Arsip untuk November 5th, 2009

05
Nov
09

Anggota JAI Babel Belum Ada yang Meninggalkan Ajarannya

PANGKALPINANG–Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), belum ada yang meninggalkan ajaran mereka dan keluar dari keanggotaan JAI, meski ada himbauan dari berbagai pihak agar mereka kembali ke syariat Islam yang benar.

“Sekitar 150-an jemaat masih tetap menjadi anggota JAI yang kami pimpin. Posisi Ahmadiyah juga tetap sebagai Ahmadiyah dengan semua ajaran yang kami yakini,” ujar mubaligh Ahmadiyah Bangka Belitung, Jamaluddin Feeli, di Pangkalpinang, Minggu.

Ia mempersilahkan bila ada yang mau keluar dari JAI, namun bagi pengurus Ahmadiyah, bila seseorang sudah enam bulan tidak membayar iuran anggota tanpa sebab yang jelas, tidak lagi diakui sebagai kelompok Ahmadiyah.

Setiap anggota Ahmadiyah didasarkan peraturan harus membayar iuran sebanyak 1/16 penghasilan mereka setiap bulan untuk berbagai kegiatan dan termasuk pendirian rumah ibadah.

Dari jumlah anggota sebanyak 150-an orang itu, hanya 30 persen saja yang membayar iuran anggota. Anggota lain karena keterbatasan pengurus untuk menjemput iuran terkait dengan lokasinya yang jauh bisa membayarkan enam bulan sekali atau lebih.

“Saat menagih iuran kami juga menanyakan secara langsung kepada jemaat, apakah mereka tetap sebagai anggota JAI supaya statusnya jelas dan mereka pada umumnya menjawab masih setia kepada JAI,” ujar Jamal yang mengenal Ahmadiyah ketika merantau ke Malaysia, negara yang kini melarang ajaran itu.

Anggota Ahmadiyah hidup terpencar-pencar dan bertetangga dengan kaum muslimin lainnya. Sebelumnya, menurut mubaligh yang mengaku lima tahun mendalami ajaran Ahmadiyah di Porong Jabar hingga diangkat sebagai pimpinan di Babel itu, anggotanya sempat hidup berkelompok, namun sejak harga komoditas perkebunan mereka anjlok sekarang sebagian pindah ke daerah lain.

Ia mempersilahkan bila ada anggotanya yang keluar dari JAI dan kenyataannya kalaupun ada yang keluar hanya dialami anggota yang ikut-ikutan atau tidak lagi membayar iuran anggota.

Jamaluddin menolak adanya klaim bahwa Ahmadiyah sebagai ajaran sesat, begitu juga menolak tuduhan pembusukan, melemahkan dan memecah belah umat Islam dari dalam.

Selain itu, Jamaluddin juga menyesalkan pelarangan ajaran Ahmadiyah yang berpusat di Inggris oleh negara tempat lahirnya Ahmadiyah yaitu di Pakistan dan beebrapa negara lain seperti Malaysia, Indonesia termasuk oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan MUI.

Dalam pandangan Jamaluddin, Ahmadiyah ikut memperkuat syiar Islam. Ahmadiyah juga terlibat dalam beberapa kegiatan kemanusiaan. antara/pur

Sumber: http://epaper.republika.co.id/berita/751/Anggota_JAI_Babel_Belum_Ada_yang_Meninggalkan_Ajarannya

05
Nov
09

17 Dalil Kenabiyan Masih Terbuka

A Nizami berkata : “

Saya lihat terjemah Qur’an Suryawan (orang Ahmadiyyah) benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur’an terjemah Departemen Agama mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.

Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2. Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori, Muslim, dsb, menegaskan hal itu.

Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma “Cincin Nabi2.” Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bias memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan Nabi…:)

Terjemah Ahmadiyah:

QS. (44:6-7) Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:

“sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”.

Terjemah Islam:
“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

Terjemah Islam:

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi merek Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(7:36) Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Terjemah Islam:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. “

Semua ayat2 Al Qur’an yang dikemukakan oleh Suryawan, orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan Al Qur’an yang umum dari Departemen agama mau pun dari Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur’an Ahmadiyah memang betul2 berbeda dengan Al Qur’an ummat Islam?

Jadi apa yang mau didiskusikan?

Alhamdulillah Al Qur’an dituliskan dalam bahasa Arab yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.

Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al Qur’an serta hadits2 seperti “Shahih Bukhori”, “Shahih Muslim”, dsb.

“ma_suryawan”

, A Nizami

Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda dari Abul Ala Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.

1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak Salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu “khaatam” – bukan “khatam” (kh-t-m). Kata “khaataman-nabiyyiin” sudah sering dijelaskan. “Khaataman-nabiyyiin berarti “cincin para nabi” atau “meterai para nabi” atau “seal of the prophets”, dan “khaataman- nabiyyiin” bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam Al-Qur’an Karim banyak didapat penjelasan dapat datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw, beberapa diantaranya sbb:

QS.(44:6-7) – Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul-Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama- lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”. Perkataan “yashthafii” (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi’il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih Rasul-Rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

QS.(7:36) – Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat “khaataman nabiyyiin” sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya nabi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw – maka akan bertentangan/bertabrakan dengan ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat datangnya kenabian setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan: Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya

QS.(4:82). Jadi, arti harfiah/letterlijk “khaataman-nabiyyiin” adalah: meterai para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki “khaataman-nabiyyiin” adalah: menunjukkan suatu rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain adalah: nabi yang tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi. Sebab: kata “khaataman-nabiyyiin” adalah ism tunggal (i.e. “khaatam”) yang direndeng dengan ism jamak (i.e. “nabiyyiin”) – maka mengandung arti martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
Sesungguhnya “khaataman-nabiyyiin” adalah: yang termulia/tersempurna/terunggul diantara para nabi atau meterai para nabi atau cincin (perhiasan) para nabi, dst. Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini: Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Hz. Maria Qibtiyah ra) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar”. (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).

Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, Sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” turun pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat “khaataman- nabiyyiin”. Jika seandainya ayat “khaataman-nabiyyiin” kemudian diartikan sebagai “penutup/kesudahan/penghabisan/akhir” nabi-nabi yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah beliau saw, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu, dan beliau-lah yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau saw tidak mengungkapkan pengertian “khaatam” sebagai penutup atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun juga setelah beliau saw – seperti yg biasa diucapkan kyai2/mullah2/ulama2 Islam mainstream.

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi” Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “saya adalah penutup nabi-nabi”. Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang menjadi sebuah “batu terakhir” itu adalah Nabi Muhammad saw, maka itu adalah merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya “sekedar batu bata terakhir” saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun. Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau saw adalah nabi yang terakhir membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan Kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: ” Anal ‘aaqibu wal ‘aqibul-ladziy laisa ba’di hu nabiyyun” maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw. Nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam tidak dapat datang lagi. Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al- Qari berkata: “Lahirnya ungkapan itu (‘Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian. Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa ‘aqib ialah orangyang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.

Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka sudah mengerti apa arti “aqib” yang sebenarnya, sehingga para sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah ra melarang orang untuk mengatakan “laa nabiya ba’dahu” (Tidak ada nabi sesudahnya).

4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong yang akan mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan mendakwakan diri sbg nabi adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan mengatakan bahwa tiap- tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi semuanya adalah pembohong/pendusta.

Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul Ikmal, Jilid VI, hal 258, dikatakan: “Kebenaran Hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah tercapai jumlah tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari riwayat (tarikh)”. – Penulis buku tsb wafat pada tahun 828 Hijriah.

Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang Mendakwakan dirinya jadi nabi.

Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw dengan “laa nabiyya ba’di” adalah tidak akan ada lagi nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam.

5. Khutbah terakhir Rasulullah ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Qur’an dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan ini cuma karangan Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.

6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan dating sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim maupun Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari’at baru dan setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh para khalifah rasulullah. Lihat kata “sayakunu khulafa” (akan ada khalifah-khalifah) menunjukkan maksud “dibelakang” atau “kemudian aku” itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau saw wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.

Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: “Akan terjadi nubuat kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt, kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri”.(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).

Juga dalam shahih Bukhari: “kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum wa imamukum minkum” – Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] – bahwa Isa ibn Maryam yg akan datang berasal dari umat Islam.

7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “aku seperti batu yang hilang itu” artinya beliau yg membawa dan menyempurnakan Syari’at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi terakhir yang membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah Syari’at yang sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz. Muhammad saw.

9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).Idem. Lihat diatas ttg maksud “laa nabiyya ba’di”.

10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang dating sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau berkata: “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w.. Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang dating sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku’”. (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)

Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at’” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)

Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau”. (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)

Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata: “Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari’at untuk manusia”. (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .

Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.”. (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi saw: “laa nabiya ba’diy” (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam.

11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam Masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi Dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal). Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa dajjal akan dibunuh oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam.

Jadi jelas bahwa akan ada kenabian tanpa Syari’at setelah Hz. Rasulullah saw.

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya Mendengar Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu Hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung Dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah Beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin `Amr ibn-`As).Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan para ulama SALAF di no. 10.

13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci). Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir: “Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci” – adalah bukan bagian dari Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi, Seorang kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit Ahmadiyah. Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti Nizami dkk) kok berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun lagi? Apakah manusia dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah Ta’ala bersifat Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb akan tetap bekerja untuk selama-lamanya Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang juga menerima wahyu dari Allah Ta’ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn Arabi rh (Bapak kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi rh, Syekh Abdul Qadir Jaelani rh dll.

14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab”. Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib). Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz. Umar ra tidak diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus. Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian. Kenapa Nabi saw tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr seorang shiddiq, lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid? Rahasianya adalah Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw mempunyai bakat hokum undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya, termasuk Abu Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz. Rasulullah saw, dan akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz. Umar tsb. Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan datang nabi yang akan membawa Syari’at (hukum/undang-undang).

15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba). Perkataan “laa nabiyya ba’diy” jelas khusus untuk Hz. Ali ra dan tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan penegasannya atas Hadits itu dalam Hadits lain sbb: “Berkata ia (Rasulullah saw), “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun disamping Musa, tetapi bedanya engkau bukan nabi” (Thabaqat Kabir, Jilid V, hal. 15).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
Berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya Hz. Rasulullah saw saja yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Ta’ala, orang yang bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu (komunikasi) dengan Allah Ta’ala. Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti Nizami dkk yg mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi setelah Nabi Muhammad saw telah dibantah oleh Hadits ini.

17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan dating sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani) Jawab : Pengertian “laa nabiyya ba’di” telah dijelaskan dengan komprehensif diatas.

Salam,
M. A. Suryawan

Bacalah artikel tentang Islam di:

http://www.nizami.org

05
Nov
09

JANJI-JANJI ALLAH TAALA KEPADA PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

Berikut ini kami turunkan beberapa wahyu yang merupakan janji-janji AllahTaala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah:

Pada tahun 1882. Imam Mahdi a.s. menerima wahyu dari Allah swt. yang berbunyi:

يَأْتِيْكَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ وَيَأْتُوْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ.

Artinya:
“Orang-orang dari tempat yang jauh-jauh akan datang kepada engkau” (Tazkirah, halaman 49).

Ketika untuk pertama kalinya mengumumkan pendakwaannya, beliau masih seorang diri, tidak mempunyai teman. Adapun tempat beliau, Qadian, adalah sebuah kampung kecil. Tidak memiliki fasilitas modern dalam bentuk kantor pos, kantor telegrap atau stasiun kereta api dan lain-lain.. Keadaan sekitar tidak menarik parawisata. Di kampung yang sekecil itu pun, kebanyakan orang tidak mengenal kepada beliau. Di dalam keadaan demikian, beliau menerima wahyu tersebut diatas. Maka bagaimanakah kemudian kenyataannya?

Kini, ratusan ribu orang telah menjadi saksi atas kebenaran wahyu ini. Tahun demi tahun banyak orang yang datang ke sana, baik dari dalam negeri India/Pakistan, mapun dari benua-benua lainnya, hanya semata-mata untuk mencari ilmu kerohanian yang dikaruniakan oleh Allah Taala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Untuk mudahnya mengenal hal ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung pertemuan tahunan yang diselenggarakan di Pusat Jemaat (di samping pengunjung yang datang di setiap waktu). Pertemuan tahunan yang pertama diadakan pada tahun 1891, dengan jumlah pengunjung 75 orang. Waktu berjalan terus, dan pengunjung pun terus bertambah dan pada pertemuan tahunan (jalsah) akhir Desember 1979 yang lalu di Rabwah, Pakistan, pengunjung mencapai jumlah 175.000 orang yang datang dari berbagai benua: Afrika, Amerika, Eropa dan Asia sendiri termasuk Indonesia. Jadi selama 88 tahun mencapai kemajuan lebih dari 2000 kali lipat. Demikianlah janji Allah ini kini telah sempurna dengan seterang-terangnya.

Wahyu:
“Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh penjuru dunia” (Tazkirah).
Di kala beliau menerima wahyu ini, masih dalam keadaan seperti di atas. Di kala beliau mengumumkan pendakwaannya sebagai Imam Mahdi a.s. dan Almasih yang dijanjikan, spontan ditentang sekeras-kerasnya oleh para ulama dan pengikutnya pada waktu itu. Perlawanan dan pemagaran begitu hebat dan ketatnya, sehingga sampai ke dinding-dinding rumah beliau. Ditilik dari keadaan lahiriyah, mustahil bisa bertahan, apalagi harus meluas ke seluruh pelosok dunia. Akan tetapi bagaimanakah keadaannya sekarang? Dunia menjadi saksi atas kebenaran wahyu ini, bahwa tiada benua atau tempat yang penting di dunia ini, yang tidak didatangi oleh muballigh-muballigh Jemaat Ahmadiyah.

Wahyu :
“Seorang pemberi-ingat telah datang ke dunia, akan tetapi dunia tidak menerimanya. Tetapi Tuhan sendiri yang akan menerimanya, dan menegakkan kebenarannya dengan serangan-serangan yang hebat”(Barahin Ahmadiyah /Tazkirah).

Wahyu ini berisikan khabar ghaib, bahwa kedatangan beliau akan ditentang, tetapi Allah swt. dengan kudrat-Nya akan menegakkannya. Dan sebagai akibat dari penentangan ini, di dunia ini akan timbul kejadian-kejadian yang hebat, seperti peperangan, gempa bumi, penyakit dan lain-lain. Wahyu tersebut ditunjang oleh wahyu-wahyu lainnya, yang mengisyaratkan akan timbulnya peperangan, antara lain berbunyi :
“Akan datang racun dan tentara dari langit”.
“Asap akan datang dari langit”. (Tazkirah).

Wahyu tersebut mengisyaratkan akan terjadinya peperangan yang hebat yang menggunakan sarana-sarana seperti bom-bom, bom racun, bom atom, dan tentara yang diturunkan dari kapal terbang yang belum terjadi pada saat-saat sebelumnya.

Sehubungan dengan wahyu tersebut sebagai peringatan kepada dunia, dalam Tazkirah halaman 491, beliau menyatakan sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang lalai, dari langit akan turun api, dan untuknya tidak ada obatnya yang lain kecuali menangis di hadapan Allah. Karena Allah swt. telah berfirman kepadaku, bahwa gada-Nya itu hampir sampai ke bumi”.

Khusus mengenai Tsar (Kaisar Rusia), beliau menulis :
“Sebagai akibat peperangan ini, akan terasa berbagai-bagai kesusahan di muka bumi. Sedang Kaisar Rusia akan menderita kesusahan yang lebih dahsyat lagi”.

Wahyu tersebut diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1905, dan Perang Dunia I terjadi pada tahun 1914 – 1918. Tsar jatuh pada Perang Dunia tersebut dengan sangat menyedihkan, tepatnya dalam revolusi Oktober 1917.

Wahyu :
“Hai Masih, mendo’alah untuk penyakit-penyakit yang menular dan yang telah mulai mengamuk”(Sirajul Munir, 1897).

Ketika turunnya wahyu ini, di Bombay, yang tadinya pernah berjangkit penyakit pes, keadaannya mulai normal. Penduduk Bombay sudah merasa senang, karena dengan usaha para dokter, penyakit pes lenyap sama sekali. Pada waktu itulah beliau mengumumkan wahyu tersebut, semata-mata di dorong oleh rasa cinta beliau kepada ummat manusia, agar dapat berjaga-jaga.

Tepat 6 Februari 1898, beliau menulis sebagai berikut :
“Saya melihat malaikat-malaikat sedang menanam pohon yang hitam warnanya dan rupanya sangat buruk lagi pendek-pendek. Pohon-pohon itu sudah ditanam di daerah Punjab dan lain-lain tempat di Hindustan. Kemudian saya menanyakan pohon apakah yang ditanam itu? Mereka menjawab, bahwa pohon-pohon itu adalah bibit penyakit pes”(Kisti Nuh).

Tak lama kemudian, maka benar-benar timbul penyakit pes itu dengan hebatnya, sehingga beribu-ribu orang mati karenanya.

Mengenai wabah pes ini, beliau menerima wahyu, bahwa beliau beserta orang-orang yang berada di dalam rumah beliau (Jemaat beliau) akan dipelihara dari wabah pes ini. Wahyu tersebut berbunyi:
“Allah akan memelihara engkau beserta orang-orang yang berada di dalam rumahmu” (Kisti Nuh).

Orang-orang yang berada di dalam lingkungan Jemaat beliau kemudian ternyata secara mengagumkan terpelihara dari wabah ini. Mengenai ikhtisar penjagaan yang dilakukan oleh pemerintah dengan melakukan penyuntikan umum beliau menulis demikian :

“Patut bersyukur, karena rasa kasihan kepada rakyat, dalam rangka membasmi wabah pes, pemerintah Inggris telah mengadakan gerakan untuk kedua kalinya. Dan demi kesejahteraan ummat Tuhan, pemerintah telah memikul biaya ratusan ribu rupee. Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tiada suatu rintangan samawi,maka kamilah yang pertama-tama di antara semua warga yang akan minta disuntik. Rintangan samawi itu ialah, bahwa Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan kepada manusia suatu tanda kasih sayang dari langit di zaman ini. Oleh karena itu Dia berfirman kepadaku, bahwa Dia akan menyelamatkan daku dari wabah pes ini beserta semua orang yang tinggal di dalam tembok rumahku – yaitu yang memfanakan diri secara sempurna serta ketaqwaannya yang setulus-tulusnya. Dan ini akan menjadi tanda Ilahi di zaman mutakhir ini, dengan mana Dia memperlihatkan perbedaan di antara satu kaum dengan kaum yang lain. Akan tetapi yang tidak mematuhi secara sempurna, mereka itu bukan dari padaku, maka tidak usah dihiraukan, demikian perintah Tuhan”(Kisti Nuh).
“Oleh karenanya bagi diriku dan semua orang yang tinggal di dalam dinding rumahku tidak perlu disuntik…”.

Peristiwa itu menjadikan banyak orang menggabungkan diri kepada Jemaat Ahmadiyah.

Adapun mengenai gempa, antara lain beliau menerima wahyu yang berbunyi: “Zalzalah ka dhaka” (Urdu) yang artinya ialah berbunyi: “Gempa bumi akan datang yang akan memusnahkan rumah-rumah yang tetap dan rumah-rumah yang dibikin untuk tinggal sementara”.

Di daerah Kangra, Punjab, India, ada sebuah pegunungan yang di atasnya banyak sekali didirikan rumah, villa, dan mandar-mandar(tempat persembahan orang Hindu), Maka pada tanggal 4 April 1905 sempurnalah wahyu itu, dan karena gempa itu melanda ratusan kilometer, maka semua rumah, villa dan mandar yang ada di atas pegunungan itu hancur sama sekali, dan menelan korban jiwa lebih dari dua puluh ribu orang.

Ada lagi suatu khabar ghaib mengenai seseorang sebagai tanda bagi bangsa India, khususnya bagi yang beragama Hindu. Pada zaman Pendiri Jemaat Ahmadiyah, di India ada suatu golongan dari agama Hindu, yang namanya Arya Samaj, yang telah berdiri lebih kurang 50 tahun. Golongan tersebut sangat aktip dalam menarik orang-orang Islam ke dalam agama Hindu, karena mereka melihat pemeluk agama Islam telah rusak dan tidak berpengaruh lagi. Cara mereka itu ialah dengan jalan menghamburkan fitnah, perkataan kotor (caci maki) terhadap Islam dan Rasul Suci Mhammad saw.

Di antara pemimpin mereka ada seorang yang masyhur bernama Lekh Ram. Ia sangat lancang memfitnah Islam dan Rasulullah saw. dan Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Ia juga selalu menantang siapa pun di antara orang Islam yang dapat menunjukkan sebuah tanda dan mukjizat tentang kebenaran Islam yang harus disiarkan lebih dahulu di kalangan manusia umumnya. Sehubungan dengan itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memohon khabar kepada Allah swt mengenai apa yang akan terjadi atas diri Lekh Ram itu.

Bulan Februari 1893, beliau menerima wahyu dalam bahasa Arab yang artinya: “Anak sapi yang bersuara yang akan menderita siksa”. Kemudian beliau menjelaskan dalam tulisannya, bahwa Allah swt. telah memberi khabar kepada beliau, bahwa Lekh Ram dalam tempo 6 tahun sejak saat itu, akan menerima azab yang hebat sehingga ia akan binasa. Dan jika dalam tempo 6 tahun itu ternyata Lekh Ram tidak binasa, maka katakanlah bahwa beliau itu pendusta.Kemudian khabar ghaib itu disiarkan dalam beberapa surat khabar di India.

Pada tanggal 2 April 1893, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1310 H, beliau melihat dalam kasyaf, seorang yang nampaknya bermuka ganas berkata kepada beliau a.s. dan menanyakan tentang Lekh Ram. Sambil memberi isyarat bahwa ia adalah malaikat, yang diperintahkan untuk membinasakan Lekh Ram. Khabar ghaib tersebut sempurna pada tanggal 6 Maret 1897, sehari sesudah Idul Fitri. Ketika Lekh Ram berada di tingkat atas di sebuah rumah dengan mendapat pengawalan yang ketat di tingkat bawah,dan ditemani oleh seorang laki-laki yang bermaksud masuk agama Hindu. Di kala ia sedang duduk dengan santainya, kemudian menggeliat tiba-tiba orang tersebut menghunjamkan pisau ke arah perutnya sehingga ususnya berhamburan keluar. Lekh Ram menjerit dan tidak lama kemudian mati di rumah sakit sedang pembunuhnya menghilang secara misterius.

Suatu kejadian yang demikian telah terjadi pula di Amerika, semata-mata suatu mu’jizat bagi benua itu pada umumnya dan bagi ummat Kristen khususnya. Pada tahun 1888, seorang termasyhur bernama Dr. John Alexander Dowie, pindah dari Skotlandia ke Amerika. Ia banyak memberikan khotbah-khotbah agama sehingga pengaruhnya menanjak melebihi pendeta-pendeta Kristen yang lain. Terutama di kala ia mendakwakan diri sebagai Elia, untuk membersihkan jalan, guna kedatangan Almasih yang kedua kalinya, di kala itu pengikutnya bertambah banyak. Kemudian ia membeli tanah dan mendirikan sebuah kota bernama Zion. Bahkan selanjutnya ia mengatakan bahwa Almasih akan turun di kota Zion itu. Dowie sangat memusuhi Islam. Pada tahun1902 ia menyiarkan surat selebaran, yang menerangkan bahwa tiap-tiap orang Islam yang tidak mau mengikut agama Kristen akan dibinasakan.

Setelah khabar ini sampai kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah, maka segera beliau menyiarkan surat-surat selebaran yang isinya menerangkan kebagusan Islam, kemudian menantang Dowie. Dalam tantangan itu beliau menulis :

“Apa perlunya membinasakan berjuta-juta orang Islam. Sayalah seorang yang datang dari Tuhan (Allah swt.). Dan sayalah Almasih yang ditunggu-tunggu. Marilah kita bermubahalah (kontes do’a) supaya dunia dapat mengenal, agama manakah yang benar dan agama manakah yang salah”.

Selebaran-selebaran itu disiarkan dalam berbagai surat kabar di Amerika, di Eropa hingga tahun 1903.

Terhadap tantangan itu Dr. Alexander Dowie tidak menjawab apa-apa, melainkan mengeluarkan kecaman terhadap agama Islam dengan perkataan-perkataan yang kotor. Pada tanggal 14 Februari 1903, Alexander Dowie menulis dalam surat kabarnya, bahwa ia berdo’a kepada Tuhan, “Hai Tuhan, hancurkanlah agama Islam itu selekasnya”.

Setelah pendiri Jemaat Ahmadiyah mengetahui, bahwa Dr. Alexander Dowie tidak juga berhenti dari kata-kata kotornya itu, maka beliau mengeluarkan lagi selebaran yang isinya menerangkan, bahwa beliau datang ke dunia ini untuk menjelaskan Tauhid Ilahi dan menghapuskan syirik.

“Allah Swt. sudah memberi tanda kebenaran kepadaku, bahwa jika Dr.Alexander Dowie mau bermubahalah denganku, baik dengan terang-terangan maupun dengan isyarat, ia akan meninggal dunia dengan penderitaan, kesedihan dan kesusahan di waktu saya masih hidup. Dahulu pernah aku memanggil kepadanya untuk bermubahalah, tapi sayang ia tidak memberikan jawaban. Sekarang saya memberi tempo kepadanya selama tujuh bulan lamanya”.
Selebaran ini disiarkan juga di Amerika dan Eropa.

Waktu tersiarnya selebaran itu Dr. Alexander Dowie sedang dalam keadaan jaya. Ia mempunyai murid yang banyak serta kekayaan yang melimpah. Hadiah berdatangan dari mana-mana, sehingga simpanannya di bank berjumlah jutaan dollar. Singkatnya ia berada dalam keadaan yang benar-benar jaya, baik dari segi ketenaran, maupun kejayaan dan kesehatan. Tentang tantangan pendiri Jemaat Ahmadiyah, banyak muridnya yang bertanya,mengapa Dowie tak ingin menjawabnya. Ia mengatakan: “Kalau saya injakkan kaki di atas ulat-ulat itu, niscaya mereka akan hancur. Dan kalau saya bukan nabi yang datang dari Tuhan, maka tidak akan ada satu lagi nabi pun”. Katanya kemudian: “Saya telah kedatangan malaikat yang menerangkan bahwa ia akan menang di atas musuhnya.

Kejadian berikutnya, pada tanggal 9 Desember 1904, tiba-tiba Dowie mendapat penyakit lumpuh, hingga tak dapat menggerakkan badan. Di saat itu pula timbul kekacauan intern dalam golongannya. Murid-muridnya banyak yang meninggalkannya. Kemudian ia sering berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya pada tangal 8 Maret 1907, Dowie mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pengikutnya tinggal 4 orang dan kekayaannya hanya tinggal 30 dollar.

Atas kemenangan pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam kontes do’a atau mubahalah ini, harian “Herald of Boston”, 23 Juni 1904 menulis :

“Dowie meninggal dan kawan-kawannya menjauhkan diri dari dia. Ia menderita kelumpuhan dan penyakit gila. Ia mengalami kematian yang sangat menyedihkan. Kotanya, Zion, terpecah oleh kekalutan intern. Mirza (Pendiri Jemaat Ahmadiyah, pen.) tampil ke muka dengan terang-terangan dan menyatakan bahwa ia akan menang dalam tantangannya”.

Dua kejadian di atas telah membuktikan kebenaran sebuah janji Allah Taala dalam salah satu wahyu yang ditujukan kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Wahyu tersebut berbunyi: “Aku akan menghinakan orang yang menghinakan engkau, wahai Ahmad”.

Wahyu :
“Aku beserta engkau dan orang-orang yang percaya kepada engkau”.

Sekarang kesaksian wahyu ini telah menjadi kenyataan, bahwa Jemaat Ahmadiyah sekalipun banyak mendapat perlawanan dan rintangan-rintangan yang berat, namun bahteranya setahap demi setahap melaju ke depan dengan tetap dan pasti.

Masih Mau’ud a.s. menulis :
“Wahai seluruh ummat manusia, dengarlah, bahwa nubuwatan ini dari Dzat yang menciptakan langit dan bumi. Ia akan menyebarkan Jemaat-Nya ini ke seluruh penjuru bumi dan akan memberi kemenangan kepada mereka di atas golongan yang lain dengan hujjah-hujjah dan burhan yang nyata. Hari itu akan datang bahkan sudah dekat, bahwa di bumi ini (hanya mazhab inilah) yang akan disebut-sebut dengan penuh kehormatan. Allah swt. akan memberi berkat yang luar biasa kepada mazhab dan gerakan ini. Dan setiap orang yang berfikir untuk menghancurkan Jemaat ini akan menemui kegagalan. Kemenangan ini untuk selama-lamanya, hingga saat bila kiamat akan tiba”.

“Ingatlah bahwa tiada seorang pun yang akan turun dari langit. Semua fihak yang tak menyenangi kita akan mati. Seorang pun di antara mereka tidak akan melihat Isa Ibnu Maryam turun dari langit. Dan keturunan mereka yang menggantikan mereka pun akan mati. Di antara mereka tak seorang pun yang akan menyaksikan turunnya Isa Almasih dari langit. Sesudah itu secara turun temurun dari keturunan mereka akan menemui ajal, dan mereka ini pun tak akan ada yang dapat melihat putera Maryam turun dari langit”.

“Ketika itu Allah Swt. akan menimbulkan kegelisahan dalam hati mereka, bahwa masa kemenangan salib pun telah berlalu, dan dunia telah mengalami perubahan total, tetapi Ibnu Maryam belum turun dari langit. Ketika itu orang-orang yang berakal pun akan menjauhkan diri dari kepercayaan ini. Dan mulai hari ini, tidak akan genap abad ketiga, bila orang-orang yang menantikan Isa Almasih – baik orang Islam maupun orang Kristen – akan menjadi putus asa, dan meninggalkan akidah yang palsu itu. Dan di dunia ini hanya ada satu mazhab dan satu penghulu (Nabi Muhammad saw. pen.)”.

“Banyak rintangan akan ditemui dan banyak percobaan akan datang. Tetapi Tuhan akan melenyapkan semua itu dan akan memenuhi janji-Nya. Dan Tuhan telah bersabda kepadaku: Aku akan curahkan rahmat demi rahmat kepadamu yang demikian banyaknya sehingga raja-raja (kepala-kepala negara) akan mencari rahmat dari padamu. Karena itu wahai kamu yang mendengar, ingatlah selalu kata-kata ini dan simpanlah nubuwatan ini dalam peti-petimu dengan aman, karena ia adalah perkataan Tuhan yang harus menjadi sempurna pada suatu hari”(Tazkiratus-Syahadatain).

Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis :
“Setiap orang yang bermaksud menyerang padaku berarti orang itu menempatkan dirinya dalam api yang sedang menyala-nyala. Ketahuilah orang itu bukannya menyerang padaku, tetapi menyerang kepada wujud (Allah) yang mengutusku. Wujud itu berfirman : “Inni Muhiinun man araada ihaanataka”. Maksudnya: “Aku akan menghina orang-orang yang bermaksud menghinamu”. Orang-orang yang demikian tidak tersembunyi dari pandangan Allah Taala. Jangan kamu mengira bahwa untuk kebenaranku Dia telah berhenti memperlihatkan tanda-tanda-Nya. Sekali-kali tidak. Sekarang juga Dia akan penuhi dunia ini dengan tanda demi tanda sebagai saksi-saksi yang hidup untuk menyokongku. Dia akan memperlihatkan juga tanda-tanda yang maha hebat, serta menimbulkan bulu-roma dan ketakutan. Sudah lama Dia melihat perbuatan-perbuatan buruk dilakukan oleh manusia. Tapi Dia hanya bersabar. Sekarang Dia akan datang semisal hujan yang turun pada musimnya dan kemudian api petirnya akan menyambar orang-orang jahat, yang tidak takut kepada-Nya, dan kesombongannya sudah melampaui batas. Orang-orang itu mencoba menyembunyikan perbuatan-perbuatan jahat serta kelakuannya yang buruk. Tetapi Tuhan senantiasa melihat mereka itu. Apakah orang-orang jahat itu dapat menentang iradah Allah swt.? Apakah mereka dapat memusuhi Tuhan dan akan memperoleh kemenangan?” (Barahin Ahmadiyah jilid V halaman 84).

“Dalam suatu mimpi, aku menampak diriku memasang pelana pada kudaku untuk suatu maksud tertentu, tetapi aku tidak tahu ke mana aku harus pergi dan untuk tujuan apa. Aku mempunyai perasaan dalam hati bahwa aku sedang bersiap-siap dengan penuh hasrat untuk suatu urusan. Aku memakai beberapa senjata dan dengan mengikuti jalan orang saleh, aku menunggang kudaku sambil bertawakkal kepada Allah. Kemudian aku merasa bahwa aku berada pada jalan dari beberapa orang penunggang yang bersenjata, dan yang datang ke rumahku dengan tujuan hendak memusnahkanku. Aku seorang diri dan aku tidak punya topi besi atau alat penjagaan lainnya selain senjata-senjata yang dikaruniakan Tuhan kepadaku untuk mempertahankan diri. Aku tidak suka mundur dari pertarungan itu dan duduk di dalam dengan ketakutan, dan karena itu aku bergerak segera ke suatu arah dengan penuh tenaga dan upaya untuk mencapai maksud yang ada dalam pikiranku, dan upaya itu ialah untuk memperoleh hasil-hasil yang paling baik dari segi pandangan dunia dan agama.

”Tiba-tiba aku melihat ribuan orang, yang semuanya menunggang kuda, sambil marah menuju dengan cepat ke arahku. Demi melihat mereka, aku merasa gembira sekali seakan-akan aku telah memperoleh ganimah besar dan aku merasakan dorongan besar di hatiku untuk melawan mereka dan aku mulai mengejar mereka bagai pemburu mengejar mangsanya. Lalu aku menderapkan kudaku menuju mereka untuk mengetahui keadaan mereka, dan aku yakin di hatiku bahwa aku akan menang terhadap mereka.

“Ketika aku telah mendekati mereka lalu melihat bahwa pakaian mereka telah lusuh dan cabik-cabik. Roman mereka menjijikkan dan mereka nampak seperti orang-orang musyrik dan mereka mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Aku melihat bahwa mereka sedang mengatur gerakan kuda mereka dengan maksud hendak melakukan penjarahan dan aku memperhatikan mereka dengan seksama sekali sambil maju cepat ke arah mereka sebagai juara yang berani. Kudaku bergerak maju ke muka begitu kencang sehingga seakan-akan ia sedang dipacu oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat, sebagaimana onta digalakkan oleh senandung penunggangnya. Aku juga gembira melihat keindahan dan kecantikan langkah-langkahnya.

“Lalu mereka berbalik tiba-tiba untuk mematahkan kekuatan dan rencanaku, untuk menghancurkan buah-buah tamanku, dan untuk menumbangkan pohon-pohonku, dan untuk merampas semua itu. Mereka maju kearah tamanku dan masuk ke dalamnya. Hal itu memuatku kuatir dan aku menjadi sangat gelisah, karena aku memperkirakan bahwa mereka ingin memusnahkan buah-buahan tamanku dan memotong dahan-dahannya. Aku maju secepatnya kepada mereka dan aku sadar bahwa saat itu adalah waktu yang sangat berbahaya dan musuh-musuhku telah membuat perumahan mereka di tanahku. Aku mulai menaruh takut dalam hatiku seperti seorang yang lemah dan penakut, tetapi aku maju terus ke tamanku sehingga aku dapat menilai keadaan.

“Ketika aku masuk ke dalam tamanku dan memeriksa hati-hati dan mencoba menemukan tempat di mana mereka berhenti aku melihat dari suatu jarak bahwa mereka semuanya telah jatuh berguguran dan bertebaran sebagai orang-orang mati di petak tengah taman. Lalu kekuatiranku lenyap dan aku menjadi tenang dan maju ke arah mereka dengan cepat dan gembira. Ketika aku telah tiba di dekat mereka aku melihat bahwa mereka semuanya mati tiba-tiba karena dihina dan ditimpa kemurkaan Tuhan. Kulit mereka terkelupas, kepala mereka hancur lebur, leher mereka tersayat-sayat dan tangan serta kaki mereka terkudung dan berserakan dalam potongan-potongan kecil. Mereka telah dihancurkan sekonyong-konyong seperti suatu kaum telah dihancurkan sekaligus oleh sambaran petir. Mereka telah ditimpa kehancuran besar.

“Kemudian aku berdiri pada tempat di mana mereka telah berkumpul untuk menentang aku, yang telah menjadi tempat kehancuran mereka, dan mataku meneteskan butiran-butiran besar air mata dan aku mendo’a: Tuhanku, biarlah hidupku menjadi korban di jalan Engkau. Engkau telah menganugerahkan karunia khusus kepadaku dan Engkau telah menolong hamba-Mu dengan suatu cara yang belum pernah ditemui dalam riwayat bangsa-bangsa. Tuhanku, Engkau telah menghancurkan mereka dengan tangan-Mu malahan sebelum kedua pihak bertempur atau dua jarak berkelahi atau dua pahlawan masuk ke dalam gelanggang. Engkau melakukan apa yang Engkau inginkan. Tak ada penolong yang seperti Engkau. Engkau telah menolong dan membebaskan aku. Wahai Engkau Yang Paling Pemurah, sekiranya Engkau tidak menaruh kasihan kepadaku, maka tak ada kemungkinan bagiku untuk menghindari semua bencana dan penderitaan ini.

“Aku tersentak ketika aku masih asyik bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Besar dan ruhku masih menghadap kepada-Nya. Semua pujian adalah untuk Allah, Tuhan sekalian alam”.
“Aku menafsirkan mimpi ini dengan arti bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengirimkan bantuan dan sukses-Nya tanpa campur tangan dari benda-benda luar dan dari usaha-usaha manusia, karena Dia ingin hendak menyempurnakan karunia-Nya kepadaku dan hendak memasukkanku ke dalam rahmat-Nya.

“Kini aku akan menafsirkan itu bagimu secara terperinci, supaya kamu memperoleh penilaian yang betul tentang itu. Menghancurkan tangan dan memotong leher musuh-musuh berarti mematahkan keangkuhan dan kesombongan mereka yang penuh kebanggaan dan merendahkan atau menistakan mereka. Mengudung tangan mereka berarti mematahkan kekuatan perlawanan mereka, menggagalkan mereka, menghentikan mereka melakukan perlawanan dan pertandingan, mencegah mereka memperoleh alat-alat persenjataan, dan membuat mereka tidak berdaya. Memotong kaki mereka berarti menangkis semua hujjah mereka, menutup segala jalan lari bagi mereka, menghukum mereka dan membuat mereka menjadi orang-orang tangkapan. Ini adalah rahmat Allah Yang berkuasa atas segala-galanya. Dia menghukum orang yang Dia kehendaki dan mengampuni orang yang Dia kehendaki. Dia mengalahkan bagi siapa yang Dia ingini dan membiarkan kemenangan kepada orang yang Dia kehendaki dan tak seorang pun dapat menggagalkan-Nya”(Ainah Kamalati Islam, halaman 578-581).

Sumber :
Buku Kami Orang Isalam PB. JAI Tahun 2007

05
Nov
09

Tulisan HM Ghulam A : “Aku Adalah Mau’ud yang Dijanjikan Rasulullah saw.”

“Aku Adalah Mau’ud yang Dijanjikan Rasulullah saw.”
Karya: Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

Tentang masalah Al-Masih dan tempat turunnya beliau, aku mengatakan tidak peduli apakah orang-orang menerimanya atau menolaknya.

Tuhan Yang Maha Mulia telah mencetuskan di dalam hatiku menjadi tempat penjelmaan rahasia agung itu.
Aku adalah Mau’ud (yang dijanjikan), dan aku datang membawa sifat-sifat yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw., sangat disayangkan orang-orang yang tidak melihatku.

Warna kulitku kuning gandum, dan rambut yang dinubuwatkan oleh Nabi Karim saw. pun sama dengan rambutku, tidak ada bedanya.
Ini adalah kedatanganku dan tidak ada keraguan sedikitpun, Rasulullah saw. telah membedakanku dengan Al-Masih yang berkulit kemerah-merahan.

Janganlah heran berkenaan dengan menara di timur, sebab akupun datang secara nyata di timur.

Aku inilah orangnya yang telah datang sesuai dengan kabar gembira, mana pula Isa a.s. dapat menginjakkan telapak kakinya di atas mimbarku [sebab akau adalah Masih-nya Muhammad saw.].
Sebagaimana Allah telah menjanjikan tempat yang mulia di dalam surga, apakah dengan demikian Dia melanggar janji-Nya lalu mengeluarkan beliau dari surga?

Pengingkaran yang secara aniaya menyembah Al-Masih, bagaimana mungkin Tuhan yang Ghayyur itu dapat menyamakannnya denganku.
Simaklah Quran Majid sekejap, supaya rahasia terselubungku ini zahir di hadapanmu.

Wahai Tuhan, di manakah manusia yang dapat mengenali rahasia kasyaf-kasyaf, supaya nur batinnya dapat mengenaliku.
Sumber Karunia dan rahmat-Nya telah bergejolak sedemikian rupa sehingga puji-pujian terhadap Kekasihku.

Wahai para pengeritik! Dengan takut terhadap Tuhan, bersabarlah sehingga Tuhan sendiri akan menzahirkan nur dan cahaya bintangku.
Perintah-Nya telah diserahkan kepadaku, dalam hal ini aku tidak mempunyai ikhtiar apa-apa. Lihatlah, hal ini aku katakan dari Tuhan-ku Yang Maha Raja.

Wahai orang-orang yang bergegas menujuku dengan kapak dan pedang! Takutlah kalian kepada Penjaga kebunku, sebab aku adalah dahan yang bakal menghasilkan buah.

Perintah ini berasal dari langit yang ditumpahkan kepada bumi. Jika setelah mendengar tidak kusampaikan, maka ke mana ia harus kubawa pergi.

Wahai kaumku, janganlah kalian berhati sempit, karena kata-kataku sejak permulaan ini begitu emosi. Perhatikanlah diriku sampai saat-saat terakhirku.

Bukan aku yang mengatakannya, melainkan hal ini telah tertulis di lauh-mahfuzh (papan tulis) Tuhan. Jika ada yang sanggup cobalah hapuskan tandaku.

Aku heran dan risau terhadap kedangkalan hati serta sempitnya motivasi kaumku. Wahai Tuhan, tolonglah supaya aku terlepas dari kerisauan ini.

Tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga, dan tidak memiliki cahaya hati. Mereka hanya memiliki lidah yang gigih menentangku.
Mencaci-makiku bagi mereka sudah merupakan ibadah. Di pandangan mereka akulah yang paling kotor.

Wahai hatiku, walau demikianpun engkau harus mempertimbangkan (memperhatikan) mereka, sebab mereka pun menyatakan diri mencintai Rasulullah saw.
Wahai panggilan kebenaran dan amanat kebenaran, janganlah salah paham terhadapku. Aku melihat engkau berada dalam kesalahan.
Wahai saudaraku, hatiku lelah, sedih memikirkan iman engkau, namun anehnya di dalam benak engkau aku ini dianggap kafir.
Jika engkau ingin supaya kebenaran kami menjadi terang dan jelas di hadapanmu, maka mintalah cahaya hati dari Tuhan Yang Maha Pengasih.

Mana pula telinga hatiku dapat mendengar tuduhan kafir dari seseorang, padahal aku tengah mabuk meneguk cawan karunia-karunia Sang Kekasihku.

Bagaimana pula caci-makian para musuh dapat sampai kepadaku, padahal aku tengah terbuai mimpi indah membayangkan Sahabat-ku.
Aku hidup bertopang dari wahyu Tuhan-ku yang menyertaiku ini. Wahyu-Nya (amanah-Nya) yang menghidupkan nafasku.
Aku membawa jubah dari istana Kekasihku, selain itu janganlah lagi tanyakan padaku tentang negeri yang gelap-gulita ini.

Kecintaan terhadap-Nya telah menyentuh lubuk dasar hatiku. Di jalan agama, stempel-Nya telah menjadi stempel-ku yang bercahaya.
Seandainya rahasia kecintaanku dengan-Nya terbuka maka banyak sekali orang-orang yang akan menyerahkan nyawa mereka.
Orang-orang dunia tidak dapat memahami rahasiaku. Aku sendiri merupakan nur yang bangkit dari mata orang-orang yang baik sekali (unggul).

Selain itu, orang-orang yang menyukai jalanku tidaklah sedikit. Akan tetapi orang yang berpandangan buruk terhadapku, dia adalah seorang yang malang.

Kami setiap saat meneguk minuman dari cawan “perpaduan”dengan Sahabat kami. Setiap saat Kekasih muliaku yang simpati melawan para pengingkar.

Angin surga bertiup di dalam hatiku yang sedih, dan tak terhingga banyaknya tiupan angin lembut yang berbaur dengan asap wangi-wangianku.
Bau busuk orang-orang yang dengki tidak dapat menggangguku. Aku senantiasa bersimbahkan wewangian kesturi yang timbul dengan mengenang/mengingat-Nya.

Karena kedekatan (qurub) dengan Kekasihku, tugasku telah mencapai tahap yang jauh dari pemahaman para penentangku.

Atas karunia Kekasih-ku, langkahku telah masuk ke dalam surga, dan di tanganku terdapat cawan fadhal-Nya (karunia-Nya).

Gejolak pengabulan doa dari-Nya sedemikian rupa tatkala berdoa, bahkan ibuku pun tidak pernah melakukan hal seperti itu bila aku menangis sehabis-habisnya.

Di setiap sudut dan di setiap arah, aku hanya mendapatkan wajah Kekasihku. Apakah pernah ada wajah lain yang tampak dalam pikiranku selain dari-Nya?

Sangat disayangkan bahwa kelompok orang terpandang ini tidak melihatku. Dan mereka baru akan melihatku tatkala aku sudah menyatu dengan tanah ini.

Jika seandainya hati harus tersayat-sayat karena duka dan perih memikirkan mereka, biarlah! Keinginanku adalah demi-Nya kepalaku pun biarlah terbakar.

Setiap malam aku merasakan ribuan duka karena perih memikirkan kaum ini. Wahai Tuhan-ku lepaskanlah daku dari rasa malu ini setiap hari.
Wahai Tuhan-ku, cucilah kemalasan mereka ini dengan air mataku yang telah membasahi tempat tidurku hari ini.

Kini, kabulkanlah, dan tolonglah, sebab air mata ini kami curahkan demi Engkau. Tolonglah daku, sebab selain Engkau tiada yang lain lagi.
Gelap-gulitanya duka tidak kunjung habis, akan tetapi kegelapan malam ini akan habis di hari pembalasan.

Hatiku telah tersayat-sayat pedih memikirkan kaum yang tidak dapat mengenali ini, dan juga karena ulama-ulama yang bengkok yang merenggut leherku.

Jika kedangkalan-ilmu dan kebutaan-batin ini tidak ada, maka setiap orang alim dan faqih akan menjadi khadim Engkau seperti aku.
Ilmu mantikku (logikaku) ini dapat mempengaruhi batu. Namun orang-orang ini tidak mengambil manfaat dari tulisan-tulisanku yang berpengaruh ini.

Ilmu adalah sesuatu yang bersamanya pun terdapat nur (cahaya) firasat (ketajaman pikiran). Orang yang buta ilmu ini tidak dapat makan dengan “phisyera”.

Hari ini kaumku tidak mengenali kedudukanku. Namun suatu hari mereka pasti akan menangis-nangis mengingat masaku yang terbaik ini.
Wahai kaumku, pandanglah kepada Sang Ghaib dengan sabar, supaya

Dia dengan merendah membentangkan Tangan-Nya untukmu.
Walau nilai dan kehormatanku menurutmu adalah sama dengan debu, itu tidaklah mengapa. Aku bukan hanya dari debu bahkan lebih nista dari sampah.

Adalah ihsan dan karunia-Nya yang telah menganugerahiku. Kalau tidak, aku ini hanyalah seekor cacing, bukannya seorang manusia, bukan sebuah intan dan bukan sebuah permata.

Tangan-Nya telah menjauhkanku dari wujud-wujud lainnya, sehingga tidak pernah wujud lain dalam gambaranku.

Setelah kepada Tuhan aku mabuk di dalam cinta kepada Rasulullah saw.. Dan jika seandainya hal ini dianggap suatu kekafiran, maka demi Tuhan, akulah yang paling kafir.

Kecintaan kepada-Nya telah merasuk ke dalam setiap partikel tubuhku. Hatiku penuh oleh kesendirian dan kepiluan terhadap sang kekasih (saw.) itu.

Aku adalah pelita kebenaran [yang memisahkan] antara yang suci dengan haram. Dan tangan-Nya-lah yang senantiasa melindungiku dari setiap angin kencang.

Setiap saat langit memberikan kesaksian akan kebenaranku. Aku telah menanggung kedukaan ini sedemikian rupa sehingga bumi pun tidak sanggup memikulnya.

Aku bersumpah demi Tuhan! Aku merupakan bahtera Nuh yang berasal dari Tuhan. Sungguh bernasib buruklah orang yang menjauh dari tali tambatan bahteraku.

Api yang telah dinyalakan oleh penghujung Akhir Zaman ini, demi Tuhan, aku adalah sungai ‘kautsar’ baginya.

Aku bukanlah rasul dan tidak membawa kitab. Yaa, padaku turun ilham dan aku adalah pemberi kabar-takut dari Tuhan.

Wahai Tuhan! Kami mohon dengan rendah hati agar engkau melimpahkan anugerah dan karunia-Mu. Selain tangan rahmat-Mu, siapa lagi yang akan menolongku?

Nyawaku kukorbankan bagi agama Mustafa saw.. Inilah kehendak dan keinginan hatiku. Andai hal ini terpenuhi.
———-
Sumber: Buku Izalah Auham (Menghilangkan Keraguan)
Penterjemah: Mukhlis Ilyas Mbsy.
Diedit oleh: Ruhdiyat Ayyubi Ahmad

05
Nov
09

AHMADIYAH MEMBAJAK ALQURAN?

Kata-kata hujatan ini adalah fitnah untuk membangkitkan kebencian dan permusuhan kepada Ahmadiyah. Orang tulus yang pernah membaca buku Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah tidak akan berkesimpulan demikian, karena para sahabat Rasulullah saw dan para waliyullah banyak yang mendapatkan karunia pengalaman ruhani berupa menerima wahyu yang bunyinya sama dengan ayat Al-Quran.
Bahkan, sepanjang sejarah Islam para sahabat, waliullah, dan para sufi banyak yang telah ber-mukalamah (berbicara secara langsung) dengan Allah Swt. Sebagian dari wahyu-wahyu itu banyak yang merupakan lafazh-lafazh Kitab Suci Alquran dan kadang-kadang dengan disertai tambahan lafazh lainnya. Dengan kata lain, diantara wahyu-wahyu tersebut ada yang 100% serupa dengan ayat-ayat Alquran dan ada yang tidak. Bagi mereka yang berpengetahuan luas dalam agama Islam serta terbiasa menelaah kitab-kitab kuning, tidaklah sulit untuk memahami perkara ini.

Diantara mereka yang benar-benar telah menerima wahyu-wahyu itu dan menuliskannya dalam beberapa kitab adalah Hz. Imam Syafi’i r.a., Hz. Imam Ahmad bin Hambal r.a., Hz. Imam Muhyidin Ibnu Arabi r.a., Hz. Umar r.a., serta beberapa sahabat. Apakah dengan demikian kita akan mengatakan bahwa orang-orang suci itu telah membajak ayat-ayat Alquran? Na’udzubillahi min dzalik, kita tidak akan selancang itu.Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sering mendapatkan wahyu-wahyu seperti itu. Jadi, pengalaman ruhani tersebut adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba terpilih atas iradah-Nya.

Adapun satu-satunya Kitab suci yang diimani oleh anggota Jamaah Islam Ahmadiyah adalah Alquranul Karim yang terdiri dari 30 juz. Kitab Suci itulah yang dicetak dan disebarkan oleh Jamaah Islam Ahmadiyah keseluruh dunia. Setiap orang dapat dengan bebas memiliki cetakan Alquran tersebut. Bagi orang yang telah membacanya, pasti membuktikan bahwa tidak ada ayat-ayatnya yang dirobah-robah apalagi dipalsukan. Bahkan Departeman Agama pun pernah menjadikan Terjemahan dan Tafsir Quran Jamaah Islam Ahmadiyah sebagai rujukan dalam terjemahan dan tafsir Alquran terbitan mereka.

Jamaah Islam Ahmadiyah tidak pernah mengacak-acak atau pun mengaduk-aduk ayat Suci Al-Quran, sebab Al-Quranul Karim diimani oleh Jamaah Islam Ahmadiyah sebagai Kitab Suci dan Kitab Syariat yang terakhir. Bahkan kami meyakini kebenaran Firman Allah berikut ini:

Artinya:
“Sesungguhnya, Kami-lah yang telah menurunkan Peringatan (Al-Quran) ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.” (Al-Hijr, 15:10)
Menurut ayat ini Al-Quran tidak mungkin dapat diacak-acak dan di aduk-aduk karena dipelihara dan dijaga oleh Allah Swt Wujud Yang Maha Kuasa, sehingga tidak diperlukan campur tangan manusia dengan cara kekerasan untuk melindungi dan menjaganya.

Selain meyakini hal tersebut diatas, dalam upaya meluaskan dakwah Islam dan risalah Rasulullah SAW, kami, Jamaah Ahmadiyah, juga telah, sedang, dan akan menerjemahkan Al-Quranul Karim kedalam berbagai bahasa di dunia.

Dan, kini, kami, Jamaah Islam Ahmadiyah, telah berhasil menerjemahkan Al-Quran ke dalam 100 bahasa di dunia, seperti: Inggris, Prancis, Portugis, Jerman, China, Rusia, Tagalog, Korea, Swahili, Jepang, Itali, Spanyol, Belanda, Indonesia, dll. Adakah para pecinta Al-Quran yang telah melakukan hal yang sama, yakni menerjemahkan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa seperti yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah? Tidakkah lebih baik bagi kita untuk ber- fastabiqul khairat ?
Kami telah menjelaskan bahwa Jamaah Islam Ahmadiyah tidak pernah mengacak-acak dan mengaduk-aduk ayat-ayat suci Al-Quran seperti yang dituduhkan oleh sebagian Ummat Islam. Dan perlu kami tegaskan lagi disini, Tadzkirah, bukanlah kitab suci Ahmadiyah, dan bukan disusun oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Buku Tadzkirah hanyalah kumpulan wahyu, ilham, kasyaf, dan ru’ya yang dikutip dan dihimpun dari berbagai buku dan selebaran Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah. Tadzkirah diterbitkan pertama kali menjadi sebuah buku pada tahun 1935, yaitu 27 tahun setelah wafatnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Sama sekali tidak terbetik dalam pikiran orang-orang Ahmadiyah, bahwa Tadzkirah adalah kitab suci. Maka itu, ketika ada orang yang menyebarkan fitnah bahwa Jamaah Islam Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri bernama Tadzkirah, maka kami sangat heran. Dan bertambah heran lagi, ketika mereka, memaksa kami untuk mengakui Tadzkirah sebagai sebuah kitab suci.

Di dalam sejarah Islam, dijumpai banyak sekali ulama-Ulama Masa Awwal, yaitu ulama-ulama yang ke zuhudan dan kesuciannya tidak diragukan lagi, bahkan sulit untuk mendapatkan contoh dan bandingannya dizaman sekarang ini. Para Ulama Masa Awwal ini mengemukakan pengalaman–pengalaman rohani mereka bahwa mereka menerima wahyu dari Allah Swt,.

Di dalam wahyu yang mereka terima, nampak dengan jelas, sebagiannya sama persis dengan ayat-ayat Al-Quran, dan sebagiannya lagi, campuran antara kata-kata yang persis dengan ayat-ayat Al-Quran dan kata-kata lain yang bukan ayat-ayat Al-Quran. Contoh wahyu yang diterima oleh Ulama Masa Awwal ini, akan kami kemukakan dibagian akhir dari penjelasan terhadap tuduhan ini.

Pernyataan para Ulama Masa Awwal, bahwa mereka menerima wahyu, menjadi bukti sempurnanya firman Allah Swt yang menyatakan bahwa Dia adalah Wujud Yang Al-Mutakallim (Maha Berkata-kata) sebagaimana firman-Nya:

Artinya:
“Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan izin-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Mahaluhur, Mahabijaksana”.(As-Syura, 42:52)

Menurut para Ulama Masa Awwal, orang yang mengingkari adanya lagi wahyu setelah Al-Quranul Karim sempurna diturunkan, itu dikarenakan ia tidak mendalami dan tidak pernah merasakan nikmat-nikmat rohani sebagaimana yang dirasakan oleh para Ulama Masa Awwal itu.
Allamah Allusi rahimallahu dalam Tafsir yang ditulis dalam Ruuhul Ma’aani juz 7 hal 326 menyatakan:
“Kamu hendaknya mengetahui bahwa sebagian ulama mengingkari turunnya malaikat pada hati selain Nabi sebab mereka tidak merasakan lezatnya. Jelasnya bahwa malaikat itu turun tetapi dengan Syari’at Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

Setelah Rasulullah Saw, wafat, Allah Swt. masih terus menerus menzahirkan sifat Al-Mutakallim-Nya, misalnya:
i. Ketika para sahabat berselisih pendapat tentang memandikan jenazah Rasulullah Saw. apakah dengan cara menanggalkan pakaian beliau atau tidak menanggalkannya, maka turunlah wahyu dari Allah kepada mereka:
“Ighsiluu rasuulallaahi Wasallaam wa ‘alaihi tsiyaabuhu.”

Artinya:
“Mandikanlah Rasulullah Saw dalam keadaan beliau berpakaian.”
(HR. Baihaqi dari Aisayah r.a. dan Misykat Bab. Al-Kiramat hal. 545)
Ini adalah wahyu yang turun segera setelah Rasulullah Saw wafat yang membuktikan bahwa wahyu berupa penjelasan dan bukan wahyu Syari’at masih tetap turun.
ii. Imam Muhyiddin Ibnu Arabi menulis didalam kitab beliau Futuhatul Makiyyah jld. 3 hal 367 bahwa beliau menerima wahyu sebagai berikut:

Artinya:
“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan satupun dari antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.”
Wahyu yang diterima oleh Ibnu Arabi ini sama persis dengan ayat Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 136.
iii. Syeikh Abdul Qadir Jaelani didalam Futuuhul Ghaib menulis:

Artinya:
“Engkau akan dijadikan kaya dan pemberani. Dan engkau akan dianugerahi kemuliaan. Dan engkau akan dianugerahi dengan karunia bermukhaathabah bahwa engkau di sisi Kami pada martabat yang tinggi, yang luhur dan jujur.”
Wahyu ini merupakan campuran dari kata-kata yang persis sama dengan ayat Al-Quran surah Yusuf ayat 55 dengan kata-kata lain yang sama sekali tidak persis ayat Al-Quran. Masih banyak lagi contoh-contoh yang dapat dikemukakan.

Dengan demikian, Jika ada pernyataan bahwa dengan adanya Tadzkirah itu telah terjadi perbuatan ‘mengacak-acak dan mengaduk-aduk’ Al-Quran, berarti mereka setuju menganggap para Ulama Masa Awwal yang suci itu pun telah mengacak-acak dan mengaduk-aduk ayat-ayat suci Al-Quran, padahal para ulama masa awwal itu adalah orang-orang yang dekat kepada Allah Swt.
Kami sangat menjunjung tinggi, menghormati dan memuliakan Al-Quranul Karim. Sebab, demikianlah yang diajarkan oleh Allah Swt., Nabi Muhammad SAW., dan nasihat Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah.
Berkenaan dengan kedudukan Al-Quran, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad,

Pendiri Jamaah Islam Ahmdiyah, menulis:
“Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting, yaitu bahwa kamu jangan hendaknya meninggalkan Al-Quran seperti sebuah buku yang telah dilupakan; sebab, didalamnya terletak sumber kehidupanmu. Barangsiapa yang memuliakan Al-Quran akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa yang menjunjung tinggi Al-Quran diatas segala hadits dan segala sabda-sabda yang lain, akan dijunjung tinggi di Langit. Bagi umat manusia diatas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Al-Quran, dan bagi seluruh Bani Adam tidak ada pedoman hidup kecuali Al-Quran. Kini tidak ada seorang Rasul dan Juru Syafaat kecuali Muhammad Mustafa Saw.. Maka berusahalah kamu sekalian untuk mendambakan kecintaan yang semurni-murninya bagi Nabi yang agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun suatu tempat yang lebih tinggi daripada beliau, agar supaya kamu digolongkan diantara orang-orang yang telah diselamatkan.”
“Dan ingatlah baik-baik, bahwa Najat (keselamatan) bukanlah suatu hal yang kamu sekalian akan mengalaminya nanti di Akhirat, melainkan sesungguhnya Najat yang hakiki itu memperlihatkan cahaya-nya di alam dunia ini juga. Siapakah yang beroleh Najat itu? Ialah orang yang benar-benar yakin, bahwa Tuhan itu adalah suatu realitas dan bahwa Muhammad Saw adalah Juru Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh ummat manusia; bahwa di bawah langit ini, tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan Al-Quran.”
(Bahtera Nuh, hal. 20)

“Wahai kalian yang kusayangi! Anda sekalian singgah di dunia ini hanya untuk sekejap saja, dan itu pun sebagian besar telah anda lalui. Oleh karena itu janganlah membangkitkan amarah Tuhan. Suatu pemerintahan manusiawi yang lebih berkuasa dari anda, jika marah terhadap anda, ia dapat membinasakan anda. Maka bayangkanlah betapa anda dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan Allah Ta’ala.”
(Bahtera Nuh, hal. 99)

SUMBER: AJARANISLAM.COM

05
Nov
09

AHMADIYAH MEMBAJAK ALQURAN?

05
Nov
09

Zainul Maarif : AHMADIYAH DAN PERTAHANAN-KEAMANAN INDONESIA

Umumnya, kelompok minoritas merasa gamang terhadap kelompok mayoritas. Di Indonesia, justru kebalikannya. Orang-orang Islam yang mengaku mewakili “mayoritas” umat Islam Indonesia mencemaskan keberadaan Ahmadiyah.

Pseudo representasi “mayoritas” umat Islam itu menganggap Ahmadiyah sesat, meminta jamaah Ahmadiyah keluar dari atau masuk ke dalam agama Islam “yang benar”, merusak aset-aset Ahmadiyah, dan meminta pemerintah melarang eksistensi Ahmadiyah di Indonesia.

Ironisnya, pemerintah terlihat linglung: tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Alih-alih mengamankan oknum-oknum yang meneror bahkan merugikan jamaah Ahmadiyah, pemerintah justru cenderung membiarkan semua itu terjadi. Ketimbang melindungi keyakinan dan keberlangsungan hidup jamaah Ahmadiyah, pemerintah justru turut latah mengikuti fatwa penyesatan Ahmadiyah yang diluarkan MUI dan merancang pembuatan SKB (Surat Keputusan Bersama beberapa menteri) penguat fatwa tersebut.

Dilihat dari sudut pandang teori pembentukan pemerintahan negara, pemerintah Indonesia gagal menjadi nightwatchman state—meminjam istilah Robert Nozic (1974)—yang bertugas menjaga keamanan seluruh penduduk tanpa turut campur urusan privasi mereka. Dirujuk pada konstitusi Indonesia, pemerintah, di satu sisi, mengabaikan UUD 1945 yang melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan dan, di sisi lain, gagal mensosialisasikan dan menginternalisasikan semangat toleransi tersebut kepada bangsa Indonesia. Kalaupun posisi pemerintah Indonesia dalam hal ini dikaitkan dengan kovenan hak sipil politik yang telah dirativikasi dan diadopsi Indonesia ke dalam UU No.12 Tahun 2005, maka pemerintah dinyatakan melanggar hak-hak jamaah Ahmadiyah lantaran membiarkan orang atau sekelompok orang melanggar hak sipil politik orang lain.

Terkait dengan bahan pertimbangan yang terakhir itu, Indonesia dalam kondisi bahaya. Dunia internasional tentu memperhatikan seluruh tindakan yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap Ahmadiyah. Dulu, di kasus Timor-Timur, Indonesia diintervensi PBB lantaran melakukan perbuatan pelanggaran HAM (by commission). Sekarang, di kasus Ahmadiyah, masyarakat dunia sangat potensial mengintervensi pemerintahan Indonesia yang jelas-jelas melanggar HAM dengan membiarkan terjadinya pelanggaran hak sipil politik (by omission).

Jika intervensi internasional singgah lagi di Tanah Pertiwi, embargo mungkin pula dialami Indonesia. Konsekuensinya, gerak laju pemerintahan dalam mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia akan terhambat. Pada tingkatan yang lebih lanjut, kondisi keamanan bahkan pertahanan Indonesia pun akan terganggu.

Namun, semua kemungkinan buruk itu bisa dihindiri bila pemerintah Indonesia (1) bersungguh-sungguh menjalankan konstitusi dan konvensi HAM yang telah dirativikasi, dan (2) benar-benar menjunjung tinggi demokrasi, HAM dan pelaksanaan hukum yang berkeadilan. (Zainul Maarif, Jakarta, 8 Mei 2008)

http://zainulmaarif.blogspot.com/2008/05/ahmadiyah-dan-pertahanan-keamanan.html

05
Nov
09

Khutbah Jum’at Khalifah Imam Mahdi : SEORANG MUKMIN TETAP TEGUH DIDALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

KHUTBAH JUM’AT HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
2 Oktober 2009 dari Masjid Baitul Futuh London UK TENTANG : ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

“Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. Tidak, bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadari. Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158)

Didalam Ayat Alquran yang baru saya tilawatkan, Allah taala berfirman tentang orang-orang beriman yang mendapatkan cobaan atau ujian yang bagaimanapun kerasnya iman mereka tetap teguh dan tidak goyah. Bahkan keimanan mereka semakin bertambah maju dan bertambah teguh dan kuat dan mereka semakin mendekat dan menyerahkan diri kepada Allah taala.

Dari ayat pertama sangat jelas sekali bahwa Allah taala telah menasihatkan untuk berlaku sabar sambil tetap menunaikan shalat. Maka kita bisa mengatakan bahwa kedua sifat ini harus dimiliki oleh orang-orang beriman, terutama diwaktu menghadapi banyak cobaan dan banyak kesulitan.

Ayat ini begitu ringkas namun maksud dan kandungan tafsirnya sangat luas sekali. Salah satu arti dari perkataan sabar adalah apabila seseorang mendapat suatu kemalangan tetapi dia tidak mengeluh melainkan tabah sambil menunjukkan perangai cerah. Ujian atau cobaan harus dipikul dengan tabah tanpa mengeluh, tanpa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak boleh mengeluh atau menyatakan kesusahan, harus betul-betul menjaga perasaan, yang kadang-kadang karena terdesak keluarlah dari mulut kata-kata tidak patut, sehingga merupakan keluhan terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa. Perkara demikian harus dijauhi.

Yang kedua artinya adalah: Harus tetap dan teguh dalam pendirian. Yang ketiga adalah: Perintah Allah Yang Maha Kuasa harus tetap dipegang erat-erat dan harus berbuat sesuai dengan itu semua. Arti lain lagi ialah, kalian harus tetap teguh tidak boleh menyimpang dari apa yang telah Tuhan melarangnya.

Jadi perkataan sabar telah dijelaskan, yaitu bila saja menghadapi cobaan dan ujian atau kesulitan apapun harus dihadapi dengan tabah dan tahan mental serta keteguhan hati tidak bimbang, jika tidak maka akan membawa kegoncangan dan kelemahan iman. Yang kedua ialah harus selalu memperhatikan dan mentaati hukum-hukum Allah taala dan harus berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh tawakkal kepada-Nya.

Untuk memperkuat keimanan, keteguhan hati, perkataan shalat juga sudah difirmankan didalam ayat tersebut. Artinya Allah taala telah mengarahkan dan memerintahkan kita untuk tidak melupakan shalat dan harus banyak memanjatkan doa kepada-Nya didalam menghadapi ujian atau cobaan dan kesulitan itu.

Pengertian shalat yang telah dijelaskan oleh berbagai pihak ringkasannya adalah: “Memusatkan penuh perhatian kepada kewajiban shalat, disamping shalat fardu kita harus menaruh perhatian terhadap shalat-shalat nawafil lainnya juga disertai dengan banyak memanjatkan doa-doa untuk mempertahankan iman yang kokog, banyak-banyak membaca istighfar – memohon ampun kepada Allah Yang Maha Perkasa dan juga harus banyak berzikir mengingat Allah taala dan harus banyak mengirim darood atau selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Jadi, itulah sifat-sifat orang mukmin sejati telah dijelaskan bahwa diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan dia selalu tabah dan sabar sehingga ia selamat. Diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan seorang mukmin tidak boleh menunjukkan lemah iman atau bimbang, ia harus meningkatkan lebih banyak berdoa dan menjalin hubungan lebih erat dengan Tuhan dan lebih banyak berzikir dan mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Apabila kalian mencari perlindungan dan pertolongan Allah taala harus dilakukan dengan penuh sabar dan istiqamah yang sungguh-sungguh. Dan harus selalu diingat bahwa cobaan apapun yang dihadapi sifatnya hanya sementara. Setelah itu apabila suasana telah berubah kemenangan pasti akan berada ditangan kalian. Penolong utama orang-orang mukmin adalah Allah taala Yang Maha Kuasa. Harus diingat dalam keadaan bagaimanapun seorang Ahmadi tidak boleh mengatakan: “Aku tidak percaya kepada Allah.” Bilamana saja timbul kelemahan iman pada seseorang terhadap Allah maka orang itu bukan lagi sebagai orang Ahmadi. Dengan mengucapkan demikian habislah riwayat dia sebagai orang Ahmadi, bahkan dia sudah keluar dari Islam. Jika seorang Ahmadi mempunyai kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap Allah taala Yang Maha Kuasa, dia telah mendapat iman bil ghaib yang sesungguhnya kepada Allah taala. Dan dia juga harus yakin bahwa yang menolong dan membantu segala urusan dia adalah Allah taala. Jadi, dalam menghadapi setiap kesulitan dan kesusahan yang ditimbulkan oleh lawan-lawan yang memusuhi Jemaat dari waktu ke waktu, kita harus meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi dengan Zat Yang Maha Kuasa Yang mampu membantu kita didalam situasi yang genting seperti itu. Dan didalam situasi seperti itu orang mukmin harus selalu siap menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Perkasa Yang mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada yang lain. Yang kecintaan-Nya lebih dari pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Dia Yang Maha Kuasa mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada itu. Dan Allah dengan firman-Nya: (Allah bersama orang-orang yang sabar) memperkuat keadaan seperti itu. Dan Firman-Nya lagi: “Yakinlah kalian bahwa Aku akan menolong kalian.” Mereka yang berdoa dengan iman yang teguh, dan mereka yang mempunyai kesabaran akan Aku tolong semuanya. Jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari-Ku kalian harus menujukkan ketetapan dan keteguhan iman. Kalian harus beramal sesuai dengan kedudukan sebagai hamba-hamba-Ku. Bagaimana caranya yang harus kalian lakukan ? Yaitu disaat menghadapi kesulitan dan cobaan, pendirian kalian harus tetap jangan berubah-ubah. Pendirian kalian harus betul-betul mantap. Kalian harus rujuk kepada Allah taala Yang Maha Kuasa dengan penuh dedikasi. Itulah tanggung jawab setiap orang Ahmadi pada masa ini.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di Pakistan, di beberapa negara Arab dan juga dibeberapa daerah di negara India orang-orang Ahmadi tengah dijadikan sasaran kekerasan dan kezaliman. Suasana yang mereka timbulkan sangat mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi disana. Terdapat beberapa kasus yang mereka hadapi semakin memburuk. Dan keadaan disana sangat mencekam dan semakin tegang karena timbul tindakan-tindakan diluar keadilan terhadap mereka. Para Mullah yang didukung oleh pemerintahan setempat disana mulai membuat isu-isu (pernyataan-pernyataan) nonsense. Di beberapa tempat para penguasa dan pejabat-pejabat pemerintah disana mencari-cari jalan untuk melancarkan berbagai macam gerakan untuk mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan bagi orang-orang Ahmadi disana.

Di beberapa negara tertentu telah dilancarkan batasan dan larangan untuk menunaikan ibadah shalat dan menunaikan shalat Jumah di mesjid mereka, dan orang-orang Ahmadi disana tidak boleh berkumpul bersama untuk menunaikan shalat Jum’ah. Bagaimanapun sudah saya jelaskan tentang firman Allah taala bahwa di dalam situasi semacam itu posisi keimanan kalian harus jauh lebih kuat dan lebih teguh dari pada sebelumnya. Sambil memperkokoh keimanan kalian harus meningkatkan mutu ibadah kalian kepada Allah taala. Lalu lihatlah hasilnya bagaimana Allah taala Yang Maha Perkasa akan datang menolong kalian.

Sehubungan dengan peristiwa seperti ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kalian harus berusaha untuk menjadi orang-orang yang bersih dan suci-murni, dan kalian harus menjalin hubungan lebih erat lagi dengan Tuhan. Sebab pertolongan Allah taala akan kalian peroleh jika diri kalian sudah suci murni.” Beliau a.s. bersabda lagi: “Bagaimana caranya kalian untuk memperoleh berkat dari pada Tuhan? Jawabannya Tuhan sendiri berfirmaan: yakni: Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Apa yang dimaksud dengan shalat disini? Yaitu selain ibadah shalat, juga membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), membaca istighfar dan juga membaca shalawat bagi Junjungan Nabi Besar Muhammad saw, dibaca dengan penuh rasa cinta dan dedikasi terhadap Allah taala. Jadi, kalian harus menunaikan shalat dengan penuh konsentrasi dan kekhusyuan. Jangan seperti orang yang shalat dengan mulut komat-kamit mengucapkan kata-kata namun hati kalian ingat kemana-mana. Orang-orang yang tidak tahu bahasa Arab mereka boleh berdoa didalam bahasa sendiri khususnya diwaktu sujud. Doa yang diajarkan Tuhan didalam Alquran atau doa yang diajarkan Hazrat Rasulullah saw dari firman Tuhan, tidak boleh dibaca diwaktu ruku atau diwaktu sujud. Selain itu doa boleh dipanjatkan didalam bahasa yang kita pahami sendiri diwaktu sujud atau ruku. Panjatkanlah doa sambil menangis dan merintih dan merendahkan diri sedemikian rupa dihadapan Tuhan sehingga kekhusyuannya itu sangat berkesan di dalam hati kalian. Apabila doa itu dipanjatkan dengan rintihan dan perasaan yang luluh maka kesannya sangat melekat didalam hati sanubari.”

Jadi, dewasa ini sangat diperlukan doa-doa yang dipanjatkan oleh semua orang Ahmadi diseluruh dunia dengan penuh kekhusyuan sambil menangis dan merintih dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga menggetarkan pintu Arasy Ilahi. Apabila doa-doa ini dipanjatkan dengan penuh kegelisahan dan rintihan yang memilukan tentu Allah taala akan segera menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya itu. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya: Artinya: Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang tak berdaya apabila ia berdoa kepada-Nya dan Tuhan Yang melenyapkan keburukan, dan pada suatu hari akan menjadikan kamu pewaris-pewaris bumi ? (An Namal : 63)

Jadi doa yang dipanjatkan dengan perasaan sangat istimewa, dengan rasa gelisah dan suasana prihatin itulah yang bisa membangkitkan perubahan dan revolusi besar diatas muka bumi. Dan mereka yang tengah dianiaya dijalan Allah taala, mereka yang menanggung penderitaan dan kesusahan karena Allah taala, mereka akan menerima khabar suka dari Allah taala melalui kesabaran dan shalat. Pada suatu hari kalian akan menjadi pewaris-pewaris bumi diatas dunia ini, insya Allah !

Jadi kesusahan dan penderitaan yang tengah dihadapi oleh orang-orang Ahmadi pada hari ini khususnya di Pakistan dan pengorbanan apapun yang mereka lakukan, tidak akan dibiarkan sia-sia oleh Allah taala. Pengorbanan yang tengah dilakukan hari ini oleh orang-orang Ahmadi akan mendatangkan buah yang ranum pada hari esok. Hal itu semua adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmadi tanpa mengeluh dan tanpa berkecil hati mereka harus terus maju kedepan dalam menghadapi cobaan dan ujian ini.

Dan Allah taala berfirman: “Orang-orang yang terus maju dalam menghadapi masa kesulitan dan cobaan ini demi meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya mereka rela menyerahkan jiwa-raga dan nyawa mereka dijalan Allah taala. Ingatlah, bahwa mereka yang menyerahkan jiwa-raga mereka karena Allah Yang Maha Perkasa, pengorbanan jiwa mereka ini bukanlah pengorbanan orang biasa, melainkan seperti pengorbanan para sahabah pada zaman permulaan Islam. Sekarang sejarah berulang kembali. Apabila kita lihat sejarah masa lalu banyak sekali orang-orang mukmin yang telah menyerahkan kehidupan mereka, mengorbankan jiwa raga dan nyawa mereka demi kepentingan agama Allah taala dan demi tegaknya Tauhid Ilahi dimuka bumi. Allah mengabulkan pengorbanan mereka sebab pengorbanan jiwa dan nyawa mereka itu demi maksud dan tujuan yang sangat mulia dan agung sekali.

Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah demi membela agama Allah dan tegaknya Tauhid Ilahi tidak boleh disebut sungguh-sungguh mati. Mereka tetap hidup, sebab kematian mereka sangat objective, sangat tepat dan terarah demi Agama Allah dan demi kekalnya tauhid Ilahi dimuka bumi. Ganjaran mereka akan terus mengalir kepada mereka setiap saat. Pengorbanan demikian menjadi simbol bagi kehidupan orang-orang mukmin sejati lainnya dan mengundang semangat untuk menyerahkan pengorbanan apapun yang diperlukan oleh Agama ataupun Jema’at. Suatu bangsa yang selalu menyadari pentingnya pengorbanan demi membela tanah airnya tidak pernah mengalami kematian. Orang-orang yang selalu siap memberikan pengorbanan demi tegaknya agama Allah mereka pasti mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah taala.

Pada zaman sekarang zaman Masih Mau’ud a.s. peperangan sudah berakhir, tidak boleh melakukan peperangan lagi. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengorbankan jiwa raga demi agama Allah, yang akan mendapat kehidupan kekal setelah meninggal dunia? Dan juga menjadi sarana kehidupan hakiki bagi orang-orang beriman? Apabila kaum akhirin diakhir zaman ini harus menjalani kehidupan seperti standar kehidupan kaum awwalin dizaman Hazrat Rasulullah saw tentu mereka harus mengorbankan jiwa raga atau nyawa mereka. Para syuhada kaum akhirin dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka seperti yang telah terjadi di Kabul, Afganistan demi mempertahankan kebenaran. Melalui pengorbanan jiwa raga dan nyawa mereka itu Allah taala telah menunjukkan jalan kepada kita untuk memperoleh kehidupan yang kekal-abadi. Dan sampai sekarang banyak para anggota Jema’at yang tengah memberi contoh bagaimana caranya mereka telah menegakkan semangat dan keikhlasan dalam mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka karena Allah taala. Tetesan darah setiap orang Ahmadi yang syahid dimana telah memberi martabat dan kedudukan tinggi didalam kehidupan mereka dialam akhirat, disana juga tersedia sarana untuk kehidupan dan kemajuan Jema’at yang semakin meningkat terus dimuka bumi ini.

Jika para penentang berpikir bahwa dengan banyaknya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ahmadi mukhlisin akan memberi kesan kemunduran dan kelemahan iman terhadap para anggota Jema’at, khayalan mereka itu semata-mata penipuan dan kosong dari kenyataan sebenarnya. Allah taala berfirman: Kamu tidak menyadari ! Mereka tidak melihat bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membangkitkan suatu revolusi ruhani yang luar biasa, Ahmadiyah tidak bisa berhenti disebabkan banyaknya pengorbanan jiwa raga atau nyawa serta harta mereka demi mempertahankan kebenaran. Akhirnya taqdir Allah taala akan memutuskan bahwa melalui Jema’at Ahmadiyah ini Islam akan ditegakkan diseluruh permukaan bumi.”

Jadi sekarang juga setiap orang Ahmadi yang mati syahid demi Jema’at baik laki-laki, perempuan tua muda ataupun anak-anak telah menciptakan sebuah gelombang semangat hidup baru. Setiap terjadi peristiwa pensyahidan terhadap orang Ahmadi timbul dikalangan orang-orang Jema’at semangat yang bergelora untuk mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka demi membela Jema’at ini. Tentang hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kami sangat kagum menyaksikan keikhlasan dan kesetiaan para anggota Jema’at seperti itu.” Jadi sangat keliru sekali anggapan para penentang yang memusuhi Jemaat bahwa dengan terjadinya kerugian harta mereka, jiwa raga dan nyawa mereka akibat serangan musuh, iman orang-orang Ahmadi akan menjadi berkurang dan lemah. Sama sekali tidak!! Sebagaimana telah saya katakan berulang kali bahwa dengan terjadinya serangan dan penganiayaan dan pembunuhan, keimanan orang-orang Ahmadi justru semakin bertambah kokoh-kuat. Atau para penentang mengira dengan perlawanan mereka terhadap Jemaat, orang-orang Ahmadi akan habis dan lenyap? Pendapat mereka itu sungguh batil dan sangat keliru. Disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah di Pakistan dan di beberapa negara Islam lainnya orang-orang Ahmadi telah dilarang melakukan tabligh. Akan tetapi disebabkan makin maraknya perlawanan dan terjadinya peristiwa-peristiwa kezaliman terhadap orang-orang Ahmadi, kesempatan tabligh disana dengan sendirinya menjadi lebih terbuka. Banyak orang-orang yang penasaran ingin tahu apa sebenarnya Ahmadiyah itu. Sehingga setelah jelas kedudukan yang sebenarnya banyak sekali orang-orang yang mengirim surat kepada kami menyatakan ingin bai’at masuk Ahmadiyah, baik dari Pakistan sendiri maupun dari negara-negara lainnya di dunia setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman lawan-lawan Ahmadiyah itu. Jadi sesungguhnya dengan timbulnya perlawanan itu justru menjadi sarana kemajuan bagi Jema’at Ahmadiyah.

Jadi para penentang memang bisa melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang Ahmadi, mereka bisa melakukan penjarahan terhadap harta orang-orang Ahmadi, bangunan dan gedung-gedung orang-orang Ahmadi bisa mereka hancurkan, pembangunan mesjid kami bisa dihalang-halangi akan tetapi kalian tidak akan bisa membuat iman kami jadi lemah. Sebab ujian dan cobaan ini menjadi bukti kebenaran firman Tuhan bahwa Dia bersama kami orang-orang beriman. Sebagaimana Allah taala telah menjelaskan dengan rinci didalam ayat berikutnya tentang khabar suka yang diberikan kepada orang-orang yang sabar. Firman-Nya: “ Kalian akan diuji dengan ketakutan, jika kalian menghadapi ujian yang menakutkan itu dengan sabar, maka terimalah khabar suka dari pada-Ku, bahwa kalian akan mewarisi nikmat-nikmat dari pada-Ku”. Seperti apa perasaan takut itu? Yaitu rasa takut yang dibuat oleh musuh-musuh kalian, misalnya takut berupa kejahatan para Mullah, menghadapi mukaddimah di pengadilan juga termasuk rasa takut, takut terhadap undang-undang blasphemy pemerintah, takut ancaman dari para petinggi negara. Akan tetapi orang-orang mukmin tidak mensia-siakan iman mereka disebabkan berbagai macam desakan atau intimidasi dari pihak golongan tertentu atau dari pihak pemerintah sekalipun. Dan tidak pula mereka menunjukkan sebarang kelemahan.

Setelah itu orang-orang mukmin diuji dengan kelaparan. Sebagai contoh telah terjadi dihadapan kita dalam jumlah yang sangat besar. Yaitu pada tahun 1974 telah terjadi peristiwa kerusuhan anti Jema’at yang ditimbulkan lawan-lawan yang memusuhi Jema’at pada tahun itu, banyak kesulitan dan kesusahan ditimpakan kepada orang-orang Ahmadi. Pada waktu itu siapapun tidak pula diizinkan untuk menyampaikan makanan ke rumah seorang Ahmadi dan tidak pula orang-orang Ahmadi diizinkan keluar dari rumah mereka pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Jika mereka bisa keluar juga maka para pemilik kedai dilarang menjual bahan-bahan makanan atau benda apapun yang diperlukan kepada orang-orang Ahmadi. Disamping itu banyak barang-barang kekayaan orang-orang Ahmadi dirampas dan dijarah dan secara paksa mereka menguasai hak milik orang-orang Ahmadi. Dan apabila seorang Ahmadi berusaha menuntut hak milik mereka secara hukum di Pengadilan, mereka membuat-buat alasan dengan mengatakan ini orang-orang Qadiani, mereka enggan melayani. Dengan menyebut nama Qadiani atau Ahmadi saja orang-orang yang duduk dikursi pengadilan-pun merasa enggan dan tidak mau menghiraukan atau menangani apa lagi menghormati tuntutan hak-hak mereka lagi.

Pada tahun 1974 sebidang tanah milik Jema’at di Rabwah telah diserahkan kepada para Mullah oleh Town Committee, dan sampai sekarang mereka menguasainya dan telah memberi nama tempat itu Muslim Colony. Begitu juga tanah yang sangat luas berdekatan dengan Ta’limul Islam New Campus milik Jema’at dan Rabwah Open Space yang terletak di Daarun Nasir telah dirampas dan dikuasainya secara tidak sah. Dan pemerintah telah memutuskan bahwa tanah ini milik pemerintah.

Selain itu orang-orang mukmin diuji dan dicoba melalui anak-anak keturunan. Pihak lawan sengaja berusaha untuk menghancurkan karier anak-anak Ahmadi. Di sekolah-sekolah anak-anak Ahmadi dijadikan sasaran penghinaan agar semangat belajar mereka hilang hingga putus sekolah. Dizaman saya kuliah di University Faisal Abad beberapa mahasiswa Ahmadi dilarang kuliah. Di Leyyah beberapa orang anak Ahmadi ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara atas tuduhan yang tidak benar dan palsu. Jika orang tua anak-anak tersebut mengumumkan telah bertaubah dari Ahmadiyah, maka pengadilan dimana para Mullah telah menuduh anak-anak telah menghina Hazrat Rasulullah saw, secepat mungkin mereka dibebaskan dari tahanan penjara. Sebab itulah yang mereka inginkan agar para Ahmadi dengan cara bagaimanapun karena takut melepaskan iman mereka dan bertaubah meninggalkan Ahmadiya. Begitulah trick jahat mereka lakukan dengan menimpakan berbagai macam kesulitan dan kesusahan diatas orang-orang Ahmadi berusaha untuk melepaskan mereka dari Ahmadiyah. Namun orang-orang bernasib malang itu tidak tahu kedudukan orang-orang Ahmadi adalah orang-orang mukmin sejati. Mereka yakin betul bahwa setiap huruf yang tertulis didalam Kitab suci Alquran adalah firman Allah taala. Sejak semula Allah taala telah memberitahukan kepada mereka didalam AlAlquran bahwa iman mereka akan diuji dengan kesusahan dan kesulitan seperti itu.

Jadi teguh didalam pendirian dan menanti akhir kesudahan yang baik dan mengucapkan Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) adalah sifat atau prilaku orang-orang Ahmadi. Kesusahan dan kesulitan yang ditimpakan kepada mereka dihadapi dengan penuh kesabaran, sebab itulah yang selalu diperlihatkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka Ahmadi. Sabar artinya setiap kesulitan atau kesusahan memang dirasakan, akan tetapi tidak kehilangan keseimbangan perasaan dan pikiran disebabkan kesulitan atau kesusahan itu. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkecil hati, melainkan pada setiap cobaan dan pada setiap penderitaan yang dihadapi selalu menghadapkan muka kearah Allah taala. Mereka berdiri tegak sambil bertahan bahwa biarlah ujian berupa kesulitan itu berlaku sebab ia sifatnya hanya sementara, bukan untuk selama-lamanya. Sebagai natijahnya Allah taala akan memberikan yang lebih baik lagi kepada mereka. Pada setiap musibah selalu berfikir bahwa nyawa-ku juga, anak-anak-ku juga, harta kekayaan-ku juga hanyalah barang-barang titipan yang sifatnya sementara. Apabila hal itu semua dikurbankan karena Allah taala maka tentu aku akan menjadi pewaris karunia Tuhan yang jauh lebih baik dari semula. Apabila manusia berucap “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) maka harus berdiri tegak dengan yakin bahwa kami juga adalah milik Allah taala. Dan harta kami serta anak-anak kami juga semuanya adalah kepunyaan Allah taala.

Jadi, jika Dia menginginkan bahwa nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada kami itu hendak diambil kembali oleh-Nya, maka kami rela sepenuhnya tidak perlu kecil hati atau menangis. Sebab kami berkata “Inna ilaihi raaji’un” kami juga akan kembali kepada-Nya. Apabila kita akan kembali kepada-Nya maka Allah taala telah berjanji bahwa Dia akan memberi barang-barang yang jauh lebih baik dari pada barang-barang yang ada didunia ini. Jadi, jika seorang mukmin berfikir seperti itu maka kerugian berupa barang-barang duniawi apapun yang ditimpakan oleh pihak lawan, memang bisa mendatangkan kesusahan yang sifatnya sementara, akan tetapi hal itu tidak akan menjadi kendala bagi kehidupan yang masih terus berlanjut. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebagai orang mukmin kalian jangan menganggap buruk terhadap cobaan atau ujian. Hanya orang mukmin yang tidak sempurna yang akan menganggapnya buruk. Allah taala berfirman didalam AlAlquran: Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.”

Kesusahan dan kesulitan apapun yang mereka hadapi tidak menimbulkan kesengsaraan dan kesusahan hati mereka. Dan mereka selalu gembira dengan keridhaan Allah taala. Dan mereka menyukai tinggal dalam suasana seperti itu. Mereka itu betul-betul sabar. Dan Allah taala memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa perhitungan. Demikianlah reaksi yang harus ditimbulkan oleh setiap orang Ahmadi. Dan dengan karunia Allah taala sampai sekarang para anggota Jema’at telah menzahirkan keadaan demikian. Dan reaksi itulah sebagai tanda untuk memperoleh kemajuan. Untuk itu kita harus selalu memanjatkan doa kepada Allah taala. Memang kewajiban kita untuk berdoa demi keselamatan dari ujian dan cobaan, Allah taala sendiri telah berfirman demikian. Akan tetapi jika turun suatu cobaan dan ujian dari Allah taala, maka untuk menghadapi hal itu keteguhan iman dan ketabahan sangat penting sekali. Dan hal itulah yang boleh membuat turunnya pembalasan yang tidak terhingga dari Allah taala.

Setelah menyebutkan hal itu, selanjutnya dikatakan bahwa Allah taala bersama orang yang sabar, orang yang meraih kedudukan syahid disisi Allah taala, akan mendapat kehidupan yang kekal. Terdapat khabar-khabar gembira bagi orang-orang yang sabar, dan banyak sekali khabar-khabar gembira itu mereka terima. Dan suasana gembira yang meluap-luap itu telah-pun mereka wakafkan demi patuh dan setia kepada Allah taala. Tentang kesulitan yang biasa timbul ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tidak pernah datang seorang-pun Utusan Tuhan yang tidak menghadapi ujian atau cobaan. Hazrat Masih Israili a.s. telah dipenjarakan dan telah dihadapkan kepada berbagai macam siksaan oleh orang Israil. Selanjutnya bagaimana perlakuan kaum terhadap Nabi Musa a.s, Nabi Muhammad saw sendiri pernah dikepung dan diserang, akhirnya sesuai sunnah Allah taala semua kesulitan itu berakhir diganti dengan kemudahan yang jauh lebih baik. Jika memang sunnah Allah taala seperti itu adalah kesenangan dan kemudahan bagi kehidupan Utusan Allah taala dan para pengikutnya, maka setiap hari pesta-pora makan-makanan yang lezat, tentu bisa dilihat apa bedanya para ahli dunia dengan para Utusan Allah taala? Jika setiap waktu hanya menjalani kehidupan yang senang sejahtera dan tidak pernah menderita kesulitan, apa bedanya orang-orang dunia dengan Utusan Allah taala? Setelah kenyang memakan makanan yang lezat mengucapkan alhamdulillah wa syukru lillah memang mudah sekali. Mudah sekali menyatakan rasa syukur seperti itu kepada Allah taala jika setiap hari menjalani kehidupan yang baik dan senang, makanan dan minuman setiap waktu bisa diperoleh dengan mudah. Jadi dalam menghadapi keadaan musibah juga harus kita harus mengucapkan perkataan seperti itu dengan sungguh hati, seperti diwaktu menerima nikmat dari Allah taala.”

Beliau bersabda lagi: “Para utusan Tuhan dan Jema’at beliau sering ditimpa oleh berbagai macam ujian, ditimpa rasa takut dengan kehancuran, menghadapi berbagai macam mara bahaya dan sebagainya. Itulah arti dari pada Kazzabu mereka mendustakan. Dari peristiwa kesulitan itu ada manfaatnya? yaitu untuk membedakan diantara orang yang kuat iman-nya dan yang lemah iman. Sebab orang yang imannya lemah, hanya sampai waktu yang menguntungkan mereka saja bisa bertahan, namun apabila masa ujian dan cobaan tiba, mereka berhenti tidak mau bergerak maju. Sedangkan orang yang kuat imannya mereka terus maju kedepan, sekalipun sedang dalam masa cobaan dan ujian seperti itu. Dan itulah sunnah Allah taala yang berlaku kepada saya. Selama tidak ada ujian atau cobaan tidak pernah timbul suatu tanda yang zahir dari Allah taala. Apabila Allah taala mencintai hamba-hamba-Nya maka Dia menimpakan ujian kepada mereka. Sebagaimana Tuhan berfirman: Yakni setiap mendapat kesulitan dan kesusahan mereka selalu rujuk dan runduk kepada Allah taala. Dan orang-orang itulah yang menerima nikmat-nikmat Allah taala, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menegakkan istiqamah, tetap didalam pendirian yang teguh, sekalipun mereka menyaksikan kegembiraan duniawi itu nampaknya sangat senang serta lezat untuk dinikmati namun akhir natijahnya tidak ada kesan apa-apa. Dengan menjalani kehidupan bergemarlapan kemewahan yang penuh dengan kesenangan akhirnya hubungan dengan Allah taala menjadi terputus.

Kecintaan Allah taala terhadap hamba-Nya dibuktikan dengan menimpakan suatu ujian kepadanya sehingga dengan ujian itu Dia menzahirkan kemuliaan hamba-Nya itu. Dengan ujian itu kebesarannya, keimanannya yang kukuh kuat akan zahir. Misalnya jika Kisra Iran tidak memerintahkan seorang jenderalnya untuk menangkap Hazrat Rasulullah, maka bagaimana bisa terjadi mukjizat yaitu kematian Kisra Iran itu pada malam itu juga. Dan jika orang-orang Mekah tidak mengusir Hazrat Rasulullah saw, bagaimana mukjizat Allah taala akan zahir pada hari-hari sesudahnya. Setiap mukjizat sangat erat kaitannya dengan suatu ujian atau cobaan yang menyusahkan. Kehidupan berfoya-foya dan bergembira-ria bisa membuat manusia lengah tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah taala. Jika kejayaan duniawi yang melimpah ruah telah diperoleh seseorang, kehidupan merendahkan diri dan merunduk dihadapan Tuhan menjadi hilang. Padahal Allah taala mencintai orang-orang yang menjalani kehidupan dengan merendahkan diri dan mencurahkan perhatian kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia haruslah menghadapi suatu peristwa yang manakutkan. Jadi Allah taala berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang berlaku sabar dan menyerahkan jiwa raga serta nyawanya dijalan Allah taala demi meraih keridhaan-Nya.

Pada akhir ayat Allah taala berfirman : Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158). Dan orang-orang itulah yang menjadi pewaris barkat-berkat, mereka itulah yang menjadi penerima hidayah dan rahmat dari Allah taala. Dan orang-orang yang menjadi pewaris rahmat dan barkat dari Allah taala itulah orang-orang yang menerima petunjuk dari Allah taala. Karena dipergunakan perkataan solawatun mirrabihim maka hal itu bisa diterjemahkan: barkat-barkat dan maghfirat. Jadi orang-orang yang sabar dan banyak memanjatkan doa akan menyaksikan pemandangan turunnnya berkat dan maghfirat (pengampunan) dari Allah taala yang membuat martabah ruhani mereka semakin tinggi. Perkataan solawatun mirrabihim ini bukan Allah taala yang memanjatkan doa itu, melainkan berkat-berkat dan maghfirat dari Allah taala turun kepada orang-orang mukmin yang sabar dan banyak memanjatkan doa itu. Apabila rahmat Tuhan turun kepada mareka maka martabah ruhani mereka itu semakin meningkat terus.

Kerugian duniawi mereka juga bisa diganti sepenuhnya oleh Allah taala, sebab mereka setiap saat siap mengorbankan apa yang mereka miliki demi kepentingan agama Allah taala. Bisa diperiksa, siapapun orang Ahmadi yang mengorbankan sesuatu di jalan Allah taala, keinginan musuh tidak pernah berhasil membuat orang-orang Ahmadi menjadi miskin sehingga menjadi pengemis. Bahkan yang menjadi miskin dan menjadi pengemis adalah mereka sendiri yang telah berbuat zalim terhadap orang-orang Ahmadi dan yang telah merampas dan menjarah harta benda mereka. Dan demi konstitusi undang-undang, orang-orang Ahmadi telah dinyatakan sebagai non-Muslim. Maka setelah demikian jelasnya pertolongan Allah taala terhadap Jemaat ini, orang-orang bernasib buruk dan sangat malang itu tidak mau paham juga, atau memang sengaja mereka tidak mau paham. Sedangkan kami selalu berdoa kepada Allah taala semoga Allah taala memberi taufiq kepada mereka untuk memahaminya.

Pada akhir ayat in Allah taala berfirman : yakni orang-orang yang meraih rahmat dan maghfirat dari Allah taala mereka itulah yang memperoleh hidayah dari Allah taala. Oleh sebab itu disebabkan telah memperoleh hidayat maka mereka terus meningkat didalam meraih hidayat itu dari Allah taala. Dan Allah taala memperlihatkan jalan-jalan baru kepada mereka untuk mencapai kemajuan. Sehingga mereka selalu menjadi peraih qurub dan kecintaan Allah taala. Dan kita harus selalu memohon doa kepada Allah taala agar Dia menjaga dan melindungi setiap orang Ahmadi dari setiap bala atau musibah. Akan tetapi jika sesuai dengan kehendak Allah taala seseorang harus mendapat ujian dan cobaan dari Allah taala, semoga Allah taala memberi taufik kepadanya untuk melewati masa ujian itu dengan tabah, mudah dan selamat. Dan semoga Allah taala selalu memberi bimbingan kepada kita semua.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Apabila saya melihat kesulitan yang tengah kalian alami dan disamping itu saya melihat kudrat Allah taala yang maha mulia yang secara pribadi saya sendiri telah mengalaminya dan yang telah berlaku pada diri saya, sedikitpun saya tidak merasa gelisah. Sebab saya paham bahwa Allah taala adalah Dia Yang Karim (Maha Mulia) dan Qadir Qudrat, Yang Maha Kuasa. Dan Dia Yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah yang besar. Siapa yang ingin memperoleh banyak makrifat maka Allah taala pasti menurunkan musibah sebagai ujian kepadanya. Supaya mereka paham bahwa Tuhan memberi harapan positif kepada mereka bahwa dari tidak ada harapan sama sekali timbul hasrat dan keinginan yang baik. Pendeknya Dia sungguh Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya. Dengan adanya ujian dan cobaan itu jangan sampai Allah taala menjadi jauh dari kita. Dalam memberi ujian dan cobaan juga Allah taala Maha Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Penyayang.”

Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Jalan untuk memperoleh karunia dan rahmat-Nya selamanya terbuka selalu. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh harapan positif terhadap Rahmat-Nya. Dan diwaktu menghadapi kegelisahan perlu sekali bertaubah dan membaca istighfar sebanyak-banyaknya.” Harus diingat selalu bahwa orang yang diwaktu turun bala dan musibah dia tinggalkan usaha untuk bertaubah dari keburukan atau dosa, yang sebetulnya untuk meninggalkan taubah dengan segera itu tidak ada maksud sebelumnya, maka hal itu merupakan siksaan besar bagi orang itu. Dan jika musibah dan kemalangan serta kesusahan tengah terjadi, lalu ia tinggalkan dosa atau kebiasaan buruknya itu, maka hal itu akan menjadi sebuah kaffarah yang besar baginya. Bersamaan dengan terbukanya hati dia itu untuk bertaubah terbukalah juga kegelapan musibah itu baginya. Dan datangnya nur cahaya menjadi suatu harapan yang pasti baginya. Apabila hati manusia telah terbuka mata kegelapan yang disebabkan timbulnya bala atau musibah itu akan berubah menjadi cahaya terang baginya. Dan akan timbul harapan untuk mendapatkan nur dari allah taala.

Jadi keadaan dunia sekarang ini seperti telah saya katakan bahwa para Ahmadi diseluruh dunia sangat perlu sekali untuk menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap doa. Mengingat-ingat kelemahan dan dosa yang ada pada dirinya sangat diperlukan sekali. Dan harus berusaha keras untuk berjumpa dengan Allah taala. Usaha pribadilah yang harus dilakukan oleh Jemaat, apabila seseorang berbuat baik mudah-mudahan membawa faedah untuk semuanya. Dalam suasana sekarang ini setiap Anggota Jemaat dimanapun berada sangat perlu sekali untuk meningkatkan banyak doa untuk saudara-saudara kita itu. Mengingat keadaan yang tengah terjadi pada masa sekarang ini, nampaknya akan terjadi ujian-ujian yang lebih berat lainnya yang akan dihadapi oleh para Ahmadi di Pakistan. Oleh sebab itu dengan perantaraan doa-doa semoga hal itu bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu Huzur mengumumkan empat orang Ahmadi yang telah mati syahid dan beliau akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk keempat orang syuhada itu.

Alihbhasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

05
Nov
09

Muballigh Ahmadiyah : Ahmadiyah Menjawab

Telah lebih sebulan ini harian Republika sering kali memuat artikel tentang Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya dalam berbagai judul. Sejauh yang kami ketahui, sangat sedikit sekali, bahkan boleh dikatakan tidak ada, upaya Republika untuk mengkonfrontir isi artikel itu kepada pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia, padahal hal itu sangat penting agar pembaca Republika memperoleh informasi yang benar, akurat dan berimbang. Sekedar contoh kelemahan akibat tidak dilaksanakannya amanat etika jurnalistik itu terjadi pada wawancara Rachmat Santosa Basarah dengan Ahmad Hariadi yang dimuat Republika tanggal 14 Mei 2008 yang lalu.

Dalam wawancara itu, Ahmad Hariadi ditanya : Siapa pemimpin Ahmadiyah sedunia sekarang?
Hariadi menjawab: Mirza Ghulam Ahmad, lahir pada 1835 dan meninggal pada 1908. Dia mendirikan Ahmadiyah tahun 1889. Setelah meninggal, dia diganti oleh khalifah Ahmadiyah pertama. Kemudian, bertutur-turut diganti oleh khalifah kedua, ketiga, dan keempat. Khalifah keempat ini adalah cucunya Mirza Ghulam Ahmad, namanya, Tahir Ahmad. (Tugas saya menyadarkan Jemaat Ahmadiyah, Republika, 14 Mei 2008, http://www.republika .co.id/koran_ detail.asp? id=333920&kat_id=505)

Semua orang yang meneliti secara langsung pasti tahu bahwa Hadhrat Mirza Tahir Ahmad sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah dipimpin oleh Khalifahnya yang kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Kekeliruan seperti ini sungguh sangat keterlaluan, sebab ini merupakan fakta yang terbuka dan jelas, setiap saat siapa saja dapat mengakses situs resmi Jemaat Ahmadiyah www.alIslam. org; www.mta.tv; atau situs-situs resmi Ahmadiyah di berbagai Negara di dunia.

Begitu pula dalam Republika 16 April 2008 (‘Wahyu Cinta’ Mirza Ghulam) tertulis, “Ada 88 kitab – termasuk – Tadzkirah – yang dikarang MGA …” Padahal Tadzkirah bukan dikarang oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Bila hal-hal ‘sederhana’ semacam itu terjadi kekeliruan maka dapat dipastikan terjadi kekeliruan dalam tulisan-tulisan Republika lainnya yang berkaitan dengan Jemaat Ahmadiyah dan pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang kebanyakannya dikutip dari pihak-pihak yang berseberangan dengan Jemaat Ahmadiyah atau mantan penganut aliran Ahmadiyah seperti Hasan Aodah maupun Ahmad Hariadi yang dikeluarkan dari aliran Ahmadiyah. – bukan keluar melainkan dikeluarkan dari Ahmadiyah. Republika hanya bertumpu kepada Hasan Bin Mahmud Aodah tentang asumsi bahwa MGA adalah pelayan imperialis Inggris. Sepatutnya Republika menghubungi pihak pemerintah Inggris ataupun India untuk memastikan kebenaran klaim Aodah itu.

Mengingat tidak mungkin semuanya dapat dikemukakan maka sebagai pemenuhan atas hak jawab. Berikut ini kami sampaikan pernyataan Pendiri Jemaat Ahmadiyah tentang keIslaman beliau dan kecintaan beliau kepada agama Islam dan Rasulullah Muhammad SAW.

Jemaat Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah sebuah Jamaah Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 Masehi/ 1306 Hijriah, di Qadian India. Dan beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan al Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW.

Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah bekerja untuk menghidupkan Agama Islam dan menegakkan syari’at Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW. ( Rukhani Khazain, vol. 15, hal. 141); Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul . . . Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.” (Rukhani Khazain, vol. 1 hal. 557

Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh kepada Kitab Suci Al Quranul Karim. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia adalah karena bisa bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci Al Qur’an.” (Rukhani Khazain vol. 10 hal. 442); “Apa yang termaktub di dalam Al Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada diatas semua wahyu-wahyu lainnya.” (Majmua Isytiharat, vol. 2 hal. 84); “Kitab Suci Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang kapanpun tidak ada dan tidak akan pernah ada tandingannya.” (Malfuzhat, vol. III, hal. 57)

Berkenaan dengan dua kalimah Syahadat, beliau menulis, ““Inti dari kepercayaan saya adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulull ahu (Taka ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah: Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah Khataman Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)

Jemaat Ahmadiyah berkeyakinan bahwa nabi Muhammad saw adalah khataman nabiyyin. Pendiri Jemaat Ahamdiyah menulis,

“Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)

“Martabat luhur yang diduduki junjungan dan penghulu kami, yang terutama dari semua manusia, nabi yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin SAW telah berakhir dalam diri beliau yang di dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tak dapat dicapai manusia.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taudhih Maram, 1891 hal. 23)

“Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad SAW adalah Nabi-Nya, dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua makhluk.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Kisti Nuh, tahun 1902, halaman 15)

“Untuk sampai kepada-Nya semua pintu telah tertutup, kecuali sebuah pintu yang dibukakan oleh Qur’an Majid dan semua kenabian dan semua kitab-kitab yang terdahulu tidak perlu lagi diikuti, sebab kenabian Muhammadiyah, mengandung dan meliputi kesemuanya itu. Selain ini semua jalan tertutup. Semua jalan yang membawa kepada Tuhan terdapat di dalamnya. Sesudahnya tidak akan datang kebenaran baru, dan tidak pula sebelumnya ada suatu kebenaran yang tidak terdapat di dalamnya. Sebab itu, diatas kenabian ini habislah semua kenabian. Memang sudah sepantasnya demikian sebab sesuatu yang ada permulaannya, tentu ada pula kesudahannya.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, AL Wasiyat, JAI 2006, hal. 24)

Sesudah Nabi Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dahulu menajdi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tajalliyati Ilahiyah, 1906, hal. 9)

“Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya kedalam beliau.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ek Ghalti ka Izalah, 1901, hal. 3)

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sangat menyintai Rasulullah Muhammad SAW, berkenaan dengan kecintaan dan keediaan beliau mengorbankan jiwa raga demi kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW beliau menulis,

“Saya katakan dengan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan srigala buas, tetapi kami tak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi Muhammad yang kami cintai, orang yang lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Paighami Sulh, 1908 hal. 30)

“Sekiranya orang-orang ini menyembelih anak-anak kami didepan mata kami dan mencincang apa-apa yang kami cintai sampai berkeping-keping dan membuat kami mati dengan hina dan malu dan merampas semua harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi kami, Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalati Islam, 1893, hal. 52)

“Aku menyaksikan suatu kehebatan dalam wajahmu yang bersinar cemerlang, yang melebihi semua sifat manusia lain. Pada wajahnya tampak Tuhan Muhaimin dan seluruh keadaannya bagaikan cermin. Yang menampakkan keindahan sifat Ilahi dan kebesarannya sungguh menyilaukan. Ia mengungguli seluruh manusia dengan kemampuan, kesempurnaan dan keelokannya dan kehebatan serta dalam kesegaran jiwanya. Sedikitpun tidak diragukan lagi, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah terbaik diantara seluruh makhluk. Paling mulia diantara yang mulia dan inti orang-orang yang terpilih. Segala sifat yang terbaik dan terpuji, pada diri beliaulah puncaknya. Anugerah nikmat yang ada pada setiap zaman, telah berakhir dalam dirinya. Beliau adalah yang terbaik dari semua orang yang mendapat Qurb Ilahi sebelumnya. Keunggulan beliau karena kebaikan-kebaikan, bukan karena zaman. Wahai Tuhanku, turunkanlahh berkat-berkat kepada Nabi-Mu abadi selamanya, di dunia ini dan di hari kebangkitan kedua.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalaati Islam, halaman 594-596)

Dalam usia lebih dari 100 tahun, Jemaat Ahmadiyah tjelah berkembang dan berada di hampir 200 negara di dunia dengan jumalah anggota lebih dari 200 juta jiwa.

Dalam upaya menegakkan agama Islam dan menyebarkan syiar Islam keseluruh dunia. Jemaat Ahmadiyah mendapat dana dari pengorbana para anggota yaitu infaq/ iuran setiap anggota wajib membayar infaq /iuran tiap bulannya sebesar 1/16 sampai dengan 1/3 dari pendapatan perbulan.

Jemaat Ahmadiyah tidak pernah meminta atau menerima satu sen pun dana/biaya dari luar: baik dari perorangan / organisasi/ pemerintah/ Negara.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah keyakinan seluruh umat Islam dari golongan manapun. Tugasnya adalah menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan kembali syariat Islam.

Jemaat Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1925, diundang oleh Persatuan Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika itu, yang akhirnya Maulana Rahmat Ali HAOT merupakan Muballigh pertama yang diutus ke Indonesia oleh Hadhrat AL-Hajj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad rh., Khalifah Ahmadiyah ketika itu.

Jemaat Ahmadiyah berperan aktif dalam proses pendirian NKRI dan salah seorang anggotanya, Sayyid Shah Muhammad adalah Ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau mendapat bintang jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai bunyi Lembaran Berita Negara no. 26 tahun 1953 dengan penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953.

Dalam upaya menyebarkan agama Islam, Jemaat Ahmadiyah mengirimkan ribuan Da’i ke seluruh penjuru dunia; membangun ribuan masjid di berbagai penjuru dunia diantaranya Masjid Baitul Futuh, Morden London UK yang merupakan mesjid terbesar di Eropa Barat; menerjamahkan Al Qur’an kedalam 100 bahasa di dunia sehingga seluruh bangsa dapat mempelajari secara langsung Kitab Suci tersebut; Mendirikan stasiun televisi MTA Internasional (MTA 1; MTA 2 dan MTA 3 Al Arabiyya) yang dipancarkan ke seluruh penjuru dunia 24 jam nonstop menggunakan tujuh buah satelit; melaksanakan bakti kemanusiaan melalui Humanity First tanpa memandang ras, agama, keyakinan maupun bangsa, termasuk membantu menanggulangi Tsunami di Aceh;

Jamaah Ahmadiyah Internasional dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V yang saat ini berkedudukan di London, Inggris. Dalam rangkaian muhibah pimpinan tertinggi Jamaah Ahmadiyah Internasional, tanggal 17-19 April 2008 Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menghadiri pertemuan tahunan Ahmadiyah Ghana yang dihadiri oleh Presiden Ghana, Ageyaku Kufour, dan wakil Presiden, Alhaj Aliu Mahama dan pajabat-pejabat Negara lainnya.

Jemaat Ahmadiyah perpegang teguh kepada mottonya, Love for All, Hatred for None (Cinta kepada semua orang dan tiada kebencian kepada siapapun.)

Oleh: M.B. Shamsir Ali, SH, SHD

05
Nov
09

Muballigh Ahmadiyah : KAMI ORANG ISLAM (Tanggapan Atas Tuduhan Ahmadiyah Murtad, Kafir, Sesat dan Menyesatkan) Oleh: M. Syaeful ‘Uyun

PENYERANGAN sekelompok umat Islam terhadap Kampus Mubarak, Pusat Jamaah Ahamadiyah Indonesia, 15 Juli lalu, di Kemang, Bogor, Jabar, telah mengorbitkan nama Ahmadiyah di pelataran nusantara. Tapi, Ahmadiyah, mengorbit namanya, bukan sebagai kelompok Islam yang bercorak agamis murni, yang gigih dan getol menyampaikan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan menarik banyak orang non-Islam ke dalam Islam di Afrika, Eropa dan Amerika, seperti yang selama ini menjadi ciri khas aktivitasnya. Ahmadiyah, mengorbit namanya, justru sebagai kelompok murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan.
Pangkal yang menyebabkan Ahmadiyah dikenal sebagai kelompok murtad, berada diluar Islam, dan sesat menyesatkan, adalah karena Habib Abdul Rahman Assegaf, Panglima Lasykar Jundullah yang mengepung dan menyerbu Markaz Jamaah Ahmadiyah (15/07/05), beralasan seperti itu untuk melegitimasi dan membenarkan aksinya. Dan, semua pihak, tak peduli dengan aksi Habib Assegaf, meskipun, sesungguhnya, mereka tahu, aksi itu tidak Islami, bertentangan dengan tatakrama dan sopan santun, tidak mencerminkan berada di negara hukum yang beradab dan berdaulat, dan hanya orang yang tidak beragama dan berada di rimba belantara yang dapat melakukannya. Umat hanya mendengar satu kata saja: Ahmadiyah murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan.
Kesan, bahwa Ahmadiyah telah murtad, keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan, makin lengkap lagi, setelah, ditengah kontrovesri seputar Ahmadiyah, Majlis Ulama Indonesia (MUI), untuk kedua kalinya, kembali menghakimi dan memvonis Ahmadiyah, sebagai murtad, keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan, dalam Munas ke VII-nya, akhir Juli lalu. Penghakiman dan vonis yang sama, kemudian dilakukan lembaga-lembaga agama, orpol, tokoh-tokoh agama, hingga lembaga dakwah kampus (LDK), dengan cara menyatakan setuju dengan fatwa MUI dan meminta pemerintah segera menindaklanjuti Fatwa MUI.
Di Makassar, dari sekian tokoh masyarakat yang menyatakan tidak setuju dengan fatwa MUI, dan berkomentar positif tentang Ahmadiyah hanya satu orang saja, yaitu: Dr. M. Qasim Mathar. Lewat Kolom Jendela langitnya (Fajar, 19/07/05), beliau menulis: Ahmadiyah, Sebuah Ranting Pada Pohon Islam. Membaca judulnya saja, terasa sangat menyejukan. Sepontan, terbayang dalam angan saya, jika setiap ulama memiliki perasaan dan pikiran seperti Pak Qasim Mathar, barangkali kehidupan beragama yang pasti telah dipisahkan oleh mazhab dan firqah itu, akan tenang, dan kasus Parung, Bogor, pastilah tidak akan terjadi.
Menyikapi hal ini, dan supaya umat juga tidak berdosa karena telah ikut memvonis Ahmadiyah sebagai murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan, tanpa pengetahuan yang benar dan pasti, saya sebagai pribadi dan sebagai Mubaligh Jamaah Ahmadiyah ingin menyampaikan dan menyatakan: KAMI ORANG ISLAM.
Kami meyakini rukun iman yang enam: Iman pada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Qiyamat, Taqdir baik dan buruk, dan kami melaksanakan rukun Islam yang lima. Kami mengucap dua kalimah syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha ilallaahu, Wa asyhadu annsa muhammadar-Rasulullah, sebagaimana umumnya muslimin mengucap kalimah syahadat. Kami shalat, puasa, zakat, dan haji, sebagaimana umumnya muslimin shalat, puasa, zakat dan haji. Kami, Ahmadiyah, meyakini, Rasulullah Muhammad SAW., adalah Khataman-Nabiyiin – nabi terakhir yang paripurna, yang sesudahnya, tidak akan ada lagi nabi yang setara dengannya. Kami, Ahmadiyah, meyakini, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW., adalah Khataman-Nabiyyin, Al-Quran juga adalah Khaatamul Kutub – kitab terakhir yang paripurna, yang sesudahnya, tidak akan ada lagi kitab yang setara dengannya. Kami, Ahmadiyah, meyakini, menyimpang selangkah saja dari Islam dan Al-quran adalah haram dan akan menyebabkan kenistaan.
Lalu, jika kami, Ahmadiyah, mengaku Muslim, bagaimana dengan fatwa MUI, bahwa Ahmadiyah adalah murtad, kafir, sesat dan menyesatkan?
Fatwa MUI, sesungguhnya, hanya menceminkan: 1) Ketidakfahaman dan ketidaktahuan MUI., tentang Ahmadiyah yang sebenarnya. 2) Kalau pun MUI tahu tentang Ahmadiyah, kami Ahmadiyah yakin, MUI tahu Ahmadiyah pasti hanya berasal dari literature, dan literatur yang mereka baca pun pasti berasal dari penulis-penulis kelompok anti Ahmadiyah, bukan literature yang berasal dari Ahmadiyah. 3) MUI tidak pernah mengenal Ahmadiyah dari dekat, dari pergaulan dan dari praktek peribadahan sehari-hari. Seandainya benar, MUI mengetahui betul aqidah Ahmadiyah, paling tidak, aqidah Ahmadiyah seperti yang saya paparkan diatas, saya yakin, pastilah Fatwa Ahmadiyah murtad, berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan, dengan alasan tidak mengakui Nabi Muhammad, punya nabi baru, punya kitab suci baru, tidak akan pernah lahir.
Dan memang, sebelum dan sesudah fatwa MUI lahir, MUI tidak pernah mengajak Ahmadiyah dialog, ta’aruf, lebih-lebih datang bertandang ke pusat-pusat Ahmadiyah, sekedar untuk mengamati, melihat dari dekat, siapa, apa, dan bagaimana Ahmadiyah itu, dan berbicara dari hati ke hati dengan orang-orang Ahmadiyah, mendengar penuturan langsung, mereka punya akidah dan mereka punya keyakinan.
Prihal Khataman-Nabiyyin
Pendiri Jemaat Ahmadiyah dengan tegas menyatakan imannya pada Khatamun-Nubuwwah. Ia mengemukakan dengan tandas bahwa Nabi Muhammad SAW., adalah manusia pilihan Allah, dan betul-betul Khataman-Nabiyyin.
1. “Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muihammad SAW., adalah Khatamul An-biya. Seorang yang tidak percaya kepada Khatamun-Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW.,), adalah orang yang tidak beriman dan berada di luar lingkungan Islam”. (Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)
2. “Inti dari kepercayaan saya ialah: Laa Ilaaha Illallaahu, Muhammadur-Rasulullaahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammaadalh utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang pada-Nya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini, ialah bahwa junjungan dan penghulu kami, Nabi Muhammad SAW., adalah Khaataman-Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Di tangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai “kesatuan” dengan Tuhan Yang Maha Kuasa”.(Ahmad, Izalah Auham, 1891 : 137).
Setiap orang yang hendak bergabung dengan Ahmadiyah, disyaratkan untuk mengucapkan ikrar bai’at, dengan pernyataan sbb :
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim. Nahmaduhu wanushali ‘alaa rasuulihi kariim.
Asyhadu an-laa ilaaha ilallaahu wahdahuu laa syarikalahu,
Wa asyhadu anna Muhammadan abduhuu warasuluh,
Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu baginya.
Dan aku bersaksi, Muhammad adalah hambanya dan Rasul-Nya
Saya hari ini masuk ke dalam Jamaah Islam Ahmadiyah, di tangan Masroor.
Saya memiliki keyakinan yang teguh bahwa Hazrat Muhammad Rasulullah SAW., adalah Khataman-Nabiyyin, cap (yang mengesahkan) semua nabi.
Saya juga percaya bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., adalah Imam Mahdi dan Al-Masihil Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan), yang kedatangannya telah dikabarghaibkan oleh Hazrat Muhammad Rasulullah SAW,.”
Pernyataan-pernyataan Pendiri Ahmadiyah, dan pernyataan ikrar baiat setiap orang yang menyatakan hendak bergabung dengan Ahmadiyah, menunjukan, tuduhan yang dilontarkan MUI, bahwa Ahmadiyah tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Khataman-Nabiyyin, bahwa Ahmadiyah telah mengakui nabi baru yang ke 26, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, sama sekali tidak benar dan mengada-ada.
Dalam pernyataan baiat mereka, jelas Ahmadiyah mengakui Rasulullah SAW., sebagai Khataman-Nabiyyin, dan mengakui Ghulam Ahmad hanya sebagai Imam Mahdi-Al-Masihil Mau’ud, bukan nabi, lebih-lebih dengan embel-embel nabi yang ke 26.
Pernyataan bai’at orang-orang Ahmadiyah terhadap Ghulam Ahmad, adalah sama dengan pernyataan baiat yang dilakukan muslimin umumnya yang tergabung dalam thariqah-thariqah, apabila mereka hendak bai’at terhadap mursyid atau guru thariqah mereka.
Perihal Kenabian
Memang benar, dalam perjalanan sejarahnya, selain mengumumkan diri sebagai Mujadid abad XIV H, (1989), Ghulam Ahmad juga mengumumkan diri sebagai Imam Mahdi-Masih Mau’ud, dan juga Nabi (1891).
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berkata:
“Dasar buat pengakuan saya sebagai nabi adalah bahwa saya telah mendapat kemuliaan untuk berkomunikasi dengan Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa dia kerapkali berbicara dengan saya dan memberikan jawaban-jawaban kepada saya dan membukakan banyak rahasia tersembunyi kepada saya, dan memberi tahu saya tentang peristiwa-peristiwa masa datang, dalam cara yang dia lakukan hanya kepada orang yang menikmati kehampiran khusus dengan-Nya, dan bahwa karena banyaknya jumlah hal-hal ini Dia menyebut saya nabi.”(Sinar Islam, Agustus 1985:13).
Tetapi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, juga menolak jika ia disebut nabi yang membawa syariat baru, dan terpisah dari kenabian Muhammad SAW, dan Islam. Beliau berkata:
“Disaat dan dimana saya menolak disebut nabi dan rasul, adalah dalam pengertian, bahwa saya bukanlah seorang pembawa syariat baru atau nabi hakiki, tetapi sesungguhnya aku seorang nabi dalam arti, bahwa saya secara rohani memperoleh nikmat, berkat Tuanku yang besar dan mulia, Muhammad SAW,.”(Sinar Islam, Agustus 1985:5).
“Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada saya, seakan-akan saya mengaku sebagai suatu jenis nabi yang tidak punya pertalian dengan Islam, dan bahwa saya menganggap diri saya nabi yang tidak tunduk pada Alquran suci, dan bahwa saya telah menciptakan kalimah baru, dan menentukan suatu kiblat baru, dan bahwa saya mengaku telah membatalkan hukum Islam, dan bahwa saya tidak ikut dan patuh pada Nabi Muhammad SAW., seluruhnya adalah palsu. Saya berpendapat bahwa pengakuan kenabian semacam itu adalah sama dengan kufur dan dalam seluruh buku saya telah saya bentangkan selalu bahwa saya tidak mengaku nabi seperti itu, dan menisbahkan pengakuan demikian terhadap saya adalah suatu fitnah.”(Sinar Islam, Agustus 1985:12-13)
Klaim Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sesungguhnya tak perlu membuat para Ulama heran. Sebab, jika benar ia sebagai Isa yang dijanjikan kedatangannya, seharusnyalah memang ia menyandang gelar nabi. Rasulullah SAW., seperti diriwayatkan oleh Nawwas bin Sam’an, 4 kali menyebut nabi kepada Isa yang dijanjikan kedatangannya:
1. Nanti nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya akan terkepung.
2. Nanti nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya akan memanjatkan doa kepada Allah.
3. Kemudian turunlah nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya.
4. Maka mendoalah nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya.
(Muslim, Misykat, hal 474)
Ulama-ulama yang tergabung dalam wadah Nahdhatul Ulama (NU), juga punya aqidah dan keyakinan, jika Nabi Isa as datang, ia akan bergelar Nabi dan Rasul.
S (Soal): Bagaimana pendapat muktamar tentang Nabi Isa as setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Dan apakah mazdhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?
J (Jawab): Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa as, itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad SAW., dan hal itu, tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa as, hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad. Sedang madzhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku). (Ahqamul Fuqaha, buku kumpulan masalah-masalah Diniyah, hasil Mu’tamar NU ke 1 s/d 15, hal. 29-30, CV Toha Putra Semarang, tt; Lihat juga: Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nadlatul Ulama (1926-1999), Diantama-LTN NU, 2005:50-51)
Dan, Al-Quran juga tidak menutup kemungkinan datangnya nabi sepeninggal Rasulullah SAW, seperti yang dapat kita baca dalam An-Nisa, 4:69-70, Ad-Dukhan, 44:5-6, Al-Haj, 22:75, Al-Mukmin, 40:15, Al-Jin, 72:26-27, Al-A’raf, 7:34.
Tetapi, meskipun pangkat nabi bagi Isa yang dijanjikan kedatangannya itu mendapat legitimasi dari Al-Quran, Rasulullah SAW juga dari para ulama Islam, Ahmadiyah tidak pernah me-nabi-kan Ghulam Ahmad. Ahmadiyah tetap komit dan konsisten dengan pendirian awal seperti yang dinyatakan dalam pernyataan bai’at, yaitu sebagai Imam Mahdi-Al-Masihil Mau’ud. Sebab, itulah memang, kedudukan utama beliau. Itulah sebabnya, Ahmadiyah memanggil Ghulam Ahmad, hanya dengan istilah Masih Mau’ud atau Mahdi Mau’ud, bukan nabi Ahmad, nabi Mirza atau nabi Ghulam.
Tiga istilah terakhir ini, sungguh, sangat asing didengar dalam telinga dan diucapkan pada lidah orang-orang Ahmadiyah. Kepada Khalifah-Khalifah pengganti Pendiri Ahmadiyah pun, mereka hanya biasa memanggil Khalifatul Masih, bukan Khalifah Nabi Ahmad.
Istilah-istilah ini menandakan, pokok kedudukan Ghulam Ahmad hanyalah Imam Mahdi-Almasihil Mau’ud. Nabi, hanyalah dalam kafasitas sebagai Ummati — anugrah kehormatan semata-mata karena mengikut Rasulullah SAW., bukan Mustqil – berdiri sendiri, terpisah dari kenabian Rasulullah Muhammad SAW,.***
Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip Firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, sebagai renungan :
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh di jalan Allah dan menjadi saksi dengan adil; dan janganlah permusuhan suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Maidah, 5:8).
“Dan janganlah engkau ikuti apa yang tentang itu engkau tidak mempunyai pengetahuan. Sesungguhnya, telinga dan mata dan hati tentang semuanya ini akan ditanya”.(Bani Israil, 17:36)
“Sesungguhnya, segenap orang beriman itu bersaudara. Maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mencemoohkan kaum lain, mungkin mereka itu lebih baik daripada mereka, dan janganlah sebagian wanita mencemoohkan akan wanita lain, mungkin mereka lebih baik daripada mereka. Dan janganlah kamu memburuk-burukan kaummu, begitu pula jangan panggil memanggil dengan nama buruk. Adalah suatu hal yang buruk jika dipanggil dengan nama buruk sesudah beriman, dan barangsiapa tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang aniaya”.(Al-Hujurat, 49:10,11)
“Hai, orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi berjihad di jalan Allah, maka selidikilah dahulu, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang memberi salam kepadamu, “Engkau bukan mukmin….”.(An-Nisa, 4:94)
“Barangsiapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir, atau musuh Allah, padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakan (menuduh) itu” (Bukhari)
“Barangsiapa shalat seperti kami, dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan makan makanan yang kami sembelih, maka ia itu adalah seorang muslim”.(Bukhari)
Orang Muslim adalah orang yang memelihara orang Islam dari bencana lidah dan tangannya. Dan orang Muhajir adalah orang yang meninggalkan larangan Alah”. (Bukhari)
“Wahai, para ulama Islam! Janganlah Anda tergesa-gesa mencap diriku pendusta sebab banyak sekali rahasia yang orang-orang tidak dapat memahaminya dengan segera. Janganlah cepat-cepat menolak sesuatu, sesaat Anda mendengarnya sebab sikap semacam itu tidak sejalan dengan jiwa ketakwaan.”(Ghulam Ahmad, Ajaranku, Jemaat Ahmadiyah Indonesia 2002:62)
Wassalamu’alaa manittaba’al huda.
Disajikan Dalam Dialog Pakar Bertema: Seputar Kontroversi Ahmadiyah, Diselenggarakan Kerjasama LSAP – Lembaga Studi Agama dan Perubahan UIN Makassar dengan FORLOK (Forum Dialog Antar Kita) Sulawesi Selatan
di Aula Rektorat UIN Makassar, Senin, 08 Agustus 2005
* Penulis adalah Mubaligh Jamaah Ahmadiyah Wilayah Sulawesi Selatan




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.