasa kepada Hazrat Rasulullah saw, sehingga bagaimanapun kerasnya kehendak musuh untuk menghancurkan beliau beserta para sahabah beliau tidak berhasil.
Amir Ibnu Tufail seorang tokoh dan pimpinan penyembah berhala datang kepada Hazrat Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau : “ Wahai Muhammad !! Apabila saya menjadi muslim apakah saya bisa menjadi Khalifah pengganti engkau setelah engkau wafat ? Maka Rasulullah saw menjawab : “ Takhta Khilafat tidak akan pernah turun kepada seseorang yang memberi persyaratan demikian dan juga tidak akan turun kepada pengikutnya.” Mendengar demikian dia menjadi marah dan berkata : “Aku akan membawa lasykar berkuda yang sangat berpengalaman yang akan memberi pelajaran dan menghancurkan Muhammad (saw)” Na’uzubillah !! Nabi Muhammad saw bersabda : “ Tuhan tidak akan pernah memberi taufiq untuk berbuat demikian !” Maka ia beserta temannya pergi dari sana, dan Rasulullah saw-pun membiarkan mereka pergi. Diperjalanan temannya itu berkata : “ Mari kita kembali lagi ketempat Muhammad dan aku akan mengatur siasat, aku akan mengajak dia untuk berbicara dengan-ku, disa’at itu kamu hunuslah pedangmu dan seranglah lalu bunuhlah dia !” Dia menjawab : “ Cara begini sangat berbahaya. Jika aku berhasil membunuhnya maka sahabat-sahabatnya pasti akan mengejar-ku dan membunuh-ku!” Temannya yang sudah dirasuk syetan itu semakin menghasutnya dan berkata : “ Jangan takut kita akan memberi wang tebusan kepada mereka itu, setelah berhasil membunuh Muhammad !” Maka Amir Bin Tufail itu setuju dengan saran temannya itu dan kembali menuju Hazrat Rasulullah saw. Dan setibanya dihadapan Rasulullah saw teman Amir Bin Tufail itu mulailah bercakap-cakap dengan Rasulullah saw dan Amir Bin Tufailpun yang tengah berdiri dibelakang Rasulullah saw mulai menghunus pedangnya. Namun setelah ia berhasil menghunus pedangnya itu timbul didalam hatinya rasa takut yang menggetarkan hatinya dan tertegun sejenak sehingga tangannya tidak mampu mengayunkan pedangnya itu untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw. Disa’at itu Hazrat Rasulullah saw berbalik kebelakang dan memandang Amir Bin Tufail yang sedang memegang pedang terhunus ditangannya. Dan Rasulullah saw faham apa yang dimaksud oleh Amir Bin Tufail itu dan mereka-pun berdua mundur dari sana, lalu pergi meninggalkan Rasulullah saw. Dan Rasulullah saw pun membiarkan mereka berdua pergi dan sedikitpun tidak mengucapkan sebarang perkataan terhadap mereka berdua. Namun Allah swt Yang Maha Kuasa telah mnjatuhkan hukuman terhadap mereka berdua. Ditengah perjalanan turun hujan dan temannya itu telah disambar petir sehingga mati dan hancur binasa, sedangkan tentang Amir Bin Tufail dikatakan bahwa dia mati setelah diserang oleh penyakit bisul yang mengerikan.
Banyak sekali peristiwa serupa yang telah terjadi terhadap diri Hazrat Rasulullah
saw yang menunjukkan bahwa Allah swt betul-betul telah memberi perlindungan dan keselamatan yang khas sesuai dengan janji-Nya melalui para Malaikat-Nya terhadap wujud suci Rasulullah saw dari maksud-maksud jahat pihak lawan yang memusuhi Hazrat Rasulullah saw. Peristiwa-peristiwa demikian telah mewarnai seluruh masa kehidupan beliau saw sehingga nampak jelas sekali bahwa Allah swt melalui para Malaikat-Nya telah menjaga dan melindungi beliau saw. Janji Allah swt yang turun di Mekkah itu telah diperlihatkan kesempurnaannya untuk meyakinkan dan menenteramkan hati beliau ketika terjadi penyerangan dan pengepungan terhadap kota Madinah, dengan firman-Nya : وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia. Tentang itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hazrat Rasulullah saw selamat dan terlindung dari usaha pembunuhan manusia merupakan sebuah mu’jizah yang sangat luar biasa besarnya, dan merupakan bukti nyata kebenaran Kitab Suci Alqur’an, sebab nubuwatan ini : وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia tercantum didalam Kitab Suci Alqur’an dan nubuwatan ini tercantum didalam Kitab-kitab sebelumnya juga bahwa Nabi akhir zaman tidak akan dapat dibunuh oleh siapapun juga.”
Huzur bersabda tentang ; mereka menjaganya atas perintah Allah artinya pertama, melalui para Malaikat Rasulullah saw selalu dijaga dan dilindungi dari kejahatan manusia dan keduanya Allah swt menanamkan semangat kecintaan yang mendalam didalam hati orang-orang mukmin sehingga mereka setiap sa’at siap mengurbankan jiwa raga mereka untuk melindungi dan menjaga Rasulullah saw. Semangat kecintaan itu timbul didalam hati orang-orang mukmin setelah mereka beriman kepada Hazrat Rasulullah saw. Para sahabah menjaga dan melindungi Hazrat Rasulullah saw kerana Allah swt telah menamkan iman yang hakiki didalam hati mereka dan mereka lakukan hal itu semua semata-mata demi meraih keridhaan Allah swt. Allah swt telah menyelenggarakan perlindungan seperti itu terhadap Rasulullah saw lebih dari pada terhadap Nabi atau Rasul yang lain. Akan tetapi salah satu arti dari pada itu adalah bahwa bisa juga perlindungan Tuhan itu berlaku terhadap siapapun, sebab Allah swt telah mengatur sistim penjagaan dan perlindungan bagi setiap orang atau setiap manusia. Misalnya walaupun tidak ada penyakit yang tengah menular, namun didalam udara terdapat berbagai jenis kuman atau bakteri yang bisa masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. Untuk itu Allah swt telah menaruh sistim penjagaan didalam tubuh setiap orang, yang mampu mencegah pengaruh buruk sebagian kuman atau bakteri yang terhirup dari udara melalui pernafasan manusia. Disamping itu Allah swt memberi perlindungan terhadap para wali-Nya atau para Utusan-Nya bahkan terhadap para pengikutnya yang khas melalui para penjaga yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri.
Pada zaman sekarang ini kita telah mengetahui merebaknya serangan wabah penyakit pes atau tha’un dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk membuktikan kebenaran da’wa beliau sebagai Utusan Tuhan. Dan hal itu telah membuktikan adanya perlindungan khas dari Allah swt terhadap para pengikut beliau a.s. dari serangan wabah penyakit berbahaya itu. Didalam Kitab Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada Pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tidak ada rintangan samawi, maka kamilah yang pertama-tama diantara semua warga negara yang akan meminta disuntik untuk mencegah bahaya penyakit pes itu. Rintangan samawi itu adalah, Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan suatu Tanda kasih sayang dari langit kepada umat manusia yang telah beriman kepada Utusan-Nya dizaman ini, mereka akan dilindungi dari bahaya wabah pes atau tha’un itu. Dunia luas telah menyaksikan bahwa walaupun telah merebaknya wabah pes atau tha’un itu selama enam tahun dinegeri India pada waktu itu, dengan karunia Allah swt tidak ada seorang Ahmady-pun yang terkena serangan wabah pes tersebut.”
Hanya semata-mata adanya perlindungan Allah swt manusia bisa terselamat dari setiap tragedi yang berbahaya dari kehilangan nyawa, harta dan anak-anak atau kehormatan. Jika tidak manusia akan kehilangan akal dan ingatan atau perasaan setelah ditimpa berbagai macam kerugian dan kehilangan yang mengerikan. Hal itu juga merupakan salah satu cara Allah swt untuk memberi perlindungan kepada manusia. Banyak manusia yang tidak mampu atau tidak bijak menyikapi akibat kehilangan atau kerugian disebabkan suatu musibah itu sehingga mengakibatkan penderitaan yang sangat keras. Akhirnya banyak diantara mereka yang kehilangan iman dan keyakinan terhadap Allah sawt. Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menyikapi dengan rasa syukur atas ni’mat Allah swt, jika tidak ada rahmat dan karunia-Nya kehidupan kita tidak mungkin bisa berlanjut. Orang-orang mukmnin apabila menghadapi suatu musibah akan selalu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un !! Kita semua dan apapun yang kita miliki semuanya kepunyaan Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya !! (Al Baqarah : 157) sebagai natijahnya mereka mendapat barkat dari Allah swt dan mereka mendapat perlindungan Allah swt dari akibat buruk musibah atau kesusahan serta kesulitan yang mereka hadapi itu.
Sesuai dengan peraturan alam semua manusia berada dibawah perlindungan Allah swt secara umum, baik yang beriman kepada-Nya maupun yang tidak beriman. Didalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tidak beriman bahwa, jika mereka terus berlanjut didalam perbuatan kejahatan mereka Allah swt tidak akan memberi perlindungan-Nya lagi terhadap mereka sehingga mereka akan menghadapi kehancuran yang sangat parah. Sebagaimana firman-Nya didalam surah Ar Ra’d ayat 12 berikut ini :
اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Hal ini membuktikan bahwa Allah swt tidak merubah cara memberi pertolongan kepada orang-orang beriman dan soleh dan mereka terus menerima banyak berkat dan rahmat dari pada-Nya. Selama mereka menjadi orang-orang yang baik dan saleh secara perorangan maupun secara keseluruhan dan memenuhi kewajiban terhadap hak-hak Allah swt dan terhadap hak-hak hamba-hamba-Nya maka mereka akan terus menerima banyak berkat dari Allah swt didalam kehidupan mereka. Berkat-berkat dan nikmat Allah swt tidak diturunkan lagi apabila manusia bukan menjadikan Tuhan sebagai wali atau sahabat mereka melainkan mengambil syaitan menjadi wali atau sahabat mereka. Kebaikan mereka lambat-laun akan hilang dan mulailah mereka melakukan kezaliman terhadap manusia. Akibatnya mereka banyak melakukan perbuatan dosa dan perbuatan jahat, merampas dan menjarah harta orang. Sebagai penguasa dipemerintahan mereka mulai melakukan suap-menyuap, melakukan korupsi dan penggelapan harta milik negara dan melakukan pelanggaran yang bertentangan dengan keadilan. Merampas hak-hak orang lain sudah menjadi adat kebiasaan sehingga akhirnya mereka berani membunuh orang atas nama agama. Pada waktu itu Allah swt tidak lagi menjaga dan melindungi mereka sehingga mereka kehilangan berkat-berkat dan nikmat serta karunia dari Allah swt sepanjang kehidupan mereka.
Maksud dari sebagian ayat tersebut bukanlah berarti bahwa Tuhan tidak memperlakukan orang-orang berbuat jahat sebagaimana mestinya, melainkan Allah swt tidak merobah perlakuan-Nya terhadap orang-orang suci dan soleh kecuali mereka sendiri telah mulai melakukan perbuatan-perbuatan buruk sehingga mereka tidak menerima lagi anugerah nikmat, karunia dan berkat-berkat dari Allah swt. Didalam sejarah agama nampak jelas sebagai saksi kepada kita dan Alqur’anpun telah menjelaskannya dihadapan kita bahwa apabila keburukan-keburukan mulai banyak timbul kepermukaan dan kebaikan-kebaikan mulai menghilang dari permukaan bumi maka perlindungan dan pemeliharaan Allah swt-pun menghilang pula. Dimanapun tidak tertulis sebuah jaminan bahwa dengan mengucapkan dua kalimah syahadat oran-orang beriman akan mendapat perlindungan istimewa untuk selamanya dari Allah swt. Untuk mendapatkan perlindungan khas dari Allah swt sesudah beriman, manusia harus melakukan amal-amal soleh sesuai ajaran Agama Islam. Hal ini harus menjadi sumber pemikiran bagi orang-orang muslim dizaman ini terutama mereka yang tinggal dinegara-negara dimana penganiayaan terhadap sesama orang muslim dan terhadap minoritas non muslim tengah berlangsung bahkan semakin meningkat. Perkara berikutnya didalam ayat tersebut diatas harus direnungkan khasnya oleh orang-orang Islam dinegara Pakistan bahkan mereka harus memohon ampun kepada Allah swt yaitu :
وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال
Artinya : Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Apa yang diperlukan oleh mereka adalah mengadakan perbaikan pada diri mereka sebelum keputusan akhir Tuhan turun kepada mereka. Jika memang penduduk negeri Pakistan sungguh-sungguh mempunyai pengertian kepada hal tersebut.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa kewajiban orang-orang yang betul-betul menghendaki bebas atau terlepas dari kesusahan dan kemalangan adalah mereka harus mengadakan perobahan yang baik dalam diri mereka. Apabila perobahan dimaksud sudah tercapai maka barkat-barkat dan nikmat serta karunia Allah swt akan segera turun kepada mereka sesuai dengan janji-janji-Nya.
Huzur bersabda bahwa sangat perlu sekali bagi mereka itu untuk merenungkan dengan penuh perhatian terhadap masalah ini terutama untuk memohon ampunan dari Allah swt dan setiap orang Ahmady harus berusaha untuk memberi penerangan dan pengertian tentang itu terhadap orang-orang Muslim disekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Diakhir Ayat tersebut difirmankan : وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال
Artinya : dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Jadi jika tidak ada wujud lain kecuali Allah sebagai Penolong, Yang bisa melindungi kita semua dari setiap gangguan dan serangan Syaitan, maka kita harus mencari Dia dan harus menjadikan-Nya sebagai sahabat atau teman. Dan jika sekalipun umat Islam disana setiap hari menunaikan salat lima waktu dengan patuh, melakukan ibadah puasa dibulan Ramdhan dan puluhan ribu orang setiap tahun menunaikan ibadah Haji, namun tidak menimbulkan sebarang kebaikan bahkan timbul kemunduran dan kehancuran secara nasional, tentu terdapat kekurangan didalam cara menunaikan ibadah mereka terhadap Allah swt. Semoga ummat Islam di Pakistan memahami keadaan sebenarnya yang tengah berlaku disana dan semoga hati mereka runduk sepenuhnya terhadap Allah swt.
Allah swt telah menguraikan masalah tersebut didalam surah Al Anfal ayat 54 sebagai berikut :
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّـعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ‏
Artinya : Yang demikian itu adalah karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Allah swt tidak pernah merampas kembali anugerh nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, melainkan manusia sendiri yang mensia-siakan anugerah nikmat-Nya itu dengan melakukan keburukan sehingga menjadikan dirinya bernasib buruk dan malang. Alqur’an tidak semata-mata hanya menceritakan perkara-perkara yang telah berlalu, melainkan menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman dimasa sekarang dan mereka harus selalu waspada dan selalu menghargai dan mensyukuri nikmat-nikmat luar biasa yang telah mereka terima dari Allah swt. Allah swt berfirman …
وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِىْ telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas-mu … nikmat ini dan berkat ini telah dianugerahkan kepada kita dalam bentuk Kitab Suci Alqur’an dan kita telah diperintah untuk mengamalkan ajaran-ajarannya didalam peri kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita ikuti semua perintah-Nya ini maka kita sendiri akan menjadi orang-orang yang soleh dan sesuai firman-Nya Dia akan menjadi Penolong kita dan Dia akan menjelma sebagai Maula atau Pelindung kita.
Apakah orang-orang Muslim diseluruh dunia belum juga menyadari mengapa mereka luput dari berkat-berkat firman Tuhan yang artinya : Kamu adalah ummat terbaik dibangkitkan demi kebaikan umat manusia..?? Ummat yang telah diciptakan demi faedah manusia itu, mengapa mereka luput dari nikmat-nikmat dan karunia Allah swt ? Sebab mereka sedang saling bunuh-membunuh satu dengan yang lain. Beberapa hari yang lalu telah terjadi letupan bomb di kota Peshawar yang dikendalikan dari jauh dengan remote control. Lalu terjadi lagi bomb bunuh diri yang disusul dengan pembunuhan terhadap orang-orang Ahmady dan yang lainnya juga atas nama agama. Macam kebaikan apakah yang mereka lakukan ini ? Perkara demikian sangat perlu untuk dipikirkan oleh mereka dan mereka harus merubah pola pikir mereka untuk mengubah sikap kearah kebaikan. Jika tidak, apabila taqdir Tuhan sudah mulai bergerak untuk menghukum mereka, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya atau mencegahnya lagi.
Perbuatan baik orang lain juga harus bisa diambil contoh dan harus menjadi contoh bagi mereka. Orang-orang Ahmady juga harus mengadakan pemeriksaan dan penilaian terhadap diri masing-masing jika sesungguhnya mereka ada dipihak yang benar. Mereka harus selalu mengawasi perilaku orang-orang itu terutama yang tinggal disekitar lingkungan masing-masing. Mereka harus selalu mensyukuri karunia Allah swt yang telah turun kepada mereka. Jika hal itu tetap dipertahankan maka Allah swt akan selalu menjadi Penolong dan Pelindung kita semua sesuai dengan janji-janji-Nya. Dan tidak akan ada yang bisa mengganggu dan menghancurkan Jema’at kita. Oleh sebab itu Allah swt berfirman :
ۚ فَاَقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوْا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِؕ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ‌ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْر
Artinya : … Maka dirikanlah salat dan bayarlah zakat dan berpeganglah dengan teguh kepada Allah. Dialah Pemelihara-mu. Maka Dialah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong (Al Hajj : 79) Ini merupakan kewajiban bagi semua orang-oran beriman untuk menunaikan salat karena melalui ibadah salat itu setiap orang bisa berobah menjadi orang yang baik dan saleh. Harta orang-orang beriman bisa menjadi suci bersih dengan membelanjakan sebagian dari padanya dijalan Allah dan berpegang teguh kepada apa yang diperintahkan Allah swt. Dan hal itu bisa memperteguh tauhid dan keyakinan terhadap Allah Yang Maha Tunggal sebagai Penolong dan Pelindung yang sejati.
Didalam surah Al Maidah ayat 56-57 Allah swt berfirman sebagai berikut :
اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ‏– وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَ رَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْن
Artinya : Sesungguhnya penolong-penolong-mu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang dawam mendirikan salat dan membayar zakat dan mereka ta’at kepada Allah – Dan barangsiapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai penolong, maka sesungguhnya Jema’at Allah pasti menang. Disini “ beribadahlah hanya kepada Allah” berarti bahwa orang yang sungguh-sungguh dan secara sempurna beriman kepada Allah dan keimanannya benar-benar suci dari setiap jenis pelanggaran. Mereka itulah kumpulan orang-orang yang akan memperoleh kemenangan dan kejayaan dan mereka itulah sahabat-sahabat Tuhan dan Tuhan adalah Sahabat mereka.
Didalam sebuah Hadis Qudsi Allah swt berrfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw “ Barang siapa yang menjadi musuh terhadap sahabat-Ku maka Aku akan nyatakan perang kepadanya. Aku ingin hamba-Ku mendekat kepada-Ku melalui apa yang telah diwajibkan kepadanya. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku melalui nawafil sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi matanya dengan mana ia biasa melihat, Aku menjadi tangannya dengan apa ia memegang, Aku menjadi kakinya dengan apa ia berjalan. Jika ia memohon sesuatu dari pada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Jika ia memohon perlindungan-Ku pasti Aku beri perlindungan kepadanya. Aku tidak mempunyai keraguan sedikitpun tentang hamba-Ku mecuali ketika Aku akan mencabut nyawa seorang mukmin. Ia tidak suka kematian dan Aku juga tidak suka memberi kesulitan terhadap hamba-Ku” Demikianlah perhatian dan perlindungan Tuhan terhadap hamba-Nya yang beriman. Jika manusia mengamalkan setiap perintah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kecintaan maka Tuhan akan menjadi Maula-nya (Pelindngnya). Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjadi orang-orang soleh yang selalu mendekatkan diri kepada Maula kita yang sejati sehingga kita sentiasa menerima pertolongan-Nya dan perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan kita. Amin !!!
Alih Bahasa : Hasan Basri

12
Nov
09

071109 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : KEUTAMAAN MUKMIN LAKI-LAKI DAN MUKMIN PEREMPUAN

KHUTBAH JUM’AH HADZRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 09 November 2007 dari Baitul Futuh London U.K.
Alih bahasa : Hasan Basri

KEUTAMAAN MUKMIN LAKI-LAKI DAN MUKMIN PEREMPUAN

Setelah membaca Syahadat, ta’awwuz dan surat Al-Faatihah, Huzur atba menilawatkan ayat 71 dari Surah At Taubah sebagai berikut : Artinya Dan. Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan itu satu sama lain bersahabat. Mereka menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan dan mendirikan shalat dan membayar zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dikasihi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Surah Taubah ayat 71)

Didalam ayat ini dijelaskan tentang sifat orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan. Tanda-tanda atau sifat-sifat yang indah ini apabila timbul didalam sebuah golongan atau Jemaat, pasti ia adalah Jemaat orang-orang mukmin hakiki. Sebagaimana telah kita baca dari terjemahan diatas bahwa Allah swt telah menjelaskan ada tujuh macam keistimewaan Jemaat orang-orang mukmin. Keistimewaan pertama adalah satu sama lain bersahabat. Mereka bersahabat demikian akrabnya sehingga setiap saat siap untuk saling tolong-menolong. Keistimewaan kedua adalah mereka mengajak orang untuk berbuat baik, menganjurkan orang-orang untuk berbuat baik dan beramal soleh. Selain mereka menginginkan berkat dari Allah swt untuk diri mereka sendiri, mereka juga menginginkan berkat itu untuk orang lain. Dan mereka menghendaki sambil menegakkan kebaikan-kebaikan, dan sambil menegakkan kecintaan antar sesama, ingin menegakkan sebuah Jemaat yang mengamalkan hukum-hukum Allah swt dengan hati yang sungguh-sungguh dan penuh ikhlas. Keistimewaan ketiga adalah mencegah dari setiap keburukan. Mereka mencegah setiap perbuatan yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah swt. Menolong orang-orang yang zalim dan orang-orang mazlum (yang dizalimi) kedua-duanya. Mencegah orang zalim supaya jangan berbuat kezaliman (penganiayaan). Dan setiap waktu siap untuk menolong dan melepaskan orang-orang mazlum (yang diperlakukan secara zalim). Untuk itu jika harus mengeluarkan pengorbananpun mereka itu tidak akan merasa keberatan, agar suasana aman, damai dan sejahtera, serta persaudaraan dapat ditegakkan. Keistimewaan keempat adalah mendirikan shalat. Shalat yang merupakan tiang agama diperintahkan agar setiap orang mukmin memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, pendawaan diri sebagai orang mukmin tidak ada artinya. Hadzrat Masih Mau’ud a.s. sambil menekankan pentingnya shalat bersabda : Shalat adalah amal sholeh yang sangat penting dan ia adalah mi’raj (tangga) untuk mencapai martabat tertinggi bagi orang-orang mukmin. Dan shalat adalah sarana paling baik untuk berdo’a kepada Allah swt. Selanjutnya beliau bersabda : Tidak ada ibadah yang paling baik selain dari pada shalat. Sebab didalamnya terdapat pujian terhadap Tuhan, istighfar dan darood syarif (sanjungan terhadap Allah dan Rasulullah-Nya saw) dan ini semua merupakan kumpulan dari semua ibadah-ibadah. Banyak macam-macam wirid terhimpun semuanya didalam shalat, dengan itu semua kesedihan dan kesengsaraan bathin dapat dijauhkan dan semua kesulitan dapat dipecahkan.

Menunaikan shalat dengan sangat tertib dan sangat hati-hati, menunaikan shalat tepat pada waktunya, dan menunaikan shalat dengan berjemaah, maka firman Allah swt: Itulah ciri-ciri khas orang mukmin sejati. Dan memang seharusnya demikian. Keistimewaan kelima adalah membayar zakat, orang yang membelanjakan harta mereka dijalan Allah swt. Penjelasan selanjutnya akan diberikan kemudian.Keistimewaan keenam adalah ta’at kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Dalam memenuhi kewajiban terhadap Allah swt dan terhadap manusia dengan senang hati sesuai perintah Allah swt dan perintah Rasul-Nya saw. Dan keistimewaan yang ketujuh adalah : terhadap orang-orang mukmin yang menyandang keistimewaan seperti itu semua, Allah swt sangat menaruh belas-kasih terhadap mereka dan merekapun pewaris-pewaris rahmat dan kasih-sayang Allah swt. Allah swt selalu berlaku kasih-sayang dan mencintai orang-orang mukmin seperti itu. Harus diingat selalu bahwa keistimewaan orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan tersebut telah difirmankan oleh Tuhan sendiri Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Dengan mengikat hubungan yang erat dengan Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana ini dan dengan mengamalkan hukum-hukum-Nya maka hasilnya didalam diri kita juga akan timbul sifat arif dan bijksana. Sebagai hasil dari hikmah ini berkat mengamalkan hukum-hukum Allah swt dan Rasul-Nya didalam diri kita timbul kekuatan yang akan menjadi sarana bagi teguhnya Jemaat, sehingga keadilan dan kebijakan akan berdiri dengan kokoh-kuat. Karena hikmah dan kebijakan ini sebagai Jemaat kejahilan dan kebodohan akan dilenyapkan dari tengah-tengah kita dan kita akan berbuat sesuatu berdasarkan akal sehat serta kebijaksanaan dan keadaan pribadi kita akan terus bertambah kuat dan antara sesama kita akan saling cinta-mencintai dan akan meningkatkan hubungan persaudaraan diantara kita. Kita menerima amanat yang penuh dengan hikmah yang dihasilkan dengan penuh pemahaman dari Allah swt Yang Tunggal, yang untuk menyebarluaskannya di zaman ini kepada setiap orang diseluruh dunia Allah swt telah mengutus Hadzrat Ghulam Shadiq Rasulullah saw Imam Zaman, Hadzrat Masih Mauud a.s. Sebagai hamba dari Masih dan Mahdi ini kita menjadi penyampai amanat ini kepada masyarakat dunia. Dan sebagai hasilnya kita akan menjadi orang-orang yang akan menyaksikan kemenangan yang Allah swt telah janjikan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s.Dengan menciptakan keistimewaan didalam diri kita sendiri, maka kita akan menjadi pewaris nikmat-nikmat yang telah Allah swt janjikan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. Maka itulah khabar suka bagi orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan. Bahwa jika kamu sekalian menjadi penyandang keistimewaan itu, maka kalian akan menjadi penyebar luas amanat Allah swt yang sangat agung ini yang dalam setiap perkataannya mengandung hikmat yang luas laksana samudra dan kalian akan menjadi orang-orang yang bernasib baik untuk menyaksikan hari kemenangan Islam diseluruh dunia.

Untuk menjadi penyandang sifat Allah swt dan untuk mendapatkan barkat dari padanya sangat diperlukan sekurang-kurangnya kita harus memiliki keistimewaan didalam diri sehingga hasilnya dapat memperoleh berkat dari sifat Aziz dan Hakim (Maha Perkasa, Maha Bijaksanan). Jika kita berusaha menumbuhkan keistimewaan itu didalam diri kita maka pasti Allah swt Yang Ghalib dan Hakim akan memberi kekuatan kepada lidah kita untuk berbicara, sehingga dengannya kita akan dapat menyampaikan amanat Allah swt yang penuh dengan kebijakan kepada dunia sehingga kita akan menyaksikan kemenangan Islam dan Ahmadiyyat. Maka setiap orang Ahmadi harus memahami betul kepada maksud-maksud yang sangat penting ini. Supaya kita menjadi orang-orang yang menyempurnakan perjanjian bai’at yang kita lakukan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. pada zaman ini, bahwa kami setiap waktu bersedia untuk mengorbankan jiwa-raga, harta, waktu dan kehormatan kami untuk menyebar-luaskan ajaran Islam keseluruh dunia.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa sekarang saya akan menjelaskan tentang kewajiban membayar zakat atau kewajiban pengorbanan harta. Seperti kita maklum bahwa bulan November ini adalah waktu untuk diumumkannya perjanjian baru candah Tahrik-i-jadid. Bulan Oktober adalah bulan penutupan perjanjian candah tahrik jadid dan pada tanggal satu November dimulai lagi pengumuman perjanjian baru. Namun tepat pada awal bulan November ini tidak dapat diumumkan, baru pada hari ini akan saya umumkan. Dan dalam kesempatan ini akan saya jelaskan lebih lanjut tentang keistimewaan orang-orang mukmin lelaki dan orang-orang mukmin perempuan yang membayar zakat. Apa artinya zakat? Artinya mengeluarkan sebagian dari harta dibelanjakan dijalan Allah swt supaya harta itu suci bersih, menyatakan ita’at kepada Allah swt dan mengharapkan agar Allah swt menurunkan berkat diatas harta itu dan melipat-gandakan jumlahnya.

Maka seorang mukmin yang membelanjakan hartanya untuk keperluan sanak saudaranya, untuk keperluan kerja agama, untuk usaha meraih kemenangan Islam, sesungguhnya ia sedang melakukan perniagaan dengan Allah swt. Yakni dengan perantaraan pengorbanan itu ia akan dapat menarik karunia Allah swt lebih banyak lagi. Oleh sebab itulah Allah swt meningkatkan jumlah hartanya lebih banyak dari sebelumnya, supaya dia dapat mengambil manfa’at dari kenikmatan dunia juga dan dengan membelanjakannya lagi maka Allah swt terus meningkatkan jumlah hartanya itu. Itulah sebuah amal yang merupakan perniagaan yang tidak akan pernah mengalami kerugian. Disatu pihak ia mengeluarkan sebagian dari hartanya dan dipihak lain ia akan menerima berkali-lipat ganda secara berterusan jumlahnya sebagai pembalasan dari padanya.

Didalam urusan dunia, kita sering menyaksikan jika seseorang membelanjakan uangnya untuk sesuatu barang kepada orang lain maka sebanyak harga benda itu orang akan menerima harga dari pada benda itu. Seorang manusia berakal akan membayar harga benda itu setelah betul-betul ia periksa dan perhatikan nilai dari pada setiap benda itu. Dan harganya akan diberikan kepadanya sebanyak biaya yang telah ia keluarkan. Dari perniagaan seperti itu memang dapat dihasilkan faedahnya. Dan sesuai dengan peredaran waktu benda itupun akan semakin berkurang nilainya. Sehingga pada suatu waktu benda itu akan betul-betul menjadi sia-sisa tidak berharga lagi.

Kemudian kita menyaksikan lagi didalam sebuah perniagaan untuk mendatangkan hasil apabila bahan mentah dipergunakan, maka sebagian dari bahan mentah itu menjadi terbuang tidak dipergunakan, sekalipun seratus persen modal dibelanjakan untuk itu semua namun hasilnya tidak dapat diperoleh sepenuhnya, sekalipun semua pengeluaran telah diperhitungkan berapa yang terbuang, kemudian bisnisman (pengusaha) itu menentukan harganya setelah memperhitungkan berapa yang terbuang kemudian menentukan berapa keuntungan yang akan ia peroleh itu. Selain itu banyak lagi hal-hal yang harus diperhitungkan sehingga akhirnya kadang-kadang bukan keuntungan yang diperoleh melainkan kerugian. Akan tetapi Allah swt memberi jaminan kepada hamba-hamba-Nya yang membelanjakan harta mereka dijalan-Nya bahwa harta mereka akan berkembang berlipat ganda. Disatu tempat didalam Al Quran Allah swt berfirman, bahwa Dia akan mengganti tujuh ratus kali kali ganda bahkan lebih banyak lagi dari itu. Maka orang-orang mukmin diingatkan kearah perniagaan seperti itu, sekalipun keuntungan itu diperoleh dengan jalan perniagaan duniawi, akan tetapi apabila kalian membelanjakannya dijalan Allah swt sesuai dengan perintah-perintah-Nya, maka apabila keridoan Allah swt telah diperoleh, pengorbanan kalian akan menjadi sarana untuk memperkuat Jema’at-Nya. Dimana kalian sibuk memeperbaiki keadaan kehidupan diri sendiri, disana kalian juga akan bebas dari pengaruh buruk yang dapat mempengaruhi usaha kalian, supaya beberapa perkara yang mungkin mempengaruhinya tidak akan merugikan perniagaan kalian. Sehubungan dengan pokok masalah ini ditempat lain Allah swt telah berfirman sebagai berikut :Artinya : Dan harta apapun yang kamu belanjakan maka manfa’atnya adalah untuk dirimu, dan sebenarnya tidaklah kamu belanjakan melainkan tujuannya untuk mencari keridhoan Allah. Dan harta apapun yang kamu belanjakan niscaya akan dikembalikan kepada kamu dengan penuh (melimpah) dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Surah Al Baqarah ayat 273). Jika Allah swt menggunakan perkataan akan dikembalikan dengan penuh (melimpah) maksudnya pengembalian yang tidak terkira banyaknya sehingga manusia tidak mampu membayangkan berapa banyaknya. Setiap manusia melakukan perniagaannya masing-masing. Mereka mencatat dan menghitungnya, membagi dan memperkalikannya menggunakan pencil dan kertas dan sekarang zaman moden menggunakan alat-alat canggih, dengan mesin hitung dengan computer dan lain-lain. Sambil duduk-duduk dihadapan computer membuat planning dan menghitung-hitungnya, 5% atau 10 % diusahakan untuk menetapkan keuntungannya. Jika keuntungannya banyak dia tulis angka lebih besar lagi, apabila sesuatu barang banyak disukai dia lakukan system harga black market sehingga keuntungan dapat diraih sampai 100% besarnya. Itulah batas-batas ketentuan yang dibuat oleh manusia dan apabila didalam itu semua sudah diselesaikan, dia pasti mendapatkan faedah dan keuntungan secara duniawi, akan tetapi jika dalam mengambil keuntungan itu dengan jalan yang tidak benar, ia menjadi berdosa akibatnya harta yang dia peroleh itu tidak dapat dikatakan harta yang bersih dan suci. Akan tetapi Allah swt berfirman, untuk meraih keridhoan Allah swt, harus ditanamkan kecintaan didalam hati kepada Allah swt dan mengamalkan hukum-hukum-Nya dan mengalahkan kecintaan terhadap harta kekayaan. Apa yang kalian belanjakan dijalan-Nya tentu Allah swt akan mengembalikannya kepada kamu dengan sepenuhnya. Pembelanjaan dijalan Allah yang selalu dibalas dengan sepenunya dan berkali lipat ganda serta tidak terbatas jumlahnya. Orang yang mencari harta dengan jalan yang bersih dan suci ia faham kepada masalah duniawi dan juga masalah ukhrawi. Orang seperti ini tidak mau menggunakan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari orang yang dalam situasi sangat terdesak atau disa’at orang menghadapi kesulitan. Bahkan ianya selalu berusaha mencegah dirinya dari jalan usaha yang tidak dibenarkan atau tidak dihalalkan oleh hukum agama.

Dengan karunia Allah swt didalam Jema’at ini terdapat banyak orang-orang yang kaya raya selain banyak juga orang yang miskin. Oleh kerana Jema’at ini adalah Jema’at orang-orang mukmin maka setiap tingkatan dari para anggautanya cepat menyadari, bahwa berapapun harta yang telah Allah swt rizkikan kepadanya ia belanjakan sebagian dari padanya dijalan Allah swt, supaya ia menjadi pewaris dari pada karunia-karunia dan ni’mat-ni’mat-Nya.

Banyak juga orang-orang yang sudah berlalu bahkan sekarang juga banyak yang menjalani kehidupan dengan gaji yang ia terima setiap bulan. Akan tetapi apabila mereka mendengar ada gerakan pengorbanan dari Khalifa-e-waqt, mereka mengeluarkan dari uang gaji bulanannya itu untuk mengambil bahgian dalam gerakan pengorbanan itu dengan penuh semangat dan kecintaan. Sehingga mereka menyaksikan banyak karunia Allah swt turun kepada mereka, karena mereka selalu berusaha meraih karunia-Nya dan selalu berusaha meraih keridhoan-Nya juga. Sekarang dengan karunia Allah swt beribu-ribu orang diseluruh dunia telah memahami maksud dan tujuan sebenarnya dari pengorbanan yang sangat penting ini. Mereka melakukan perniagaan dengan Allah swt kemudian mereka membelanjakannya kembali sebahagian dari rizki yang diterimanya itu dijalan Allah swt. Kemudian mereka menyaksikan pembalasannya secara melimpah dari Allah swt.

Seorang Ahmadi telah menulis katanya, saya telah meningkatkan perjanjian Tahrik Jadid berkali lipat. Saya secara pribadi tahu betul orang ini. Dia telah berjanji melebihi kemampuannya. Maka dengan karunia-Nya, Allah swt telah memberi kemampuan kepadanya untuk melunasi perjanjiannya itu. Pada tahun ini dia berjanji lagi dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kemudian Allah swt telah menurunkan karunia-Nya kepadanya sesuai dengan firman-Nya artinya Dia (Tuhan) memberi rizki kepada-nya diluar jangkauan pikirannya. Tuhan telah menyediakan rizki demikian melimpah kepadanya sehingga keperluan sehari-harinya dapat dipenuhi dan perjanjiannya juga dapat dilunasinya. Setelah menerima banyak karunia dari Allah swt itu, iapun menulis kepada saya : Hati saya betul-betul merasa puas dengan karunia-Nya ini !! Namun harus diingat bahwa berapapun Allah swt menurunkan karunia-Nya kepada kita sehingga hati kita merasa puas, kita tidak dapat memenuhi hak-hak-Nya secara sempurna. Itulah sebabnya kita harus sentiasa mengisi hati kita penuh dengan puji-syukur kepada-Nya. Sebab Allah swt berfirman :Artinya jika engkau bersyukur atas ni’mat-Ku itu maka Aku akan tambah lagi kepadamu. Apabila Allah swt menambah rizki Dia menambahnya dengan berkali lipat ganda, shingga rasa syukur kita tidak memadai terhadap karunia yang Dia berikan secara berlipat ganda itu kepada kita.
Allah swt selalu meningkatkan iman hamba-Nya yang banyak menyanjungkan pujian kepada-Nya dan yang tawakkal sepenuhnya kepada-Nya. Selanjutnya orang ini telah menulis lagi kepada saya katanya, Sekretaris Tahrik Jadid dengan rasa heran berkata kepada saya : Anda membuat perrjanjian tahrik jaddid demikian banyaknya, bagaimana mampukah anda melunasinya ? Lalu saya jawab : jika anda merasa khawatir memikirkan itu, apakah Tuhan tidak khawatir memikirkannya untuk saya, Yang keridhoan-Nya saya harapakan dan berdasarkan perintah-Nya saya telah berjanji dan sedang membelanjakan harta yang telah Dia rizkikan kepada saya?

Semangat dan tawakkal seperti itu timbul didalam hati orang-orang Ahmadi sebab, mereka telah bai’at ditangan Imam Zaman ini. Dan setelah bai’at ditangan beliau mereka mempunyai pengertian dan pemahaman yang sangat dalam tentang sifat-sifat Allah swt. Iman terhadap Allah swt semakin meningkat. Mereka yakin betul terhadap janji-janji Allah swt. Mereka yakin betul bahwa Allah swt selalu menepati janji-janji-Nya. Mereka yakin bahwa pengorbanan yang dilakukan kerana Allah swt dengan penuh ikhlas tidak pernah sia-sia. Mereka mempunyai iman yang sangat teguh bahwa Allah swt memberi pembalasan dan ganjaran yang melimpah terhadap amal soleh yang dilakukan dengan penuh ikhlas demi meraih keridhoan-Nya. Mereka juga yakin bahwa Allah swt sesuai janji-Nya mengganti setiap keadaan rasa takut dengan keadaan aman dan setiap kesusahan dengan kegembiraan. Sebagaimana Allah swt berfirman ; Artinya : Orang-orang yang membelanjakan harta mereka pada malam dan siang dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka ada ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka ; dan tak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Surah Al Baqarah ayat 275)
Jadi orang-orang yang membelanjakan harta mereka semata-mata karena Allah swt, dan membelanjakan harta demi meraih keridhoan-Nya, maka Allah swt menjauhkan setiap perasaan takut dan kesusahan serta kesedihan mereka. Allah swt menjadi milik mereka dan mereka menjadi milik Allah swt. Dan Allah swt menurunkan barkat-Nya secara melimpah terhadap harta dan jiwa mereka. Sebagaimana terdapat riwayat didalam sebuah hadis yang diceritkan oleh Hadzrat Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah saw bersabda : Seorang yang memperoleh rizki yang suci-bersih berupa sebuah kurma lalu dikurbankan dijalan Allah swt maka Allah swt menerima kurma itu dengan kedua belah tangan-Nya dan Allah swt menjaga dan memeliharanya dan menambahnya terus untuk pemiliknya itu sehingga pada suatu waktu tumpukan buah kurmanya itu akan menyerupai sebuah gunung karena banyaknya. Demikianlah Tuhan menjaga dan memelihara harta hamba-Nya seperti halnya kalian menjaga dan memelihara anak sehingga pada suatu waktu ia menjadi besar.
Jadi itulah janji-janji Allah swt bahwa Dia menambah rizki hamba-hamba-Nya sebagaimana telah dijelaskan didalam Kitab Suci Al Quran dan juga didalam Hadis-hadis Rasulullah saw. Akan tetapi untuk itu kita harus ingat juga kepada persyaratannya, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya yaitu harta yang dikurbankan dijalan Allah swt itu harus dari rizki yang diperoleh dengan jalan yang benar dan suci bersih agar Allah swt mengabulkannya. Rizki atau harta itu bukan hasil penipuan atau hasil usaha yang tidak halal, misalnya hasil rampasan dari harta orang-orang miskin. Allah swt menuntut orang-orang mukmin untuk mengurbankan harta mereka dijalan-Nya yang telah dihasilkan dengan jalan yang suci-bersih dan dengan hati yang bersih dan dikurbankan untuk membersihkan hatinya. Allah swt Ghani, tidak memerlukan sesuatu dari hamba-hamba-Nya. Allah swt menganjurkan kita mengurbankan harta demi mensucikan harta kita ruh dan kalbu kita.
Jadi selama kita terus membelanjakan harta kita dari hasil usaha yang suci bersih dijalan Allah swt, sambil mengharapkan keridhoan-Nya kita akan terus mendapat ganjaran dari pada-Nya yang berlimpah-limpah tak terbatas banyaknya. Sebagaimana telah saya katakan bahwa untuk menghasilkan keridhoan Allah swt setiap amal kita sebagai Jemaat harus terus semakin baik dan kuat. Untuk menyampaikan amanat Allah swt keseluruh dunia sarana kita juga akan terus semakin besar dan luas dan akan Jemaat ummul mukminin yang menjadi seperti Yakni, bangunan yang sangat kuat yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun. Tidak ada yang dapat membuat kekacauan didalamnya. Akan merupakan sebuah Jema’at yang selalu menyaksikan manifestasi keagungan sifat Aziz Tuhan. Dan pasti Jema’at yang telah didirikan oleh Hadzrat Masih Mau’ud a.s ini adalah Jema’at orang-orang mukmin yang telah banyak membuat perobahan didalam diri mereka. Dan mereka akan menyaksikan manifestasi keagungan Tuhan berkat banyaknya pengorbanan yang telah mereka berikan kepada Jema’at ini. Kita telah menyaksikan karya Hadzrat Khalifatul Masih II r.a. ketika beliau melancarkan sebuah gerakan dengan pertolongan dan dukungan Allah swt untuk membendung arus perlawanan pehak lawan dan untuk mengembangkan tabligh Islam keseluruh dunia dan dengan yakin bahwa beliau dalam mendirikan gerakan itu mendapat pertolongan dan dukungan dari Allah swt dan penuh dengan hikmah dan kebijakan sehingga pada waktu itu nampak sekali bahwa tabligh Islam ini akan tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan akan mencapai kemenangan. Dan bukti dukungan Allah swt kepada beliau adalah sekarang kita dapat menyaksikan dalam bentuk tersebarnya Jema’at ini keseluruh pelosok dunia, tersebarnya missi Jema’at, mesjid-mesjid yang dibangun oleh Jema’at, dan setiap tahun tidak sedikit jumlahnya orang-orang yang berfitrat baik dan bersih masuk kedalam Jema’at ini. Golongan Ahrar (musuh utama Jemaat) yang pernah bangkit dengan tujuan utamanya akan menghancurkan Pusat Jema’at Ahmadiyah di Qadian, sekarang tidak ada lagi suaranya, kemana mereka pergi dan dimana mereka sekarang berada ? Akan tetapi berkat gerakan Tahrik Jadid, berkat pengorbanan harta orang-orang Ahmadi, berkat persatuan dan perpaduan Jema’at, berkat itha’at kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, berkat sambutan labbaik para Ahmadi terhadap seruan Khilafat , berkat pengorbanan harta untuk meraih ridho Allah swt, Jema’at Ahmadiyah ini telah tersebar luas dalam 189 negara di dunia. Didalam setiap negara banyak sekali orang-orang yang baru masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah ini setelah memperoleh pengertian dan pemahaman yang dalam tentang Ahmadiyah, amal soleh mereka, itha’at dan keimanan mereka semakin kuat dan meningkat terus. Dan mereka terus berusaha berlomba-lomba untuk menjadi penyumbang dana bagi Jema’at. Itulah pemandangan manifestasi keagungan Sifat Hakim dan Aziz Allah swt yang sedang diperlihatkan kepada orang-orang Jema’at. Semoga Allah swt sentiasa memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang selalu menunjukkan contoh menjadi Yakni orang-orang yang selalu mencari keridhoan Allah. Dan semoga kita menjadi orang-orang yang menyaksikan kemenangan Islam diseluruh dunia. Sekarang saya sambil mengumumkan dimulainya lagi perjanjian tahun baru Tahrik Jadid bagi Daftar Awwal, kedua, ketiga, keempat dan kelima, sebagaimana biasa saya akan menjelaskan bagaimana semangat pengorbanan harta pada tahun yang lepas dari setiap negara. Sebagaimana telah saya katakan bahwa perjanjian Tahrik Jadid setiap tahun berakhir pada tanggal 31 Oktober. Dan dengan karunia Allah swt laporan yang diterima, kadangkala laporan secara komplit tidak diterima tepat pada waktunya, sesuai dengan itu penerimaan Jema’at Ahmadiyya dari seluruh dunia mata anggaran Tahrik Jadid tercatat 3.612.000 Pound, Alhamdulillah !! Pada tahun yang lalu karansi (mata uang) Pakistan dan Amerika mengalami terus-terusan merosot dibanding dengan karansi Pound. Sekalipun jumlah bilangan pengorbanannya cukup besar namun jika diconvert (dinilai) kepada mata uang Pound tidak kelihatan peningkatan yang sangat besar. Namun sekalipun demikian penerimaan tahun ini terdapat kelebihan sebanyak 110.000 pound dibanding dengan tahun yang lalu. Dari jumlah nilai penerimaan dan persentase seluruhnya maka ranking per-negara dapat disusun sebagai berikut : Pakistan menempati kedudukan pertama. Semua tahu keadaan negeri Pakistan dan tidak tersembuniyi dari pandangan orang. Situasi dinegeri itu sangat kacau-balau dan banyak gangguan kerusuhan, perniagaan para peniaga kita tidak lancar seperti biasa, bahkan banyak diantara anggauta Jema’at disana yang menyatakan prihatin apabila sudah tiba waktunya untuk melunasi perjanjian candah mereka :Candah kami belum lunas !! Disamping itu rakyat Pakistan secara majority keadaannya miskin. Namun demikian sekalipun keadaan miskin namun mereka giat membayar candah. Sebabnya, keimanan mereka kepada Tuhan sangat kuat. Allah swt menjauhkan rasa takut dan ragu dari dalam hati mereka. Jika mereka membelanjakan harta mereka demi keridhoan Allah swt tentu Dia akan memberi pembalasan kepada mereka secara berlipat ganda. Jadi mereka itu sedang melakukan segala-galanya demi meraih keridhoan Allah swt, mereka tidak memikirkan hanya kepentingan diri mereka sendiri, bagaimana akan mendapatkan roti (makanan) untuk hari esok. Mereka menyerahkan pengorbanan secara berterusan. Bagaimanapun keadaannya Pakistan tetap menduduki ranking pertama, kedua Amerika, ketiga Britania, keempat Germany, kelima Canada. Germany ketinggalan dan Britania maju kedepan. Keenam Indonesia, ketujuh India, kedelapan Australia, kesembilan Belgia dan kesepuluh Mauritius. Dan dari antara negara-negara Afrika, Nigeria menduduki ranking pertama.Jumlah pembayar candah Tahrik Jadid terdapat peningkatan dibeberapa negara, diantaranya termasuk Pakistan, Hindustan, Germany, Britania, Indonesia, Tanzania, Benin dan Nigeria. Pada tahun ini tambahan anggauta pembayar candah Tahrik Jadid adalah 16.000 orang dibanding dengan jumlah pejanji tahun yang lepas. Dan jumlah semua adalah 461.000 orang pejanji Tahrik Jadid. Jumlah pejanji tahun lepas yang dikemukakan terdapat kekeliruan, karena ada beberapa laporan yang tidak lengkap dan terdapat kesalahan dalam menjumlah angka. Mulanya ada pendapat disampaikan kepada saya bahwa dalam laporan tahun ini jumlah pejanji seluruhnya tidak usah dilaporkan, laporkanlah jumlah tambahannya saja. Namun bagi kita tidak perlu takut, sebab kita berkurban semata-mata karena Allah swt bukan untuk tujuan duniawi. Selama kita tidak memperhatikan kelemahan-kelemahan pribadi sendiri dan tidak memberi perhatian kepadanya, maka lajunya kemajuanpun tidak dapat diketahui dengan pasti. Dengan karunia Allah swt terdapat tambahan pejanji dari beberapa negara, diantaranya banyak para pendatang baru dalam Jema’at dan mereka ikut ambil bahagian. Pada laporan tahun lepas terdapat kekeliruan dalam menjumlah namun dari jumlah secara keseluruhan memang terdapat penambahan jumlah pejanji. Sebagaimana telah saya katakan apabila kita mengadakan peninjauan terhadap diri sendiri, menaruh perhatian terhadap kelemahan diri sendiri, tentu pekerjaan-pekerjaan kita akan dilimpahi banyak berkat, dan oleh karena ada perhatian terhadap kebaikan tentu kita akan menjadi pewaris-pewaris keridhoan Allah swt. Memang tujuan kita yang utama adalah untuk meraih keridhoan Allah swt. Tidak ada perkara yang tersembunyi dari pandangan Tuhan, kita tidak perlu merasa sebarang khawatiran. Kita tidak usah takut kepada manusia, kita bukan bekerja untuk manusia dan tidak pula minta balasan dari mereka, berapapun pengorbanan kita serahkan dijalan Tuhan ganjaran kita ada ditangan-Nya. Bagaimanapun secara keseluruhan dari negara-negara itu terdapat tambahan pejanji yang baru ikut dalam gerakan Tahrik Jadid ini sebanyak 16.000 orang. Saya telah menggerakkan sebuah anjuran bagi orang-orang yang sudah wafat dari para pejanji yang termasuk dalam Daftar Awwal yang jumlahnya 3743 orang. Dari antaranya 3444 rekening pembayaran orang-orang yang telah meninggal sudah berjalan, yang para ahli waris mereka telah menjalankannya. Dan 299 rekening pembayaran hari ini sudah dijalankan lagi. Jumlah ini diambil dari jumlah keseluruhan yang sudah disebutkan diatas. Dari segi ini semua orang-orang yang telah meninggal dari Daftar Awwal rekening pembayaran mereka sudah berjalan. Untuk perbandingan sekarang keadaan di Pakistan akan dikemukakan urutan kedudukan Jema’at-jema’at local menurut pembayaran mereka. Kedudukan pertama diraih oleh Jema’at Lahore, kedua Rabwah dan ketiga Karachi. Di Pakistan terdapat sepuluh Jema’at yang secara istimewa telah menunjukkan semangat dalam pengorbanan diantaranya; Pertama Rawal Pindi, kedua Islamabad, ketiga Multan, keempat Quetta, kelima Kunhri, keenam Sahiwal, ketujuh Hyderabad, kedelapan Bahawalpur, kesembilan Nawabsyah, kesepuluh Dira Ghazi Khan. Susunan menurut Distrik adalah, pertama Sialkot, kedua Faisalabad, ketiga Gujranwala, keempat Mirpur Khas, kelima Sargodha, keenam Shekhupura, ketujuh Bahawal Nagar, kedelapan Narowal, kesembilan Ukarha, kesepuluh Kesur. Selain dari itu ada beberapa Jema’at kecil-kecil yang menunjukkan semangat didalam pengorbanan diantaranya ; Wah Kent, Sosolah Murad, Karamsingh, Ghtialian, Bashirabad Kent, Bedin, Ludhra, Mianwali dsb. Itu semua sebagai contoh pengorbanan dari Jemaat Negeri Pakistan. Kebanyakan dari mereka terdiri dari orang-orang miskin, sekalipun keadaan mereka sangat miskin namun Pakistan menduduki ranking pertama dari keseluruhan. Sekarang di Britania ada sepuluh Jemaat yang terbaik dalam pembayaran diantaranya, daerah Masjil Fadhal London menduduki saf Awwal, kedua Busher Park, ketiga Bredford, keempat Canthar, kelima Glasgow, keenam Phutin, ketujuh Manchester, kedelapan Earthfild, kesembilan Birmingham East, kesepuluh New Morden. Tahun yang lepas juga saya telah menyusun sesuai dengan pembayaran candah perkapita dan Britania termasuk negara yang paling baik, sekarang setelah diadakan pemeriksaan secara cermat akan saya kemukakan, ada lima daerah terbaik yang memberikan candah secara teratur, pertama Canthar, didaerah ini candah perkapita 237 pound. Kedua daerah Masjid Fadahl London 100 pound perkapita, ketiga Busherpark 80 pound, keempat Newmorden 68 pound perkapita kelima Birmingham 41 pound perkapita. Itu semua diantara Jema’at-jema’at yang besar. Akan tetapi ada beberap Jema’at yang kecil-kecil juga dan jumlah anggautany sedikit akan tetapi anggauta-anggauta disana termasuk berpenghasilan cukup baik dan pembayaran candahnya juga cukup baik. Oleh sebab itu candah perkapita disana cukup besar. Namun demikian dari segi angka yaitu 237 pound, Jemaat daerah Canthar termasuk ranking pertama dan Devan Carneval 158 pound sebagai nomor dua, Spanvaly nomor tiga, Southeast London nomor empat, Masjid Fadhal London 100 pound. Dilihat dari segi nomor keseluruhan daerah Masjid Fadhal menduduki ranking dua dan dari segi pengorbanan menduduki ranking pertama. Jemaat Amerika juga ingin supaya keadaan mereka dikemukakan. Dari segi penerimaan dan segi kedawaman membayar candah, pertama Jemaat Silicon Valley, kedua Chicago West, ketiga North Virginia, keempat Losangelose East dan kelima Detroit. Semoga Allah swt memberi ganjaran yang paling baik kepada para pembayar canda itu, menurunkan barkat yang tidak terkira terhadap harta dan jiwa-raga mereka, semoga Dia menambah harta mereka yang suci-bersih secara terus-menerus, dan semoga menjadikan mereka semua orang-orang yang bersemangat memberi pengorbanan demi meraih keridhoan Tuhan Yang Memiliki semua kekuasaan, semoga Dia memberi mereka semua keikhlasan berkorban lebih dari masa-masa sebelumnya. Dan semoga mereka menjadi orang-orang yang betul-betul memahami dan menjiwai sifat-sifat Allah swt. Semoga mereka menjadi orang-orang yang memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki oleh Jema’at orang-orang mukmin yang sejati. Sebagaimana telah saya katakan bahwa seperti pada tahun lepas terdapat kekeliruan didalam menjumlah peserta yang berjanji, oleh itu pertama saya anjurkan supaya setiap Jema’at harus betul-betul memeriksanya dengan sebaik-baiknya sebelum dikirim, khasnya Jema’at dinegara-negara Afrika. Kedua sekalipun Jema’at yang banyak melakukan pembayaran dan terdapat peningkatan dalam jumlah yang berjanji, akan tetapi banyak sekali negara-negara di Afrika, dimana masih terdapat banyak peluang, jika para muballighin disana dan para anggauta pengurus berusaha dengan cermat maka jumlah pejanji ditahun yang akan datang akan menjadi dua kali lipat jumlahnya. Jika terjadi kemalasan pada para petugas yang diberi tanggung jawab untuk ini dan jika para pengurus Jema’at dan juga para muballighin tidak memberi pengertian dan pemahaman yang betul tentang itu kepada mereka, bagaiamana mereka akan mengetahui pentingnya anjuran-anjuran ini (Tahrik jaddid dan waqaf jadid). Padahal seseorang yang berfitrat baik telah mengabulkan Ahmadiyyah, maksudnya tiada lain untuk meraih keridhoan Allah swt dan untuk menggabungkan diri kedalam Jema’at orang-orang mukmin sejati. Maka sebagaimana telah berulang kali saya mengatakan kepada saudara-saudara sekalian bahwa para mubayi’in baru harus dilibatkan secara khas untuk segera mengambil bahgian didalam gerakan Tahrik jadid dan Waqaf Jadid ini, sekalipun hanya membayar sedikit saja. Mereka jangan dibiarkan ketinggalan untuk meraih keistimewaan didalam segi kebaikan apapun yang menjadi ciri istimewa dari Jema’at orang-orang mukmin. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada setiap anggauta Jema’at dan kepada para anggauta pengurus untuk mamahami intisari ajaran tersebut dan memberi taufiq kepada mereka untuk meningkatkan keikhlasan didalam pengorbanan. Amin !!

http://ahmadiyah.info/

12
Nov
09

Riwayat Singkat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Ahmadiyah

A. Kelahiran dan Keluarga

Pendiri Jemaat ahmadiyah bernama mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama asli beliau adalah Ghulam Ahmad. Sedangkan “Mirza” melambangkan bahwa beliau berasal dari keturunan Moghul. Nama yang suka beliau gunakan yaitu Ahmad.
Beliau dilahirkan di Desa Qadian, Jumat, 13 Pebruari 1835 M atau 14 syawal 1250 H di rumah ayah beliau Mirza Ghulam Murtadha pada waktu shubuh. Qadian terletak 57 km sebelah timur kota Lahore dan 24 km dari kota Amritsar di Propinsi Punjab, India.1 Beliau adalah keturunan Haji Barlas, Raja Kawasan Qesh, yang merupakan Paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khurasan dan Samarkand dan mulai menetap di sana. Akan tetapi, pada abad 10 H atau abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji Barlas bernama Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khurasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan Sungai Bias lalu mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km dari sungai tersebut.2
Mirza Hadi Beg adalah orang yang cerdik dan pandai, karenanya beliau diangkat oleh Pemerintah Pusat Delhi sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai Qadhi itulah, tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang tinggal Qadhi saja. Dikarenakan dialek setempat akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.3
Selama kerajaan Moghul berkuasa, keluarga ini sering memperoleh kedudukan terhormat dari Pemerintah Negara. Akan tetapi, ketika kerajaan Moghul jatuh, keluarga ini hanya mendapatkan 60 pal sekitar Qadian sebagai daerah otonomi. Keadaan ini diperparah lagi ketika Bangsa Sikh menguasai Qadian. Keluarga Barlas semuanya ditahan selama beberapa hari, kemudian diizinkan meninggalkan Qadian. Akhirnya, mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala selama 12 tahun.

Ketika zaman Kekuasaan Maha Raja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga itu kepada ayah Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian datanglah Inggris yang mengalahkan Pemerintah Sikh dan merampas segala kekayaan keluarga ini kecuali satu daerah yaitu Qadian yang amat kecil. Daerah ini dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.

B. Pendidikan

Ketika Hadhrat Ahmad berumur enam atau tujuh tahun beliau mulai menerima pendidikan dari seorang guru di rumah sebab waktu itu belum ada sekolah seperti sekarang ini. Guru itu mengajarkan Alquran dan bahasa Farsi. Waktu itu bahasa Farsi merupakan bahasa penting di India. Setelah itu beliau menerima pendidikan bahasa Farsi dan Arab dari guru yang lain. Tidak hanya itu, ayah beliau pun mengajari beliau ilmu obat-obatan, suatu ilmu yang sangat digemari di India dan Pakistan sampai sekarang. Namun, pendidikan yang beliau terima hanya bersifat dasar semata. Selain itu, beliau tidak menerima pendidikan lebih lanjut. Beliau mempelajari sendiri buku-buku keagamaan dan lebih banyak mempelajari kitab suci Alquran.

C. Akhlak

1. Cinta Kepada Allah dan Sesama Manusia
Sejak masa kanak-kanak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sudah terkenal berakhlak luhur. Sekalipun anak seorang kaya dan terkemuka, beliau tidak tertarik dengan hal yang menghabiskan waktu sia-sia. Beliau kurang senang bermain kecuali dipandangnya berguna bagi kesehatan badan. Beliau menyukai renang dan menunggang kuda secara mahir. Beliau pun menyukai kesederhanaan. Oleh karena itulah, kepribadian beliau yang luhur itu menarik perhatian seorang wali yang bernama Maulvi Ghulam Rasul. Waktu itu, beliau melihat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lalu mengusap rambutnya seraya berkata, “Kalau masa ini ada seorang Nabi, maka anak ini layak menjadi Nabi”. (Hayya Tayyibah)4
Selain itu, kecintaan beliau kepada Allah sangat tinggi. Ketika masih kecil, segala keinginan dan cita-cita beliau Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. ditujukan kepada keridhoan Ilahi. Beliau sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau, “Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.” Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. ketika masih kanak-kanak dan segala keinginan beliau hanya ditujukan kepada Allah semata.5 Misi beliau adalah “tangan bekerja, hati tertumpu kepada Sang Kekasih.” Setiap selesai mengerjakan suatu urusan, beliau langsung kembali tenggelam dalam ibadah dan dzikir Ilahi. 6 Ketika dewasa hubungan sosial dengan masyarakat sangat baik. Beliau berlaku baik terhadap sesama. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin dan untuk diri sendiri beliau hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Oleh karena itu, banyak fakir miskin suka tinggal dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan kepentingan sendiri. Walaupun beliau sendiri berada dalam kesusahan. 7

2. Berkata Benar
Di kota Batala, lebih kurang 18 km dari Qadian terdapat seorang ulama besar yang bernama Maulvi Muhammad Hussein Batalwi. Beliau ini ulama yang disebut “Al- Hadis” semacam “Golongan Muda”. Golongan ini mendapat tantangan besar sekali dari golongan ulama konservatif. Pada suatu hari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. diminta membantu untuk berhadapan dengan Maulvi Muhammad Hussein Batalwi mengenai suatu permasalahan yang dipertentangkan dengan suatu golongan. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menanyakan kepada Maulvi Muhammad Hussein mengenai pendiriannya tentang masalah itu. Setelah mendengar penjelasannya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. langsung menyatakan bahwa pendirian itu benar. Mereka yang membawa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. merasa sangat kecewa karena Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. membenarkan pendirian lawan mereka. Karena melihat hal ini, beliau mengatakan, “Apa yang saya lihat benar menurut pandangan islam saya akui kebenarannya karena mencari keridhoan Allah semata. Perlawanan dan permusuhan tidak saya kuatirkan dan tidak pula saya memerlukan pujian dan pengagungan manusia.” 8

Atas kejadian ini Allah menurunkan ilham kepada beliau, “Tuhan memuji engkau dan Dia akan memberikan berkat yang besar kepada engkau hingga raja-raja akan mencari berkat dari pakaian engkau.” (Barahin Ahmadiyah). 9

Tidak hanya itu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. pernah menulis sebuah karangan terhadap Hindu dari Arya Samaj untuk mempertahankan kebenaran Islam. Naskah itu dikirim ke sebuah percetakan yang letaknya dekat dari Qadian yaitu Amritsar. Naskah itu dikirim dengan menggunakan paket. Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang peraturan pos, beliau menyisipkan sebuah surat pengantar dalam paket itu.

Menurut peraturan pos, paket dan surat tidak boleh digabung, harus dikirim secara terpisah. Hal demikian merupakan pelanggaran dan dikenai denda 500 rupees atau 5 bulan penjara. Kebetulan percetakan yang dikirimi paket tersebut adalah milik Baliaram seorang Kristen yang memusuhi Islam. Kesempatan itu ia gunakan untuk menjatuhkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Ia melaporkan hal itu kepada pihak pos sehingga Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dibawa ke pengadilan. 10

Ketika akan diadukan ke pengadilan, para penasehat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., meminta Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. untuk mengatakan bahwa surat itu tidak beliau masukan dan yang memasukan adalah Baliaram karena ia memusuhi Islam. Inilah satu-satunya cara untuk menghindari hukuman. Akan tetapi, permintaan itu beliau tolak dengan tegas. Beliau mengatakan, “Suratnya saya yang masukan. Apakah untuk menghindari hukuman saya harus mungkir? Hal ini tidak mungkin saya lakukan.” 11

Ketika di pengadilan, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mengatakan hal yang sebenarnya. Rupanya, karena beliau berkata benar dan tegas itulah maka hakim yang bijaksana menyatakan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. tidak bersalah.12

3. Mujahadah
Pada tahun 1876 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dalam mimpi melihat seorang tua menyampaikan kepada beliau bahwa dalam keluarga Nabi Muhammad saw. telah menjadi kebiasaan untuk berpuasa selama satu masa sebagai cara untuk persiapan menerima cahaya langit. (Kitaabul Bariyyah., hal. 164-167)

Beliau meyakini mimpi itu sebagai petunjuk sehingga beliau mengamalkannya dengan berpuasa selama 8 atau 9 bulan. Dalam masa-masa puasa itu beliau banyak mendapatkan mimpi dan kasyaf. Suatu kali beliau melihat malaikat dalam rupa manusia. Beliau tidak ingat malaikat- malaikat itu dua atau tiga. Mereka sedang bercakap-cakap. Kemudian malaikat itu berkata kepada beliau, “Kenapa engkau membuat dirimu menderita begitu berat? Dikuatirkan engkau akan membuat dirimu sakit.”

Beliau meyakini bahwa yang dimaksudkan oleh malaikat itu adalah berkenaan dengan puasa yang sedang beliau lakukan terus menerus itu. Beliau merahasiakan pengalaman beliau itu. Sebab, menurut beliau kadang-kadang menceritakan hal itu bisa menyebabkan hilangnya karunia. (Badar, Vol.I,No 12, 16 Januari 1903, hal.90)13
D. Menerima Ilham Pertama
Mujahadah itu membuat beliau semakin fana dalam kecintaan kepada Allah dan Nabi Muhammad saw.. Di tahun itu juga yakni 1876 bertepatan dengan usia beliau mencapai kurang lebih empat puluh tahun beliau menerima ilham pertama yang berbunyi:
و السماء و الطارق

“Persumpahan demi langit yang merupakan sumber takdir dan demi peristiwa bumi yang akan terjadi setelah tergelincir matahari pada hari ini.” 14

Ilham ini menerangkan tentang kewafatan ayah beliau yang akan terjadi setelah maghrib. Sebelum turun ilham ini Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sering memperoleh ru’ya sholihah (mimpi yang benar) yang telah disaksikan oleh orang-orang Sikh dan Hindu. Ilham ini membuat beliau sangat sedih dan kuatir kalau-kalau dalam hari-hari mendatang beliau akan menderita banyak kesusahan. Dalam kekuatiran itulah maka Allah menurunkan ilham kedua:

اليس الله بكاف عبده

“Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya?”

Ilham ini membuat beliau tenang. Sebagaimana beliau menyatakan, “Dari Ilham ini hati saya menjadi sangat teguh bagai luka parah yang menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah menerima Ilham ’Alaisallaahu bikaafin ‘abdahu’ saya yakin bahwa Allah pasti menolong saya.”

E. Memperoleh Sahabat yang Mukhlis dan Setia

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. bersemangat dalam membela Islam. Dalam kondisi demikian, beliau merasa membutuhkan seorang sahabat yang baik yang rela mengkhidmati Islam. Maka beliau berdoa, “Ya, Allah! berilah kepadaku seorang kawan untuk berkhidmat terhadap agama Islam.”

Pada tahun 1885 Allah Ta’ala mengabulkan doa beliau dengan mengirimkan seorang sahabat yang baik, yang siap mengkhidmati Islam. Sahabat beliau itu bernama Maulana Al-Hajj Hakim Nuruddin r.a. Sekilas mengenai sosok Maulana Hakim Nuruddin r.a. akan dijelaskan berikut ini.

Beliau berasal dari keturunan Hadhrat Umar Faruq r.a. Diantara nenek dan kakek beliau ada yang menjadi wali, alim-ulama, raja, sufi, qadhi, syahid dan sebagainya. Keluarga beliau selalu menempati kedudukan tinggi dan mulia. Di Pakistan anggota keluarga beliau dipanggil Syahzade (Anak raja). Beliau memiliki otak yang cerdas. Adalah karunia Tuhan bahwa beliau dilahirkan di rumah yang di dalamnya selalu dzikir dan ingat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mula-mula beliau belajar Alquran dari ibunya dan buku-buku agama dalam Bahasa Punjabi. Kemudian, beliau masuk sekolah.

Beliau patuh terhadap sembahyang dimulai sejak belajar di sekolah, guru-guru beliau mengizinkan beliau untuk bersembahyang bersama anak-anak yang lain. Dalam sembahyang beliau suka membaca doa-doa dengan suara lembut. Beliau sangat mencintai Tuhan dan tidak mengandalkan sarana-sarana duniawi. Suatu ketika beliau ditanya oleh seorang penilik sekolah yang bernama Khudah Bakhs pada tahun 1858 di Rawalpindi. Penilik itu berkata, “Saya dengar tuan sangat pandai dan mendapat ijazah yang gemilang. Mungkin karena hal-hal itulah tuan merasa bangga.” Beliau menjawab, “Kami tidak menganggap secarik kertas itu sebagai Tuhan.” Kemudian beliau berkata kepada seseorang,”Saudara, bawalah berhala itu!” (maksudnya ijazah itu-Pent). Dan di hadapan dia kertas itu disobek dan membuktikan bahwa beliau tidak menganggap sesuatu sebagai sekutu Tuhan. Dia merasa menyesal dan berkata, “Tuan menderita kerugian disebabkan aku.” Beliau selalu bersabda, ”Semenjak saya menyobek ijazah itu, dari sejak itu saya selalu mendapat uang yang tak ada batasnya.”

Selain itu, beliau pun pernah menuntut ilmu di Madinah. Suatu hari beliau tidak bisa ikut sembahyang zhuhur berjamaah. Beliau merasa sangat sedih. Beliau menganggap itu satu dosa besar, yang tidak bisa diampuni. Sebab rasa takut, maka beliau menjadi pucat. Beliau mulai takut masuk ke masjid. Tiba dipintu masjid, beliau membaca satu ayat Alquran yang ditulis di atas pintu, yang artinya, “Hai hamba-haamba Tuhan, jika kamu berbuat dosa, maka janganlah putus asa dari rahmat Allah swt.. Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesudah membaca ayat itu, beliau merasa sedikit berani. Tetapi, beliau masih juga takut dan gugup masuk ke masjid. Kemudian beliau menunaikan sembahyang.

Beliau pun memperoleh berkat dari Allah swt. untuk menghafal Alquran seperti halnya leluhur-leluhur beliau di masa lampau.

Hadhrat Hakim Nuruddin mengenal Hadhrat Al-Masih Al-Mau’ud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. pada tahun 1885 melalui seorang yang bernama Syaikh Rukhnuddin. Rukhnuddin mengatakan bahwa di Qadian ada orang yang bernama Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menulis tentang agama Islam. Akhirnya, beliau pun menulis surat kepada Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. untuk meminta buku-buku. Ketika beliau membaca brosur pertama dari Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. beliau langsung pergi ke Qadian laksana kupu-kupu dari Jammu ke Qadian dan berkenalan dengan Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Demikianlah sekilas profil Maulana Alhajj Hakim Nuruddin r.a..

Dengan terkabulnya do’a Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. itu, kebahagiaan pun menyelimuti hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana beliau mengatakan:
“Tuhan menerima doa-doaku dan kepadaku diberikan seorang kawan yang mukhlis dan mencintai (Islam – Peny.), yang namanya seperti adat nuraninya yaitu Nuruddin. Salah seorang dari tokoh Islam, keturunan dari orang-orang yang suci. Saya merasa demikian gembira bertemu dengannya, laksana gembiranya menemukan kembali kebahagiaan tubuh yang sudah hilang. Dan saya bergembira seperti gembiranya Rasulullah saw. waktu bertemu dengan Hadhrat Umar Faruq r.a.. Saya lupa semua rasa duka cita. Apabila saya melihatnya, saya yakin bahwa itulah hasil doa-doaku.”

Baru saja mereka berkenalan, Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. telah meminta Maulana Hakim Nuruddin r.a. untuk menulis sebuah kitab yang baik untuk melawan Kristen. Beliau memenuhi permintaan itu. Sampai-sampai jaksa-jaksa mengucapkan selamat dan mubarak kepada beliau atas tulisan itu.

Persahabatan kedua hamba Allah yang cinta kepada islam itu benar-benar mengamalkan ayat :
تعاونوا على البر والتقوى
“Tolong menolonglah kalian dalam perkara kebaikan.”
(Al-Maidah : 3)

F. Mendirikan Jemaat

Pada tahun 1889 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menerima ilham untuk mendirikan Jemaat. Ilham tersebut adalah demikian.
إصنع الفلك بأعينناووحيناإن الذين يبايعونك إنمايبايعون الله يدالله فوق أيديهم

“Buatlah bahtera dengan pengawasan Kami dan wahyu Kami. Sesungguhnya orang yang berbaiat kepada engkau, mereka sebenarnya berbaiat kepada Allah tangan Allah berada di atas tangan mereka.”

Sesuai dengan perintah ini, pada tanggal 23 Maret 1889 beliau mengambil baiat pertama kali di Ludhiana di rumah seorang yang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan. Mubayi’in pada waktu itu berjumlah 40 orang. Dalam baiat itu Maulana Hakim Nuruddin r.a. mendapatkan karunia sebagai mubayi’in pertama di tangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Peristiwa ini merupakan awal berdirinya Jemaat Ahmadiyah.

G. Ilham Tentang kewafatan Nabi Isa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dan Pengangkatan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud

Pada tahun 1890 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menerima ilham bahwa Nabi Isa Israili Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. telah wafat. Dan sesuai dengan janji Allah Ta’ala, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., diangkat oleh Allah swt. sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud. Ilham itu berbunyi:

“Al-Masih Ibnu Maryam Rasulullah telah wafat. Dan engkau telah datang dalam coraknya sesuai dengan yang dijanjikan. Dan janji Allah telah terlaksana. ”

وبشرني وقال: إن المسيح الموعود الذي يرقبونه و المهدي المسعود الذي ينتظرونه هو أنت- نفعل ما نشاءفلا تكونن من الممترين

Dan Dia memberikan kabar gembira kepadaku dan berfirman: “Sesungguhnya Al-Masih Al-Mau’ud yang mereka tunggu dan Al-Mahdi Al-Mas’ud yang mereka nantikan yaitu engkau. Kami melakukan apa yang Kami kehendaki. Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu”
Ilham inilah yang membuat beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Maka, pada tahun itu juga beliau segera mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi diiringi pendakwaan beliau sebagai Al-Masih yang dijanjikan pada 1891.
Setelah pendakwaan itu sesuai dengan Alquran dan Hadis Nabi saw. tentang tanda kedatangan Imam Mahdi, Allah swt. memperlihatkan gerhana matahari dan bulan yang terjadi dalam bulan Ramadhan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1894 . Dengan demikian genaplah sudah nubuatan Alquran dan Rasulullah saw..

H. Pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sebagai Nabi yang Tidak Membawa Syariat

Pengakuan beliau sebagai nabi sudah dijelaskan oleh beliau sendiri. Beliau bukanlah nabi yang membawa syariat. Beliau bersabda:
“Maksud dari segala penjelasan yang kuterangkan di atas adalah, bahwa orang-orang yang tidak mengetahui dan memusuhiku serta menuduhku bahwa aku telah mengaku sebagai nabi dan rasul sebagaimana yang disangka mereka. Hendaklah diketahui bahwa aku benar-benar adalah nabi dan rasul sebagaimana yang telah kuterangkan di atas. Barangsiapa yang berburuk sangka terhadapku dan menuduhku menjadi nabi dan rasul (yang membawa syariat,Peny.,) maka orang itu adalah pendusta dan berpikiran keji.”

I. Wafat
Pada tanggal 26 Mei 1908 Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. berada di Lahore. Beliau terserang penyakit diare dan kali ini semakin parah. Dalam kondisi demikian beliau menerima ilham:

الرحيل ثم الرحيل
“Waktu keberangkatan telah tiba lalu waktu keberangkatan telah tiba.”

Para dokter tidak sanggup lagi untuk mengatasi penyakit beliau. Pada hari itu juga tepat pukul 10.30 beliau menghembuskan nafas yang terakhir untuk pulang ke rahmatullah. Innaa lillaahi wa innaa ilahhi rooji’uun. Sewaktu sakit hanya satu perkataan yang beliau ucapkan yaitu “Allah”.

Kemudian jenazah beliau dibawa ke Qadian dengan kereta api. Peristiwa ini telah menggenapkan ilham yang beliau terima:
“Un ki laasy kafan me lipith kar lae he.”
“Jenazahnya telah dibawa dengan terbungkus kain kafan.”

Dan sesuai dengan pesan beliau dalam buku beliau “Al-Wasiyat” yang berbunyi, “Allah Ta’ala akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hadhrat Abu Bakar r.a. mengurus umat islam sesudah kewafatan junjungan yang mulia Nabi Muhammad saw.” maka Jemaat ahmadiyah memilih Hadhrat Hakim Nuruddin untuk menjadi Khalifatul Masih Al-Awwal dalam meneruskan misi Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..

Setelah Hadhrat Hakim Nuruddin terpilih sebagai Khalifatul Masih Al-Awwal, beliau memimpin sholat jenazah Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Sholat jenazah ini dilakukan setelah sholat zhuhur. Kemudian, jenazah dikebumikan di Bahisyti Maqbarah, Qadian. Peristiwa terpilihnya Khalifah I ini dan dimakamkannya jenazah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. terjadi pada tanggal 27 Mei 1908. Hari inilah yang biasa diperingati tiap tahun oleh Jemaat ahmadiyah sebagai hari berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Peristiwa ini telah menggenapkan ilham yang diterima Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. yang berbunyi:

“Stais ko eik waqiah”
“Sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 27.”

Oleh Ridwan Buton

http://1-islam.net/ahmadiyah/70-riwayat-mirza-ghulam-ahmad.html

05
Nov
09

Anggota JAI Babel Belum Ada yang Meninggalkan Ajarannya

PANGKALPINANG–Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), belum ada yang meninggalkan ajaran mereka dan keluar dari keanggotaan JAI, meski ada himbauan dari berbagai pihak agar mereka kembali ke syariat Islam yang benar.

“Sekitar 150-an jemaat masih tetap menjadi anggota JAI yang kami pimpin. Posisi Ahmadiyah juga tetap sebagai Ahmadiyah dengan semua ajaran yang kami yakini,” ujar mubaligh Ahmadiyah Bangka Belitung, Jamaluddin Feeli, di Pangkalpinang, Minggu.

Ia mempersilahkan bila ada yang mau keluar dari JAI, namun bagi pengurus Ahmadiyah, bila seseorang sudah enam bulan tidak membayar iuran anggota tanpa sebab yang jelas, tidak lagi diakui sebagai kelompok Ahmadiyah.

Setiap anggota Ahmadiyah didasarkan peraturan harus membayar iuran sebanyak 1/16 penghasilan mereka setiap bulan untuk berbagai kegiatan dan termasuk pendirian rumah ibadah.

Dari jumlah anggota sebanyak 150-an orang itu, hanya 30 persen saja yang membayar iuran anggota. Anggota lain karena keterbatasan pengurus untuk menjemput iuran terkait dengan lokasinya yang jauh bisa membayarkan enam bulan sekali atau lebih.

“Saat menagih iuran kami juga menanyakan secara langsung kepada jemaat, apakah mereka tetap sebagai anggota JAI supaya statusnya jelas dan mereka pada umumnya menjawab masih setia kepada JAI,” ujar Jamal yang mengenal Ahmadiyah ketika merantau ke Malaysia, negara yang kini melarang ajaran itu.

Anggota Ahmadiyah hidup terpencar-pencar dan bertetangga dengan kaum muslimin lainnya. Sebelumnya, menurut mubaligh yang mengaku lima tahun mendalami ajaran Ahmadiyah di Porong Jabar hingga diangkat sebagai pimpinan di Babel itu, anggotanya sempat hidup berkelompok, namun sejak harga komoditas perkebunan mereka anjlok sekarang sebagian pindah ke daerah lain.

Ia mempersilahkan bila ada anggotanya yang keluar dari JAI dan kenyataannya kalaupun ada yang keluar hanya dialami anggota yang ikut-ikutan atau tidak lagi membayar iuran anggota.

Jamaluddin menolak adanya klaim bahwa Ahmadiyah sebagai ajaran sesat, begitu juga menolak tuduhan pembusukan, melemahkan dan memecah belah umat Islam dari dalam.

Selain itu, Jamaluddin juga menyesalkan pelarangan ajaran Ahmadiyah yang berpusat di Inggris oleh negara tempat lahirnya Ahmadiyah yaitu di Pakistan dan beebrapa negara lain seperti Malaysia, Indonesia termasuk oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan MUI.

Dalam pandangan Jamaluddin, Ahmadiyah ikut memperkuat syiar Islam. Ahmadiyah juga terlibat dalam beberapa kegiatan kemanusiaan. antara/pur

Sumber: http://epaper.republika.co.id/berita/751/Anggota_JAI_Babel_Belum_Ada_yang_Meninggalkan_Ajarannya

05
Nov
09

17 Dalil Kenabiyan Masih Terbuka

A Nizami berkata : “

Saya lihat terjemah Qur’an Suryawan (orang Ahmadiyyah) benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur’an terjemah Departemen Agama mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.

Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2. Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori, Muslim, dsb, menegaskan hal itu.

Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma “Cincin Nabi2.” Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bias memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan Nabi…:)

Terjemah Ahmadiyah:

QS. (44:6-7) Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:

“sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”.

Terjemah Islam:
“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

Terjemah Islam:

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi merek Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(7:36) Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Terjemah Islam:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. “

Semua ayat2 Al Qur’an yang dikemukakan oleh Suryawan, orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan Al Qur’an yang umum dari Departemen agama mau pun dari Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur’an Ahmadiyah memang betul2 berbeda dengan Al Qur’an ummat Islam?

Jadi apa yang mau didiskusikan?

Alhamdulillah Al Qur’an dituliskan dalam bahasa Arab yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.

Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al Qur’an serta hadits2 seperti “Shahih Bukhori”, “Shahih Muslim”, dsb.

“ma_suryawan”

, A Nizami

Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda dari Abul Ala Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.

1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak Salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu “khaatam” – bukan “khatam” (kh-t-m). Kata “khaataman-nabiyyiin” sudah sering dijelaskan. “Khaataman-nabiyyiin berarti “cincin para nabi” atau “meterai para nabi” atau “seal of the prophets”, dan “khaataman- nabiyyiin” bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam Al-Qur’an Karim banyak didapat penjelasan dapat datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw, beberapa diantaranya sbb:

QS.(44:6-7) – Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul-Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama- lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”. Perkataan “yashthafii” (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi’il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih Rasul-Rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

QS.(7:36) – Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat “khaataman nabiyyiin” sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya nabi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw – maka akan bertentangan/bertabrakan dengan ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat datangnya kenabian setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan: Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya

QS.(4:82). Jadi, arti harfiah/letterlijk “khaataman-nabiyyiin” adalah: meterai para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki “khaataman-nabiyyiin” adalah: menunjukkan suatu rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain adalah: nabi yang tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi. Sebab: kata “khaataman-nabiyyiin” adalah ism tunggal (i.e. “khaatam”) yang direndeng dengan ism jamak (i.e. “nabiyyiin”) – maka mengandung arti martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
Sesungguhnya “khaataman-nabiyyiin” adalah: yang termulia/tersempurna/terunggul diantara para nabi atau meterai para nabi atau cincin (perhiasan) para nabi, dst. Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini: Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Hz. Maria Qibtiyah ra) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar”. (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).

Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, Sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” turun pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat “khaataman- nabiyyiin”. Jika seandainya ayat “khaataman-nabiyyiin” kemudian diartikan sebagai “penutup/kesudahan/penghabisan/akhir” nabi-nabi yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah beliau saw, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu, dan beliau-lah yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau saw tidak mengungkapkan pengertian “khaatam” sebagai penutup atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun juga setelah beliau saw – seperti yg biasa diucapkan kyai2/mullah2/ulama2 Islam mainstream.

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi” Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “saya adalah penutup nabi-nabi”. Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang menjadi sebuah “batu terakhir” itu adalah Nabi Muhammad saw, maka itu adalah merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya “sekedar batu bata terakhir” saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun. Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau saw adalah nabi yang terakhir membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan Kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: ” Anal ‘aaqibu wal ‘aqibul-ladziy laisa ba’di hu nabiyyun” maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw. Nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam tidak dapat datang lagi. Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al- Qari berkata: “Lahirnya ungkapan itu (‘Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian. Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa ‘aqib ialah orangyang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.

Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka sudah mengerti apa arti “aqib” yang sebenarnya, sehingga para sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah ra melarang orang untuk mengatakan “laa nabiya ba’dahu” (Tidak ada nabi sesudahnya).

4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong yang akan mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan mendakwakan diri sbg nabi adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan mengatakan bahwa tiap- tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi semuanya adalah pembohong/pendusta.

Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul Ikmal, Jilid VI, hal 258, dikatakan: “Kebenaran Hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah tercapai jumlah tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari riwayat (tarikh)”. – Penulis buku tsb wafat pada tahun 828 Hijriah.

Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang Mendakwakan dirinya jadi nabi.

Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw dengan “laa nabiyya ba’di” adalah tidak akan ada lagi nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam.

5. Khutbah terakhir Rasulullah ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Qur’an dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan ini cuma karangan Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.

6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan dating sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim maupun Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari’at baru dan setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh para khalifah rasulullah. Lihat kata “sayakunu khulafa” (akan ada khalifah-khalifah) menunjukkan maksud “dibelakang” atau “kemudian aku” itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau saw wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.

Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: “Akan terjadi nubuat kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt, kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri”.(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).

Juga dalam shahih Bukhari: “kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum wa imamukum minkum” – Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] – bahwa Isa ibn Maryam yg akan datang berasal dari umat Islam.

7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “aku seperti batu yang hilang itu” artinya beliau yg membawa dan menyempurnakan Syari’at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi terakhir yang membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah Syari’at yang sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz. Muhammad saw.

9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).Idem. Lihat diatas ttg maksud “laa nabiyya ba’di”.

10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang dating sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau berkata: “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w.. Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang dating sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku’”. (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)

Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at’” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)

Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau”. (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)

Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata: “Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari’at untuk manusia”. (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .

Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.”. (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi saw: “laa nabiya ba’diy” (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam.

11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam Masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi Dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal). Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa dajjal akan dibunuh oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam.

Jadi jelas bahwa akan ada kenabian tanpa Syari’at setelah Hz. Rasulullah saw.

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya Mendengar Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu Hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung Dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah Beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin `Amr ibn-`As).Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan para ulama SALAF di no. 10.

13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci). Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir: “Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci” – adalah bukan bagian dari Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi, Seorang kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit Ahmadiyah. Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti Nizami dkk) kok berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun lagi? Apakah manusia dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah Ta’ala bersifat Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb akan tetap bekerja untuk selama-lamanya Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang juga menerima wahyu dari Allah Ta’ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn Arabi rh (Bapak kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi rh, Syekh Abdul Qadir Jaelani rh dll.

14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab”. Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib). Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz. Umar ra tidak diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus. Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian. Kenapa Nabi saw tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr seorang shiddiq, lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid? Rahasianya adalah Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw mempunyai bakat hokum undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya, termasuk Abu Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz. Rasulullah saw, dan akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz. Umar tsb. Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan datang nabi yang akan membawa Syari’at (hukum/undang-undang).

15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba). Perkataan “laa nabiyya ba’diy” jelas khusus untuk Hz. Ali ra dan tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan penegasannya atas Hadits itu dalam Hadits lain sbb: “Berkata ia (Rasulullah saw), “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun disamping Musa, tetapi bedanya engkau bukan nabi” (Thabaqat Kabir, Jilid V, hal. 15).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
Berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya Hz. Rasulullah saw saja yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Ta’ala, orang yang bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu (komunikasi) dengan Allah Ta’ala. Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti Nizami dkk yg mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi setelah Nabi Muhammad saw telah dibantah oleh Hadits ini.

17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan dating sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani) Jawab : Pengertian “laa nabiyya ba’di” telah dijelaskan dengan komprehensif diatas.

Salam,
M. A. Suryawan

Bacalah artikel tentang Islam di:

http://www.nizami.org

05
Nov
09

JANJI-JANJI ALLAH TAALA KEPADA PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

Berikut ini kami turunkan beberapa wahyu yang merupakan janji-janji AllahTaala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah:

Pada tahun 1882. Imam Mahdi a.s. menerima wahyu dari Allah swt. yang berbunyi:

يَأْتِيْكَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ وَيَأْتُوْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ.

Artinya:
“Orang-orang dari tempat yang jauh-jauh akan datang kepada engkau” (Tazkirah, halaman 49).

Ketika untuk pertama kalinya mengumumkan pendakwaannya, beliau masih seorang diri, tidak mempunyai teman. Adapun tempat beliau, Qadian, adalah sebuah kampung kecil. Tidak memiliki fasilitas modern dalam bentuk kantor pos, kantor telegrap atau stasiun kereta api dan lain-lain.. Keadaan sekitar tidak menarik parawisata. Di kampung yang sekecil itu pun, kebanyakan orang tidak mengenal kepada beliau. Di dalam keadaan demikian, beliau menerima wahyu tersebut diatas. Maka bagaimanakah kemudian kenyataannya?

Kini, ratusan ribu orang telah menjadi saksi atas kebenaran wahyu ini. Tahun demi tahun banyak orang yang datang ke sana, baik dari dalam negeri India/Pakistan, mapun dari benua-benua lainnya, hanya semata-mata untuk mencari ilmu kerohanian yang dikaruniakan oleh Allah Taala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Untuk mudahnya mengenal hal ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung pertemuan tahunan yang diselenggarakan di Pusat Jemaat (di samping pengunjung yang datang di setiap waktu). Pertemuan tahunan yang pertama diadakan pada tahun 1891, dengan jumlah pengunjung 75 orang. Waktu berjalan terus, dan pengunjung pun terus bertambah dan pada pertemuan tahunan (jalsah) akhir Desember 1979 yang lalu di Rabwah, Pakistan, pengunjung mencapai jumlah 175.000 orang yang datang dari berbagai benua: Afrika, Amerika, Eropa dan Asia sendiri termasuk Indonesia. Jadi selama 88 tahun mencapai kemajuan lebih dari 2000 kali lipat. Demikianlah janji Allah ini kini telah sempurna dengan seterang-terangnya.

Wahyu:
“Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh penjuru dunia” (Tazkirah).
Di kala beliau menerima wahyu ini, masih dalam keadaan seperti di atas. Di kala beliau mengumumkan pendakwaannya sebagai Imam Mahdi a.s. dan Almasih yang dijanjikan, spontan ditentang sekeras-kerasnya oleh para ulama dan pengikutnya pada waktu itu. Perlawanan dan pemagaran begitu hebat dan ketatnya, sehingga sampai ke dinding-dinding rumah beliau. Ditilik dari keadaan lahiriyah, mustahil bisa bertahan, apalagi harus meluas ke seluruh pelosok dunia. Akan tetapi bagaimanakah keadaannya sekarang? Dunia menjadi saksi atas kebenaran wahyu ini, bahwa tiada benua atau tempat yang penting di dunia ini, yang tidak didatangi oleh muballigh-muballigh Jemaat Ahmadiyah.

Wahyu :
“Seorang pemberi-ingat telah datang ke dunia, akan tetapi dunia tidak menerimanya. Tetapi Tuhan sendiri yang akan menerimanya, dan menegakkan kebenarannya dengan serangan-serangan yang hebat”(Barahin Ahmadiyah /Tazkirah).

Wahyu ini berisikan khabar ghaib, bahwa kedatangan beliau akan ditentang, tetapi Allah swt. dengan kudrat-Nya akan menegakkannya. Dan sebagai akibat dari penentangan ini, di dunia ini akan timbul kejadian-kejadian yang hebat, seperti peperangan, gempa bumi, penyakit dan lain-lain. Wahyu tersebut ditunjang oleh wahyu-wahyu lainnya, yang mengisyaratkan akan timbulnya peperangan, antara lain berbunyi :
“Akan datang racun dan tentara dari langit”.
“Asap akan datang dari langit”. (Tazkirah).

Wahyu tersebut mengisyaratkan akan terjadinya peperangan yang hebat yang menggunakan sarana-sarana seperti bom-bom, bom racun, bom atom, dan tentara yang diturunkan dari kapal terbang yang belum terjadi pada saat-saat sebelumnya.

Sehubungan dengan wahyu tersebut sebagai peringatan kepada dunia, dalam Tazkirah halaman 491, beliau menyatakan sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang lalai, dari langit akan turun api, dan untuknya tidak ada obatnya yang lain kecuali menangis di hadapan Allah. Karena Allah swt. telah berfirman kepadaku, bahwa gada-Nya itu hampir sampai ke bumi”.

Khusus mengenai Tsar (Kaisar Rusia), beliau menulis :
“Sebagai akibat peperangan ini, akan terasa berbagai-bagai kesusahan di muka bumi. Sedang Kaisar Rusia akan menderita kesusahan yang lebih dahsyat lagi”.

Wahyu tersebut diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1905, dan Perang Dunia I terjadi pada tahun 1914 – 1918. Tsar jatuh pada Perang Dunia tersebut dengan sangat menyedihkan, tepatnya dalam revolusi Oktober 1917.

Wahyu :
“Hai Masih, mendo’alah untuk penyakit-penyakit yang menular dan yang telah mulai mengamuk”(Sirajul Munir, 1897).

Ketika turunnya wahyu ini, di Bombay, yang tadinya pernah berjangkit penyakit pes, keadaannya mulai normal. Penduduk Bombay sudah merasa senang, karena dengan usaha para dokter, penyakit pes lenyap sama sekali. Pada waktu itulah beliau mengumumkan wahyu tersebut, semata-mata di dorong oleh rasa cinta beliau kepada ummat manusia, agar dapat berjaga-jaga.

Tepat 6 Februari 1898, beliau menulis sebagai berikut :
“Saya melihat malaikat-malaikat sedang menanam pohon yang hitam warnanya dan rupanya sangat buruk lagi pendek-pendek. Pohon-pohon itu sudah ditanam di daerah Punjab dan lain-lain tempat di Hindustan. Kemudian saya menanyakan pohon apakah yang ditanam itu? Mereka menjawab, bahwa pohon-pohon itu adalah bibit penyakit pes”(Kisti Nuh).

Tak lama kemudian, maka benar-benar timbul penyakit pes itu dengan hebatnya, sehingga beribu-ribu orang mati karenanya.

Mengenai wabah pes ini, beliau menerima wahyu, bahwa beliau beserta orang-orang yang berada di dalam rumah beliau (Jemaat beliau) akan dipelihara dari wabah pes ini. Wahyu tersebut berbunyi:
“Allah akan memelihara engkau beserta orang-orang yang berada di dalam rumahmu” (Kisti Nuh).

Orang-orang yang berada di dalam lingkungan Jemaat beliau kemudian ternyata secara mengagumkan terpelihara dari wabah ini. Mengenai ikhtisar penjagaan yang dilakukan oleh pemerintah dengan melakukan penyuntikan umum beliau menulis demikian :

“Patut bersyukur, karena rasa kasihan kepada rakyat, dalam rangka membasmi wabah pes, pemerintah Inggris telah mengadakan gerakan untuk kedua kalinya. Dan demi kesejahteraan ummat Tuhan, pemerintah telah memikul biaya ratusan ribu rupee. Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tiada suatu rintangan samawi,maka kamilah yang pertama-tama di antara semua warga yang akan minta disuntik. Rintangan samawi itu ialah, bahwa Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan kepada manusia suatu tanda kasih sayang dari langit di zaman ini. Oleh karena itu Dia berfirman kepadaku, bahwa Dia akan menyelamatkan daku dari wabah pes ini beserta semua orang yang tinggal di dalam tembok rumahku – yaitu yang memfanakan diri secara sempurna serta ketaqwaannya yang setulus-tulusnya. Dan ini akan menjadi tanda Ilahi di zaman mutakhir ini, dengan mana Dia memperlihatkan perbedaan di antara satu kaum dengan kaum yang lain. Akan tetapi yang tidak mematuhi secara sempurna, mereka itu bukan dari padaku, maka tidak usah dihiraukan, demikian perintah Tuhan”(Kisti Nuh).
“Oleh karenanya bagi diriku dan semua orang yang tinggal di dalam dinding rumahku tidak perlu disuntik…”.

Peristiwa itu menjadikan banyak orang menggabungkan diri kepada Jemaat Ahmadiyah.

Adapun mengenai gempa, antara lain beliau menerima wahyu yang berbunyi: “Zalzalah ka dhaka” (Urdu) yang artinya ialah berbunyi: “Gempa bumi akan datang yang akan memusnahkan rumah-rumah yang tetap dan rumah-rumah yang dibikin untuk tinggal sementara”.

Di daerah Kangra, Punjab, India, ada sebuah pegunungan yang di atasnya banyak sekali didirikan rumah, villa, dan mandar-mandar(tempat persembahan orang Hindu), Maka pada tanggal 4 April 1905 sempurnalah wahyu itu, dan karena gempa itu melanda ratusan kilometer, maka semua rumah, villa dan mandar yang ada di atas pegunungan itu hancur sama sekali, dan menelan korban jiwa lebih dari dua puluh ribu orang.

Ada lagi suatu khabar ghaib mengenai seseorang sebagai tanda bagi bangsa India, khususnya bagi yang beragama Hindu. Pada zaman Pendiri Jemaat Ahmadiyah, di India ada suatu golongan dari agama Hindu, yang namanya Arya Samaj, yang telah berdiri lebih kurang 50 tahun. Golongan tersebut sangat aktip dalam menarik orang-orang Islam ke dalam agama Hindu, karena mereka melihat pemeluk agama Islam telah rusak dan tidak berpengaruh lagi. Cara mereka itu ialah dengan jalan menghamburkan fitnah, perkataan kotor (caci maki) terhadap Islam dan Rasul Suci Mhammad saw.

Di antara pemimpin mereka ada seorang yang masyhur bernama Lekh Ram. Ia sangat lancang memfitnah Islam dan Rasulullah saw. dan Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Ia juga selalu menantang siapa pun di antara orang Islam yang dapat menunjukkan sebuah tanda dan mukjizat tentang kebenaran Islam yang harus disiarkan lebih dahulu di kalangan manusia umumnya. Sehubungan dengan itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memohon khabar kepada Allah swt mengenai apa yang akan terjadi atas diri Lekh Ram itu.

Bulan Februari 1893, beliau menerima wahyu dalam bahasa Arab yang artinya: “Anak sapi yang bersuara yang akan menderita siksa”. Kemudian beliau menjelaskan dalam tulisannya, bahwa Allah swt. telah memberi khabar kepada beliau, bahwa Lekh Ram dalam tempo 6 tahun sejak saat itu, akan menerima azab yang hebat sehingga ia akan binasa. Dan jika dalam tempo 6 tahun itu ternyata Lekh Ram tidak binasa, maka katakanlah bahwa beliau itu pendusta.Kemudian khabar ghaib itu disiarkan dalam beberapa surat khabar di India.

Pada tanggal 2 April 1893, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1310 H, beliau melihat dalam kasyaf, seorang yang nampaknya bermuka ganas berkata kepada beliau a.s. dan menanyakan tentang Lekh Ram. Sambil memberi isyarat bahwa ia adalah malaikat, yang diperintahkan untuk membinasakan Lekh Ram. Khabar ghaib tersebut sempurna pada tanggal 6 Maret 1897, sehari sesudah Idul Fitri. Ketika Lekh Ram berada di tingkat atas di sebuah rumah dengan mendapat pengawalan yang ketat di tingkat bawah,dan ditemani oleh seorang laki-laki yang bermaksud masuk agama Hindu. Di kala ia sedang duduk dengan santainya, kemudian menggeliat tiba-tiba orang tersebut menghunjamkan pisau ke arah perutnya sehingga ususnya berhamburan keluar. Lekh Ram menjerit dan tidak lama kemudian mati di rumah sakit sedang pembunuhnya menghilang secara misterius.

Suatu kejadian yang demikian telah terjadi pula di Amerika, semata-mata suatu mu’jizat bagi benua itu pada umumnya dan bagi ummat Kristen khususnya. Pada tahun 1888, seorang termasyhur bernama Dr. John Alexander Dowie, pindah dari Skotlandia ke Amerika. Ia banyak memberikan khotbah-khotbah agama sehingga pengaruhnya menanjak melebihi pendeta-pendeta Kristen yang lain. Terutama di kala ia mendakwakan diri sebagai Elia, untuk membersihkan jalan, guna kedatangan Almasih yang kedua kalinya, di kala itu pengikutnya bertambah banyak. Kemudian ia membeli tanah dan mendirikan sebuah kota bernama Zion. Bahkan selanjutnya ia mengatakan bahwa Almasih akan turun di kota Zion itu. Dowie sangat memusuhi Islam. Pada tahun1902 ia menyiarkan surat selebaran, yang menerangkan bahwa tiap-tiap orang Islam yang tidak mau mengikut agama Kristen akan dibinasakan.

Setelah khabar ini sampai kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah, maka segera beliau menyiarkan surat-surat selebaran yang isinya menerangkan kebagusan Islam, kemudian menantang Dowie. Dalam tantangan itu beliau menulis :

“Apa perlunya membinasakan berjuta-juta orang Islam. Sayalah seorang yang datang dari Tuhan (Allah swt.). Dan sayalah Almasih yang ditunggu-tunggu. Marilah kita bermubahalah (kontes do’a) supaya dunia dapat mengenal, agama manakah yang benar dan agama manakah yang salah”.

Selebaran-selebaran itu disiarkan dalam berbagai surat kabar di Amerika, di Eropa hingga tahun 1903.

Terhadap tantangan itu Dr. Alexander Dowie tidak menjawab apa-apa, melainkan mengeluarkan kecaman terhadap agama Islam dengan perkataan-perkataan yang kotor. Pada tanggal 14 Februari 1903, Alexander Dowie menulis dalam surat kabarnya, bahwa ia berdo’a kepada Tuhan, “Hai Tuhan, hancurkanlah agama Islam itu selekasnya”.

Setelah pendiri Jemaat Ahmadiyah mengetahui, bahwa Dr. Alexander Dowie tidak juga berhenti dari kata-kata kotornya itu, maka beliau mengeluarkan lagi selebaran yang isinya menerangkan, bahwa beliau datang ke dunia ini untuk menjelaskan Tauhid Ilahi dan menghapuskan syirik.

“Allah Swt. sudah memberi tanda kebenaran kepadaku, bahwa jika Dr.Alexander Dowie mau bermubahalah denganku, baik dengan terang-terangan maupun dengan isyarat, ia akan meninggal dunia dengan penderitaan, kesedihan dan kesusahan di waktu saya masih hidup. Dahulu pernah aku memanggil kepadanya untuk bermubahalah, tapi sayang ia tidak memberikan jawaban. Sekarang saya memberi tempo kepadanya selama tujuh bulan lamanya”.
Selebaran ini disiarkan juga di Amerika dan Eropa.

Waktu tersiarnya selebaran itu Dr. Alexander Dowie sedang dalam keadaan jaya. Ia mempunyai murid yang banyak serta kekayaan yang melimpah. Hadiah berdatangan dari mana-mana, sehingga simpanannya di bank berjumlah jutaan dollar. Singkatnya ia berada dalam keadaan yang benar-benar jaya, baik dari segi ketenaran, maupun kejayaan dan kesehatan. Tentang tantangan pendiri Jemaat Ahmadiyah, banyak muridnya yang bertanya,mengapa Dowie tak ingin menjawabnya. Ia mengatakan: “Kalau saya injakkan kaki di atas ulat-ulat itu, niscaya mereka akan hancur. Dan kalau saya bukan nabi yang datang dari Tuhan, maka tidak akan ada satu lagi nabi pun”. Katanya kemudian: “Saya telah kedatangan malaikat yang menerangkan bahwa ia akan menang di atas musuhnya.

Kejadian berikutnya, pada tanggal 9 Desember 1904, tiba-tiba Dowie mendapat penyakit lumpuh, hingga tak dapat menggerakkan badan. Di saat itu pula timbul kekacauan intern dalam golongannya. Murid-muridnya banyak yang meninggalkannya. Kemudian ia sering berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya pada tangal 8 Maret 1907, Dowie mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pengikutnya tinggal 4 orang dan kekayaannya hanya tinggal 30 dollar.

Atas kemenangan pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam kontes do’a atau mubahalah ini, harian “Herald of Boston”, 23 Juni 1904 menulis :

“Dowie meninggal dan kawan-kawannya menjauhkan diri dari dia. Ia menderita kelumpuhan dan penyakit gila. Ia mengalami kematian yang sangat menyedihkan. Kotanya, Zion, terpecah oleh kekalutan intern. Mirza (Pendiri Jemaat Ahmadiyah, pen.) tampil ke muka dengan terang-terangan dan menyatakan bahwa ia akan menang dalam tantangannya”.

Dua kejadian di atas telah membuktikan kebenaran sebuah janji Allah Taala dalam salah satu wahyu yang ditujukan kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Wahyu tersebut berbunyi: “Aku akan menghinakan orang yang menghinakan engkau, wahai Ahmad”.

Wahyu :
“Aku beserta engkau dan orang-orang yang percaya kepada engkau”.

Sekarang kesaksian wahyu ini telah menjadi kenyataan, bahwa Jemaat Ahmadiyah sekalipun banyak mendapat perlawanan dan rintangan-rintangan yang berat, namun bahteranya setahap demi setahap melaju ke depan dengan tetap dan pasti.

Masih Mau’ud a.s. menulis :
“Wahai seluruh ummat manusia, dengarlah, bahwa nubuwatan ini dari Dzat yang menciptakan langit dan bumi. Ia akan menyebarkan Jemaat-Nya ini ke seluruh penjuru bumi dan akan memberi kemenangan kepada mereka di atas golongan yang lain dengan hujjah-hujjah dan burhan yang nyata. Hari itu akan datang bahkan sudah dekat, bahwa di bumi ini (hanya mazhab inilah) yang akan disebut-sebut dengan penuh kehormatan. Allah swt. akan memberi berkat yang luar biasa kepada mazhab dan gerakan ini. Dan setiap orang yang berfikir untuk menghancurkan Jemaat ini akan menemui kegagalan. Kemenangan ini untuk selama-lamanya, hingga saat bila kiamat akan tiba”.

“Ingatlah bahwa tiada seorang pun yang akan turun dari langit. Semua fihak yang tak menyenangi kita akan mati. Seorang pun di antara mereka tidak akan melihat Isa Ibnu Maryam turun dari langit. Dan keturunan mereka yang menggantikan mereka pun akan mati. Di antara mereka tak seorang pun yang akan menyaksikan turunnya Isa Almasih dari langit. Sesudah itu secara turun temurun dari keturunan mereka akan menemui ajal, dan mereka ini pun tak akan ada yang dapat melihat putera Maryam turun dari langit”.

“Ketika itu Allah Swt. akan menimbulkan kegelisahan dalam hati mereka, bahwa masa kemenangan salib pun telah berlalu, dan dunia telah mengalami perubahan total, tetapi Ibnu Maryam belum turun dari langit. Ketika itu orang-orang yang berakal pun akan menjauhkan diri dari kepercayaan ini. Dan mulai hari ini, tidak akan genap abad ketiga, bila orang-orang yang menantikan Isa Almasih – baik orang Islam maupun orang Kristen – akan menjadi putus asa, dan meninggalkan akidah yang palsu itu. Dan di dunia ini hanya ada satu mazhab dan satu penghulu (Nabi Muhammad saw. pen.)”.

“Banyak rintangan akan ditemui dan banyak percobaan akan datang. Tetapi Tuhan akan melenyapkan semua itu dan akan memenuhi janji-Nya. Dan Tuhan telah bersabda kepadaku: Aku akan curahkan rahmat demi rahmat kepadamu yang demikian banyaknya sehingga raja-raja (kepala-kepala negara) akan mencari rahmat dari padamu. Karena itu wahai kamu yang mendengar, ingatlah selalu kata-kata ini dan simpanlah nubuwatan ini dalam peti-petimu dengan aman, karena ia adalah perkataan Tuhan yang harus menjadi sempurna pada suatu hari”(Tazkiratus-Syahadatain).

Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis :
“Setiap orang yang bermaksud menyerang padaku berarti orang itu menempatkan dirinya dalam api yang sedang menyala-nyala. Ketahuilah orang itu bukannya menyerang padaku, tetapi menyerang kepada wujud (Allah) yang mengutusku. Wujud itu berfirman : “Inni Muhiinun man araada ihaanataka”. Maksudnya: “Aku akan menghina orang-orang yang bermaksud menghinamu”. Orang-orang yang demikian tidak tersembunyi dari pandangan Allah Taala. Jangan kamu mengira bahwa untuk kebenaranku Dia telah berhenti memperlihatkan tanda-tanda-Nya. Sekali-kali tidak. Sekarang juga Dia akan penuhi dunia ini dengan tanda demi tanda sebagai saksi-saksi yang hidup untuk menyokongku. Dia akan memperlihatkan juga tanda-tanda yang maha hebat, serta menimbulkan bulu-roma dan ketakutan. Sudah lama Dia melihat perbuatan-perbuatan buruk dilakukan oleh manusia. Tapi Dia hanya bersabar. Sekarang Dia akan datang semisal hujan yang turun pada musimnya dan kemudian api petirnya akan menyambar orang-orang jahat, yang tidak takut kepada-Nya, dan kesombongannya sudah melampaui batas. Orang-orang itu mencoba menyembunyikan perbuatan-perbuatan jahat serta kelakuannya yang buruk. Tetapi Tuhan senantiasa melihat mereka itu. Apakah orang-orang jahat itu dapat menentang iradah Allah swt.? Apakah mereka dapat memusuhi Tuhan dan akan memperoleh kemenangan?” (Barahin Ahmadiyah jilid V halaman 84).

“Dalam suatu mimpi, aku menampak diriku memasang pelana pada kudaku untuk suatu maksud tertentu, tetapi aku tidak tahu ke mana aku harus pergi dan untuk tujuan apa. Aku mempunyai perasaan dalam hati bahwa aku sedang bersiap-siap dengan penuh hasrat untuk suatu urusan. Aku memakai beberapa senjata dan dengan mengikuti jalan orang saleh, aku menunggang kudaku sambil bertawakkal kepada Allah. Kemudian aku merasa bahwa aku berada pada jalan dari beberapa orang penunggang yang bersenjata, dan yang datang ke rumahku dengan tujuan hendak memusnahkanku. Aku seorang diri dan aku tidak punya topi besi atau alat penjagaan lainnya selain senjata-senjata yang dikaruniakan Tuhan kepadaku untuk mempertahankan diri. Aku tidak suka mundur dari pertarungan itu dan duduk di dalam dengan ketakutan, dan karena itu aku bergerak segera ke suatu arah dengan penuh tenaga dan upaya untuk mencapai maksud yang ada dalam pikiranku, dan upaya itu ialah untuk memperoleh hasil-hasil yang paling baik dari segi pandangan dunia dan agama.

”Tiba-tiba aku melihat ribuan orang, yang semuanya menunggang kuda, sambil marah menuju dengan cepat ke arahku. Demi melihat mereka, aku merasa gembira sekali seakan-akan aku telah memperoleh ganimah besar dan aku merasakan dorongan besar di hatiku untuk melawan mereka dan aku mulai mengejar mereka bagai pemburu mengejar mangsanya. Lalu aku menderapkan kudaku menuju mereka untuk mengetahui keadaan mereka, dan aku yakin di hatiku bahwa aku akan menang terhadap mereka.

“Ketika aku telah mendekati mereka lalu melihat bahwa pakaian mereka telah lusuh dan cabik-cabik. Roman mereka menjijikkan dan mereka nampak seperti orang-orang musyrik dan mereka mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Aku melihat bahwa mereka sedang mengatur gerakan kuda mereka dengan maksud hendak melakukan penjarahan dan aku memperhatikan mereka dengan seksama sekali sambil maju cepat ke arah mereka sebagai juara yang berani. Kudaku bergerak maju ke muka begitu kencang sehingga seakan-akan ia sedang dipacu oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat, sebagaimana onta digalakkan oleh senandung penunggangnya. Aku juga gembira melihat keindahan dan kecantikan langkah-langkahnya.

“Lalu mereka berbalik tiba-tiba untuk mematahkan kekuatan dan rencanaku, untuk menghancurkan buah-buah tamanku, dan untuk menumbangkan pohon-pohonku, dan untuk merampas semua itu. Mereka maju kearah tamanku dan masuk ke dalamnya. Hal itu memuatku kuatir dan aku menjadi sangat gelisah, karena aku memperkirakan bahwa mereka ingin memusnahkan buah-buahan tamanku dan memotong dahan-dahannya. Aku maju secepatnya kepada mereka dan aku sadar bahwa saat itu adalah waktu yang sangat berbahaya dan musuh-musuhku telah membuat perumahan mereka di tanahku. Aku mulai menaruh takut dalam hatiku seperti seorang yang lemah dan penakut, tetapi aku maju terus ke tamanku sehingga aku dapat menilai keadaan.

“Ketika aku masuk ke dalam tamanku dan memeriksa hati-hati dan mencoba menemukan tempat di mana mereka berhenti aku melihat dari suatu jarak bahwa mereka semuanya telah jatuh berguguran dan bertebaran sebagai orang-orang mati di petak tengah taman. Lalu kekuatiranku lenyap dan aku menjadi tenang dan maju ke arah mereka dengan cepat dan gembira. Ketika aku telah tiba di dekat mereka aku melihat bahwa mereka semuanya mati tiba-tiba karena dihina dan ditimpa kemurkaan Tuhan. Kulit mereka terkelupas, kepala mereka hancur lebur, leher mereka tersayat-sayat dan tangan serta kaki mereka terkudung dan berserakan dalam potongan-potongan kecil. Mereka telah dihancurkan sekonyong-konyong seperti suatu kaum telah dihancurkan sekaligus oleh sambaran petir. Mereka telah ditimpa kehancuran besar.

“Kemudian aku berdiri pada tempat di mana mereka telah berkumpul untuk menentang aku, yang telah menjadi tempat kehancuran mereka, dan mataku meneteskan butiran-butiran besar air mata dan aku mendo’a: Tuhanku, biarlah hidupku menjadi korban di jalan Engkau. Engkau telah menganugerahkan karunia khusus kepadaku dan Engkau telah menolong hamba-Mu dengan suatu cara yang belum pernah ditemui dalam riwayat bangsa-bangsa. Tuhanku, Engkau telah menghancurkan mereka dengan tangan-Mu malahan sebelum kedua pihak bertempur atau dua jarak berkelahi atau dua pahlawan masuk ke dalam gelanggang. Engkau melakukan apa yang Engkau inginkan. Tak ada penolong yang seperti Engkau. Engkau telah menolong dan membebaskan aku. Wahai Engkau Yang Paling Pemurah, sekiranya Engkau tidak menaruh kasihan kepadaku, maka tak ada kemungkinan bagiku untuk menghindari semua bencana dan penderitaan ini.

“Aku tersentak ketika aku masih asyik bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Besar dan ruhku masih menghadap kepada-Nya. Semua pujian adalah untuk Allah, Tuhan sekalian alam”.
“Aku menafsirkan mimpi ini dengan arti bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengirimkan bantuan dan sukses-Nya tanpa campur tangan dari benda-benda luar dan dari usaha-usaha manusia, karena Dia ingin hendak menyempurnakan karunia-Nya kepadaku dan hendak memasukkanku ke dalam rahmat-Nya.

“Kini aku akan menafsirkan itu bagimu secara terperinci, supaya kamu memperoleh penilaian yang betul tentang itu. Menghancurkan tangan dan memotong leher musuh-musuh berarti mematahkan keangkuhan dan kesombongan mereka yang penuh kebanggaan dan merendahkan atau menistakan mereka. Mengudung tangan mereka berarti mematahkan kekuatan perlawanan mereka, menggagalkan mereka, menghentikan mereka melakukan perlawanan dan pertandingan, mencegah mereka memperoleh alat-alat persenjataan, dan membuat mereka tidak berdaya. Memotong kaki mereka berarti menangkis semua hujjah mereka, menutup segala jalan lari bagi mereka, menghukum mereka dan membuat mereka menjadi orang-orang tangkapan. Ini adalah rahmat Allah Yang berkuasa atas segala-galanya. Dia menghukum orang yang Dia kehendaki dan mengampuni orang yang Dia kehendaki. Dia mengalahkan bagi siapa yang Dia ingini dan membiarkan kemenangan kepada orang yang Dia kehendaki dan tak seorang pun dapat menggagalkan-Nya”(Ainah Kamalati Islam, halaman 578-581).

Sumber :
Buku Kami Orang Isalam PB. JAI Tahun 2007

05
Nov
09

AHMADIYAH MEMBAJAK ALQURAN?

05
Nov
09

Khutbah Jum’at Khalifah Imam Mahdi : SEORANG MUKMIN TETAP TEGUH DIDALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

KHUTBAH JUM’AT HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
2 Oktober 2009 dari Masjid Baitul Futuh London UK TENTANG : ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

“Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. Tidak, bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadari. Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158)

Didalam Ayat Alquran yang baru saya tilawatkan, Allah taala berfirman tentang orang-orang beriman yang mendapatkan cobaan atau ujian yang bagaimanapun kerasnya iman mereka tetap teguh dan tidak goyah. Bahkan keimanan mereka semakin bertambah maju dan bertambah teguh dan kuat dan mereka semakin mendekat dan menyerahkan diri kepada Allah taala.

Dari ayat pertama sangat jelas sekali bahwa Allah taala telah menasihatkan untuk berlaku sabar sambil tetap menunaikan shalat. Maka kita bisa mengatakan bahwa kedua sifat ini harus dimiliki oleh orang-orang beriman, terutama diwaktu menghadapi banyak cobaan dan banyak kesulitan.

Ayat ini begitu ringkas namun maksud dan kandungan tafsirnya sangat luas sekali. Salah satu arti dari perkataan sabar adalah apabila seseorang mendapat suatu kemalangan tetapi dia tidak mengeluh melainkan tabah sambil menunjukkan perangai cerah. Ujian atau cobaan harus dipikul dengan tabah tanpa mengeluh, tanpa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak boleh mengeluh atau menyatakan kesusahan, harus betul-betul menjaga perasaan, yang kadang-kadang karena terdesak keluarlah dari mulut kata-kata tidak patut, sehingga merupakan keluhan terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa. Perkara demikian harus dijauhi.

Yang kedua artinya adalah: Harus tetap dan teguh dalam pendirian. Yang ketiga adalah: Perintah Allah Yang Maha Kuasa harus tetap dipegang erat-erat dan harus berbuat sesuai dengan itu semua. Arti lain lagi ialah, kalian harus tetap teguh tidak boleh menyimpang dari apa yang telah Tuhan melarangnya.

Jadi perkataan sabar telah dijelaskan, yaitu bila saja menghadapi cobaan dan ujian atau kesulitan apapun harus dihadapi dengan tabah dan tahan mental serta keteguhan hati tidak bimbang, jika tidak maka akan membawa kegoncangan dan kelemahan iman. Yang kedua ialah harus selalu memperhatikan dan mentaati hukum-hukum Allah taala dan harus berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh tawakkal kepada-Nya.

Untuk memperkuat keimanan, keteguhan hati, perkataan shalat juga sudah difirmankan didalam ayat tersebut. Artinya Allah taala telah mengarahkan dan memerintahkan kita untuk tidak melupakan shalat dan harus banyak memanjatkan doa kepada-Nya didalam menghadapi ujian atau cobaan dan kesulitan itu.

Pengertian shalat yang telah dijelaskan oleh berbagai pihak ringkasannya adalah: “Memusatkan penuh perhatian kepada kewajiban shalat, disamping shalat fardu kita harus menaruh perhatian terhadap shalat-shalat nawafil lainnya juga disertai dengan banyak memanjatkan doa-doa untuk mempertahankan iman yang kokog, banyak-banyak membaca istighfar – memohon ampun kepada Allah Yang Maha Perkasa dan juga harus banyak berzikir mengingat Allah taala dan harus banyak mengirim darood atau selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Jadi, itulah sifat-sifat orang mukmin sejati telah dijelaskan bahwa diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan dia selalu tabah dan sabar sehingga ia selamat. Diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan seorang mukmin tidak boleh menunjukkan lemah iman atau bimbang, ia harus meningkatkan lebih banyak berdoa dan menjalin hubungan lebih erat dengan Tuhan dan lebih banyak berzikir dan mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Apabila kalian mencari perlindungan dan pertolongan Allah taala harus dilakukan dengan penuh sabar dan istiqamah yang sungguh-sungguh. Dan harus selalu diingat bahwa cobaan apapun yang dihadapi sifatnya hanya sementara. Setelah itu apabila suasana telah berubah kemenangan pasti akan berada ditangan kalian. Penolong utama orang-orang mukmin adalah Allah taala Yang Maha Kuasa. Harus diingat dalam keadaan bagaimanapun seorang Ahmadi tidak boleh mengatakan: “Aku tidak percaya kepada Allah.” Bilamana saja timbul kelemahan iman pada seseorang terhadap Allah maka orang itu bukan lagi sebagai orang Ahmadi. Dengan mengucapkan demikian habislah riwayat dia sebagai orang Ahmadi, bahkan dia sudah keluar dari Islam. Jika seorang Ahmadi mempunyai kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap Allah taala Yang Maha Kuasa, dia telah mendapat iman bil ghaib yang sesungguhnya kepada Allah taala. Dan dia juga harus yakin bahwa yang menolong dan membantu segala urusan dia adalah Allah taala. Jadi, dalam menghadapi setiap kesulitan dan kesusahan yang ditimbulkan oleh lawan-lawan yang memusuhi Jemaat dari waktu ke waktu, kita harus meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi dengan Zat Yang Maha Kuasa Yang mampu membantu kita didalam situasi yang genting seperti itu. Dan didalam situasi seperti itu orang mukmin harus selalu siap menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Perkasa Yang mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada yang lain. Yang kecintaan-Nya lebih dari pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Dia Yang Maha Kuasa mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada itu. Dan Allah dengan firman-Nya: (Allah bersama orang-orang yang sabar) memperkuat keadaan seperti itu. Dan Firman-Nya lagi: “Yakinlah kalian bahwa Aku akan menolong kalian.” Mereka yang berdoa dengan iman yang teguh, dan mereka yang mempunyai kesabaran akan Aku tolong semuanya. Jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari-Ku kalian harus menujukkan ketetapan dan keteguhan iman. Kalian harus beramal sesuai dengan kedudukan sebagai hamba-hamba-Ku. Bagaimana caranya yang harus kalian lakukan ? Yaitu disaat menghadapi kesulitan dan cobaan, pendirian kalian harus tetap jangan berubah-ubah. Pendirian kalian harus betul-betul mantap. Kalian harus rujuk kepada Allah taala Yang Maha Kuasa dengan penuh dedikasi. Itulah tanggung jawab setiap orang Ahmadi pada masa ini.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di Pakistan, di beberapa negara Arab dan juga dibeberapa daerah di negara India orang-orang Ahmadi tengah dijadikan sasaran kekerasan dan kezaliman. Suasana yang mereka timbulkan sangat mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi disana. Terdapat beberapa kasus yang mereka hadapi semakin memburuk. Dan keadaan disana sangat mencekam dan semakin tegang karena timbul tindakan-tindakan diluar keadilan terhadap mereka. Para Mullah yang didukung oleh pemerintahan setempat disana mulai membuat isu-isu (pernyataan-pernyataan) nonsense. Di beberapa tempat para penguasa dan pejabat-pejabat pemerintah disana mencari-cari jalan untuk melancarkan berbagai macam gerakan untuk mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan bagi orang-orang Ahmadi disana.

Di beberapa negara tertentu telah dilancarkan batasan dan larangan untuk menunaikan ibadah shalat dan menunaikan shalat Jumah di mesjid mereka, dan orang-orang Ahmadi disana tidak boleh berkumpul bersama untuk menunaikan shalat Jum’ah. Bagaimanapun sudah saya jelaskan tentang firman Allah taala bahwa di dalam situasi semacam itu posisi keimanan kalian harus jauh lebih kuat dan lebih teguh dari pada sebelumnya. Sambil memperkokoh keimanan kalian harus meningkatkan mutu ibadah kalian kepada Allah taala. Lalu lihatlah hasilnya bagaimana Allah taala Yang Maha Perkasa akan datang menolong kalian.

Sehubungan dengan peristiwa seperti ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kalian harus berusaha untuk menjadi orang-orang yang bersih dan suci-murni, dan kalian harus menjalin hubungan lebih erat lagi dengan Tuhan. Sebab pertolongan Allah taala akan kalian peroleh jika diri kalian sudah suci murni.” Beliau a.s. bersabda lagi: “Bagaimana caranya kalian untuk memperoleh berkat dari pada Tuhan? Jawabannya Tuhan sendiri berfirmaan: yakni: Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Apa yang dimaksud dengan shalat disini? Yaitu selain ibadah shalat, juga membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), membaca istighfar dan juga membaca shalawat bagi Junjungan Nabi Besar Muhammad saw, dibaca dengan penuh rasa cinta dan dedikasi terhadap Allah taala. Jadi, kalian harus menunaikan shalat dengan penuh konsentrasi dan kekhusyuan. Jangan seperti orang yang shalat dengan mulut komat-kamit mengucapkan kata-kata namun hati kalian ingat kemana-mana. Orang-orang yang tidak tahu bahasa Arab mereka boleh berdoa didalam bahasa sendiri khususnya diwaktu sujud. Doa yang diajarkan Tuhan didalam Alquran atau doa yang diajarkan Hazrat Rasulullah saw dari firman Tuhan, tidak boleh dibaca diwaktu ruku atau diwaktu sujud. Selain itu doa boleh dipanjatkan didalam bahasa yang kita pahami sendiri diwaktu sujud atau ruku. Panjatkanlah doa sambil menangis dan merintih dan merendahkan diri sedemikian rupa dihadapan Tuhan sehingga kekhusyuannya itu sangat berkesan di dalam hati kalian. Apabila doa itu dipanjatkan dengan rintihan dan perasaan yang luluh maka kesannya sangat melekat didalam hati sanubari.”

Jadi, dewasa ini sangat diperlukan doa-doa yang dipanjatkan oleh semua orang Ahmadi diseluruh dunia dengan penuh kekhusyuan sambil menangis dan merintih dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga menggetarkan pintu Arasy Ilahi. Apabila doa-doa ini dipanjatkan dengan penuh kegelisahan dan rintihan yang memilukan tentu Allah taala akan segera menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya itu. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya: Artinya: Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang tak berdaya apabila ia berdoa kepada-Nya dan Tuhan Yang melenyapkan keburukan, dan pada suatu hari akan menjadikan kamu pewaris-pewaris bumi ? (An Namal : 63)

Jadi doa yang dipanjatkan dengan perasaan sangat istimewa, dengan rasa gelisah dan suasana prihatin itulah yang bisa membangkitkan perubahan dan revolusi besar diatas muka bumi. Dan mereka yang tengah dianiaya dijalan Allah taala, mereka yang menanggung penderitaan dan kesusahan karena Allah taala, mereka akan menerima khabar suka dari Allah taala melalui kesabaran dan shalat. Pada suatu hari kalian akan menjadi pewaris-pewaris bumi diatas dunia ini, insya Allah !

Jadi kesusahan dan penderitaan yang tengah dihadapi oleh orang-orang Ahmadi pada hari ini khususnya di Pakistan dan pengorbanan apapun yang mereka lakukan, tidak akan dibiarkan sia-sia oleh Allah taala. Pengorbanan yang tengah dilakukan hari ini oleh orang-orang Ahmadi akan mendatangkan buah yang ranum pada hari esok. Hal itu semua adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmadi tanpa mengeluh dan tanpa berkecil hati mereka harus terus maju kedepan dalam menghadapi cobaan dan ujian ini.

Dan Allah taala berfirman: “Orang-orang yang terus maju dalam menghadapi masa kesulitan dan cobaan ini demi meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya mereka rela menyerahkan jiwa-raga dan nyawa mereka dijalan Allah taala. Ingatlah, bahwa mereka yang menyerahkan jiwa-raga mereka karena Allah Yang Maha Perkasa, pengorbanan jiwa mereka ini bukanlah pengorbanan orang biasa, melainkan seperti pengorbanan para sahabah pada zaman permulaan Islam. Sekarang sejarah berulang kembali. Apabila kita lihat sejarah masa lalu banyak sekali orang-orang mukmin yang telah menyerahkan kehidupan mereka, mengorbankan jiwa raga dan nyawa mereka demi kepentingan agama Allah taala dan demi tegaknya Tauhid Ilahi dimuka bumi. Allah mengabulkan pengorbanan mereka sebab pengorbanan jiwa dan nyawa mereka itu demi maksud dan tujuan yang sangat mulia dan agung sekali.

Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah demi membela agama Allah dan tegaknya Tauhid Ilahi tidak boleh disebut sungguh-sungguh mati. Mereka tetap hidup, sebab kematian mereka sangat objective, sangat tepat dan terarah demi Agama Allah dan demi kekalnya tauhid Ilahi dimuka bumi. Ganjaran mereka akan terus mengalir kepada mereka setiap saat. Pengorbanan demikian menjadi simbol bagi kehidupan orang-orang mukmin sejati lainnya dan mengundang semangat untuk menyerahkan pengorbanan apapun yang diperlukan oleh Agama ataupun Jema’at. Suatu bangsa yang selalu menyadari pentingnya pengorbanan demi membela tanah airnya tidak pernah mengalami kematian. Orang-orang yang selalu siap memberikan pengorbanan demi tegaknya agama Allah mereka pasti mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah taala.

Pada zaman sekarang zaman Masih Mau’ud a.s. peperangan sudah berakhir, tidak boleh melakukan peperangan lagi. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengorbankan jiwa raga demi agama Allah, yang akan mendapat kehidupan kekal setelah meninggal dunia? Dan juga menjadi sarana kehidupan hakiki bagi orang-orang beriman? Apabila kaum akhirin diakhir zaman ini harus menjalani kehidupan seperti standar kehidupan kaum awwalin dizaman Hazrat Rasulullah saw tentu mereka harus mengorbankan jiwa raga atau nyawa mereka. Para syuhada kaum akhirin dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka seperti yang telah terjadi di Kabul, Afganistan demi mempertahankan kebenaran. Melalui pengorbanan jiwa raga dan nyawa mereka itu Allah taala telah menunjukkan jalan kepada kita untuk memperoleh kehidupan yang kekal-abadi. Dan sampai sekarang banyak para anggota Jema’at yang tengah memberi contoh bagaimana caranya mereka telah menegakkan semangat dan keikhlasan dalam mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka karena Allah taala. Tetesan darah setiap orang Ahmadi yang syahid dimana telah memberi martabat dan kedudukan tinggi didalam kehidupan mereka dialam akhirat, disana juga tersedia sarana untuk kehidupan dan kemajuan Jema’at yang semakin meningkat terus dimuka bumi ini.

Jika para penentang berpikir bahwa dengan banyaknya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ahmadi mukhlisin akan memberi kesan kemunduran dan kelemahan iman terhadap para anggota Jema’at, khayalan mereka itu semata-mata penipuan dan kosong dari kenyataan sebenarnya. Allah taala berfirman: Kamu tidak menyadari ! Mereka tidak melihat bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membangkitkan suatu revolusi ruhani yang luar biasa, Ahmadiyah tidak bisa berhenti disebabkan banyaknya pengorbanan jiwa raga atau nyawa serta harta mereka demi mempertahankan kebenaran. Akhirnya taqdir Allah taala akan memutuskan bahwa melalui Jema’at Ahmadiyah ini Islam akan ditegakkan diseluruh permukaan bumi.”

Jadi sekarang juga setiap orang Ahmadi yang mati syahid demi Jema’at baik laki-laki, perempuan tua muda ataupun anak-anak telah menciptakan sebuah gelombang semangat hidup baru. Setiap terjadi peristiwa pensyahidan terhadap orang Ahmadi timbul dikalangan orang-orang Jema’at semangat yang bergelora untuk mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka demi membela Jema’at ini. Tentang hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kami sangat kagum menyaksikan keikhlasan dan kesetiaan para anggota Jema’at seperti itu.” Jadi sangat keliru sekali anggapan para penentang yang memusuhi Jemaat bahwa dengan terjadinya kerugian harta mereka, jiwa raga dan nyawa mereka akibat serangan musuh, iman orang-orang Ahmadi akan menjadi berkurang dan lemah. Sama sekali tidak!! Sebagaimana telah saya katakan berulang kali bahwa dengan terjadinya serangan dan penganiayaan dan pembunuhan, keimanan orang-orang Ahmadi justru semakin bertambah kokoh-kuat. Atau para penentang mengira dengan perlawanan mereka terhadap Jemaat, orang-orang Ahmadi akan habis dan lenyap? Pendapat mereka itu sungguh batil dan sangat keliru. Disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah di Pakistan dan di beberapa negara Islam lainnya orang-orang Ahmadi telah dilarang melakukan tabligh. Akan tetapi disebabkan makin maraknya perlawanan dan terjadinya peristiwa-peristiwa kezaliman terhadap orang-orang Ahmadi, kesempatan tabligh disana dengan sendirinya menjadi lebih terbuka. Banyak orang-orang yang penasaran ingin tahu apa sebenarnya Ahmadiyah itu. Sehingga setelah jelas kedudukan yang sebenarnya banyak sekali orang-orang yang mengirim surat kepada kami menyatakan ingin bai’at masuk Ahmadiyah, baik dari Pakistan sendiri maupun dari negara-negara lainnya di dunia setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman lawan-lawan Ahmadiyah itu. Jadi sesungguhnya dengan timbulnya perlawanan itu justru menjadi sarana kemajuan bagi Jema’at Ahmadiyah.

Jadi para penentang memang bisa melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang Ahmadi, mereka bisa melakukan penjarahan terhadap harta orang-orang Ahmadi, bangunan dan gedung-gedung orang-orang Ahmadi bisa mereka hancurkan, pembangunan mesjid kami bisa dihalang-halangi akan tetapi kalian tidak akan bisa membuat iman kami jadi lemah. Sebab ujian dan cobaan ini menjadi bukti kebenaran firman Tuhan bahwa Dia bersama kami orang-orang beriman. Sebagaimana Allah taala telah menjelaskan dengan rinci didalam ayat berikutnya tentang khabar suka yang diberikan kepada orang-orang yang sabar. Firman-Nya: “ Kalian akan diuji dengan ketakutan, jika kalian menghadapi ujian yang menakutkan itu dengan sabar, maka terimalah khabar suka dari pada-Ku, bahwa kalian akan mewarisi nikmat-nikmat dari pada-Ku”. Seperti apa perasaan takut itu? Yaitu rasa takut yang dibuat oleh musuh-musuh kalian, misalnya takut berupa kejahatan para Mullah, menghadapi mukaddimah di pengadilan juga termasuk rasa takut, takut terhadap undang-undang blasphemy pemerintah, takut ancaman dari para petinggi negara. Akan tetapi orang-orang mukmin tidak mensia-siakan iman mereka disebabkan berbagai macam desakan atau intimidasi dari pihak golongan tertentu atau dari pihak pemerintah sekalipun. Dan tidak pula mereka menunjukkan sebarang kelemahan.

Setelah itu orang-orang mukmin diuji dengan kelaparan. Sebagai contoh telah terjadi dihadapan kita dalam jumlah yang sangat besar. Yaitu pada tahun 1974 telah terjadi peristiwa kerusuhan anti Jema’at yang ditimbulkan lawan-lawan yang memusuhi Jema’at pada tahun itu, banyak kesulitan dan kesusahan ditimpakan kepada orang-orang Ahmadi. Pada waktu itu siapapun tidak pula diizinkan untuk menyampaikan makanan ke rumah seorang Ahmadi dan tidak pula orang-orang Ahmadi diizinkan keluar dari rumah mereka pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Jika mereka bisa keluar juga maka para pemilik kedai dilarang menjual bahan-bahan makanan atau benda apapun yang diperlukan kepada orang-orang Ahmadi. Disamping itu banyak barang-barang kekayaan orang-orang Ahmadi dirampas dan dijarah dan secara paksa mereka menguasai hak milik orang-orang Ahmadi. Dan apabila seorang Ahmadi berusaha menuntut hak milik mereka secara hukum di Pengadilan, mereka membuat-buat alasan dengan mengatakan ini orang-orang Qadiani, mereka enggan melayani. Dengan menyebut nama Qadiani atau Ahmadi saja orang-orang yang duduk dikursi pengadilan-pun merasa enggan dan tidak mau menghiraukan atau menangani apa lagi menghormati tuntutan hak-hak mereka lagi.

Pada tahun 1974 sebidang tanah milik Jema’at di Rabwah telah diserahkan kepada para Mullah oleh Town Committee, dan sampai sekarang mereka menguasainya dan telah memberi nama tempat itu Muslim Colony. Begitu juga tanah yang sangat luas berdekatan dengan Ta’limul Islam New Campus milik Jema’at dan Rabwah Open Space yang terletak di Daarun Nasir telah dirampas dan dikuasainya secara tidak sah. Dan pemerintah telah memutuskan bahwa tanah ini milik pemerintah.

Selain itu orang-orang mukmin diuji dan dicoba melalui anak-anak keturunan. Pihak lawan sengaja berusaha untuk menghancurkan karier anak-anak Ahmadi. Di sekolah-sekolah anak-anak Ahmadi dijadikan sasaran penghinaan agar semangat belajar mereka hilang hingga putus sekolah. Dizaman saya kuliah di University Faisal Abad beberapa mahasiswa Ahmadi dilarang kuliah. Di Leyyah beberapa orang anak Ahmadi ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara atas tuduhan yang tidak benar dan palsu. Jika orang tua anak-anak tersebut mengumumkan telah bertaubah dari Ahmadiyah, maka pengadilan dimana para Mullah telah menuduh anak-anak telah menghina Hazrat Rasulullah saw, secepat mungkin mereka dibebaskan dari tahanan penjara. Sebab itulah yang mereka inginkan agar para Ahmadi dengan cara bagaimanapun karena takut melepaskan iman mereka dan bertaubah meninggalkan Ahmadiya. Begitulah trick jahat mereka lakukan dengan menimpakan berbagai macam kesulitan dan kesusahan diatas orang-orang Ahmadi berusaha untuk melepaskan mereka dari Ahmadiyah. Namun orang-orang bernasib malang itu tidak tahu kedudukan orang-orang Ahmadi adalah orang-orang mukmin sejati. Mereka yakin betul bahwa setiap huruf yang tertulis didalam Kitab suci Alquran adalah firman Allah taala. Sejak semula Allah taala telah memberitahukan kepada mereka didalam AlAlquran bahwa iman mereka akan diuji dengan kesusahan dan kesulitan seperti itu.

Jadi teguh didalam pendirian dan menanti akhir kesudahan yang baik dan mengucapkan Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) adalah sifat atau prilaku orang-orang Ahmadi. Kesusahan dan kesulitan yang ditimpakan kepada mereka dihadapi dengan penuh kesabaran, sebab itulah yang selalu diperlihatkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka Ahmadi. Sabar artinya setiap kesulitan atau kesusahan memang dirasakan, akan tetapi tidak kehilangan keseimbangan perasaan dan pikiran disebabkan kesulitan atau kesusahan itu. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkecil hati, melainkan pada setiap cobaan dan pada setiap penderitaan yang dihadapi selalu menghadapkan muka kearah Allah taala. Mereka berdiri tegak sambil bertahan bahwa biarlah ujian berupa kesulitan itu berlaku sebab ia sifatnya hanya sementara, bukan untuk selama-lamanya. Sebagai natijahnya Allah taala akan memberikan yang lebih baik lagi kepada mereka. Pada setiap musibah selalu berfikir bahwa nyawa-ku juga, anak-anak-ku juga, harta kekayaan-ku juga hanyalah barang-barang titipan yang sifatnya sementara. Apabila hal itu semua dikurbankan karena Allah taala maka tentu aku akan menjadi pewaris karunia Tuhan yang jauh lebih baik dari semula. Apabila manusia berucap “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) maka harus berdiri tegak dengan yakin bahwa kami juga adalah milik Allah taala. Dan harta kami serta anak-anak kami juga semuanya adalah kepunyaan Allah taala.

Jadi, jika Dia menginginkan bahwa nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada kami itu hendak diambil kembali oleh-Nya, maka kami rela sepenuhnya tidak perlu kecil hati atau menangis. Sebab kami berkata “Inna ilaihi raaji’un” kami juga akan kembali kepada-Nya. Apabila kita akan kembali kepada-Nya maka Allah taala telah berjanji bahwa Dia akan memberi barang-barang yang jauh lebih baik dari pada barang-barang yang ada didunia ini. Jadi, jika seorang mukmin berfikir seperti itu maka kerugian berupa barang-barang duniawi apapun yang ditimpakan oleh pihak lawan, memang bisa mendatangkan kesusahan yang sifatnya sementara, akan tetapi hal itu tidak akan menjadi kendala bagi kehidupan yang masih terus berlanjut. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebagai orang mukmin kalian jangan menganggap buruk terhadap cobaan atau ujian. Hanya orang mukmin yang tidak sempurna yang akan menganggapnya buruk. Allah taala berfirman didalam AlAlquran: Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.”

Kesusahan dan kesulitan apapun yang mereka hadapi tidak menimbulkan kesengsaraan dan kesusahan hati mereka. Dan mereka selalu gembira dengan keridhaan Allah taala. Dan mereka menyukai tinggal dalam suasana seperti itu. Mereka itu betul-betul sabar. Dan Allah taala memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa perhitungan. Demikianlah reaksi yang harus ditimbulkan oleh setiap orang Ahmadi. Dan dengan karunia Allah taala sampai sekarang para anggota Jema’at telah menzahirkan keadaan demikian. Dan reaksi itulah sebagai tanda untuk memperoleh kemajuan. Untuk itu kita harus selalu memanjatkan doa kepada Allah taala. Memang kewajiban kita untuk berdoa demi keselamatan dari ujian dan cobaan, Allah taala sendiri telah berfirman demikian. Akan tetapi jika turun suatu cobaan dan ujian dari Allah taala, maka untuk menghadapi hal itu keteguhan iman dan ketabahan sangat penting sekali. Dan hal itulah yang boleh membuat turunnya pembalasan yang tidak terhingga dari Allah taala.

Setelah menyebutkan hal itu, selanjutnya dikatakan bahwa Allah taala bersama orang yang sabar, orang yang meraih kedudukan syahid disisi Allah taala, akan mendapat kehidupan yang kekal. Terdapat khabar-khabar gembira bagi orang-orang yang sabar, dan banyak sekali khabar-khabar gembira itu mereka terima. Dan suasana gembira yang meluap-luap itu telah-pun mereka wakafkan demi patuh dan setia kepada Allah taala. Tentang kesulitan yang biasa timbul ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tidak pernah datang seorang-pun Utusan Tuhan yang tidak menghadapi ujian atau cobaan. Hazrat Masih Israili a.s. telah dipenjarakan dan telah dihadapkan kepada berbagai macam siksaan oleh orang Israil. Selanjutnya bagaimana perlakuan kaum terhadap Nabi Musa a.s, Nabi Muhammad saw sendiri pernah dikepung dan diserang, akhirnya sesuai sunnah Allah taala semua kesulitan itu berakhir diganti dengan kemudahan yang jauh lebih baik. Jika memang sunnah Allah taala seperti itu adalah kesenangan dan kemudahan bagi kehidupan Utusan Allah taala dan para pengikutnya, maka setiap hari pesta-pora makan-makanan yang lezat, tentu bisa dilihat apa bedanya para ahli dunia dengan para Utusan Allah taala? Jika setiap waktu hanya menjalani kehidupan yang senang sejahtera dan tidak pernah menderita kesulitan, apa bedanya orang-orang dunia dengan Utusan Allah taala? Setelah kenyang memakan makanan yang lezat mengucapkan alhamdulillah wa syukru lillah memang mudah sekali. Mudah sekali menyatakan rasa syukur seperti itu kepada Allah taala jika setiap hari menjalani kehidupan yang baik dan senang, makanan dan minuman setiap waktu bisa diperoleh dengan mudah. Jadi dalam menghadapi keadaan musibah juga harus kita harus mengucapkan perkataan seperti itu dengan sungguh hati, seperti diwaktu menerima nikmat dari Allah taala.”

Beliau bersabda lagi: “Para utusan Tuhan dan Jema’at beliau sering ditimpa oleh berbagai macam ujian, ditimpa rasa takut dengan kehancuran, menghadapi berbagai macam mara bahaya dan sebagainya. Itulah arti dari pada Kazzabu mereka mendustakan. Dari peristiwa kesulitan itu ada manfaatnya? yaitu untuk membedakan diantara orang yang kuat iman-nya dan yang lemah iman. Sebab orang yang imannya lemah, hanya sampai waktu yang menguntungkan mereka saja bisa bertahan, namun apabila masa ujian dan cobaan tiba, mereka berhenti tidak mau bergerak maju. Sedangkan orang yang kuat imannya mereka terus maju kedepan, sekalipun sedang dalam masa cobaan dan ujian seperti itu. Dan itulah sunnah Allah taala yang berlaku kepada saya. Selama tidak ada ujian atau cobaan tidak pernah timbul suatu tanda yang zahir dari Allah taala. Apabila Allah taala mencintai hamba-hamba-Nya maka Dia menimpakan ujian kepada mereka. Sebagaimana Tuhan berfirman: Yakni setiap mendapat kesulitan dan kesusahan mereka selalu rujuk dan runduk kepada Allah taala. Dan orang-orang itulah yang menerima nikmat-nikmat Allah taala, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menegakkan istiqamah, tetap didalam pendirian yang teguh, sekalipun mereka menyaksikan kegembiraan duniawi itu nampaknya sangat senang serta lezat untuk dinikmati namun akhir natijahnya tidak ada kesan apa-apa. Dengan menjalani kehidupan bergemarlapan kemewahan yang penuh dengan kesenangan akhirnya hubungan dengan Allah taala menjadi terputus.

Kecintaan Allah taala terhadap hamba-Nya dibuktikan dengan menimpakan suatu ujian kepadanya sehingga dengan ujian itu Dia menzahirkan kemuliaan hamba-Nya itu. Dengan ujian itu kebesarannya, keimanannya yang kukuh kuat akan zahir. Misalnya jika Kisra Iran tidak memerintahkan seorang jenderalnya untuk menangkap Hazrat Rasulullah, maka bagaimana bisa terjadi mukjizat yaitu kematian Kisra Iran itu pada malam itu juga. Dan jika orang-orang Mekah tidak mengusir Hazrat Rasulullah saw, bagaimana mukjizat Allah taala akan zahir pada hari-hari sesudahnya. Setiap mukjizat sangat erat kaitannya dengan suatu ujian atau cobaan yang menyusahkan. Kehidupan berfoya-foya dan bergembira-ria bisa membuat manusia lengah tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah taala. Jika kejayaan duniawi yang melimpah ruah telah diperoleh seseorang, kehidupan merendahkan diri dan merunduk dihadapan Tuhan menjadi hilang. Padahal Allah taala mencintai orang-orang yang menjalani kehidupan dengan merendahkan diri dan mencurahkan perhatian kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia haruslah menghadapi suatu peristwa yang manakutkan. Jadi Allah taala berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang berlaku sabar dan menyerahkan jiwa raga serta nyawanya dijalan Allah taala demi meraih keridhaan-Nya.

Pada akhir ayat Allah taala berfirman : Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158). Dan orang-orang itulah yang menjadi pewaris barkat-berkat, mereka itulah yang menjadi penerima hidayah dan rahmat dari Allah taala. Dan orang-orang yang menjadi pewaris rahmat dan barkat dari Allah taala itulah orang-orang yang menerima petunjuk dari Allah taala. Karena dipergunakan perkataan solawatun mirrabihim maka hal itu bisa diterjemahkan: barkat-barkat dan maghfirat. Jadi orang-orang yang sabar dan banyak memanjatkan doa akan menyaksikan pemandangan turunnnya berkat dan maghfirat (pengampunan) dari Allah taala yang membuat martabah ruhani mereka semakin tinggi. Perkataan solawatun mirrabihim ini bukan Allah taala yang memanjatkan doa itu, melainkan berkat-berkat dan maghfirat dari Allah taala turun kepada orang-orang mukmin yang sabar dan banyak memanjatkan doa itu. Apabila rahmat Tuhan turun kepada mareka maka martabah ruhani mereka itu semakin meningkat terus.

Kerugian duniawi mereka juga bisa diganti sepenuhnya oleh Allah taala, sebab mereka setiap saat siap mengorbankan apa yang mereka miliki demi kepentingan agama Allah taala. Bisa diperiksa, siapapun orang Ahmadi yang mengorbankan sesuatu di jalan Allah taala, keinginan musuh tidak pernah berhasil membuat orang-orang Ahmadi menjadi miskin sehingga menjadi pengemis. Bahkan yang menjadi miskin dan menjadi pengemis adalah mereka sendiri yang telah berbuat zalim terhadap orang-orang Ahmadi dan yang telah merampas dan menjarah harta benda mereka. Dan demi konstitusi undang-undang, orang-orang Ahmadi telah dinyatakan sebagai non-Muslim. Maka setelah demikian jelasnya pertolongan Allah taala terhadap Jemaat ini, orang-orang bernasib buruk dan sangat malang itu tidak mau paham juga, atau memang sengaja mereka tidak mau paham. Sedangkan kami selalu berdoa kepada Allah taala semoga Allah taala memberi taufiq kepada mereka untuk memahaminya.

Pada akhir ayat in Allah taala berfirman : yakni orang-orang yang meraih rahmat dan maghfirat dari Allah taala mereka itulah yang memperoleh hidayah dari Allah taala. Oleh sebab itu disebabkan telah memperoleh hidayat maka mereka terus meningkat didalam meraih hidayat itu dari Allah taala. Dan Allah taala memperlihatkan jalan-jalan baru kepada mereka untuk mencapai kemajuan. Sehingga mereka selalu menjadi peraih qurub dan kecintaan Allah taala. Dan kita harus selalu memohon doa kepada Allah taala agar Dia menjaga dan melindungi setiap orang Ahmadi dari setiap bala atau musibah. Akan tetapi jika sesuai dengan kehendak Allah taala seseorang harus mendapat ujian dan cobaan dari Allah taala, semoga Allah taala memberi taufik kepadanya untuk melewati masa ujian itu dengan tabah, mudah dan selamat. Dan semoga Allah taala selalu memberi bimbingan kepada kita semua.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Apabila saya melihat kesulitan yang tengah kalian alami dan disamping itu saya melihat kudrat Allah taala yang maha mulia yang secara pribadi saya sendiri telah mengalaminya dan yang telah berlaku pada diri saya, sedikitpun saya tidak merasa gelisah. Sebab saya paham bahwa Allah taala adalah Dia Yang Karim (Maha Mulia) dan Qadir Qudrat, Yang Maha Kuasa. Dan Dia Yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah yang besar. Siapa yang ingin memperoleh banyak makrifat maka Allah taala pasti menurunkan musibah sebagai ujian kepadanya. Supaya mereka paham bahwa Tuhan memberi harapan positif kepada mereka bahwa dari tidak ada harapan sama sekali timbul hasrat dan keinginan yang baik. Pendeknya Dia sungguh Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya. Dengan adanya ujian dan cobaan itu jangan sampai Allah taala menjadi jauh dari kita. Dalam memberi ujian dan cobaan juga Allah taala Maha Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Penyayang.”

Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Jalan untuk memperoleh karunia dan rahmat-Nya selamanya terbuka selalu. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh harapan positif terhadap Rahmat-Nya. Dan diwaktu menghadapi kegelisahan perlu sekali bertaubah dan membaca istighfar sebanyak-banyaknya.” Harus diingat selalu bahwa orang yang diwaktu turun bala dan musibah dia tinggalkan usaha untuk bertaubah dari keburukan atau dosa, yang sebetulnya untuk meninggalkan taubah dengan segera itu tidak ada maksud sebelumnya, maka hal itu merupakan siksaan besar bagi orang itu. Dan jika musibah dan kemalangan serta kesusahan tengah terjadi, lalu ia tinggalkan dosa atau kebiasaan buruknya itu, maka hal itu akan menjadi sebuah kaffarah yang besar baginya. Bersamaan dengan terbukanya hati dia itu untuk bertaubah terbukalah juga kegelapan musibah itu baginya. Dan datangnya nur cahaya menjadi suatu harapan yang pasti baginya. Apabila hati manusia telah terbuka mata kegelapan yang disebabkan timbulnya bala atau musibah itu akan berubah menjadi cahaya terang baginya. Dan akan timbul harapan untuk mendapatkan nur dari allah taala.

Jadi keadaan dunia sekarang ini seperti telah saya katakan bahwa para Ahmadi diseluruh dunia sangat perlu sekali untuk menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap doa. Mengingat-ingat kelemahan dan dosa yang ada pada dirinya sangat diperlukan sekali. Dan harus berusaha keras untuk berjumpa dengan Allah taala. Usaha pribadilah yang harus dilakukan oleh Jemaat, apabila seseorang berbuat baik mudah-mudahan membawa faedah untuk semuanya. Dalam suasana sekarang ini setiap Anggota Jemaat dimanapun berada sangat perlu sekali untuk meningkatkan banyak doa untuk saudara-saudara kita itu. Mengingat keadaan yang tengah terjadi pada masa sekarang ini, nampaknya akan terjadi ujian-ujian yang lebih berat lainnya yang akan dihadapi oleh para Ahmadi di Pakistan. Oleh sebab itu dengan perantaraan doa-doa semoga hal itu bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu Huzur mengumumkan empat orang Ahmadi yang telah mati syahid dan beliau akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk keempat orang syuhada itu.

Alihbhasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

27
Okt
09

KEIMANAN DAN BEBERAPA AJARAN PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwah beliau, adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar lingkungan Islam”(Taqrir Wajibul I’lan, 23 Oktober 1891).

“Inti dari madzhab kami ialah : LAA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan kami dalam hidup ini dan yang padanya kami, dengan karunia dan taufik Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah bahwa Junjungan dan Penghulu kami, Nabi Mustafa Muhammad saw. adalah “Khatamun Nabiyyin” dan “Khairul Mursalin”, yang termulia dari antara Nabi-nabi. Di tangan beliau hukum syariat telah disempurnakan. Karunia yang serupa ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai Tuhan Yang Maha Kuasa”(Izala-i-Auham, halaman 137, 1891).

“Martabat luhur yang diduduki oleh Junjungan dan Penghulu kami yang terutama dari semua manusia, Nabi yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin saw. telah berakhir dalam diri beliau yang dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tidak dapat dicapai manusia”.(Taudih-i-Maram).

“Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad saw. adalah Nabi-Nya dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua makhluk”.(Kisti-i-Nuh, halaman 15, 1902).

“Saya katakan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan serigala buas, tetapi kami tidak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi (Muhammad) yang kami cintai, orang yang lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami”.(Paigham-i-Sulh, halaman 30, 1908).

“Sekiranya orang-orang ini membantai anak-anak kami di muka mata kami dan mencincang apa-apa yang kami kasihi sampai berkeping-keping dan membuat mati dengan hina dan malu dan merampas harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi Suci kami, Muhammad saw.”(Aina-i-Kamalati Islam, halaman 52, 1893).

“Lembaga kenabian telah tertutup, kecuali melalui dan di dalam Nabi Muhammad saw. Nabi pembawa syariat tidak mngkin datang lagi. Seorang Nabi tanpa syariat baru bisa datang, tetapi lebih dulu ia harus seorang ummati, yakni seorang pengikut Nabi Muhammad saw.”(Tajalliati Ilahiyah, halaman 20, ditulis 1906).

“Hamba yang hina ini mendapat kehormatan juga untuk menjadi salah seorang dari hamba-hamba yang hina dari Nabi Agung itu yang menjadi Penghulu Nabi-nabi dan Raja Rasul-rasul”(Barahin-i-Ahmadiyah).

“Sesudah Nabi Muhammad saw. tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dulu menjadi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad saw.”(Tajalliati Ilahiyah, halaman 9, ditulis tahun 1906).

“Suatu ketinggian, suatu keistimewaan, suatu kehormatan, suatu persatuan dengan Tuhan tak akan dicapai kecuali dengan jalan pengabdian sesempurnanya kepada Nabi Muhammad saw. Apa juga yang kita terima adalah karena beliau dan dari beliau”(Izala-i-Auham, halaman 138, 1891).

“Semua pintu kenabian telah tertutup, kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad saw. dan pintu fana seluruhnya ke dalam beliau”(Ek Ghalti ka Izala, halaman 3, 1901).

“Saya mendapat karunia itu begitu sempurnanya bukanlah tersebab sesuatu jasa saya sendiri, tetapi hanya karena rahmat Allah. Karunia itu ialah yang telah dianugerahkan kepada Nabi-nabi, Rasul-rasul dan orang-orang pilihan Allah sebelum saya. Hal itu tak akan mungkin saya capai sekiranya saya tidak mengikuti Junjungan dan Penghulu saya, kebanggaan Nabi-nabi dan yang paling sempurna dari mereka, Nabi Muhammad saw. Apa juga yang saya terima hal itu adalah karena penyerahan diri saya kepada beliau. Saya yakin sepenuh-penuhnya dan sebesar-besarnya bahwa tak seorangpun akan mencapai kedekatan dengan Tuhan dan memperoleh ilmu-Nya yang sejati kecuali dengan mengikuti Rasulullah saw”(Haqiqatul Wahyi, halaman 62, 1907).

“Tuhan yang mengetahui rahasia hati beliau, meninggikan beliau diatas semua Nabi-nabi yang mendahului beliau dan yang akan mengikuti beliau. Allah memenuhi semua keinginan beliau dalam masa hidup beliau. Sesungguhnya beliau adalah mata air dari segala kemuliaan. Seorang yang mengatakan memperoleh kesempurnaan tanpa mengakui berutang budi kepada beliau, bukanlah seorang manusia melainkan turunan setan, karena hanya beliau saja yang dikaruniai kunci kepada segala kesempurnaan. Dan memang beliau telah dianugerahi khazanah ilmu pengetahuan Ilahi. Orang yang tidak menerima apa-apa melalui beliau tidak akan menerima apa-apa dari seseorang lainnya. Kami tak berarti apa-apa, sama sekali tak apa-apa, dan kami sama sekali berada di puncak kedurhakaan bila kami tidak mengakui bahwa hanya melalui Nabi Muhammad saw. saja kami dapat memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang hakikat tauhid Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya adalah dengan perantaraan beliau dan melalui cahaya kesempurnaan beliau kita memperoleh kesadaran tentang Tuhan Yang Hidup”(Haqiqatul Wahyi, halaman 116, 1907).

“Saya tak dapat berbuat lain selain mengulangi dan menyatakan dengan nyaring bahwa kecintaan sejati kepada Al-Qur’an Suci dan Nabi Muhammad saw. serta penyerahan sepenuhnya kepada beliau memungkinkan seorang untuk melakukan mujizat, dan bagi orang semacam itu terbuka pintu menuju pengetahuan yang tersembunyi. Seorang pengikut agama lain tak akan dapat bertanding melawannya dalam persoalan karunia keruhanian. Kebetulan saya mempunyai pengetahuan pertama tentang keajaiban ini. Saya naik saksi bahwa, kecuali Islam, semua agama lain sudah tua renta, sama sekali tak mungkin, saya ulangi lagi, tak mungkin untuk mengadakan hubungan yang hidup dengan Tuhan, kecuali jika orang menerima Islam”(Zamima Anjam-i-Atham, halaman 61-62, 1897).

“Perkataan Nabi adalah serupa dalam bahasa Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Ibrani perkaaan itu diucapkan Naabi yang diambil dari Naba yang berarti pemberian nubuwatan dari Tuhan. Seorang Nabi tak harus pembawa syariat. Keadaan ini adalah anugerah Tuhan dengan mana dikhabarkan peristiwa-peristiwa masa yang akan datang”(Ek Ghalti ka Izala, halaman 8, 1901).

“Tuduhan yang dilemparkan kepada saya ialah bahwa bentuk kenabian yang saya akui buat diri saya menyebabkan saya keluar dari Islam. Dengan perkataan lain saya dituduh mempercayai bahwa saya adalah nabi yang berdiri sendiri, seorang nabi yang tak perlu mengikuti Al-Qur’an Suci, dan bahwa kalimah saya lain dan qiblah saya berobah. Juga saya disangkakan menghapus syariat dan memutuskan tali kesetiaan kepada Nabi Muhammad saw. Tuduhan itu sama sekali palsu. Suatu pengakuan kenabian seperti itu adalah kufur, ini jelas. Bukan hanya kini tetapi sejak hari permulaan sekali saya selalu mengemukakan dalam buku-buku saya bahwa saya tidak mengakui kenabian seperti itu untuk saya. Itu sama sekali adalah suatu tuduhan kosong dan suatu cercaan terhadap saya. Keadaan sebenarnya hanyalah ini : bila saya menyebutkan diri saya seorang nabi, saya maksudkan hanya bahwa Allah Swt berbicara dengan saya, bahwa Dia sangat sering berkata-kata dengan saya dan Dia bercakap-cakap dengan saya dan menerima pengabdian saya dan mewahyukan kepada saya hal-hal ghaib, dan membukakan kepada saya rahasia-rahasia yang berhubungan dengan masa datang dan yang tidak Dia bukakan kepada seorang yang tidak Dia cintai dan dekat kepada-Nya. Sesungguhnya Dia mengangkat saya sebagai nabi dalam arti itu”(Akhbari Am, Lahore, 26 Mei 1908, halaman 7).

Selain dari penjelasan-penjelasan yang kami kemukakan di atas, dalam surat terbuka yang disampaikan kepada Raja dan para Pemimpin Afghanistan, Imam Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a. menulis antara lain sebagai berikut:

“Kami beriman, bahwa Allah Swt. ada dan menyatakan ada-Nya merupakan pernyataan kebenaran yang maha penting”.

“Kami beriman, bahwa Tuhan Maha Esa, tanpa sekutu di langit dan tanpa sekutu di bumi. Segala sesuatu adalah ciptaan-Nya, tergantung dari Dia dan berhajat pada pertolongan-Nya. DIA tidak beranak dan tidak ber-ibu-bapak, tidak beristri, tidak bersaudara. DIA adalah Esa dan mutlak dalam ketunggalan-Nya.

“Kami beriman, bahwa Tuhan Maha Mulia, bebas dari kekurangan-ketunaan dan memiliki segala kesempurnaan. Tiada noda, cacat atau celaan dan tiada ketidaksempurnaan terdapat pada Dia. Kekuasaan dan ilmu-Nya tiada batasnya. DIA meliputi segala sesuatu dan tak ada yang meliputi Dia. DIA awwal, Dia Akhir, Dia Zahir, Dia Ghaib, Pencipta dan Tuhan segala sesuatu. DIA Maha Cinta, Kekal Abadi. Perbuatan-Nya yang Dia kehendaki, tiada yang terpaksa, tiada penetapan terdahulu. DIA Berdaulat sekarang seperti dahulu dan kemudian. DIA memerintah sekarang seperti Dia memerintah sebelumnya dan kemudian. Sifat-sifat-Nya kekal untuk selama-lamanya.

“Kami beriman, bahwa para malaikat itu adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Al-Qur’an memiliki sesuatu, para malaikat melaksanakan penyelenggaraan sesuatu. Mereka dijadikan sesuai sifat Maha Bijaksana-Nya untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Adanya wujud itu suatu kenyataan, dan isyarah kepada mereka dalam Al-Qur’an Suci bukan hanya bersifat perlambang belaka. Mereka tergantung dari Tuhan seperti halnya manusia dan makhluk-makhluk lainnya semua.

“Kami beriman, bahwa Tuhan memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia pilih dan Dia mewahyukan kepada mereka itu rencana Ilahi menurut kehendak-Nya. Wahyu turun dalam tutur kata. Manusia hidup atas wahyu dan dengan perantaraan wahyu ia menjadi berhubungan dengan Tuhan. Kata-kata yang didalamnya wahyu turun, khusus dan istimewa dalam kekuasaan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan itu, tidak diturunkan sekaligus. Suatu tambang bumi dapat habis difaedahkan isinya oleh manusia, tetapi tidaklah demikian halnya hikmah wahyu. Wahyu membawa bagi kita ilmu tentang yang ghaib dan mengenai kebenaran-kebenaran rohani. Wahyu menyampaikan kepada kita perkenan Tuhan maupun penolakan-Nya dan tidak ridha-Nya, cinta-Nya, maupun peringatan-peringatan-Nya. Tuhan menghubungi manusia dengan perantaraan wahyu. Hubungan itu bermacam-macam menurut keadaan dan menurut si penerimanya. Dari semua hubungan suci itu maka yang paling sempurna, paling melingkupi ialah Al-Qur’an suci. Al-Qur’an suci telah ditakdirkan untuk tetap ada selama-lamanya dan tidak dapat diungguli oleh wahyu-wahyu terdahulu dan sesudahnya, yang manapun juga.

“Kami beriman pula, bahwa bila kegelapan merajalela di dunia dan manusia tenggelam jauh dalam dosa dan kejahatan serta keadaan menjadi sukar baginya untuk bangkit kembali tanpa bantuan dari Tuhan, maka atas Maha Pemurah dan Maha Penyayang-Nya, Dia memilih dari antara hamba-hamba-Nya orang yang penuh cinta dan setia, membebaninya dengan tugas memimpin dan menunjuki orang-orang lain semuanya, sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an, bahwa tiada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang pemberi ingat (35:25). Tuhan telah mengirimkan Rasul-rasul kepada setiap kaum. Dengan perantaraan mereka Tuhan mewahyukan Amanat-Nya dan Rencana-Nya. Mereka yang berpaling dari Rasul-rasul itu, membinasakan diri sendiri dan mereka yang mengikuti Rasul-rasul itu memperoleh cinta dan ridha Ilahi.

“Kami beriman pula, bahwa Rasul-rasul suci itu bertingkat-tingkat kerohaniannya dan dalam tingkatan masing-masing menyumbangkan peranannya untuk akhirnya menjadi sempurnanya Rencana Ilahi. Yang terbesar, tertinggi dan termulia dari semua Rasul-rasul itu ialah Rasulullah Nabi Besar Muhammad saw. Beliau memimpin seluruh ummat manusia, menjadi Rasul bagi mereka semuanya. Wahyu-wahyu yang beliau terima, tertuju kepada seluruh ummat manusia. Seluruh dunia adalah mesjid bagi beliau. Kemudian datang zaman di waktu mana amanat beliau menyebar ke negeri-negeri dan daerah-daerah di luar Arabia. Kaum-kaum meninggalkan tuhan-tuhan ciptaan sendiri dan mulai beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, yang diajarkan Rasulullah saw. kepada mereka untuk beriman kepada-Nya. Kedatangan Rasulullah saw. menandai revolusi rohani yang tiada taranya. Keadilan mulai berkuasa dan menggantikan ketidakadilan, begitu juga kebaikan menggantikan kekejaman. Bila Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. hidup di zaman Rasulullah saw., mereka itu wajib beriman dan mengikut Rasulullah saw.

“Kami beriman pula, bahwa Tuhan mendengar do’a-do’a kami dan menolong kami dari kesukaran kami. DIA adalah Tuhan Yang Hidup dan sifat Hidup-Nya terbukti dari segala sesuatu sepanjang zaman. Dengan Maha Murah-Nya, segala makhluk-makhluk-Nya, bila mereka itu berhajat kepada pertolongan-Nya, maka Dia datang kepada mereka dengan pertolongan-Nya. Jika mereka melupakan Dia, maka Dia peringatkan mereka akan adanya wujud Dia dan tentang perhatian-Nya kepada mereka. “AKU sungguh dekat dan AKU jawab do’a setiap pemohon, jika ia memohon kepada-Ku. Maka bergegaslah hendaknya mereka kepada-Ku dan percaya kepada-Ku, sehingga mereka sejahtera”(Q.2:187).

“Kami beriman pula, bahwa sewaktu-waktu Tuhan menetapkan dan merencanakan jalan peristiwa dengan cara-cara yang khusus. Kejadian-kejadian di dunia ini tidak sepenuhnya ditetapkan oleh hukum-hukum yang kekal yang lazimnya disebut hukum alam. Sebab di samping hukum-hukum yang lazim itu, ada juga hukum-hukum khusus yang dengan itu Tuhan menzahirkan dan menampakkan Zat-Nya sendiri. Hukum-hukum khusus itulah yang menjadi bukti atas kehendak, kekuasaan dan cinta Ilahi. Terlalu banyak orang yang menolak kenyataan ini. Mereka tidak mau percaya selain pada hukum alam. Padahal bukan saja hukum alam yang ada. Hukum alam sendiri diatur oleh hukum-hukum Tuhan yang jauh lebih luas lagi.
“Dengan perantaraan hukum-hukum itu Tuhan menolong hamba-hamba-Nya yang terpilih. Dengan perantaraannya Dia membinasakan musuh-musuh-Nya. Nabi Musa a.s. tidak mungkin unggul atas musuh keji yang gagah perkasa, melainkan dengan hukum-hukum Tuhan yang khusus ini. Nabi Muhammad saw. tak mungkin menang terhadap kaum Arab yang bertekad bulat untuk menghentikan usaha beliau dan amanat yang beliau bawa, kecuali dikarenakan Tuhan yang bekerja mendampingi beliau. Dalam segala sesuatu yang beliau hadapi, Allah Swt. menolong Rasulullah saw. Akhirnya dengan disertai 10.000 pengikut, beliau memasuki kembali lembah Mekkah, dari mana 10 tahun sebelumnya beliau terpaksa pergi untuk menyelamatkan diri. Hukum alam tidak cocok dengan peristiwa-peristiwa itu.

“Kami percaya pula, bahwa sesudah manusia mati ia akan dibangkitkan lagi dan amal perbuatannya akan diminta pertanggung-jawabannya”(Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad: Invitation to Ahmadiyyat, halaman 4-8).

Lebih lanjut Hadhrat Imam Mahdi a.s. menasehatkan :

JANGAN CEMAS AKAN KUTUK LAKNAT DUNIA

Jangan cemas akan kutuk laknat dunia, sebab kutuk laknat itu lama kelamaan akan lenyap sirna dengan sendirinya bagaikan asap menipis dan hilang di udara, mereka tidak dapat mengubah hari jadi malam. Apa yang kamu harus takuti adalah laknat Tuhan yang turun dari langit, laknat mana jika menimpa seseorang akan menjadikan dia binasa di alam ini, demikian pula di alam nanti. Kamu tidak dapat membela dirimu dengan sikapmu menonjol-nonjolkan diri sebab Allah Tuhanmu dapat melihat sampai ke dasar lubuk hati manusia. Bagaimanakah kamu dapat memperdayai Tuhan? Maka luruskanlah hatimu, bersihkanlah serta sucikanlah bathinmu dan berdirilah dengan teguhnya sebab apabila di dalam dirimu terdapat sekelumit saja kegelapan, maka akan dihalaunya cahaya nuranimu. Dan andaikan di suatu sudut relung dadamu ada terselip sifat keangkuhan, ria, cinta diri sendiri, atau kemalasan, kamu tidak dianggap sesuatu yang dapat diterima oleh Tuhan. Jangan-jangan, bahwa oleh karena beberapa hal yang kamu sangka karya kebaktianmu, kamu sebenarnya menipu dirimu sendiri karena beranggapan, bahwa segala apa yang seharusnya kamu kerjakan, telah kamu laksanakan. Sebab Tuhan menghendaki, bahwa di dalam wujudmu terjadi suatu revolusi yang dahsyat dan menyeluruh sifatnya.

DIA menuntut dari dirimu suatu maut, sesudah maut mana kamu akan diberinya kehidupan yang baru. Sudahilah pertentangan-pertentangan antara satu sama lain dengan aman dan damai, serta maafkanlah kesalahan saudaramu, sebab sungguh jahatlah dia yang tidak bersedia diajak berdamai oleh saudaranya. Ia akan diputuskan hubungannya, sebab ia telah mencoba menanam bibit perpecahan. Tinggalkanlah keinginan untuk menuruti hawa nafsu dan bersitegang antara satu sama lain. Walaupun seandainya kamu berada di fihak yang benar, bersikaplah merendahkan diri seakan-akan kamu bersalah, agar supaya kamu sendiri diperlakukan dengan pengampunan. Lepaskanlah segala sesuatu yang bakal menggemukkan hawa nafsumu, sebab pintu itu, di mana kamu akan lalu, tidak dapat dilalui orang yang gemuk oleh hawa nafsunya.

Alangkah malangnya orang itu yang tidak mempercayai apa-apa yang difirmankan Tuhan dan yang telah kusampaikan kepadamu. Sekiranya kamu mau agar Tuhan di langit ridha kepadamu, maka segeralah bersatupadu seakan-akan kamu satu kandung layaknya. Di antara kamu sekalian orang yang patut dihormati hanyalah dia yang suka mengampuni kesalahan saudaranya, dan malanglah dia yang bersikeras kepala, dan tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain, sebab ia bukan dari golonganku. Hendaknya kamu senantiasa takut akan laknat Allah, sebab Dia itu kudus, sangat besar ghairat-Nya dan istimewa di dalam kedudukan-Nya.

Setiap orang yang berkelakuan buruk tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya atau kedekatan-Nya. Setiap orang yang sombong tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya, begitu juga orang lalim, setiap orang yang tidak jujur dan setia, orang yang tidak punya ghairat akan nama-Nya.

Barangsiapa yang tergila-gila oleh keduniaan seperti halnya seekor anjing atau semut, atau burung elang tatkala melihat bangkai, dan mereka hanya mencari-cari kemewahan serta kesenangan di dunia semata-mata, mereka itu tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya. Setiap orang yang tidak bersih matanya, akan tetap renggang dari pada Dia; setiap orang yang hatinya tidak bersih tidak akan menyadari kehadiran Dia. Barangsiapa yang berada di dalam penderitaan, seakan-akan berada di dalam api, demi untuk kemuliaan-Nya, akan diselamatkan dari gejolak api penderitaan.

Barangsiapa yang menangis karena-Nya, akan dibuat-Nya ketawa gembira. Barangsiapa yang menyisihkan diri dari urusan-urusan dunia demi untuk-Nya akan menemukan Dia. Dengan kesungguhan hati dan dengan penuh ketulusan serta dengan langkah-langkah yang bersemangat; jadilah kamu sahabat Tuhan, agar supaya Tuhan-pun akan menjadi sahabatmu. Perlihatkanlah belas kasihan terhadap orang-orang bawahanmu, istri-istrimu dan saudara-saudaramu yang tidak berada agar supaya kamupun akan diterima di langit dengan perlakuan kasih sayang dari Tuhan. Hendaknya kamu dengan sungguh-sungguh dan benar-benar menjadi milik Tuhan, agar supaya Tuhan-pun menjadi punyamu. Dunia ini tempat yang penuh dengan seribu macam bala bencana, musibat dan percobaan – yang antara lain termasuk wabah penyakit pes (di India waktu itu sedang berkecamuk penyakit pes hebat, peny.); maka kamu hendaknya dengan segala ketulusan hati berpegang teguh pada tangan Allah, agar supaya Dia menjauhkan bala bencana itu dari pada kamu. Tak akan ada bencana timbul di atas permukaan bumi ini tanpa suatu perintah dari langit. Oleh karena itu akan bijaksanalah apabila kamu sebaiknya berpegang kuat-kuat kepada akar pohon dari pada kepada dahan dan rantingnya. Kamu tidak dilarang berobat atau menjalankan berbagai ikhtiar dan usaha, akan tetapi apa yang terlarang ialah menggantungkan kepercayaan sepenuhnya kepada hal-hal itu. Pada akhirnya adalah kehendak Allah juga yang akan terjadi, dan bagi dia yang memiliki kekuatan untuk berpegang teguh kepada sikap dan pendirian ini, kedudukan tawakkal adalah satu kedudukan yang sebaik-baiknya.

YANG MENDAPAT KEMULIAAN DI LANGIT

Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting yaitu bahwa kamu jangan hendaknya meninggalkan Al-Qur’an seperti sebuah buku yang telah dilupakan; sebab, di dalamnya terletak sumber kehidupanmu. Barangsiapa yang memuliakan Al-Qur’an akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa yang menjunjung tinggi Al-Qur’an di atas segala sabda-sabda yang lain akan dijunjung tinggi di langit. Bagi ummat manusia di atas permukaan bumi ini kini tidak ada kitab lain kecuali Al-Qur’an, dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul dan Juru-Syafaat kecuali Muhammad Mustafa saw. Maka berusahalah kamu sekalian untuk mendambakan kecintaan yang semurni-murninya bagi Nabi yang Agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun suatu tempat yang lebih tinggi dari pada beliau, agar supaya kamu digolongkan di antara orang-orang yang telah diselamatkan. Dan ingatlah baik-baik bahwa najat (keselamatan) bukanlah suatu hal yang kamu sekalian akan alami nanti di akhirat, melainkan sesunguhnya najat yang hakiki itu memperlihatkan cahayanya di dalam dunia ini juga. Siapakah yang beroleh najat itu? Ialah orang yang benar-benar yakin, bahwa Tuhan itu adalah suatu realita dan bahwa Muhammad saw. adalah Juru-Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh ummat manusia; bahwa di bawah langit ini tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan Al-Qur’an, bahwa Tuhan tidak menghendaki siapapun untuk hidup selamanya, akan tetapi bagi Nabi yang penuh dengan keberkatan itu Dia menghendaki demikian; bahwa untuk menghidupkan beliau selama-lamanya; Dia meletakkan dasar untuk menyalurkan hikmat dari Syariat dan keberkatan rohani terus hingga Hari Kiamat. Dan pada akhirnya, dari arus keberkatan rohaninya Dia mengirimkan kepada ummat manusia seorang Masih Mau’ud(juru selamat yang dijanjikan) ke dunia ini, yang kedatangannya sangat diperlukan guna menyempurnakan pembangunan gedung Islam. Barangsiapa yang bai’at kepadaku dengan sesungguh-sungguhnya dan menjadi pengikutku dengan hati yang setulus-tulusnya, dan juga membuat dirinya tenggelam di dalam ketaatan kepadaku hingga meninggalkan segala keinginan-keinginan pribadinya, ruhku akan memberikan syafaat pada hari-hari yang penuh derita bagi diri orang itu semata-mata.

SIAPA YANG DIAKUI SEBAGAI ANGGOTA JEMAAT IMAM MAHDI a.s.

Sesudah aku menerangkan hal-hal tersebut, aku sekali lagi mengatakan, bahwa janganlah kamu merasa puas karena kamu secara lahir telah bai’at. Bentuk lahir tidak berarti apa-apa. Tuhan melihat kepada hati kamu sekalian dan Dia akan menuntut kamu sesuai dengan keadaan hatimu. Perhatikanlah, dengan mengatakan kata-kata ini aku menunaikan kewajiban tabligh, bahwa dosa itu 0merupakan racun, maka janganlah termakan racun itu. Keingkaran kepada Tuhan adalah suatu kematian yang rucah, maka hindarilah. Berdo’alah agar kamu mendapatkan kekuatan. Barangsiapa yang tatkala ia memanjatkan do’a tidak disertai keyakinan, bahwa Tuhan berkuasa atas tiap sesuatu kecuali dimana Dia sendiri telah menjanjikan kebalikannya – adalah bukan golongan Jemaatku.

1. Barangsiapa yang mabuk dalam kecintaan kepada dunia ini dan sama sekali tidak mengarahkan pandangannya ke arah hari kemudian, ia bukanlah dari golongan Jemaatku

2. Barangsiapa yang sebenar-benarnya tidak mendahulukan agama dari pada perkara keduniawian ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

3. Barangsiapa yang sama sekali tidak meninggalkan tiap-tiap keburukan dan tiap-tiap perbuatan buruk seperti minum-minuman keras, berjudi, memandang dengan pandangan berahi, khianat, suap-menyuap dan setiap perbuatan yang tidak halal, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

4. Barangsiapa yang mendirikan sembahyang lima waktu dengan tidak tetap dan teratur, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

5. Barangsiapa yang tidak tetap dalam memanjatkan do’a dan mengenang Tuhan tidak dengan kerendahan hati, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

6. Barangsiapa yang tidak melepaskan persahabatan buruk yang memberi pengaruh buruk kepadanya, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

7. Barangsiapa yang tidak menghormati ayah bundanya dan tidak menaati mereka dalam segala perkara kebaikan dan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau tidak mengambil perhatian untuk mengkhidmati mereka sekhidmat-khidmatnya, ia adalah bukan dari golonganku.

8. Barangsiapa yang tidak berlaku halus dan kasih sayang terhadap istrinya dan sanak saudaranya, ia adalah bukan dari golongan Jemaatku.

9. Barangsiapa yang memahrumkan tetangganya dari kebaikan yang kecil-kecilpun, ia bukanlah golongan Jemaatku.

10. Barangsiapa yang tidak mau memaafkan kesalahan orang yang bersalah serta ia seorang pendengki, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

11. Seorang suami yang berkhianat terhadap istrinya, dan seorang istri yang berkhianat terhadap suaminya, mereka bukanlah dari golongan Jemaatku.

12. Barangsiapa yang memutuskan perjanjian yang dibuatnya tatkala bai’at dengan cara bagaimanapun, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

13. Barangsiapa yang tidak benar-benar yakin, bahwa aku Masih dan Mahdi yang dijanjikan, ia bukan dari Jemaatku.

14. Barangsiapa yang tidak bersiap sedia untuk menaati aku dalam segala perkara kebaikan, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

15. Barangsiapa yang duduk bercengkerama di tengah-tengah kumpulan orang-orang yang menentangku serta mengiakan apa yang dikatakan oleh mereka, ia bukanlah dari golongan Jemaatku.

16. Tiap-tiap orang tukang zina, fasik, peminum, pembunuh, pencuri, penjudi, pengkhianat, tukang korupsi, perampas, zalim, pendusta, pemalsu dan sebangsanya dan tukang melemparkan tuduhan-tuduhan pada saudara-saudara perempuannya, yang tidak menyesal akan perbuatan-perbuatan buruknya, yang tidak meninggalkan pergaulan yang buruk, ia bukanlah golongan Jemaatku.

17. Sekalian sifat itu adalah racun. Jika kamu memakan racun-racun itu, bagaimanakah jiwamu akan selamat? Cahaya dan kegelapan tak dapat berkumpul bersama-sama pada satu tempat. Barangsiapa yang berwatak serong dan tidak jujur dalam perhubungannya dengan Tuhan, niscayalah tidak akan mendapatkan berkat seperti yang diperoleh mereka yang berhati bersih.

TUHAN ADALAH TIANG UTAMA DARI SEGALA
RENCANA PEMBANGUNAN KITA

Jika kamu benar-benar kepunyaan Tuhan, maka berkeyakinanlah bahwa Tuhan itu kepunyaanmu sendiri. Di kala kamu sedang tidur, Dia akan berjaga-jaga. Tengah kamu berlalai-lalai dari musuhmu, Dia akan mengamat-amati musuhmu dan mematahkan siasat rencananya. Kalau kamu memaklumi, bahwa Tuhan akan mencukupi sebagian keinginanmu, mengapakah kamu demikian tenggelamnya dalam urusan duniawi? Sebagaimana seekor ular memakan tanah, mereka bergantung kepada upaya madiyah yang rendah sifatnya. Bagai seekor burung elang dan anjing memakan bangkai, mereka membenamkan rahang mereka ke dalam bangkai yang busuk. Mereka jauh melantur dari Tuhan, menyembah manusia-manusia, memakan daging babi dan meminum minuman-minuman keras laksana minum air. Karena mereka terlampau mengandalkan kepada daya upaya materi, dan tidak meminta tenaga kekuatan dari Tuhan, mereka itu jadi mati dan jiwa-rohaniyat telah lepas dari mereka seperti seekor burung dara terbang meninggalkan sarangnya. Hatinya ditulari oleh penyakit kusta, penyakit memuja-muja urusan duniawi, yang telah menggerogoti anggota-anggota tubuh batiniyahnya.

Oleh karena itu takutilah penyakit kusta semacam itu. Aku tidak melarang kamu untuk menyukai upaya-upaya kebendaan dengan memperhatikan had dan batasnya: a p a yang kucegah ialah kamu jangan hendaknya menuruti kelakuan kaum lain yang menjadi budak upaya kebendaan atau usaha-usaha lahir itu semata-mata, lalu melupakan Tuhan, yang juga mengatur segala upaya-upaya kebendaan. Jika kamu sungguh punya mata, niscaya akan nampak kepadamu Tuhan dan hanya Tuhan belaka – segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak berharga sama sekali. Kamu tidak dapat merentangkan tanganmu begitu pula melipatkannya tanpa seizin Tuhan.(Dipetik dari buku Ajaranku, halaman 16 sampai 40).

PUSAT PERIBADATAN ADALAH KESUCIAN KALBU

Pusat segala kegiatan dan peribadatan manusia ialah kalbu. Bila seorang melakukan peribadatan atau sembahyang, tetapi ia sendiri tidak sungguh-sungguh mengingat kepada Allah Swt., maka peribadatan demikian adalah sia-sia belaka. Sudah sewajarnya bahwa kalbu orang yang beribadat itu benar-benar condong kepada Allah. Wajib diketahui, bahwa pada masa ini didapati ribuan mesjid-mesjid, tetapi apa yang dilakukan di dalamnya itu adalah hanya merupakan upacara menurut adat peribadatan. Adat demikian adalah benar-benar sama dengan yang dilakukan orang-orang Yahudi pada waktu Rasulullah saw. diutus di dunia ini. Mereka itu melakukan peribadatan sesuai upacara menurut adat kebiasaan agama, tetapi kalbu mereka itu sama sekali kosong dari peribadatan. Itulah sebabnya kutukan Tuhan telah menimpa mereka. Kesegaran dan pertumbuhan taman peribadatan tergantung dari kesucian kalbu. Itulah sebabnya Allah Taala berfirman :
“Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa”
Orang yang memperoleh sukses adalah hanya orang yang membersihkan kalbunya, dan siapa yang tidak berbuat demikian dan hanya mengejar dorongan hawa nafsunya, maka orang itu tidak memperoleh maksud hidupnya yang sebenarnya.(Malfuzat, jilid VII, halaman 289).

PATUNG-PATUNG YANG TERSEMBUNYI

Untuk memperoleh keridhaan-Nya
Segala sesuatu
Yang engkau pikirkan
Setiap ingatan yang dipelupukmu
Selain dari Tuhanmu
Adalah patung yang kamu puja
Hai bangsa yang lemah imannya
Waspadalah terhadap patung-patung yang tersembunyi
Peliharalah kalbumu
Dan jadilah senantiasa
Jauh dari wilayah pengaruhnya
(Syair Masih Mau’ud a.s. dalam Barahin Ahmadiyah, jilid II).

ISLAM AKAN BANGKIT KEMBALI

Allah Swt. mewahyukan kepada Imam Mahdi a.s.: “Bangkitlah! Waktu yang ditetapkan untukmu telah tiba, dan sekarang pengikut-pengikut Muhammad tidak lama lagi akan menduduki menara yang paling tinggi, lebih kuat panjangan kakinya dari waktu-waktu yang lalu”(Victory of Islam, halaman 30).

TIDAK ADA KEKUATAN YANG DAPAT MENOLAK KARUNIA TUHAN

Pada malam tanggal 9 Oktober 1883, aku melihat suatu mimpi yang menakjubkan. Sejumlah orang yang sebelumnya ini tidak kukenal sedang menulis dengan warna kuning ayat-ayat suci di bagian atas pintu mesjid. Dijelaskan pada perasaanku bahwa mereka itu adalah malaikat-malaikat dan warna kuning itu adalah milik mereka sendiri. Nampaknya mereka terus-menerus menulis ayat-ayat, sedang aku mulai membacanya. Salah satu ayat-ayat suci yang masih segar dalam ingatanku, ialah ayat “La raadda lifadhlihi” yang maksudnya: “Seorangpun atau sesuatu kekuatan apa pun tidak dapat menahan atau menolak fadhal atau karunia Tuhan”. Tidak seorangpun dapat merobohkan bangunan yang sedang Dia bangun itu. Dan siapa-siapa yang akan Dia muliakan, seorangpun tidak dapat menghinakannya (Tazkirah, halaman 114).

Sumberr:
Buku Kami Orang Islam

26
Okt
09

17 Dalil Kenabiyan Masih Terbuka

A Nizami berkata : “

Saya lihat terjemah Qur’an Suryawan (orang Ahmadiyyah) benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur’an terjemah Departemen Agama mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.

Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2. Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori, Muslim, dsb, menegaskan hal itu.

Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma “Cincin Nabi2.” Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bias memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan Nabi…:)

Terjemah Ahmadiyah:

QS. (44:6-7) Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:

“sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”.

Terjemah Islam:
“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

Terjemah Islam:

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi merek Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(7:36) Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Terjemah Islam:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. “

Semua ayat2 Al Qur’an yang dikemukakan oleh Suryawan, orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan Al Qur’an yang umum dari Departemen agama mau pun dari Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur’an Ahmadiyah memang betul2 berbeda dengan Al Qur’an ummat Islam?

Jadi apa yang mau didiskusikan?

Alhamdulillah Al Qur’an dituliskan dalam bahasa Arab yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.

Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al Qur’an serta hadits2 seperti “Shahih Bukhori”, “Shahih Muslim”, dsb.

“ma_suryawan”

, A Nizami

Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda dari Abul Ala Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.

1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak Salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu “khaatam” – bukan “khatam” (kh-t-m). Kata “khaataman-nabiyyiin” sudah sering dijelaskan. “Khaataman-nabiyyiin berarti “cincin para nabi” atau “meterai para nabi” atau “seal of the prophets”, dan “khaataman- nabiyyiin” bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam Al-Qur’an Karim banyak didapat penjelasan dapat datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw, beberapa diantaranya sbb:

QS.(44:6-7) - Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul-Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama- lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

QS.(22:76) - “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”. Perkataan “yashthafii” (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi’il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih Rasul-Rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

QS.(3:180) - Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

QS.(7:36) - Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat “khaataman nabiyyiin” sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya nabi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw – maka akan bertentangan/bertabrakan dengan ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat datangnya kenabian setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan: Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya

QS.(4:82). Jadi, arti harfiah/letterlijk “khaataman-nabiyyiin” adalah: meterai para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki “khaataman-nabiyyiin” adalah: menunjukkan suatu rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain adalah: nabi yang tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi. Sebab: kata “khaataman-nabiyyiin” adalah ism tunggal (i.e. “khaatam”) yang direndeng dengan ism jamak (i.e. “nabiyyiin”) – maka mengandung arti martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
Sesungguhnya “khaataman-nabiyyiin” adalah: yang termulia/tersempurna/terunggul diantara para nabi atau meterai para nabi atau cincin (perhiasan) para nabi, dst. Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini: Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Hz. Maria Qibtiyah ra) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar”. (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).

Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, Sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” turun pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat “khaataman- nabiyyiin”. Jika seandainya ayat “khaataman-nabiyyiin” kemudian diartikan sebagai “penutup/kesudahan/penghabisan/akhir” nabi-nabi yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah beliau saw, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu, dan beliau-lah yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau saw tidak mengungkapkan pengertian “khaatam” sebagai penutup atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun juga setelah beliau saw – seperti yg biasa diucapkan kyai2/mullah2/ulama2 Islam mainstream.

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi” Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “saya adalah penutup nabi-nabi”. Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang menjadi sebuah “batu terakhir” itu adalah Nabi Muhammad saw, maka itu adalah merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya “sekedar batu bata terakhir” saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun. Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau saw adalah nabi yang terakhir membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan Kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: ” Anal ‘aaqibu wal ‘aqibul-ladziy laisa ba’di hu nabiyyun” maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw. Nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam tidak dapat datang lagi. Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al- Qari berkata: “Lahirnya ungkapan itu (‘Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian. Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa ‘aqib ialah orangyang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.

Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka sudah mengerti apa arti “aqib” yang sebenarnya, sehingga para sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah ra melarang orang untuk mengatakan “laa nabiya ba’dahu” (Tidak ada nabi sesudahnya).

4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong yang akan mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan mendakwakan diri sbg nabi adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan mengatakan bahwa tiap- tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi semuanya adalah pembohong/pendusta.

Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul Ikmal, Jilid VI, hal 258, dikatakan: “Kebenaran Hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah tercapai jumlah tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari riwayat (tarikh)”. – Penulis buku tsb wafat pada tahun 828 Hijriah.

Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang Mendakwakan dirinya jadi nabi.

Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw dengan “laa nabiyya ba’di” adalah tidak akan ada lagi nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam.

5. Khutbah terakhir Rasulullah ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Qur’an dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan ini cuma karangan Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.

6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan dating sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim maupun Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari’at baru dan setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh para khalifah rasulullah. Lihat kata “sayakunu khulafa” (akan ada khalifah-khalifah) menunjukkan maksud “dibelakang” atau “kemudian aku” itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau saw wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.

Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: “Akan terjadi nubuat kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt, kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri”.(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).

Juga dalam shahih Bukhari: “kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum wa imamukum minkum” – Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] – bahwa Isa ibn Maryam yg akan datang berasal dari umat Islam.

7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “aku seperti batu yang hilang itu” artinya beliau yg membawa dan menyempurnakan Syari’at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi terakhir yang membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah Syari’at yang sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz. Muhammad saw.

9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).Idem. Lihat diatas ttg maksud “laa nabiyya ba’di”.

10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang dating sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau berkata: “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w.. Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang dating sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku’”. (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)

Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at’” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)

Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau”. (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)

Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata: “Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari’at untuk manusia”. (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .

Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.”. (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi saw: “laa nabiya ba’diy” (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam.

11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam Masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi Dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal). Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa dajjal akan dibunuh oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam.

Jadi jelas bahwa akan ada kenabian tanpa Syari’at setelah Hz. Rasulullah saw.

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya Mendengar Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu Hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung Dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah Beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin `Amr ibn-`As).Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan para ulama SALAF di no. 10.

13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci). Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir: “Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci” – adalah bukan bagian dari Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi, Seorang kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit Ahmadiyah. Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti Nizami dkk) kok berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun lagi? Apakah manusia dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah Ta’ala bersifat Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb akan tetap bekerja untuk selama-lamanya Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang juga menerima wahyu dari Allah Ta’ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn Arabi rh (Bapak kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi rh, Syekh Abdul Qadir Jaelani rh dll.

14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab”. Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib). Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz. Umar ra tidak diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus. Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian. Kenapa Nabi saw tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr seorang shiddiq, lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid? Rahasianya adalah Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw mempunyai bakat hokum undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya, termasuk Abu Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz. Rasulullah saw, dan akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz. Umar tsb. Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan datang nabi yang akan membawa Syari’at (hukum/undang-undang).

15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba). Perkataan “laa nabiyya ba’diy” jelas khusus untuk Hz. Ali ra dan tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan penegasannya atas Hadits itu dalam Hadits lain sbb: “Berkata ia (Rasulullah saw), “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun disamping Musa, tetapi bedanya engkau bukan nabi” (Thabaqat Kabir, Jilid V, hal. 15).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
Berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya Hz. Rasulullah saw saja yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Ta’ala, orang yang bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu (komunikasi) dengan Allah Ta’ala. Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti Nizami dkk yg mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi setelah Nabi Muhammad saw telah dibantah oleh Hadits ini.

17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan dating sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani) Jawab : Pengertian “laa nabiyya ba’di” telah dijelaskan dengan komprehensif diatas.

Salam,
M. A. Suryawan

Bacalah artikel tentang Islam di:

http://www.nizami.org




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.